Cinta Hari Ini Terlalu Banyak Micin

Oleh: Andika John Manggala (Kepala Sekolah Sadar & Weare Ekosistem)


Sebagai mantan pria korban kapitalisme cinta, kiranya saya tertarik untuk menuliskan Krisnaldo artikel ini. Paham dengan apa yang dirasakan para pemuda seumuran dirinya akan ketakutan-ketakutan tidak bisa mapan, belum merencanakan masa depan, dan masih suka mengejar keinginan-keinginan. Tapi sayangnya semua itu normal adanya.

Mungkin geram dirasa ketika mendapati sebagian perempuan masuk ke dalam kelompok penggila aparatur, tentara, taruna, hingga polisi. Dan mungkin ketika perempuan-perempuan itu membaca ini langsung mengernyitkan dahi, mencari nama penulis, lalu men-judge penulis sebagai orang kurang kerjaan korban cinta tak sesuai ekspektasi. Kalau orang-orang bilang samyang itu pedas, sebetulnya ada yang lebih pedas lagi, yaitu komentar cewek high class yang sedang dikritisi.

Dari sini bisa ditarik kesimpulan yang tidak terlalu mendalam, bahwa kelas sosial sudah merambah ke dunia percintaan. Cinta hari ini sudah bukan soal belas kasih dan kasih sayang. Cinta hari ini adalah soal mendapatkan kenikmatan-kenikmatan duniawi, pencapaian ego, finansial, dan berada di tingkatan setinggi mungkin dalam hirarki kewarganegaraan. Saya bisa mengatakan ini hanya berlaku pada sebagian individu saja. Saya sedang mencoba main aman juga.

Para pemuda yang masih miskin harta ini tentu batinnya gundah. Ibarat sedang ditabrak tronton Pertamina—sudah ditabrak sakit, masih meledak pula. Mau daftar militer, tinggi badannya tidak sampai. Mau mendaftar CPNS, masih moratorium. Pas waktunya, sudah keburu tua, keburu banyak sarjana bengong lain muncul. Akhirnya cuma bisa kuliah di perguruan tinggi yang selalu dihantui perasaan khawatir besok mau kerja apa.

Sarjana keguruan kerjanya di bank, sarjana pertanian kerjanya jualan di online shop. Ya, yang penting halal. Akhirnya lebih aktif berkegiatan sebagai aktivis. Berkhayal kalau kuliah bukan soal gelar dan IPK, tapi menjalin relasi dan mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin untuk bekal kelak bekerja walau tak sesuai jurusan. Dan pada akhirnya, minta dititipkan Bu Lik-nya ke kantor tempat Bu Lik-nya bekerja. Ha!

Tapi coba kita pikir ulang. Cinta tidak sebodoh itu. Cinta bukan cuma soal menjalin hubungan, apalagi nge-seks. Cinta juga bukan soal masa depan harus jadi orang kaya raya. Cinta itu soal menyikapi keadaan. Akan sangat menyedihkan cinta kita ketika hidup dalam kebahagiaan tapi ada gelandangan tidur di teras rumah. Mengecewakan ketika kita kaya raya tapi didatangi pengemis kita langsung berpikir cari receh lima ratusan, kadang terpaksa dua ribu. Menyebalkan ketika melihat penggangguran lebih memilih mancing di kali Potrobangsan, kita malah kasih klakson—ikannya jadi ngumpet lagi. Merugikan ketika cinta kita hanya soal dunia tanpa surga dan neraka setelahnya.

Tentang Krisnaldo dan Indomie

Saya sudah kenal hampir empat tahun lebih pemuda ini. Pemuda yang waktu itu saya suruh baca puisi di Perpustakaan Kota Magelang dan membaca sajak-sajak kekirian, sosialis. Tapi soal cinta, pemuda ini agak bodoh kalau lagi jatuh cinta. Sayangnya, dia lumayan ganteng. Tapi saya kurang paham perubahannya sekarang, yang saya ceritakan barusan itu sudah lama sekali.

Krisnaldo sangat aktif membahas isu-isu ekonomi-politik, aktivasi ruang publik dan sebagainya. Kasus-kasus sosial dia datangi, sekadar mengadvokasi atau ingin tahu secara langsung dari narasumber. Alhasil menjadi buah tulisan artikel karyanya di banyak media. Mengawasi kebijakan-kebijakan di kampus tempat dia kuliah. Menuntut pemerintah. Ya bagus, tapi dia akhir-akhir ini datang ke rumah saya berbicara soal cinta. Padahal waktu itu saya juga lagi patah hati.Terkadang saya berpikir, melihat Krisnaldo seperti melihat diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu. Menggebu dalam hal apapun. Suka menulis dengan kata-kata politis yang susah dimengerti awam. Selalu bermasalah dalam cinta. Khawatir dengan masa depan. Merasa dipecundangi ketika menemui kekasih lebih memilih pria berseragam, dan sebagainya.*

Waktu itu dan mungkin hingga kini, dominasi pria belum berpikir bahwa sukses sebenarnya ialah soal impian-impian yang terwujud, bukan bergaya kaya raya, punya mobil Jazz atau motor Ninja. Impian bukanlah soal memiliki produk, tapi prestasi dalam menjalani hidup. Belum berpikir bahwa wanita adalah calon ibu dari anak-anak hebat nanti, bukan perantara warisan mertua apalagi mesin seks malam minggu. Waktu itu, banyak pria masih suka makan Indomie.

Hubungannya dekat sekali saya rasa, antara cinta dan Indomie. Sering cepat-cepat berproses dalam cinta. Cepat-cepat pula menghabiskannya. Seperti Indomie yang dibuat cukup dengan waktu lima menit. Bumbu-bumbu cinta terima jadi, tanpa tahu ada unsur apa saja, kepentingan-kepentingan apa saja. Apakah itu benar-benar bumbu cinta, atau hanya sekadar pelampiasan dan tantangan semata. Terkadang kita menemui bumbu yang sudah mengeras di dalam kemasan. Tapi kita paksakan untuk dibuat jadi mie. Suka menambahkan hal-hal yang merusak struktur seperti telur, malah cuma menempel di dasar panci karena salah cara masak. Mungkin akhirnya para pria juga sadar mengurangi makan Indomie.

Kurangi makan cinta dengan banyak micin karena tidak sehat. Tapi saat kita sudah tidak makan Indomie, kita malah makan mie Sedaap. Cinta memang suka bikin bodoh temporal.Cinta hari ini memang terlalu banyak micin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cinta Hari Ini Terlalu Banyak Micin"

Posting Komentar