MENDIALEKTISIR PERCAKAPAN INTELEKTUAL


*Respon terhadap inisiatif pembukaan ruang diskusi baru, Lukman dan Siam.

‘’Tuan-tuan yang merasa diasingkan janganlah bersedih lagi, jalan yang kau pilih harus sepadan dengan tekad kuat bahwa kau berbeda untuk mencari jati dirimu’’ – Siam Khoirul Bahri

Budaya diskusi merupakan identitas dasar kaum intelektual. tradisi intelektual ini melekat sejak Plato mendirikan universitas pertama di Kota Athena: Academus. Dalam Academus, Plato mengajarkan tiga ilmu pengetahuan: matematika, filsafat dan olahraga. Namun, akibat kekerasan berfikir warga Kota Athena yang rajin berdialog, sekaligus gemar mendialektisir sesuatu yang belum menetap, berdampak masif pada tumbuh kembangnya peradaban ilmu pengetahuan. Tentu dengan digunakannya kelengkapan metodelogi yang, misalnya, menyelenggarakan perdebatan analitik yang ilmiah, menggunakan perangkat critical thinking, rasionalitas, mengintepretasikan konsep, hingga uji praksis.

Seperti Academus, kampus Untidar harus tumbuh dalam peradaban intelektual yang etis. Itu sebabnya, kampus adalah laboratorium tempat diproduksinya ide, konsep dan gagasan, atau dalam bahasa yang lebih sederhana, diproduksinya fikiran. Oleh karenanya, kampus diasumsikan sebagai ruang bebas diajukannya idealitas, baik secara verbal maupun non-verbal. Syaratnya, idealitas subjektif itu harus siap dinegasikan, dibantah atau bahkan disempurnakan oleh idealitas sebjektif lainnya. Sehingga subjektivitas itu tidak menjadi satu-satunya kebenaran mutlak, maka ihwal pertama yang harus dilakukan secara fundamental adalah, menggiringnya masuk dalam arena percakapan dialogis antar subjek. Dengan maksud itu, akan terselenggara apa yang disebut dialektika ilmu pengetahuan.

Sinyal pentingnya penyelenggaraan agenda diskusi justru tak kunjung tiba di Untidar. Para mahasiswa seolah-olah mengafirmasi kondisi stagnansi, irasional, dan non-dinamis yang berlangsung  terang-terangan selama beberapa tahun belakangan. disebabkan oleh miskinnya literasi, apatis, atau memang menganggapnya tak penting, faktanya kondisi buruk itu terus meluas dan menjamur, dibuktikan dengan minimnya penyelenggaraan agenda diskusi publik



Alternatif

Lini massa seketika ramai pamflet diskusi. Undangan ajakan hadiri diskusi bergantian hilir-mudik di WhatsApp. Obrolan menyoal diskusi terdengar lirih dari kos-kos kumuh 3x2 para mahasiswa sunyi. Percakapan usang di antara banyak aktivis mahasiswa aktif kembali sesaat setelah pamflet dan undangan tersebar ke grup-grup organisasi. Kendati hanya pamflet, ia berimplikasi menjadi jembatan penyatu aktivisme banyak teman-teman yang alami alienasi, hingga menyodorkan semacam rangsangan kimia, “mari teman-teman, rebut kembali peran kita’’.

Saya tak akan membahas plot film atau simpulan berakhirnya diskusi. Tidak. Itu sangat tidak penting. Konsekuensi sebaliknya, inisiatif, teknis-konsep kegiatan dan kerja swa-kelola Lukman dan Siam adalah menarik. tanpa anggaran, tanpa ruangan, mereka memanfaatkan fasilitas cafe yang tersedia. Menggelar lapakan baca milik Perpustakaan Jalanan Magelang: zine punk, buku wacana-kritis, novel cinta, dan puisi Jazz untuk Nada. Kopi, gorengan dan kehangat tawa percakapan di antara teman lama.

Pertama, agenda yang diorganisir Lukman dan Siam adalah upaya tandingan untuk menandingi kenaifan banyak teman-teman yang kerap terjebak pada premis sok formalis, bahwa dengan diadakannya LKMM atau Seminar Kebangsaan, kita mampu memproduksi tingkat sumber daya manusia yang baik, kritisme fikiran, kepemimpinan yang progresif, dan kepedulian pada kondisi kemanusian dan ekonomi-politik yang sedang tidak baik-baik saja. Sayangnya, LKMM dan Seminar Kebangsaan adalah bohong dan palsu.

Kedua, kesadaran menentukan realitas. Tampaknya, Siam dan Lukman hendak menghibur diri sendiri agar lekas keluar dari galau gundah gulana yang, misalnya, walau mereka diasingkan dari suasana akademik di Untidar, mereka mampu produktif dengan keterbatasan fasilitas yang memang tak pernah berpihak pada aktivitas tandingan mereka. Dengan atau tanpa nama, Siam dan Lukman berhasil membawa percikan api yang berdampak pada aktifnya kesadaran baru. Khusunya, semangat baru bagi mereka yang merasa terpuruk.

Ketiga, diskursus punk sebagai tema yang tak populer menjadi pintu masuk diluaskannya wawasan para hadirin tentang kondisi injustice, kebencian, dan kemiskinan yang disebabkan oleh tertutupnya wawasan pengetahuan mereka tentang kondisi kegilaan peradaban dan dunia. Lebih jauh lagi, dominasi agresif kapitalisme yang menyebabkan terasingnya umat manusia dari segala jenis aktivitas sosial.

Keempat, Siam dan Lukman hendak membangun kolektifitas guna keberlangsungan media sub-culture sebagai alternatif ideal dan kritik terhadap mangkraknya ide-ide populer. Tanpa nama, menolak ke-komunal-an, non-hirarkis, non-struktural, bebas dan terbuka.

Kelima, ditengah eksklusif dan elitis-nya ruang organisasi mahasiswa, Lukman dan Siam, dengan jejak pengalaman dikerangkengnya mereka oleh otoritarianisme dan keseragaman, hendak mencari bentukan baru yang lebih informal, non-tendensius, dan keluar dari kesadaran palsu untuk menjadi manusia dalam pengertian yang sebenarnya. dalam bahasa Sartre: manusia unik dan otentik (eksistensi melampui esensi).

Keenam, diskusi bebas dan terbuka yang diselenggarakan menjadi penghubung masuknya teman-teman baru yang menolak pendisiplinan, penyeragaman, menolak paksaan dengan dasar alasan apapun, menolak formalisasi, serta menolak diam dan tunduk.


Penutup

Diskusi adalah upaya mengaktifkan kritisme, menguji infrastruktur logika. Diskusi diajukan untuk memperhalus argumen, memperkaya vocab pada kamus ingatan. Diskusi mengandaikan sikap toleran, menjaga egosentrisme. Diskusi mengurai persoalan, membantu problem solving. Diskusi menjadi penanda fakta dan opini, membebaskan individu dari hegemoni. Diskusi adalah dialog dua arah yang menghasilkan diskursus baru. Diskusi merupakan kegiatan etis guna bertumbuhnya peradaban pengetahuan. Konklusinya, menghentikan proses diskusi sama dengan membunuh pengetahuan.

PS: Semoga proses mencari alternatif lingkar diskusi ditemukan dengan format yang sempurna. Saya uraikan Doa dan harapan melalui ritus pasca menutup buku Gandhi. Tuhan selalu bersama mereka yang baik dan terasingkan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MENDIALEKTISIR PERCAKAPAN INTELEKTUAL"

Posting Komentar