Pendidikan Kritis

Oleh: Rafi Setiawan (Mahasiswa Hukum Untidar)



Indonesia telah mencetak pemuda-pemudi yang berprestasi di kancah Internasional dengan telah diraihnya segudang penghargaan atas prestasi-prestasi muda-mudi di segala lini ilmu pengetahuan, baik ilmu sains, non sains maupun dibidang olahraga
Melihat begitu banyaknya prestasi muda-mudi Ibu Pertiwi yang membanggakan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sumber daya manusia Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata. Namun, dengan prestasi tersebut menjadi sebuah pertanyaan bahwa taraf pendidikan di Indonesia ini masih berada di tingkat yang miris. Menurut program Penilaian Pelajar Internasional PISA (Program for Internasiona Student Assessment), melakukan analisa dari 72 negara yang masuk dalam kategori penilaian dan tak kalah mencengangkan hasilnya. Indonesia menempati urutan 62 dari 72 negara, prestasi-prestasi yang diraih seakan tak berpengaruh dan menjadi sebuah tanda tanya besar.
Menengok metode pendidikan di Finlandia, negara dengan nomer urut 5 dari 72 negara, bukan suatu hal yang tak mungkin bagi negara kedua Eropa tersebut. Meski tingkat moderenitas, produktifitas serta pengaruh di Regional Eropa tidak begitu siginifikan. Namun perlahan Finlandia mulai dapat menyelaraskan segala bidang dalam tata kelola negaranya termasuk dalam bidang pendidikan. Mungkin akan menjadi paradoks jika membandingkan sistem pendidikan yang diterapkan di Finlandia dengan negara kita. Melihat dari sisi usia memasuki pendidikan dasar Finlandia menerapkan regulasi yang ketat yaitu anak usia 7 tahunlah yang diperbolehkan menempuh pendidikan di tingkat dasar (Primary Level)
Finlandia juga sangat menghargai waktu bermain untuk anak-anak dan melalukan hal-hal lain daripada duduk di dalam kelas. Seolah mengiyakan bahwa seorang anak-anak harus menjadi anak-anak, seperti bermain, berinteraksi dengan sesama memahami karakter dari setiap individu serta memperkokoh rasa percaya diri adalah hal terpenting yang harus diperoleh oleh anak. Melihat durasi dari proses belajar mengajar pada 9 tahun pertama untuk siswapun sangatlah singkat, hanya 3 – 4 jam saja dalam sehari dengan waktu istirahat mencapai 75 menit. Tidak pernah ada pekerjaan rumah, bahkan tidak ada Ujian Nasional karena hak anak adalah untuk dikembangkan karakter serta kecerdasanya dengan penuh kasih sayang tanpa dibebani tekanan yang berlebihan.
Secara kritis, Finlandia menganalisa bahwa jam pembelajaran di sekolah haruslah sangat efektif berbobot dan berkualitas. Maka durasi dari proses belajar mengajarpun dipersingkat, anak tidak perlu waktu yang lama dalam proses belajar karena hanya akan menimbulkan efek-efek yang cenderung tidak bermanfaat bagi anak. Sistem kelas yang diterapkan dalam sekolah dasar di Finlandia adalah kelas Inklusif dimana siswa tidak dipisah-pisahkan menurut kecerdasan. Semuanya bercampur menjadi satu, justru di negara lain mulai dikembangkan bahkan sudah diterapkan kelas-kelas akselerasi pada 9 tahun awal pendidikan, termasuk di Indonesia. 
Namun ada perbedaan yang terlihat bahwa guru dalam mengajar tidak sendirian, guru didampingi oleh asisten yang tidak hanya satu orang saja. Jumlah asisten bervariasi sesusai kebutuhan untuk mendorong hasil yang maksimal dan merata, maka siswa akan belajar dengan metode kerjasama kelompok dimana disitu guru dan asistenya berperan aktif memasuki kelompok-kelompok belajar tersebut agar hasil yang dicapai memuaskan.
Hasil dari metode ini mencetak siswa-siswa berkarakter yang memahami betul minat, bakat, serta kemampuan karena setiap anak mempunyai kelebihannya masing-masing dan paham akan itu. Maka dijenjang pendidikan selanjutnya, anak dapat dengan tepat memilih pendidikan lanjutan untuk mencetak orang-orang ahli dalam bidangnya, bukan orang-orang siap kerja namun orang yang siap berkarya, membangun, dan mandiri.
Setelah kita sedikit mengerti secara umum karakter dan sistem pendidikan yang diterapkan oleh Finlandia tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan serta dapat membuka wawasan bahkan bisa menggugah hati agar sadar akan pentingnya waktu bermain anak, penggalian karakter setiap anak itu sangatlah penting. Bukan hanya dijejali oleh ilmu-ilmu yang terlalu lebar serta berat, bahkan belum tepat saatnya untuk dipelajari oleh anak karena nyatanya hasil yang diperoleh dari metode belajar anak di negara kita ini sangatlah tidak efektif. 
Berkaca dari analisa tersebut kawan-kawan dikomunitas “NANDUR BENIH“  mencoba menjadi media perantara, media alternatif pembelajaran karakter, skill, potensi, serta memberikan kesempatan bermain anak-anak. Misalnya dengan permainan-permainan kerjasama seperti permainan anak tempo dulu, namun divariasikan dengan unsur-unsur modern yang tidak didapatkan oleh anak sebagai siswa di dalam kelas.
Semoga langkah yang kami ambil selalu diberkati oleh Yang Maha Kuasa serta didukung oleh publik secara luas dan tepat sasaran. Terimakasih kami haturkan pada teman-teman yang selalu mensupport kegiatan kami. Tanpa dukungan kalian serta restu dari Tuhan Yang Maha Esa, komunitas ini tidak akan dapat terwujud.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendidikan Kritis"

Posting Komentar