Bukan berarti aku disini menolak dengan modernitas, tetapi alangkah sedihnya bahwa modernitas yang ada ini malah menciptakan manusia-manusia Individual, dimana sudah menimbulkan hilangnya kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan, baik itu dengan sesama manusia ataupun dengan alam. 
Padahal manusia tak akan mampu untuk berdiri sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain, mungkin contoh sederhana yang bisa kuambil adalah ketika aku melihat para Tukang becak yang sedang berhenti di pinggiran jalan kotaku ini, apakah penguasa memikirkan kelangsungan hidup yang tak menentu mereka ? apakah mahasiswa yang katanya penyambung lidah rakyat mencoba masuk kemereka? Apakah menunggu saudara-saudara kita itu mati kelaparan lalu kita akan bertindak? Apakah kita meng-iyakan sebuah cara pemarjinalan ini? Bagaimanakah nasib anak-anak mereka? Apakah bisa sekolah? Apakah mereka bisa menjadi polisi, ataupun tentara seperti cita-cita anak di kebanyakan anak? Tolong jawab pertanyaan ini dengan sejujur-jujurnya di dalam hati kalian yang membaca tulisan tak bermakna ini.
Universitas, sekolah dasar hingga menengah mungkin bisa dikatakan sangat layak dan besar di kota kecilku ini. Orang tua menggunakan berbagai macam cara hanya untuk bisa memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah favorit, entah apa tujuan mereka melakukan hal tersebut. Pendidikan di sini sangat mencermintak komersialisasi pendidikan, dimana pendidikan hanya untuk mereka yang mempunyai modal, tak ubahnya sebagai ladang investasi kaum Borjuasi yang sangat jelas untuk mencari Kapital. Seorang ayah bahkan, menyekolahkan anaknya hanya untuk menjadikan dia sebagai seorang kaya, menjadi seorang yang mempunyai kedudukan. Padahal pendidikan adalah aspek mendasar yang merupakan kebutuhan dasar dari seorang manusia.
Alangkah malangnya lagi sistem pendidikan kita saat ini, dimana liberalisasi pendidikan yang dikuasai oleh pihak swasta berorientasi pada system pasar yang berpegang pada hukum permintaan dan penawaran (supply-demand). Artinya penguasa akan memberikan peluang kepada kaum Borjuasi untuk penguasaan institusi yang paling vital bagi masyarakat luas (Pendidikan). Maka karena itulah tak akan tercapailah pendidikan yang sebenarnya, mungkin aku pinjam petikan kata-kata Tan Malaka di bukunya Madilog bahwa : “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”. 
Mungkin sebuah harapan itu tak akan bisa terealisasikan, dimana sistem pendidikan kita saat ini sangat jelas hanya berorientasi terhadap kebutuhan pasar, dan kita pun akan teralienasi menjadi seorang manusia yang tak menjadi dirinya sendiri. Pendidikan kita pun saat ini sangat mengajarkan sebuah persamaan bukan perbedaan, kita di homogenkan, kita di samakan hingga lupa kita itu bhineka, kita menghargai segala macam perbedaan. Aku disini bahkan berharap bahwa sistem pendidikan kita itu dijadikan tempat dimana kita menjadi diri kita sendiri, tempat dimana kita menemukan passion dari diri kita sendiri, karena manusia lahir pasti sudah mempunyai kecerdasan atau potensi diri, dimana ada 8 kecerdasan (matematis-logis, kinestetis, personal, intar personal, musikal, visual-spacial, natural, linguistik). 
Tapi aku merasakan bahwa kita dipaksa pandai dalam satu bidang saja,tak peduli itu passion kita atau bukan. Sebagai contoh dimana aku dipaksa mendapat nilai 10 di matematika, karena matematika adalah ilmu yang sangat dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan pasar, padahal passion aku adalah dibidang musik, maka sangat terlihat bahwa aku bukanlah menjadi diri aku sendiri. Selain itu pendidikan kita saat ini belum mampu menumbuhkan kepekaan sosial, belum mampu menimbulkan jiwa kritis. 
Maka sangat wajarlah ketika saudara kita di Kulon Progo yang dirampas ruang hidupnya dan mahasiswa-mahasiswa di kotaku ini hanya diam, seolah itu bukan tanggung jawab kita karena tak akan tergusik sedikitpun hati dan fikiran mereka melihat petani di ambil tanah produktivnya, melihat anak di cekoki dengan kekerasan aparatur negara, oh sungguh malang pendidikanku.
Anak adalah sebuah asa, anak bak sebuah benih dimana ia akan menjadi sebuah pohon yang besar dan mengeluarkan buah jika ia di rawat, di perhatikan, dan di pelihara. Ketika segala problematika di negeri ini dan tak mampu kita selesaikan, anak datang bagai sebuah angin timur yang kelak akan mengalahkan angin barat. Tapi apakah kita berfikir sampai titik tersebut ? Mungkin di Nandur Benih ini besar harapanku agar anak bisa di berikan ruang bermain mereka, di kembalikan kembali ruang-ruang anak sehingga anak mempunyai dunia mereka sendiri. 
Dunia anak yang aku maksut adalah dimana kondisi alam sekitar mereka sangat mencerminkan tentang kehidupan anak, karena tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan kita selaku orang dewasa terlalu memaksakan anak untuk menjadi orang lain. Anak dicekoki dengan segala macam hal yang itu memang bukan taraf untuk anak tersebut. Di Nandur Benih sendiri mencoba untuk mengkawinkan antara bermain dan pendidikan, karena ketika kedua hal tersebut bisa kita gabungkan maka akan tercapai sebuah keadaan dimana pendidikan adalah hal menyenangkan bagi anak.
Kuingat akan konsep Bung Karno tentang Nation Character Building, dimana program yang digagas untuk mewujudkan pembangunan karakter bangsa Indonesia yang berdasarkan pada prinsip spiritualisme, nasionalisme, humanisme, etika moral, dan nilai-nilai positif maupun nilai kebenaran universal yang berorientasi pada perbaikan perilaku dan etika moral bangsa Indonesia. Tapi mungkin yang bisa kami berikan masih belum bisa sepenuhnya sesuai dengan konsep tersebut karena kembali lagi mengenai dengan sumber daya kami, tapi satu keyakinan bahwa hal yang akan kami berikan itu dari hati dan tujuannya adalah kepada hati. Mungkin disini kami sepakat dengan perkataan Mahatmma Gandhi : “My Nation is Humanity.” Dimana kami insyafkan diri bahwa tugas kita adalah menjadi manusia, dimana kami mencoba menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.
Mungkin aku akan sedikit bercerita tentang Nandur Benih. Dimana komunitas ini memiliki sikap politik dan ekonomi, yaitu bahwa disini sangat menolak keras untuk pengajuan-pengajuan dana baik itu berbentuk proposal ataupun sejenisnya kepada instansi pemerintahan, partai politik, maupun yang lainnya. Karena kami ingin mencoba untuk menjadi sebuah badan otonom yang mandiri, mungkin akan terasa berat tapi jika semua itu dijalankan atas dasar hati dan kemauan semua yang mungkin berat akan terasa mudah. Kami fikir dengan sikap kami yang seperti itu segala hal yang kita berikan akan sangat bermakna, akan memiliki sebuah esensi.
Sebelumku akhiri tulisan ini ucapan banyak terimakasih ku ucapkan pada Mang Niki selaku Founder dari Rumsh Bintang, yang telah datang ke kota kecilku ini untuk membagikan api semangat terhadap dunia anak dan akhirnya tercetuslah fikiran untuk membuat ruang alternatif untuk anak. Selain itu terima kasih ku ucapkan untuk kawanku, Krisnaldo Triguswinri yang telah mempertemukan aku dengan Mang Niki disebuah forum, dan ia selalu mensupport segala yang Nandur Benih lakukan. Tak lupa juga aku ucapkan terima kasih kepada Mas Dholop, Koyor, Amri, Sarif dan kawan-kawan yang selalu mensupport segala hal dalam pembentukan Nandur Benih ini. Salam Hormat saya teruntuk kawan-kawan semua.
Panjang umur solidaritas!!