Ganja dan Perjalanannya. 12.000 Tahun Menyuburkan Peradaban Manusia (catatan tertua di Hongkong).


Oleh: Rizki Wahyuda (Mahasiswa Biologi)

Sejarah, kandungan, manfaat, kasus, undang-undang, legalitas, eksistensi, budaya, & benefits 


Pengantar

Ganja; reefer, bud, weed, green, grass, herb, pot, joint, catnip, hashish, bhang, charas, chiming, hao, bakong, gele, baks, bajing, dope, marryjane, kief, sinsemilla, skunk, bong, stoner, muggle. Banyak sekali stigma buruk mengenai ganja sebagai tanaman candu yang berbahaya. Namun begitu muncul pertanyaan tentang apa yang membuatnya berbahaya, belum tentu ada yang bisa menjawabnya. Bahkan sangat jarang orang-orang yang paham betul mengenai ganja. Pandangan tentang tanaman ini selalu berhenti pada penyebaran dan pemakaiannya yang dilarang oleh pemerintah di berbagai dunia

Padahal setidaknya, pemahaman orang mengenai ganja bisa kita bagi menjadi tiga jenis. 
Pertama. Mereka yang menganggap ganja sebagai tanaman rekreasional. Disini pemakaian ganja dianggap dapat memuncukan berbagai ide dan inspirasi baru, mengembalikan semangat, dan menyegarkan pikiran. Lebih dari itu, tak sedikit manusia yang menyakralkannya. Ganja disucikan dan digunakan dalam berbagai ritus spiritual di berbagai kepercayaan (rastafara).

Yang kedua, ialah mereka yang memandangnya sebagai tanaman yang sangat berguna bagi umat manusia. Ganja dianggap dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, walaupun riset mengenainya masih sangat terbatas. Selain itu ia juga dipercaya memiliki banyak kegunaan lan seperti untuk membuat kertas, bahan bakar organic, bahan baku pakaian, dan lain sebagainya(hemp).

Yang terakhir ialah pendapat paling umum, ganja adalah tanaman candu berbahaya yang dapat membuat ketergantungan dan merusak berbagai insan manusia. Pendapat ini pun diperkuat dengan segelintir aturan nasional dan internasional yang menyatakannya tidak boleh ditanam, diedarkan, dan dikonsumsi, serta sama sekali tidak memiliki manfaat. Kemudian mempertanyakannya menjadi dianggap sangat berbahaya, apalagi dengan ancaman hukuman yang nyata adanya. Sehingga menaati serta mengimani aturan-aturan ini dianggap lebih aman daripada melawannya.


Sejarah

Hingga saat ini masih sulit untuk mengetahui darimana sebenarnya ganja berasal. Para ahli botani masih bersepakat bahwa ganja pertama kali muncul di asia tengah, yaitu disekitar Afghanistan. Kesulitan untuk menemukan asal-muasal ganja ini disebabkan oleh sejarah bercocok tanam ganja di Asia yang sangat kompleks.

1. Ganja dan China
Pada masa ini sekitar abad ke-2, Hua To, seorang ahli bedah mulai menggunakan ganja(Ma) sebagai anestesi. Ia dicatat sebagai ahli bedah pertama di dunia yang dapat melakukan operasi bedah tanpa menimbulkan rasa sakit. 

2. Ganja dan India
Orang-orang di india setiap bulan februari atau maret di Kathmandu, Nepal diadakan festival Shivatratri setiap tahunnya. Pada festival ini ribuan sadhu berkumpul di sekitarkuil pashupatinath dan bersama-sama merokok charas. Shivaratri sendiri adalah ritual tahunan untuk menghormati Dewa Siwa dan telah diselenggarakan selama ribuan tahun. Jadi jelas, bahwa penggunaan ganja disini sebagai ritus persembahan atau sebagai ritual yang sakral.

3. Ganja dan Jepang
Selama ribuan tahun ganja menjadi tanaman penting di sejarah Jepang. Ia biasa dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas, jaring, tali, matras lantai, dan pakaian ganja. Produk-produk tersebut berharga mahal karena pembuatannya yang sulit dan memiliki daya tahan yang lama, bahkan mudah didaur ulang. Karena manfaatnya yang besar ini, tanaman ganja menjadi sumber perekonomian utama masyarakat Jepang hingga abad ke-17.

4. Ganja dan Persia
Sejarah mengenai hubungan ganja di daerah Persia yang diketahui pada kitab Zendravesta, yaitu salah satu kitab suci agama Majusi, Zoroaster (kitab di agama majusi) menyebutkan, bahwa shoma atau haoma adalah suatu tanaman suci yang dapat memberikan sebagian kekuatan dewa kepada siapa pun yang mengonsumsinya.

5. Ganja dan Mesir
Ganja bukanlah tanaman asli mesir, tapi ia memiliki peranan penting di sana. Di Mesir, kaum wanita menggunakan ganja untuk menghindari depresi dan gangguan psikologis. Bukti lain mengenai keberadaan ganja di Mesir kuno ialah pada kangungan rambut dari mumi paraoh Rameses II. Ditemukan kadar zat psikoaktif ganja yang sangat tinggi, sekitar 800-4100 nano-gr/gr rambut, kadar ini jauh lebih tinggi disbanding Negara lain. Sessat dewi kebijaksanaan Mesir, juga sering digambarkan dengan daun ganja warna-warni diatas kepalanya.

6. Ganja dan Jamaica
Beberapa versi sejarah mengatakan bahwa ganja tumbuh liar di Jamaica sebelum adanya pemanfaatan yang berarti akan keberadaannya. Kedatangan pekerja dari India dan Cina mengubah semua keadaan ini. Kehadiran mereka mendapat sambutan yang meriah sebab budak-budak afrika yang lebih dahulu tinggal di Jamaika merasakan adanya persamaan nasib. Para pekerja India yang dating masih membawa kebiasaan lama mereka untuk mengkonsumsi ganja. Mereka membawa benih ganja dari India dan menanamnya di kompleks perkebunan.
Tradisi ini pun berlanjut hingga Marcus Garvey mengokohkan gerakan Rastafari menjadi agama. Kegiatan mengisap ganja dianggap sebagai ibadah yang sudah termaktub di kitab  Holy Piby, versi Rastafarian dari injil. Dalam ayat Genesis 1:29 disebutkan; “And the Earth brought forth grass, and herb yielding seed after his kind, and the tree yielding fruit, whose seed was itself, after his kind and God saw that it was good.”

Pun orang-orang rastafari biasa menyematkan dosa sebelum mengisap ganja sebagai berikut; “Glory be to the father and to the maker of creation. As it was in the beginning is now and ever shall be world without end.”

7. Ganja dan Amerika
Sejarah ganja di Amerika tidak memiliki akar religusitas seperti daerah-daerah lainnya di dunia. Budidaya ganja di Negara ini cenderung bersifat kolonialis dan industrialis ketimbang spiritualis. Tepatnya pada tahun 1611, Sir Thomas Dale, sebagai gubernur baru daerah koloni menjadi orang yang mengumumkan perintah ini. Kebijakan iin dilakukan karena pada saat itu Inggris belum bisa mengeksploitas apapun dari Amerika, sedangkan Negara-negara lain sudah meraup keuntngan dari berbagai belahan dunia.

Pada tahun 1616. John Rolfe, mengklaim bahwa penduduk jamestow Virginia menanam ganja dengan kualitas serat yang lebih baik daripada Inggris dan Belanda. Bahkan pada tahun 1619 penduduk koloni di Jamestown diwajibkan menanam ganja. Kebijakan ini diberlakukan sebab mereka lebih memilih menanam tembakau daripada yang keuntungannya lebih besar. Kewajiban ini menjadi hal yang tidak dapat di hindari ih\\hingga tahun 1800, sampai sampai hal ini menjadi alat pembayaran pajak. Hingga akhirnya terdapat sekitar 8000 lahan ganja dengan luas terkecil 2000 hektar.

Dukungan ini juga diberikan oleh Benjamin Franklin yang mendirikan salah satu pabrik kertas dari serat ganja di Amerika, hal ini menjadikan berakhirnya impor kertas dan buku di Inggris. George Washington pun juga ikut andil dalam mendukung pembudidayaan ganja.
Sayang sekali eksistensi ganja mulai berkurang saat abad ke-19, perlahan ganja tersingkir dari industri tekstil Amerika karenanya. Munculnya kapal uap pesiar yang menyingkirkan kapal layar juga menghapuskan peran stratregis ganja dalam kekuatan maritim Amerika. Satu abad setelahnya ilegalisasi ganja mulai digencarkan dan perlahan mulai menghapus ingatan orang Amerika akan kebergantungan mereka pada ganja beberapa abad sebelumnya.

8. Ganja dan Indonesia
Catatan mengenai ganja di Indonesia bisa dibilang sangat kurang sehingga sulit untuk memetakan peran tanaman ini di Indonesia. Menurut catatan berbahasa belanda, selain banyak tumbuhan di bagian utara Sumatera, ganja juga tumbuh di wilayah lainnya seperti Jakarta(Batavia), Bogor, dan juga ambon.

Sedangkan di wilayah aceh sangat suit untuk mengetahui asal muasal ganja. Salah satu kitab rujukan mengenai ganja adalah Mujarabat dan Tajul Muluk yang memberikan landasan agama untuk memanfaatkan ganja untuk kepentingan medis. Selain itu ganja juga dimanfaatkan untuk kebutuhan kuliner, seperti dicampur kopi (lako kopi), diminum bersama tuak, dijadikan dodol, dicampur dengan rokok ataupun dicampur bersama sayur-sayuran dan masakan lainnya.


Kandungan

Pengantar : Sebuah artikel yang berjudul “The Brain’s Own Marijuana” pada majalah Scientific American, Inc yang ditulis oleh Nicoll dan Alger pada tahun 2004 mengungkapkan sebuah temuan yang luar biasa dari berbagai dimensi. Artikel ini menyebutkan kalau ternyata otak manusia memproduksi zat yang dikandung oleh ganja. Dimensi pertama dari pernyataan ini adalah fakta yang mengingatkan kesadaran sebagai manusia bahwa kita adalah bagian yang terikat dan terkait erat dengan alam semesta dan seluruh makhluk hidup di dalamnya.

Dimensi kedua adalah pernyataan bahwa otak manusia, yang merupakan benda paling rumit di alam semesta yang kita kenal sampai sekarang, adalah juga ahli kimia yang luar biasa dalam bertahan mengarungi ombak dan gelombang perjalanan evolusi.

Molekul misterius hasil produksi otak ini diberi nama endocannabidoid, dan ternyata berperan dalam hampir semua proses fisiologis manusia. Kenyataan ini menarik, saat kita membandingkan bahwa endocannabidoid yang hanya dihasilkan oleh tanaman ganja memiliki fungsi yang sama dengan endocannabinoid yang dihasilkan oleh otak manusia. Karena temuan-temuan ini, bukanlah pernyataan yang mengherankan bila ganja disebut sebagai tanaman obat yang memiliki fungsi medis paling banyak dibandingkan tanaman obat lainnya (Ratsch, 2001).

Konsep evolusi memiliki sejumlah bukti kuat dalam hal hubungan biologis antara manusia dari tanaman ganja. Pada bayi yang baru lahir, endocannabinoid yang terkandung pada susu ibu memiliki efek merangsang bayi untuk terus mencari dan mengisap susu sehingga meningkatkan kemungkinannya bertahan hidup. Kekurangan atau terganggunya keseimbangan tingkat endocannabinoid pada manusia mengakibatkan gangguan kesehatan. Seperti EDS (Endocannabinoid Deficiency Syndrome) yang dapat disembuhkan dengan pemberian cannabinoid dari ganja.

Terdapat lebih dari 400 jenis senyawa yang terkandung dalam ganja, yang oleh kampanye anti narkotika seringkali disebut sebagai kumpulan zat kimia yang mematikan bagi manusia. Dari 400 senyawa yang baru diketahui ini, 60 diantaranya tegolong kelompok cannabinoid. Cannabinoid dibagi menjadi lagi menjadi sepuluh kelompok utama yaitu cannnabigerol (CBG), cannabichrome (CBC), Cannabidiol (CBD), A-9-tertrahydrocannabinol (A-9-THC), A-8-tetrahydrocannabinol(A-8-THC), Cannabicycol (CBL), cannabifelson (CBE), cannabinol (CBN), cannabinodiol(CBND), dan Cannabitriol (CBO). Satu-satunya senyawa dari kelompok cannabinoid yang diketahui sesbagai molekul psikoaktif yang menyebabkam efek “high” saat dikonsumsi oleh manusia adalah A-9-tetrahydrocannbinnol (A-9-THC) atau biasa disebut THC.

Sementara itu, molekul lain seperti CBD yang tidak bersifat psikoaktif diketahui memiliki fungsi sedatif, antikonvulsan, melindungi sel saraf dari sifat racun glutamat dengan berperan sebagai antioksidan, antiinflamasi, antijamur, dan antibakteri (McPartland dan Russo, 2001), CBD diketahui juga dapat menyebabkan apoptosis (penghancuran diri sendiri) pada sel-sel kanker glioma, serta pada saat yang sama melindungi kelompok sel saraf yang sehat (Hampson et al, 1998).

Molekul THC yang memabukkan dikenal sebagai antibiotik dan antibakteri yang bahkan lebih kuat daripada penisilin. THC juga dibuktikan lewat penelitian-penelitian medis sebagai zat yang dapat menghambat, bahkan menghentikan laju berbagai penyakit saraf mulai dari Alzheimer, Parkinson, hingga multiple sclerosis.

Cannabinoid dan endocannabinoid diketahui memiliki peran mengatur transmisi antarsel saraf. Bahkan menurut penelitian, cannabinoid dan endocannabinoid menjadi penghubung jalur komunikasi antarsel saraf yang sebelumnya tidak diketahui keberadaannya oleh para ilmuwan.
Cannabinoid juga berperan pada sistem reproduksi (Park, McParland dan Glass), pemulihan stress dan menjaga keseimbangan homeostatis (Di marzo, Melck, Bisogno, De Petrocelis, 1998), perlindungan sel saraf (Panikashvili, Mechoulam, Beni, Alexandrovich,  Shohami, 2005), reaksi terhadap stimulus rasa sakit (Cravat, Lichtman, 2004), regulasi aktivitas motoric (Van der shelt, Di marzo, 2003), serta mengontrol fase-fase tertentu pada pemrosesan memori (Wotjak, 2005).

Karakteristik unik lain dari senyawa cannabinol pada ganja adalah bahwa zat ini larut dalam lemak, namun tidak larut dalam air. Semua narkotika lain yang menyimpan ancaman overdosis seperti kokain, opium, heroin, dan amfetamin, hanya dapat larut dalam air, sehingga sering disalahgunakan dengan disuntikkan lewat pembuluh darah. Sifat cannabinol yang larut dalam lemak membuatnya mampu disimpan oleh sel-sel lemak dalam waktu yang lama sehingga tidak langsung menghilang dari tubuh. Oleh sebab itu, sisa pemakaian ganja dapat bertahan hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.


Belum ada bukti yang menyatakan bahwa keberadaan THC dalam sel-sel lemak memiliki efek jangka panjang maupun jangka pendek yang buruk (Drugs, The Straight Facts – p19). Tersisanya THC pada lemak justru berfungsi mencegah terjadinya ketergantungan, akibat hilangnya efek psikoaktif secara tiba-tiba. Atau dalam kata lain, mekanisme penyimpanan dan pelepasan THC secara bertahap dari lemak tubuh manusia mencegah perasaan kaget atau kejutan yang negatif bagi sistem saraf (sakau).



OVERDOSIS GANJA ?


“Dalam pengertian medis yang terukur, marijuana jauh lebih aman dari kebanyakan makanan yang kita konsumsi. Sebagai contoh, memakan sepuuh kentang mentah bisa meracuni badan. Sebagai perbandingan, adalah mustahil secara fisik untuk memakan marijuana dalam jumlah yang bisa menyebabkan kematian. Marijuana adalah salah satu zat terapeutik paling aman yang diketahui manusia. Dengan langkah analisis yang rasional, marijuana aman digunakan dalam pengawasan meids yang rutin.” (Francis Young, “Opinion and Recommended Ruling, Findings of Fact, Conclusion of Law and Decision of Administrative Law Judge”, Drug Enforcement Administration (DEA) 6 september 1988).


Dosis obat-obatan biasanya menggunakan ukuran LD-50 (Lethal Dose 50) oleh lembaga yang mengawasi dan mengesahkan peredarannya. LD-50 adalah ukuran yang menunjukkan berapa banyak dosis obat-obatan tersebut dapat menyebabkan kematian terhadap 50% dari hewan percobaan.
Sejumlah ilmuwan berusaha menentukan ukuran LD-50 dari ganja, sebanyak 3000 mg/kg ekstrak (konsentrat). THC dari ganja dalam ukuran tersebut diberikan kepada anjing dan monyet. Jumlah ini setara dengan konsumsi 21 kg ganja oleh manusia yang memiliki berat badan 70kg.

Dalam percobaan kedua, seekor monyet disuntik 92 mg/kg konsentrat THC. Jumlah ini setara dengan manusia seberat 70 kg yang menghisap habis 1,2 kg ganja dalam satu waktu. Hasilnya, monyet dan anjing dari kedua percobaan tersebut tidak mati dan bahkan tidak mengalami kerusakan organ (Phillips et al. 1971).

Sampai saat ini ukuran LD-50 yang diberikan ilmuwan kepada ganja adalah sekitar 1:40.000. angka yang masih diragukan, karena para ilmuwan belum yakin apakah 40.000 kali dosis ganja yang dikonsumsi oleh seorang manusia dalam satu waktu, mungkin menyebabkan kematian. Sebab, sampai saat ini (selama catatan 12.000 tahun pergaulan manusia dengan ganja) belum ada satupun catatan yang menyebutkan kematian akibat overdosis ganja. (Francis Young, “Opinion and Recommended Ruling, Findings of Fact, Conclusion of Law and Decision of Administrative Law Judge”, Drug Enforcement Administration (DEA) 6 september 1988).

Sebagai perbandingan, nikotin yang tidak pernah dilarang penggunaannya oleh pemerintah atas nama kesehatan manusia, memiliki ukuran dosis mematikan, LD-50, sebesar 1:50, garam dapur 1:3.000, aspirin 1:20, valium 1:10, dan vitamin-C 1:11.900. Fakta-fakta ini seharusnya dikaji oleh BNN yang rajin membagi-bagikan poster bergambar daun ganja dan tengkorak.


Penelitian JC. Garriot N yang diterbitkan dalam English Journal of Medicine tahun 1971 memperkirakan bahwa seseorang harus merokok 800 batang ganja untuk menimbulkan reaksi fatal, dan reaksi ini pun sebenarnya di dapat dari overdosis karbon monoksida. Sebagai perbandingan lainnya, hanya dibutuhkan 60 mg nikotin dari tembakau atau 300 ml alkohol untuk menciptakan reaksi overdosis pada manusia.

Bagaimana ganja memiliki resiko overdosis yang jauh lebih kecil dibandingkan zat-zat yang biasa kita konsumsi, dijelaskan oleh ilmuwan melalui penelitian, bahwa sedikit sekali terdapat reseptor cannabinoid pada bagian batang otak. Bagian ini mengatur secara otomatis mekanisme sistem organ penting yang menyokong kehidupan manusia seperti otot-otot pernapasan dan otot-otot jantung.


Manfaat

1. AlzaimerPada tahun 2005, Journal of Neuroscience memuat penelitian dari Complutense University dan Cajal Institute di Spanyol, yang melaporkan bahwa pemberian sintetis zat aktif ganja dapat mencegah kerusakan kognisi dengan mengurangi neurotoksitas (sifat racun pada sel saraf) pada tikus yang diinjeksi amyloid-beta-peptode (diyakini menjadi salah satu penyebab Alzheimer. Para ilmuwan dari spanyol ini juga menyimpulkan bahwa cannabinoid berhasil mencegah proses rusaknya sel saraf akibat Alzheimer.

2.  Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Adalah penyakit saraf deurogeneratif yang fatal. Gejala ini ditandai dengan kehilangan sel-sel saraf motoric pada tulang belakang, batang otak, dan korteks otak yang menangani fungsi motorik. Sekitar 30.000 orang Amerika mengidap penyakit ini.
Menurut survey pemakaian ganja pada penderita ALS yang dimuat The American Journal of Hocspice and Polliative Care 21:95-104, tahun 2004, cannabinoid pada ganja dapat memperlambat laju ALS, serta efektif memodernisasi perkembangan penyakit tersebut. Cannabinoid juga dapat mengurangi gejala-gejala yang menyertai ALS seperti rasa sakit, hilangnya nafsu makan, depresi, dan menetesnya air liur secara tidak terkendali.
Pada tahun yang sama (2004), peneliti dari California Pacific Medical Center di San Fransisco, dalam Journal of Amyotrophic Lateral Sclerosis & Other Motor Neuron Disorders melaporkan, bahwa pemberian THC sebelum dan sesudah munculnya gejala ALS berhasil menghambat laju penyakit tersebut.

3.  Fibromyalgia. Adalah gejala rasa sakit yang penyebabnya tidak diketahui. Fibromyalgia ditandai dengan menyebarnya rasa sakit pada otot serta tulang, kelelahan, nyeri pada leher, tulang belakang, bahu dan pinggul. Studi pengobatan menggunakan cannabinoid untuk penderita fibromyalgia masih sangat terbatas. Satu-satunya percobaan klinis dilakukan oleh peneliti dari Universitas Heidelberg, Jerman, yang dimuat Journal of Current Medical Research and Opinion.
Pada penelitian ini, ilmuwan mempelajari efek penghilang rasa sakit (analgesik) dari pemberian THC secara oral kepada 9 pasien fibromyalgia selama periode 3 bulan. Dosis yang diberikan adalah 2,5 mg sampai 15 mg THC per hari, dan para pasien tidak diberikan pengobatan penghilang rasa sakit lainnya. Dari 9 pasien yang diteliti, semuanya melaporkan berkurangnya rasa sakit secara drastis selama percobaan. 

4. Glukoma. Adalah kondisi dimana sirkulasi cairan mata ini terganggu karena salurannya tersumbat. Penyumbatannya meningkatkan tekanan cairan ke dalam bola mata dan menghalangi masuknya darah, menekan sel-sel saraf retina, serta pada akhirnya mengurangi kemampuan penglihatan secara bertahap.
Para pemakai ganja sangat familiar bahwa “mabuk” ganja menyebabkan mata merah. Efek ini ternyata membawa dampak positif bagi kesehatan mata. Menurut studi yang dilakukan tahun 1970, menunjukkan bahwa memerahnya mata akibat mengisap ganja disebabkan masuknya darah ke dalam mata akibat turunnya IOP (Intra Ocular Pressure) atau tekanan cairan dalam bola mata, yang menjadi salah satu penyebab terjadinya glaukoma. US National Eye Institute pada tahun 1978-1984, membiayai studi penelitian mengenai kemungkinan efek ganja dapat mengobati glaucoma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ganja memang dapat menurunkan tekanan cairan dalam bola mata secara efektif dibandingkan berbagai obat glaucoma yang ada di pasaran.

5. Gangguan saluran pencernaan. Laporan dalam literature ilmiah modern paling tua mengenai pengobatan masalah pencernaan ini berasal dari Kanada yang diterbitkan Journal of Psychoactive Drugs tahun 1984.
Meski tidak ada laporan percobaan klinis soal penelitian pengobatan saluran pencernaan menggunakan ganja, beberapa laporan praklinis menyebutkan bahwa aktivasi reseptor CB-1 dan CB-2 oleh zat psikoaktif yang terkandung dalam ganja mempunyai beberapa pengaruh pada saluran pencernaan. Efek-efeknya antara lain mengurangi gangguan pergerakan lambung dan usus, menghambat sekresi cairan pada usus, mengurangi acid reflux (mengalirnya kembali asam lambung ke kerongkongan), dan perlindungan dari radang.

6. HIV/AIDS. HIV/AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang sel-sel kekebalan tubuh. Penggunaan ganja dalam pengobatan HIV/AIDS menyebabkan ganja menjadi populer dalam dunia medis modern.  Data dari survey menunjukkan bahwa 1 dari 3 pasien penderita HIV/AIDS di Amerika Utara memakai ganja untuk mengobati gejala akibat HIV, serta menghilangkan rasa sakit sebagai efek samping penggunaan obat-obatan retrovirus. Pasien penderita HIV/AIDS mengonsumsi ganja untuk mengobati berbagai gejala seperti kecemaasan, kehilangan nafsu makan, dan mual-mual.

7. Kesulitan buang air. Penyakit urinary uncontinence adalah kesulitan mengontrol kandung kemih. Kondisi ini disebabkan berbagai factor biologis seperti otot kandung kemih yang lemah, radang, atau bisa juga disebabkan kerusakan saraf akibat penyakit multiple sclerosis atau Parkinson.
Peneliti dari London Institute for Neurology mengikuti penemuan ini dengan membuat studi label-terbuka dengan memakai ekstrak ganja untuk gangguan fungsi kandung kemih pada 15 pasien penderita multiple sclerosis tahap lebih lanjut. Hasilnya, dorongan untuk kencing, frekuensinya, dan terbangun untuk kencing pada jam tidur/malam hari (nocturia), berkurang drastic. Para peneliti juga menyatakan, bahwa ekstrak ganja untuk keperluan medis aman dan efektif untuk mengatasi masalah kontrol kandung kemih penderita multiple sclerosis.

Penemuan ini dikonfirmasi dalam studi yang lebih besar, melibatkan 630 pasien yang mendapat dosis ekstrak THC dengan cara dimakan. Studi yang dilakukan tahun 2006 ini melaporkan. Bahwa pasien yang diberi ekstrak ganja merasakan berkurangnya gejala incontinence sebesar 38%.
Data terakhir yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Urological Assocation (Asosiasi Urologi Amerika) tahun 2006, menyebutkan bahwa ganja dapat mengurangi inflamasi dan aktivitas berlebih dari kandung kemih pada hewan.

8. Rheumatoid Arthritis. Radang sendi rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit inflamasi pada persendian yang ditandai dengan rasa sakit, kaku, dan bengkak, serta kehilangan fungsi badan secara tiba-tiba. Penyakit ini diperkirakan diderita oleh 1% populasi Amerika, dengan mayoritas penderita kaum perempuan.
Pada tahun 2006, peneliti dari British Royal National Hospital for Rheumatic Disease melaporkan keberhasilan pengobatan rheumatoid arthritis menggunakan ekstrak cannabinoid dalam percobaan terkontrol.
Data praklinis juga menunjukkan bahwa cannabinoid dapat menghambat laju penyakit RA, baik pada percobaan laboratorium maupun pada percobaan dengan hewan. Dengan merangkum berbagai literatur tentang efek ganja dan radang persendian ini, tulisan pada Journal of Neuroimmunology edisi September 2005, sejumlah peneliti dari Tokyo’s National Institute for Neuroscience menyimpulkan bahwa terapi cannabinoid pada pengidap RA dapat memberikan pengobatan terhadap gejala rasa sakit dan bengkak persendian, sekaligus juga menghambat laju perusakan sendi dan laju penyakit RA secara keseluruhan. Molekul CBD dari ganja yang digunakan, juga tidak memiliki efek memabukkan seperti molekul ‘sepupunya’ THC. Sehingga pemakaiannya tidak akan ‘mengganggu’ kegiatan sehari-hari pasien.

9. Asma. Adalah gejala kesulitan bernapas, dan bersin-bersin yang disebabkan kejangnya saluran pernapasan, ini menyebabkan meningkatnya produksi mukus (lendir) dan membengkaknya bran mukus.
Dalam sebuah studi yang dimuat American Review of Respiratory Disease, Vol 112, tahun 1975, dengan judul “Effects of Smoked Marijuana In Experimentally Induced Asthma” disebutkan bahwa ganja dapat mengobati kondisi hiperinflasi pada paru-paru dan asma yang dipicu oleh kelelahan dalam waktu seketika.
Eksperimen untuk menguji efek antiasma dan THC atau ganja sudah dimulai sejak tahun 1970. Merokok ganja atau memberikan ganja dengan cara dimakan memiliki efek bronchodilator yang sama dengan obat-obatan untuk asma seperti salbutamol dan isoprenaline. Walaupun THC dalam ganja memiliki khasiat melegakan saluran pernapasan pada gejala asma, memakainya dengan cara dirokok tentunya memiliki resiko kesehatan sendiri. Karena itu ilmuwan kesehatan saat ini sedang berusaha membuat alat penghisap semacam inhaler atau vaporizer (penguap) zat THC untuk asma yang tidak memakai proses pembakaran.

10. Depresi. Depresi merupakan gangguan pskiatri yang ditandai berubahnya suasana hati, tertekan dan atau kehilangan kesenangan dan atau minat terhadap kebanyakan akivitas (anhedonia). Ciri-ciri depresi adalah perubahan berat badan, pola tidur, perilaku psikomotor, tingkat energi, dan fungsi kognitif (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: DSM-IV; American Psychiatric Association; Washington, DC; 1994).
Dalam artikel majalah Scientific American, Inc tahun 2004, berjudul The Brain’s Own Marijuana disebutkan bahwa endocannabinnoid berperan penting dalam menghilangkan perasaan buruk ataupun pengalaman sakit yang ditimbulkan oleh stimulus ingatan masa lalu. Ini bertentangan dengan hal yang sering dipublikasikan media bahwa pemakaian ganja berhubungan erat dengan depresi.

11. Insomnia. Pada tahun 1890, J.R. Reynolds, dokter pribadi Ratu Victoria, menyimpulkan 30 tahun pengalamannya bersama Cannabis Indica. Reynolds merekomendasikan ganja untuk pasien-pasiennya yang menderita senile atau insomnia karena faktor usia.
Insomnia atau penyakit sulit tidur biasanya diobati dengan berbagai macam obat-obatan psikotropika, salah satunya valium. Penelitian modern menunjukkan bahwa tidur yang dibantu cannabinoid tidak berbeda dari tidur yang dibantu dengan hipnotis. Penelitian menunjukkan bahwa zat CBD (cannabidiol) mempunyai efek lebih baik daripada THC dalam membantu masalah sulit tidur.
Sementara tidur yang dibantu valium, dapat menghambat atau memperpendek tahapan bermimpi dalam tidur. Pada tahun 2005, tercatat 1.450-an kematian di Amerika disebabkan overdosis valium. Sedangkan penggunaan ganja sama sekali tidak memiliki catatan overdosis.

12. Antibiotik. Dalam sejarah penggunaan medis, ganja dikenal mampu membunuh bakteri dan berbagai organisme pathogen (sumber penyakit). Khasiat anti bakteri telah ditemukan dari berbagai zat aktif ganja (cannabinoid) seperti CBD, CBG, dan delta-9-THC.
Dalam Acta Universitatis Palackianae OlomucensisTom, VI. Tahun 1955 berjudul “Hemp as a Medicament” yang ditulis Prof. Jan Kabelik, dibuat eksperimen bakteriologi dengan ekstrak Cannabis Indica untuk mengetahui efek antibiotik dari ekstrak ini. Bakteri-bakteri yang diketahui terpengaruh oleh zat aktif yang terkandung dalam ganja adalah; Micrococcus albus, Staphylococcus aureus (tahan terhadap penisilin dan antibiotik lain), Streptococcus alpha haemolyticus, Streptococcus beta haemolyticus, Enterococcus, Diplococcus pneumonia, Sarcina lutea, Bac. subtilis, Bac. anthracis, Cornybacterium diptheriae, Cornybacterium cutis, Bac. mesenteribactericus, Clostridium perfringens, Erysipelothrix rhusiopath, serta Mycobacterium tuberculosis (penyebab TBC). Ganja juga diketahui dapat menghambat replikasi HSV (Herpes Simplex Virus).

13. Meningkatkan Penglihatan Malam. Navigasi di lautan membutuhkan mata yang tajam (selain kompas) karena bentuk dan posisi bulan serta posisi bintang-bintang harus diawasi terus-menerus. Sebelum ada alat navigasi seperti GPS (Global Positioning System), pelayaran sangat mengandalkan ketajaman indra manusia. Bahkan pada malam dengan bulan purnama yang terang sekalipun, mata yang tidak awas bisa membawa kapal menabrak karang.
Salah satu penemuan menarik tentang efek ganja pada indra manusia adalah adanya laporan bahwa pemakaian ganja dapat meningkatkan kemampuan melihat dalam gelap. Penemuan ini diilhami oleh fakta menarik bahwa nelayan Moroko yang gemar mengisap kif (campuran tembakau dan ganja) sebelum melaut tidak kehilangan arah dan bahkan dapat memandu (navigasi) dengan lebih baik walau dalam malam yang sangat gelap.

Sebelumnya, kemampuan melihat dalam gelap para sukarelawan ini diukur menggunakan alat portable TKC Technologies Scotopic Sensitivity Tester (SST-1). Hasil uji penglihatan kemudian dibandingkan dengan hasil setelah mengisap ganja.
Para ilmuwan menemukan bahwa para sukarelawan menunjukkan meningkatnya kemampuan melihat dalam gelap. Mereka berpendapat bahwa hasil ini menunjukkan bahwa ganja memiliki nilai medis potensional dalam pengobatan penyakit seperti retinis pigmentosa yang menyebabkan kebutaan. Sue Arnold melaporkan bahwa setelah mengisap ganja Jamaika yang efeknya kuat, tiba-tiba untuk sementara dia dapat melihat dengan jelas.

14. Kanker dan Leukimia. Kanker adalah penyakit penyebab kematian nomor dua tertinggi di dunia (13%). Ciri-ciri utama kanker adalah tumbuhnya sejumah sel secara tidak terkontrol (pertumbuhan dan pembelahan berlebihan yang tidak normal), invasi (memasuki dan menghancurkan jaringan di sekitarnya), dan metafasis (menyebar ke bagian lain badan lewat darah atau cairan getah bening).Ciri-ciri itulah yang menyebabkan tumor berbeda dari kanker. Tumor berkembang terbatas pada daerah tertentu saja dan tidak menyebar ke daerah lainnya.

Macam-macam pengobatan kanker terdiri atas operasi beda (untuk mengangkat tumor dan sel-sel kanker), terapi radiasi (mematikan sel-sel kanker dengan radiasi), kemoterapi (obat-obatan untuk membunuh sel kanker), terapi imunitas (merangsang sistem imunitas tubuh untuk melawan kanker) dan terapi antibody monoclonal (membunuh sel kanker dengan antibodi buatan).
Obat-obatan yang digunakan dalam yang digunakan dalam kemotrapi termasuk dalam zat-zat kimia paling beracun yang digunakan dalam dunia kedokteran. Obat-obat inii membunuh sel-sel kanker dan juga sel yang sehat. Kemoterapi menyebabkan efek samping yang membuat pasien semakin menderita seperti mual-mual yang parah, muntah-muntah, kerontokan rambut, dan berkurangnya sel darah merah.

Penggunaan ganja untuk mengurangi berbagai efek samping pengobatan kanker ilmiah yang salah satunya mendongkrak popularitas ganja dalam dunia medis internasional. Namun, penelitian medis paling mutakhir menunjukkan bahwa ganja memiliki potensi yang lebih besar dalam pengobatan kanker. Ganja memiliki kemampuan membunuh berbagai jenis sel tumor dan menghambat metastasis (penyebaran) sel-sel tersebut.
Tidak hanya berguna mengurangi rasa sakit dan segala ketidaknyamanan dalam pengobatan kanker, zat psikoaktif delta-9-THC terkandung dalam ganja terbukti mampu menghambat replikasi sel kanker payudara, membunuh sel-sel kanker pankeas secara selektif tanpa mencederai jaringan normal lainnya. Sementara zat non-psikoaktif ganja, CBD (cannabinol), terbukti punya efek antitumor pada sel-sel tumor glioma yang menyerang sistem saraf pusat.
Penelitian Manuel Guzman yang diterbitkan dalam Journal of Nature Review tahun 2003 menyebutkan bahwa pada percobaan invivo (pada tikus) dan invitro (di luar organisme), senyawa-senyawa cannabinoid memiliki efek menghambat pertumbuhan sel-sel tumor glioma, tumor pada tiroid, limfadenoma, kulit, rahim, payudara, prostat dan neuroblastoma.
Dalam penelitian lainnya, zat THC pada ganja juga terbukti memicu apoptosis (penghancuran sel) selektif hanya pada pada sel-sel kanker darah (leukimia) dalam jangka waktu 6 jam. Senyawa THC melakukan ini dengan cara memengaruhi gen MKP3, yang membantu menghentikan proses komunikasi di dalam sel yang berkaitan dengan sistem pertahanan sel-sel tumor. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ganja memperlemah pertahanan sel-sel tumor ini terhadap sistem kekebalan tubuh manusia.
 Menurut Crhistina Blazquez, ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini, “Cannabinoid menghambat respons angiogenesis, bila tumor tidak melakukan angiogenesis, ia tidak akan tumbuh, bila di satu sisi angiogenesis dapat dihambat dan di sisi lain sel tumor dapat dibunuh, maka anda mendapat sebuah terapi untuk kanker”.
15.  Diabetes. Diabetes adalah penyebab kematian nomor 3 di Amerika Serikat setelah jantung dan kanker. Diabetes adalah penyakit autoimunitas yang ditandai dengan turunnya produksi insulin yang menyebabkan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia).
Beberapa studi menunjukkan bahwa cannabinoid dapat membantu mengurangi gejala-gejala akibat diabetes. Dalam studi yang diterbitkan pada Journal Autoimmunity, injeksi 5 mg CBD (cannabidiol) setiap hari dapat mengurangi insiden timbulnya diabetes pada tikus percobaan. Sebanyak 86% tikus yang tidak mendapat asupan CBD mengidap diabetes, dan hanya 30% dari kelompok tikus yang diberikan CBD mengidap penyakit ini.

Kemudian studi pada tahun 2001, mengungkap peran senyawa delta-9-THC dalam pengobatan diabetes. THC mengurangi kemungkinan diabetes pada tikus yang diberikan kadar glukosa lebih dalam darahnya dan pengurangan insulin secara buatan, dibandingkan dengan tikus yang tidak diberikan THC.

16. Gangguan Perkembangan Menyeluruh (Pervasive Developmental Disorder/PDD)
Studi kasus yang dilakukan Institute of Legal-and Traffic Medicine, Universitas Heidelberg, Jerman yang dipublikasikan pada tahun 2007, menyebutkan ganja memiliki khasiat mengobati ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau gangguan konsentrasi dan hiperaktivitas.
Dalam studi kasus ini, peneliti mengambil sampel dari laki-laki berumur 28 tahun yang menunjukkan perilaku gejala ADHD. Ketika mendapat asupan delta-9-THC, gejala ADHD pada orang tersebut nyari tak terlihat lagi.

Menurut DR. Bernard Rimland dari ARI (Autism Research Institute), ganja merupakan alternative paling aman dan tidak berbahaya bila dibandingkan obat-obatan standard lainnya.
Pemakaian ganja untuk mengobati gejala-gejala yang berhubungan dengan penyakit gangguan perkembangan atau kerja otak ternyata sudah cukup popular di masyarakat Amerika. Survei lewat internet oleh AAMC (American Alliance for Medical Cannabis) pada tahun 2002 menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan. Sebanyak 81 penderita ganguan bipolar, 53 penderita ADD/ADHD, dan 10 penderita autisme menggunakan ganja untuk mengobati gejala-gejala yang terkait penyakit masing-masing.

17.  Distonia. Distonia adalah penyakit gangguan saraf yang memengaruhi gerak otot. Gejalanya adalah ketegangan tidak normal pada otot dan kontraksi tidak disengaja (involuntary) yang menyebabkan rasa sakit. Distonia yang diderita lebih dari 300 ribu orang di Amerika Utara adalah penyakit gangguan otot ketiga terbesar setelah Parkinson dan tremor (gemetaran).

Pada tahun 2002, studi kasus yang dirilis di The Journal of Pain and Symptom Management melaporkan indikasi kesembuhan pada penderita distonia berumur 42 tahun setelah mengisap ganja peneliti melaporkan bahwa skor rasa sakit yang di derita orang tersebut, turun dari 9 ke 0 pada skala 0 sampai 10, segera setelah mengisap ganja. Subjek juga tidak memerlukan tambahan obat-obatan penghilang rasa sakit (analgesik) selama 48 jam berikutnya. “Tidak ada pengobatan lain sampai hari ini yang bisa memberi hasil menyeluruh begitu dramatis pada kondisi pasien,” kata peneliti mengenai percobaan ini.

Peneliti juga menambahkan bahwa sebelum diberi pengobatan cannabinoid, pasien ini tidak merespons berbagai pengobatan standar dan tidak lagi dapat tampil bermain piano di muka umum. Selain mengurangi gejala, sebuah penelitian klinis menyebutkan bahwa pemberian dosis tinggi cannabinoid dapat mengurangi laju penyakit distonia pada hewan. Beberapa penelitian juga menyebutkan efek yang sama pada manusia. 

18. Epilepsi. Epilepsi adalah keadaan neurologis yang diderita oleh satu dari seratus orang. Pemahaman awam menyebutkan bahwa epilepsi adalah serangan kejang-kejang yang parah sehingga menghilangkan kesadaran. Padahal, gejala-gejala seperti hilangnya kesadaran sesaat (lapses of consciousness), kejang, mengerutnya otot wajah tanpa sadar; gerakan-gerakan otot yang berulang atau sekadar perasaan aneh tiba-tiba juga temasuk dalam kategori serangan epilepsi.

Epilepsi biasanya diobati dengan obat-obatan anti-konsulvan (anti kejang) modern berbahan sintetis, seperti barbiturate, benzodiazepine, dan sebagainya, yang dapat membuat pasien tidak dapat melakukan aktivitas normal. Banyak pasien yang menderita sakit tak tertahankan hingga komplikasi fatal karena pengobatan standard medis ini. Banyak penderita epilepsi yang kemudian menolak pengobatan karena munculnya efek samping tersebut.

Referensi pemakaian ganja untuk pengobatan epilepsi sudah ada sejak zaman Ibnu Sina (Avicenna) dan Al-Masi pada abad ke-11 , serta Al-badri pada abad ke-15 (Lozano, 1989-90, hlm. 174 f). Sementara pada tahun 1971, Medical World News melaporkan bahwa; “Mariyuana mungkin adalah obat anti-epilepsi paling kuat yang dikenal dunia kedokteran sekarang”. (Mikuriya, Marijuana Medical Papers 1829-1972, hlm xxii).
Penelitian militer Amerika terbaru melaporkan, bahwa tikus yang diberikan cannabinoid sintetis memiliki kemungkinan 70% lebih rendah terkena serangan epilepsi dan kerusakan otak setelah dipaparkan gas saraf. Penelitian lainnya juga menyebutkan bahwa pemakaian ganja pada penderita epilepsi lama-kelamaan akan menumbuhkan toleransi tubuh terhadap molekul THC yang memiliki fungsi mengurangi kejang-kejang.

Toleransi yang sama tidak ditemukan terhadap molekul CBD, sehingga isolasi molekul CBD dari ganja untuk mengobati epilepsy akan menjadi masa depan pengembangan obat epilepsi.

19. Migrain dan Sakit Kepala. Bagi para pemakai ganja, keampuhan merokok selinting gnja untuk menghilangkan sakit kepala atau migrain merupakan hal biasa. Fungsi medis mengobati sakit kepala dan migraine inilah yang pertama kali diketahui masyarakat.
Kedokteran modern mengidentifikasi PAG (Perlaqueductual Graymatter) sebagai daerah pada otak di mana sering terjadi gejala migraine (Goadsby and Gundlach, 1991). Studi pada tahun 1996 pada tikus menunjukkan bahwa delta-9-THC dan senyawa cannabinoid memiliki efek antinociceptive (mengurangi sensitivitas pada stimulus yang menyakitkan) pada daerah PAG (Lichtman et al, 1996).

Riset lain menjelaskan bahwa aktivitas anadamide (salah satu endocannabinoid) dan cannabinoid lainnya, menghambat reseptor serotonin tipe-3 pada tikus. Reseptor ini diketahui sebagai jalur respon sakit dan rasa mual (Fan, 1995).
Pada tahun 1915, Sir William Osler yang juga dikenal sebagai salah satu “bapak pengobatan modern”, menyatakan “Cannabis indica mungkin adalah obat paling memuaskan dalam pengobatan migrain”.

Referensi paling jelas soal kegunaan ganja untuk mengatasi sakit kepala, dijelaskan Ibnu Sahl pada abad ke-9, Ibnu Sahl meresepkannya dalam bentuk jus ganja (ma al-sahdanay) untuk mengobati sakit yang tertahankan, khususnya sakit kepala dan migrain. Namun, yang paling menarik adalah arti samar-samar dari kata induk asal-usul nama ganja dari cannabis. ganzigunna, yang dalam bahasa Sumeria pada tahun 4000 SM – 3000 SM yang memiliki arti “pencuri jiwa yang terpintal”.

20. Penyakit dan Kondisi pada mulu. Ganja juga berkhasiat mengobati penyakit-penyakit mulut. Sejak zaman dahulu, orang-orang di Mesir menggunakan hasish untuk mengobati infeksi pada mulut atau gusi. Dalam pengobatan modern, efektivitas ini ternyata juga dibuktikan oleh penelitian yang dimuat dalam Acta Universitatis Palackianae Olomucensis dengan judul “Hemp as a Mediciament” tahun 1955 oleh Profesor Jan Kubelik.
Dalam penelitian lain, ganja juga ditemukan berguna dalam bentuk campuran steril bubuk gigi untuk perawatan dan pengobatan gigi yang vital. Efek analgesik dan antibiotik dari zat cannabinoid membuatnya berharga dalam kasus-kasus penambalan gigi langsung yang dicobakan kepada 300 pasien, maupun penambalan tidak langsung (70 pasien).

21.  Multiple Sclerosis (MS). Adalah penyakit yang merusak sistem saraf pusat dan menyebabkan berkurangnya koordinasi motorik dan melemahnya otot. MS adalah keadaan di mana sistem kekebalan tubuh (autoimmunitas) menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kerusakan pada myelin (selubung yang menutupi sambungan-sambungan antarsel saraf). Demielinasi ini menyebabkan saraf tidak lagi dapat menyalurkan listrik dengan baik dan merusak kerja otak. Menurut US National Multiple Sclerosis Society, sekitar 200 orang dengan rentang umur 20-40 tahun setiap minggu di diagnosis menderita penyakit ini.
Beberapa peneliti dari Departemen Neurologi, Netherland’s Vrije University Medical Center menemukan untuk pertama kalinya, bahwa THC juga memiliki efek membantu meningkatkan sistem imunitas bagi penderita MS dengan mengurangi serangan dari sel-sel kekebalan tubuh. 

22. Perlindungan Sel Saraf (Neuroproteksi)
Klaim bahwa ganja menghancurkan sel-sel otak didasarkan pada laporan-laporan spekulatif setengah abad lalu yang tidak pernah didukung oleh satu pun studi ilmiah” (Zimmer & Morgan,1997).
Bertentangan dengan propaganda antiganja yang menyatakan ganja mematikan sel-sel saraf dan merusak otak secara permanen, beberapa penelitian modern justru menemukan bahwa cannabinoid memiliki efek melindungi sel-sel saraf. Studi ilmiah menunjukkan bahwa senyawa cannabinoid dalam ganja melindungi saraf dengan menghambat proses molekular berupa oxidative stress (tekanan oksidasi) dan glutamate excitocity (eksotisitas glutamat). Kedua proses ini berperan dalam merusak sel saraf.
Fungsi perlindungan saraf (neuroproteksi) oleh ganja berjalan melalui lima mekanisme:
1. Mengurangi eksotoksisitas (pengeluaran zat-zat racun) dengan menghambat pelepasan neurotransmitter jenis glutamat, atau dengan memblokir reseptor-reseptor lainnya.
2.  Memblokir dan menghambat naiknya pelepasan kalsium yang dipicu oleh reseptor NMDA
3. Mengurangi luka oksidatif (luka karena reaksi dengan molekul oksigen) dengan berfungsi sebagai pengumpul zat-zat oksigen yang paling mudah bereaksi.
4. Mengurangi radang lewat aktivitas reseptor CB-2 pada aktivitas sel glial (salah satu jenis sel saraf) yang mengatur regenerasi dan kemampuan bertahan hidup.
5. Mengembalikan suplai darah ke daerah yang terluka dengan mengurangi penyempitan atau memperlebar pembuluh darah (vasokontriksi).

Peneliti dari National Institute of Mental Health (NIMH), menemukan bahwa THC, zat psikoaktif utama dalam ganja (yang memberikan efek ‘high’) dan CBD, zat non-psikoaktif yang berefek anti-konvulsan (mencegah kejang), memiliki efek antioksidan kuat.

Menurut ilmu kedokteran, antioksidan diandalkan untuk melindungi sel-sel saraf pada korban stroke dari aktivitas zat-zat racun kimia otak yang dikenal dengan nama glutamat. Trauma (benturan) pada kepala dan stroke menyebabkan terputusnya suplai oksigen pada sel-sel saraf di daerah terjadinya trauma dan stroke. Putusnya suplai oksigen ini menyebabkan pelepasan glutamat secara berlebihan dan mengakibatkan kerusakan permanen pada sel-sel otak.

Ilmuwan menyatakan, CBD memiliki keunggulan dibanding antioksidan pada umumnya, karena senyawa CBD bekerja dengan cepat menembus blood-brain barrier (filter darah yang masuk ke otak) dengan mudah dan tidak mengasilkan racun.

23. Pertumbuhan Sel Saraf (Neurogenesis). Penelitian ilmiah terbaru yang dipimpin oleh Xia Zhang dari Departemen Pskiatri, University of Saskatchewan di Saskatoon dan di publikasikan tahun 2005, menunjukkan bahwa senyawa-senyawa cannabinoid adalah satu-satunya zat yang justru merangsang neurogenesis pada hipokampus bila diberikan pada dosis tinggi. 

Salah satu bagian dari hipokampus , tepatnya hippocampaldentate gyrus pada otak mamalia dewasa, mengandung sel neuralstem/progenitor cells (NS/PCs) yang memiliki kemampuan menghasilkan bahwa kemampuan menghasilkan sel saraf baru lewat proses neurogenesis. Zhang juga menyatakan bahwa kemampuan ganja untuk meningkatkan produksi sel-sel saraf baru berhubungan dengan efek mengurangi kecemasan dan efek anti-depresi.

24. Osteoporosis. Adalah penyakit degeneratif pada tulang yang ditandai dengan rusaknya jaringan tulang. Pasien dengan osteoporosis memiliki resiko berbagai macam keretakan dan patah tulang. Di Amerika, menurut US Surgeon’s General Office, sekitar 10 juta orang dengan umur di atas 50 tahun menderita osteoporosis. Sedangkan 34 juta lainnya memiliki resiko untuk mengidapnya di kemudian hari.
Studi ilmiah pertama yang menyebutkan bahwa cannabinoid melindungi tulang dari munculnya osteoporosis, berasal dari Cekoslovakia pada tahun 1995. Namun, baru pada tahun 2006 ilmuwan dari National Academy of Sciences di laboratorium tulang, Hebrew University, Yerusalem, melaporkan bahwa pemberian senyawa sintetis cannabinoid, HU-308, dapat memperlambat perkembangan osteoporosis, merangsang pembangunan tulang, dan mengurangi hilangnya jaringan tulang pada hewan. 
Penelitian lebih lanjut yang dipublikasikan Annals of the New York Academy of Sciences pada tahun 2007, menghasilkan kesimpulan bahwa aktivasi reseptor cannabinoid CB2 dapat mengurangi hilangnya jaringan tulang.

25.  Kardiovaskular. Penyakit kardiovaskular merujuk pada berbagai penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah (arteri dan vena). Namun, istilah penyakit kardiovaskular lebih umum menunjuk pada peristiw artherosklerosis atau pengerasan/penebalan dinding pembuluh darah arteri karena pengendapan lemak, kompleks karbohidrat produk darah, jaringan ikat, dan kalsium. 

Lebih khusus lagi, artherosklerosis adalah penumpukkan sel makrofage darah putih serta lemak dan kolesterol (yang diangkut oleh lipoprotein) pada saluran arteri yang berakibat menyempitnya saluran arteri karena kurangnya HDL (High Density Lipoprotein). HDL atau dikenal dengan “kolesterol baik” berperan sebagai pembersih dan pengangkut “kolesterol jahat” dari pembuluh darah ke hati. Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. 

Pada sisi yang lain, peneliti dari Bar-Ilan University di Ramat-Gan, Israel, melaporkan bahwa THC melindungi sel-sel jantung (cardiomyocytes) dari kerusakan akibat hypoxia (rendahnya konsentrasi oksigen dalam darah). Efek perlindungan dari THC ini dimediasi lewat reseptor CB2. Aktivasi reseptor CB2 oleh THC juga memicu produksi Nitric Oxide (NO) yang kemudian memberi sinyal kepada otot halus pembuluh darah untuk beristirahat, yang kemudian memperbesar arteri dan melancarkan laju aliran darah.

Fungsi ini terdapat pada nitrogliserin dan kebanyakan obat penyakit jantung lainnya yang berfungsi menyuplai NO dalam tubuh. Studi lain menggunakan tikus percobaan menunjukkan, bahwa delta-9-THC dapat melindungi tubuh dari berkembangnya proses artherosklerosis. Seekor tikus yang diberi asupan kolesterol tinggi menunjukkan munculnya penumpukkan lemak pada arteri dalam laju yang cepat. Pemberian 1mg/kg delta-9-THC setiap hari memperlihatkan penurunan yang berarti pada laju proses terjadinya artherosklerosis.

26. Penyakit Sapi Gila (Prion/Mad Cow Disease). Transmissible spongiform encephalopathy atau biasa disebut prion atau penyakit sapi gila adalah penyakit saraf yang disebabkan oleh akumulasi prion (partikel berbahan protein) di otak yang merusak saraf dengan membaut lubang-lubang kecil seperti spons pada bagian korteks dari otak.

Menurut data ilmiah, pemberian zat cannabinoid non-psikoaktif dan cannabidiol (CBD) dapat menghambat pengumpulan prion di otak dan melindungi sel saraf dari racun. Hasil ini juga dikonfirmasi oleh ilmuwan National Center of Scientific Research (NCSR) di Prancis yang melaporkan bahwa pemberian CBD dapat melindungi saraf dari berbagai factor-faktor molekuler dan seluler yang terlibat dalam berbagai tahap dari proses degenerasi sel otak pada infeksi prion. Menurut ilmuwan-ilmuwan ini, CBD dapat menjadi obat anti-prion masa depan, di mana saat ini belum ada sama sekali pengobatan untuk penyakit ini.

27. Pruritus. Pruritus atau gatal-gatal adalah gangguan yang biasa menyertai berbagai macam jenis penyakit kulit. Tidak seperti sensasi pada kulit yang lain seperti perubahan temperatur, tekanan, dan tekstur, gatal-gatal adalah aktivitas yang disebabkan perubahan sistem saraf pusat. Gatal-gatal juga bisa merupakan gejala yang disebabkan oleh gagal ginjal dan penyakit liver.

Berbagai studi tentang ganja sebagai obat gatal-gatal akibat kelainan saraf, menunjukkan hasil yang positif. Studi pertama di Amerika yang mengujicobakan ekstrak THC sebanyak 5mg terhadap 3 penderita liver, melaporkan turunnya frekuensi keluhan gatal-gatal, dan rasa terbakar pada kulit. Studi ketiga di Universitas Polandia menggunakan krim endocannabinoid kepada penderita hemodialisis dan menunjukkan hasil yang sama.

28.  PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), Atau biasa dikenal sebagai “stress pasca trauma” disebabkan pengalaman psikologis yang traumatis karena mengandung ancaman yang membahayakan jiwa. Atau ancaman psikologis yang gagal dihadapi oleh mekanisme pertahanan psikologis seseorang. PTSD banyak terjadi pada veteran-veteran perang, pengalaman seksual yang traumatis, dan hal-hal traumatis lainnya yang menimbulkan mimpi dan gangguan-gangguan perilaku pada penderita PTSD.

Psikolog terkenal, John Stuart Mill, dalam karyanya tentang psikologi dan jiwa manusia menyebutkan bahwa ganja dapat membangkitkan ingatan tersembunyi pada manusia. Dan menurutnya, psikoanalisis sangat bergantung pada membangkitkan ingatan yang terpendam (Mill, 1867). 
Banyak yang berpendapat bahwa ganja bisa menghapus atau menghilangkan ingatan buruk pada penderita PTSD. Namun, menurut TOD Mikuriya MD, dalam pengobatan PTSD, ganja bukan membantu melupakan dan menghapus ingatan-ingatan buruk, tetapi justru menggali dan memperbaiki respons alami terhadap ingatan-ingatan traumatis tersebut.

Penderita dibantu untuk menghadapi ingatan traumatisnya sendiri dan mengintegrasikannya dengan memori yang lain. Efek anti-depresan juga dirasakan langsung dengan perubahan cara berpikir, tekanan pikiran, dan obsesi yang diubah menjadi introspeksi dan asosiasi bebas. Sementara gangguan pada memori jangka pendek oleh ganja saat pemakaian, mungkin mengganggu pengobatan yang lain, namun bermanfaat mengendalikan pikiran-pikiran obsesif dan kecemasan yang meningkat pada penderita PTSD.

29. Sindrom Tourette, Tourette adalah penyakit saraf turunan yang muncul sejak masa kanak-kanak, ditandai dengan gangguan kejang motorik dan fonik yang disebut tiks.  Tiks adalah gejala spontan, berulang-ulang, dan stereotipik dari gerakan otot (motoric) dan suara (fonik), yang tidak disengaja oleh penderitanya. Tiks adalah gejala yang bisa dilihat dan di dengar oleh orang lain. Contoh tiks motorik yang umum misalnya menegangnya otot perut dan mengepalnya jempol kaki, batuk, berkedip, dan mengendus-endus. Contoh tiks suara terjadi dengan udara yang bergerak lewat mulut, hidung, atau tenggorokan.

Dalam American Journal of Psychiatry terbitan Maret 1999, peneliti dari Germany’s Medical School of Hanover, Departmen of Clinical Psychiatry and Psychotherapy, melaporkan hasil pengobatan sindrom Tourette. Menurut para peneliti, dengan memasukkan 10mg delta-9-THC berhasil menurunkan skor tiks dari 41 menjadi 7 dalam waktu 2 jam, dan perbaikan ini terjadi selama 7 jam. Dua studi berikutnya juga melaporkan penurunan gejala tiks yang sama dan menambahkan tidak ada efek samping pada fungsi kognitif, belajar, recall, dan memori. Bahkan terdapat perbaikan rentang memori verbal selama dan setelah terapi. Studi lain juga menambahkan bahwa ganja mengurangi gejala kejang, distonia, dyskinetis, kecemasan, dan depresi, yang merupakan efek samping dari obat-obatan modern untuk sindrom Tourette.

30. Tuberculosis (TBC). Adalah jenis penyakit penyebab kematian tertingi nomor 3 di dunia yang disebabkan oleh bakteri yang bernama Mycobacterium tuberculosis. TBC pada umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga menyerang sistem saraf pusat, sistem kelenjar getah bening, sistem sirkulasi, sistem urogenital (kelamin dan saluran kencing), tulang, persendian, bahkan kulit. Satu per tiga dari populasi dunia sekarang (sekitar 2,2 Miliar manusia menurut data Mei 2008) mengidap TB, dan laju penularannya adalah 1 orang per detik. 

Studi yang dilakukan pada tahun 1954 ini baru mendapat dukungan penelitian lebih lanjut pada tahun 2000 yang diterbitkan The HempNut Health and Cookbook oleh Richard Rose dan Bridgette Mars. Richard dan Bridgette juga menambahkan; “Asam lemak esensial yang ditemukan dalam biji ganja membantu pemulihan tubuh dengan memperbaiki sistem kekebalan tubuh yang rusak. Asam lemak ini juga memudahkan pasien untuk mengencerkan dan mengeluarkan lendir (mucus) yang terkumpul dalam paru-paru”.

Asam amino jenis Globulin edestin dalam minyak biji ganja, menyerupai bentuk yang ditemukan dalam plasma darah. Sebab itu, asam amino dari biji ganja mudah dicerna, diserap dan digunakan oleh tubuh. Edestin dalam minyak ganja sangat cocok dengan sistem pencernaan manusia, sehingga studi oleh Czechoslovakian Tubercular Nutrion (1955) di atas menyebutnya sebagai satu-satunya sumber makanan yang berhasil dengan baik melawan proses negatif degenerasi dari penyakit tuberkolosis.

Seorang dokter yang bertugas di Kenya menulis kekecewaannya dalam sebuah surat terhadap kebijakan WHO terhadap penderita TBC. Menurut sang dokter, anggapan WHO bahwa terhadap biaya pengobatan TBC sudah terjangkau, dengan biaya sekitar 11 dollar perpasien untuk suplai obat selama setengah tahun adalah salah. Perhitungan ini mengabaikan fakta biaya-biaya yang lain yang harus dikeluarkan pasien; 4 dolar per hari untuk transportasi, 10 dolar untuk biaya syringes dan jarum untuk bakteri streptomycin selama sebulan. Untuk para petani dan pekerja kasar dengan upah di bawah 2 sampai 1 dolar per hari, jumlah ini mencekik kehidupan mereka.

Bagaimana dengan ganja? Sebagai tanaman liar yang bisa ditanam oleh siapapun tentunya ganja tidak disukai oleh WHO, karena lembaga kesehatan tertinggi dunia ini lebih peduli dengan pembukuan pundi-pundi dollar mereka. Mengenal potret kemiskinan dan konspirasi keuntungan penanganan TB oleh WHO di Afrika, pembaca bisa menonton sebuah film yang berjudul Constant Gardener.

31. Adiksi
Pemakaian kronis atau periodik dari ganja atau zat dari ganja menghasilkan ketergantungan psikologis karena efek subjektif yang diinginkan, tetapi tidak ketergantungan fisik; tidak ada sindrom putus zat ketika obat ini ia hentikan. Ganja dapat digunakan secara episodic secara terus-menerus tanpa bukti akan munculnya disfungsi sosial atau psikis. Bagi banyak pemakai, istilah ketergantungan dengan konotasinya yang jelas kemungkinan telah salah diberikan… pertentangan utama mengenai obat ini bersandar pada moral dan politik, dan bukan dasar toksikologis (ilmu tentang racun).” (Merck Manual of Diagnosis and Therapy, 1987)

Baik obat-obatan legal, narkotika, dan psikotropika dapat memengaruhi produksi, pelepasan, serta penyerapan senyawa-senyawa neurotransmitter pada otak. Zat-zat ini juga bisa meniru atau memblokir aktivitas dari neurotransmitter serta dapat mengganggu atau meningkatkan mekanisme yang berkaitan dengan reseptor neurotransmitter tertentu.
Dopamin adalah neurotransmitter yang bekaitan dengan sensasi menyenangkan yang kuat. Oleh karena itu, sistem saraf yang memicu pelepasan dopamin dikenal dengan nama brain reward system. Narkotika seperti kokain bisa memblokir penyerapan dopamine sehingga otak yang kekurangan umpan balik akan terus-menerus memproduksi dopamine.

Amfetamin juga memblokir penyerapan dopamine dan merangsang produksi tambahan dan pelepasannya. Sementara opium (opiate) mengaktifkan jalur saraf yang meningkatkan produksi dopamine dengan meniru neurotransmitter jenis oploid-peptide yang fungsinya menggenjot aktivitas dopamin.
Semua zat ini menciptakan mekanisme penguatan (reinforcing) yang mendorong perilaku manusia untuk terus-menerus mencari jalan untuk meningkatkan produksi dopamin (menambah dosis drugs) demi mencapai sensasi yang menyenangkan.

Pada tahun 1996, laporan Daniele Piomelli dari Institute Neurosains di San Diego, menunjukkan bahkan coklat mengandung 3 senyawa yang secara kimia mirip dengan senyawa cannabinoid yang terkandung pada ganja. Penelitian yang melibatkan tikus menunjukkan bahwa senyawa pada coklat ini memiliki efek seperti cannabinoid alami pada otak (anandamide). Artikel pada majalah Nature menyimpulkan bahwa senyawa ini “berperan dalam memproduksi perasaan dan sensasi subjektif dari mengkonsumsi cokelat”.
Pada edisi April 1999, majalah Nature Neuroscience, Piomelli dan rekan-rekannya dari Universitas Kalifornia, Irvine, melaporkan najwa anandamide berperan sebagai inhibitor (penghambat) dari dopamin. Laporan ini mengisyaratkan bahwa THC pada ganja yang merupakan analog dari neurotransmitter alamiah anandamide pada tubuh, berperan dalam menyeimbangkan fluktuasi kadar dopamin di otak.

Studi klinis menunjukkan potensi yang sangat rendah dari cannabinoid untuk menyebabkan adiksi. Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa THC menyebabkan kecanduan secara kimia atau secara fisik.
Studi epidemiologi di Amerika Serikat semakin mendukung bahwa ganja tidak menyebabkan efek Adiktif. Penelitian itu menunjukkan bahwa mayoritas dari orang yang pernah mengkonsumsi ganja tidak melanjutkan untuk mengkonsumsinya sehari-hari secara rutin. Dari 65 juta “eksperimenter” hanya 0,8% yang terus mengkonsumsi ganja dengan rutin setiap hari.


Kasus

Baru saja terjadi kasus penyalahgunaan narkoba oleh Andi Arief selaku Wakil Sekretaris Jendral partai Demokrat karena penggunaan narkoba jenis sabu beberapa waktu ini. Dari pesan berantai yang beredar, Polisi menangkap Andi Arief di sebuah hotel di kawasan Jakarta Barat pada Minggu, 3 Maret 2019. Dari laporan itu Andi Arief membuang bong atau alat penghisap sabu ke dalam kloset ketika polisi menggerebek dia. Akan tetapi kasus ini sangat disayangkan karena Andi Arief hanya diwajibkan menjalani rehabilitasi setelah ditangkap karena kasus kepemilikan narkoba jenis sabu ini.

Dengan tertangkapnya Andi Arief ini, merujuk pada kasus Fidelis Arie Sudewarto, lelaki di Sanggau, Kalimantan Barat, yang divonis penjara akibat menanam ganja sebanyak 39 pohon demi mengobati sang istri. Fidelis menanam ganja untuk mengobati istrinya yang di diagnosa menderita penyakit syringomelia atau tumbuhnya kista berisi cairan (syrinx) di dalam sumsum tulang belakang. Sang istri meninggal dunia tepat 32 hari setelah Fidelis ditangkap BNN.

Hal ini tentunya sangat diskriminatif, sebab ganja dan sabu adalah kedua narkotika yang sama-sama termasuk ke dalam narkotika golongan I. Di sisi lain, sabu tidak memiliki manfaat positif seperti ganja yang sangat banyak manfaatnya selain euphoria (perasaan senang tanpa sebab) dan hanya untuk tujuan rekreasi semata.


Undang-Undang

Bicara tentang kasus fidelis, undang-undang yang mengatur tentang narkoba jenis ganja adalah UU Narkotika No.35 Tahun 2009, yang menggolongkan ganja sebagai narkotika golongan I yang tidak dapat dimanfaatkan sama sekali (hanya dapat digunakan untuk tujuan tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan), ditanam, digunakan, ataupun mempunyainya. Hal ini sangat disayangkan, mengingat manfaat dari ganja yang sangat banyak di bidang medis & industri.

UU Narkotika No.35 Tahun 2009 perlu segera direvisi, karena UU ini mengatur secara spesifik tentang narkotika golongan I, yang dimana ganja termasuk di dalam golongan itu. Padahal, manfaat dan kegunaan dari tanaman ganja adalah hal yang patut dipertimbangkan di Indonesia. Disisi lain, pemerintah sendiri melegalkan alkohol dan menghapus Perda Miras karena pemerintah beranggapan bahwa, jika alkohol ditutup aksesnya maka miras oplosan dan akan marak ditemukan. Pemerintah juga mengatakan bahwa mereka bukan berarti mendukung distribusi miras secara bebas, melainkan memperbaiki yang sudah ada saja (Rappler.com).

Hal ini sangat disayangkan mengingat bahwa ganja memiliki manfaat yang amat sangat banyak daripada alkohol dan tembakau. Dan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa hanya dengan konsumsi  300 ml alkohol dapat menciptakan reaksi overdosis pada manusia. Ini jelas sangat berbeda dengan ganja yang sudah terbukti secara ilmiah bahwa ganja memiliki manfaat bagi bidang medis dan kesehatan. 


Legalitas

Kalau kita ingin bicara mengapa ganja ilegal, kita harus melihat tanaman ganja ini sebagai aset (kopi, cabe, tembakau, cengkeh, kapas dan termasuk ganja). Dari sekian banyak aset, mengapa tanaman ganja yang harus di ilegalkan? Siapa yang mendapat kerugian dan siapa yang diuntungkan dari ilegalisasi ganja? Pertama kali keluar peraturan ganja ilegal pada tahun 1961, lahir yang namanya Konvensi Tunggal Narkotika yang dibuat oleh organisasi PBB (United Nations). Tahun 1976 RI pertama kali meratifikasi konvensi tersebut (era Soeharto).

Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus mengetahui sejarah awal mulanya ilegalisasi ganja. PBB adalah organisasi yang terbentuk dari 5 negara pemenang perang dunia kedua (Amerika, Inggris, Perancis, Rusia/Uni Soviet, Cina). 5 negara tersebut pemegang hak veto. Awal mulanya 5 negara tersebut bertentangan mengenai ideologi, yang dimana ideologi Kapitalis (Amerika) dan Sosialis (Cina) berangkatnya dari materialisme. Artinya, mereka (UN/PBB) memiliki kepentingan untuk mengilegalisasi ganja. Kalau bicara ganja (hemp), produsen terbesar pertama ada di china, kedua Perancis, dan Rusia ada di urutan keempat. Jadi, karena 3 negara tersebut punya hak di PBB, Negara lain hanya mempunyai kuota 1%, artinya 3 negara tersebut “memakan” kuota sebanyak 95%. Artinya apa? Mereka memonopoli tanaman ganja untuk industri, termasuk industri kapas dan kertas.

Pertanyaannya adalah, mengapa PBB mengilegalkan ganja ? Karena, supaya Negara-negara In PBB tersebut bisa memonopoli hemp di bidang industri. Kalau mereka (3 negara tersebut) memonopoli hemp, konsumennya siapa? Amerika. Sebelum adanya legalisasi ganja yang terjadi beberapa waktu ini, di Amerika diperbolehkan mengimpor hemp tetapi tidak diperbolehkan menanam.

Kemudian hal yang kedua adalah dalam bidang medis. PBB mengatakan kepada WHO (World Health Organisation), bahwa narkotika golongan I itu tidak dapat digunakan dalam kepentingan medis (termasuk ganja). Inggris sebagai Negara yang memiliki hak paten tentang pengobatan dari tanaman ganja, memanfaatkan tanaman ganja sebagai obat kanker, multiple sclerosis, antidepresan dan Alzheimer. Perusahaan tanaman ganja di Inggris ini bernama GW Pharmaceuticals.


Eksistensi & Budaya

Ganja dalam eksistensialismenya telah merambah masuk berbagai macam sektor seperti musik, buku dan film.
1. Musik
Beberapa musisi mengangkat sebagian kisahnya tentang ganja ke dalam lagu-lagunya atau menceritakan kisahnya yang berhubungan tentang ganja. Hal ini adalah salah satu bentuk propaganda yang menceritakan baik, buruk, ataupun pengalaman mereka tentang ganja. Beberapa musisi diantaranya adalah Bob Dylan, The Beatles, Snoop Dog, Wiz Khalifa, Jay Z, Rihanna, Pink Floyd, Green Day Bob Marley, dsb. 

2. Buku
Pada tahun 1844, Jascques-Joseph Moreau (Ahli kesehatan Eropa) bertemu dengan seorang filsuf sekaligus penulis dan jurnalis, Theophile Gautier. Gautier bersama para sastrawan paris lainnya melakukan ritualnya dengan berpakaian seperti orang arab, meminum kopi yang rasanya sangat kuat dan terkadang mencampurnya dengan ganja (hasish). Beberapa dari mereka menulis dalam keadaan tinggi. Sebagai hasil dari kebiasaannya, pada tahun 1860 ia merilis buku Les Paradis Artificiels, yaitu buku yang membandingkan efek hasish dan wine.

Beberapa contoh buku lainnya adalah Roberto Bolano – The Savage Detective, Fitz Hugh Ludlow – The Haseesh Eater, Ralph Ellison – Invisible Man, T.C Boyle – Budding Prospects : A Pastoral, dan masih banyak lainnya. Eksistensi dan budaya disini mengangkat tentang histori, manfaat, kejadian, dan pengalaman para penulis, sastrawan, filsuf dan para penyair yang mereka tuangkan di dalam buku-buku tersebut. 

3. Film
Film berperan besar pada sejarah, eksistensialisme dan budaya tanaman ganja. Karena di beberapa film ini, ada yang berperan dan menceritakan sebagai propaganda untuk merusak pola pikir orang banyak, dan ada pula yang berperan sebagai hal rekreasional. Beberapa contoh film diantaranya adalah Reefer Madness, TED, Cheech & Chong, The Big Lebowski, Harold & Kumar, Dazed and Confused, Pineapple Express, Weeds, dan masih banyak lainnya.


Benefits
Bicara soal ganja adalah hal yang memiliki banyak pertanyaan serta asumsi lainnya. Apakah yang dapat terjadi jika ganja legal? Tentunya, keuntungan yang dapat kita peroleh apabila Indonesia melegalkan ganja tentunya sangat banyak. Mulai dari medis, industri, bahan pangan, pakan ternak, produk-produk dari ­hemp, CBD oil, bio-diesel dan masih banyak keuntungan di sektor lainnya.
Perlunya revisi ataupun pengkajian ulang mengenai UU Narkotika No.35 Tahun 2009 yang dimana ganja termasuk di dalamnya menjadikan ganja yang sangat banyak manfaatnya ini ‘terpenjara’ oleh hukum dan undang-undang yang berlaku. Seminimal mungkin adalah ganja dapat diiturunkan statusnya dari golongan narkotika kelas I ke narkotika golongan III (PERMENKES No.7 tahun 2018) ataupun golongan IV (walaupun UU No.5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika yang menyatakan ganja termasuk golongan IV sudah tidak berlaku) agar manfaatnya dapat digunakan dalam berbagai sektor. Terutama dalam bidang medis.

Penutup
Karena pada hakikatnya ‘Membaca Adalah Melawan’, maka perlunya edukasi tentang ganja adalah hal yang sangat penting agar banyak orang dapat terhindar dari isu yang baru ‘Katanya’ bukan berdasarkan ‘Datanya dan Faktanya’. Karena sejatinya, Tak Ada Ciptaan Tuhan Yang Sia-sia, Termasuk Ganja. Salam Juang! #STANDUPCANNABIS.
“Patut disayangkan, andai mereka (banyak orang) mencoba memahami bukan langsung membenci, mungkin mereka akan dipahami bahwa ada banyak mitos tidak benar tentang pohon ganja yang disebarluaskan dan diyakini, sementara banyak fakta kebenaran tentang pohon ganja yang tidak diketahui orang-orang apalagi dipahami kebenarannya. – Pandji Pragiwaksono.



DAFTAR PUSTAKA
-          - Tim LGN. 2011. Hikayat Pohon Ganja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
-         -  Julian, Aristedes. 2018. Alegori 420. Yogyakarta: Vice Versa Books

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Ganja dan Perjalanannya. 12.000 Tahun Menyuburkan Peradaban Manusia (catatan tertua di Hongkong)."

  1. Mungkin saya akan menambahkan sedikit ya terkait hukumnya ganja di indonesia. Anda memberikan contoh kasus fidelis, yg menurut saya pribadi kurang tepat. Kenapa? Krna fidelis memang terbukti dan dia bukan pengguna melainkan dia memberikan kepada istrinya. Dan dia terbukti pada pasal 116 ayat 1 menurut pandangan hakim yg dmna pasal tsb substansinya adalah memberikan narkotika golongan 1. Dan mnrt saya fidelis sudah tepat di hukum 8 bulan penjara. Sebaiknya anda memberi contoh kasus orang2 yg merupakan pengguna atau pecandu narkoba namun dia di penjara. Hal itu yg mnrt saya yg harus menjadi concern pemerintah bahwa pecandu dan pengguna jangan di kriminalisasi. Namun artikel ini bagus menurut saya.

    BalasHapus