MayDay Vs Neo-Lib


“Wintertime wind blowin’ and freezin’, comin’ from nothern, storm in the sea, love has been lost is that the reason, trying desperately to be free” - Wintertime love, The Doors.

Merayakan mayday adalah merayakan kebebasan manusia. Merayakan kebebasan manusia inheren dengan upaya merawat dignitas kemanusiaan. Dengan kata lain, bila manusia tergores akibat hegemoni sistem kerja dan politik upah murah, maka sudah sewajarnya kemanusiaan ikut terluka.

Memberi solidaritas dan soliditas terhadap mayday harus menjadi tugas mereka yang terhubung langsung dengan pengalaman autentik menyoal ketidakadilan struktural; perempuan, mahasiswa, pelajar, klas menengah, mereka yang tersisih akibat rasisme, minoritas, mereka yang dikomodifikasi oleh pasar, dll.

Sebab akumulasi modal oleh kapitalisme dan negara, berakibat pada tersungkurnya keadilan sosial.

Mayday tiba pada kerja-kerja otonom klas pekerja yang meradikalisir pengorganisiran massa demi perjuangan merebut hak-hak ekonomi-politik yang dikendalikan oleh dominasi agresif kapitalisme. Para pekerja yang dalam terminologi marxisme disebut sebagai proletar, dikangkangi oleh tabiat surplus-value dari hukum akumulasi. Oleh karena itu, perjuangan kelas menjadi satu-satunya metode analisis kelas guna keluar dari kendali borjuasi.

Abad ke-19 adalah periode di mana klas buruh diperhadapkan pada kenyataan bahwa dari 24 jam sehari, mereka rata-rata bekerja 18 sampai 20 jam. Tak pelak lagi bahwa tuntutan yang diajukan adalah memperpendek jam kerja. Perjuangan menuntut 8 jam kerja ini diawali oleh kaum buruh di Amerika Serikat  pada tahun 1884, yang berbuntut pada penyerangan yang dilakukan oleh negara dan alat kekerasannya.

Sejarah perubahan struktur sosial adalah sejarah panjang perbudakan dan eksploitasi. Para pemodal, tentu dengan alat represifnya yang, misalnya, negara beserta institusi-institusi sosial-ekonomi terus-menerus menghegemoni klas pekerja demi oprasionalisasi alat produksi dan kuantitas komoditi. Sayangnya, kondisi deterministik dari hasil produksi, tidak koheren dengan nilai  kegunaan sosial.

Pada tanggal 1 Mei 1886, 80.000 buruh di Amerika Serikat melakukan demontrasi menuntut 8 jam kerja. Dalam beberapa hari demontrasi ini segera direspon dengan pemogokan umum, yang membuat 70.000 pabrik terpaksa ditutup.

Demonstrasi ini berlanjut sampai 4 Mei 1886. Klas penguasa terusik. Dengan alat kekerasannya, negara menembaki pekerja yang melakukan demontrasi dan menewaskan ratusan buruh.

Oleh karena itu pesan dari May Day adalah Internasionalisme kaum buruh sebagai penegasan kembali perjuangan klas dalam melawan ekploitasi dan merebut kemenangan. Kemenangan ini tidak akan dicapai dalam batasan kapitalisme. Kaum buruh harus menggulingkan kapitalisme melalui revolusi sosialis yang akan menempatkan kaum buruh ke tampuk kekuasaan.

Sialnya, ada semacam kontradiksi hukum hasil intervensi pasar neo-liberal yang menjadi objek pelembagaan kapitalisme dan berdampak pada terampasnya kesejahteraan dan kebebasan klas pekerja.

Penetapan Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan jelaskan mengakomodir kepentingan pemodal dengan tetap mempertahankan kebebasan tenaga kerja di Indonesia. Program penetapan aturan pengupahan sebagai bagian dari paradigma ekonomi di sebagian besar negara di dunia sebelum negara yang memiliki kesepakatan dengan IMF dan Bank Dunia. Program-program Ini merupakan bagian dari proyek neoliberal. Susan George (2000) mendaftar paradigma dan doktrin-doktrin neoliberal yang harus dianut oleh negara:

1. Pasar harus diberi kebebasan untuk membuat keputusan sosial dan politik yang penting

2. Negara harus sukarela mengurangi intervensi dan mengaturnya di bidang ekonomi

3. Perusahaan harus diberi kebebasan total

4. Serikat buruh harus diawasi dan diberangus


Bila keputusan politik didasarkan oleh mekanisme pasar, maka tidak mungkin rumusan kebijakan publik berpihak pada kehendak populis warga.

Hilangnya intervensi politik negara terhadap sektor ekonomi berdampak pada penguasaan private property oleh pemain tunggal. Bahwa dikotomi pasar dan modal dikendalikan oleh kapitalisme. Kelas pekerja tanpa modal ekonomi secara alamiah kalah dalam kompetisi.

Kebebasan total perusahaan untuk mengatur perusahaan tanpa campur tangan negara dapat menyebabkan abuse of power by the top leader untuk mendistorsi aturan undang-undang ketenagakerjaan dan HAM sehingga dapat berbuat otoritaif terhadap pekerja.

Kendati berkeinginan memberengus serikat buruh, meluasnya kekuatan perjuangan klas, kehendak mengdomestifikasi, serta upaya melawan proletarisasi industri terus membentengi tubuh prinsipil klas pekerja agar terhindar hegemoni elit.

“SETIAP ORANG BERHAK UNTUK MEMBENTUK SERIKAT PEKERJA DAN TIDAK BOLEH DIHAMBAT UNTUK MENJADI ANGGOTANYA DEMI KEPENTINGAN DAN MEMPERJUANGKAN KEPENTINGANNYA SERTA SESUAI DENGAN KETENTUAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN”

(Pasal 39 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia)

Selamat Hari Buruh, kelas pekerja. Rebut alat produksi. Lawan komodifikasi. Hancurkan kapitalisme.  Panjang umur perjuangan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MayDay Vs Neo-Lib"

Posting Komentar