Albert Camus dan Sjahrir

‘’Now a days, you can do anything that you want: anal-sex, oral-sex, fisting. But you need to be wearing gloves, condoms, protection’’ – Slavoj Zizek


Gempa bumi terbesar terjadi di Peru pada 7 November 1913. Beberapa jam setelahnya terjadi kegemparan berita internasional atas kematian partner in evolution Charles Darwin, Alferd Russel Wallace di Dorset, Inggris. 

Pada waktu yang bersamaan lahir seorang absurdist di Drean, Aljazair. Anak laki-laki sinis yang doyan teater dan sepak bola. Kelak ia menjadi mahasiswa di Universitas Algeria. Selain itu, di kemudian hari, ia mempromosikan filsafat eksistensialisme bersama karibnya, Jean-Paul Sartre, sekaligus novelis ternama dunia. Lelaki sinis cum flamboyan itu bernama, Albert Camus.

Di Padang Panjang pada 5 Maret 1909, 4 tahun sebelum tibanya Albert Camus ke dunia. Lahir seorang aristokrat cum sosial-demokrat, Sutan Sjahrir. Seperti Camus, Sjahrir doyan sepak bola dan teater. Semasa menempuh pendidikan di Universitas Leiden, Belanda, Sjahrir aktif dalam giat diskusi dan menonton acara budaya ketimbang kuliah secata teratur. 

Belakangan, di hari-hari Indonesia mengalami krisis akibat membesarnya kekuatan kolonial, ia menjadi (lebih banyak sebagai intelektual dan elite, ketimbang politisi) proponen perjuang kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno dan Hatta. 

Pada 1957, Albert Camus mendapatkan Nobel Prize of Literatur yang adalah hadiah paling penting dan bergengsi dalam bidang kesusastraan dunia. Dalam pidatonya yang menawan, Albert Camus: The Fall (2017) menyebutkan, ‘’Ini berarti mencampurkan pemikiran banyak orang dan menawarkan mereka sebuah gambaran istimewa tentang kebahagiaan dan penderitaan, yang oleh Nietzsche dalam kalimatnya yang indah: tidaklah hakim melainkan pencipta yang akan berkuasa, tidak peduli apakah itu seorang buruh ataupun seorang intelektual.’’

Seperti Albert Camus, Sjahrir menyukai Nietzsche. Sjahrir dalam Seri Buku Tempo: Peran Besar Bung Kecil (2010), menuliskan surat kepada istrinya tertanggal 17 Maret 1936: ‘’Sesungguhnya, implus, dorongan, gairah, seperti yang saya yakini sekarang, tak pernah akan dilenyapkan oleh akalbudi. Bahkan sebaliknya yang benar, akalbudi bertakhta hanya sepanjang implus, gairah, dorongan membiarkannya.’’ Pun Sjahrir menegaskan, ‘’Nietzsche itu kebudayaan, Nietzsche itu seni, Nietzsche itu genius.’’ 

Keterangan Albert Camus dan Sjahrir tersebutm penulis simpulkan sebagai apa yang kerap disebut Nietzsche ‘’api hidup abadi’, dalam arti ‘’membangun dan menghancurkan, tanpa dosa.’’ 

Albert Camus dan Sjahrir adalah dua tokoh yang mengeksplisitkan hak dan kebebasan individu lebih dari kendali nation-state. Dengan kata lain, kebebasan musti dirayakan melampauai kepentingan hak dan kewajiban negara. Maka, kebebasan harus menjadi basis eksistensial manusia pada tingkatan yang paling otentik.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Albert Camus dan Sjahrir"

Posting Komentar