Terjebaknya Mahasiswa Dalam Logical Fallacy

Oleh: Arief Budianto (Ketua DPC GMNI Magelang)


Ketika saya melihat seseorang berdiri di atas derasnya hujan, saya merasakan bagaimana dingin yang ia rasakan (Mahatma Gandhi). Secara tekstual mungkin kurang tepat. Namun saya pikir seperti itulah substansi yang ingin disampaikan oleh Gandhi dalam bukunya yang berjudul “My Nationalism is My Humanity”.

Saya mencoba meminjam pisau bedah Derida untuk mendekonstruksi (membongkar) sinisme Krisnaldo Triguswinri tentang bagaimana sejatinya Idealitas kaum Intektual yang, jika meminjam bahasanya, ‘’dimitoskan sebagai tulang punggung masyarakat’’. seperti onani intelektual Krisnaldo, saya mencoba optimis dan tetap tidak putus asa. atau setidaknya menjadi pintu masuk untuk merepetisi ke-aktif-an kritis pada ruang kesadaran total atas kematian moralitas mahasiswa.

Kenapa kemudian Krisnaldo beranggapan bahwa sekarang telah terjadi demoralisasi? Setelahnya, dikuatkan pula oleh pengaruh Siam Khoirul Bahri tentang wacana anti-kapitalisme?. Hal itu tidak terlepas dari bagaimana analisis mereka tentang perubahan sosial sikap dan tindakan mahasiswa yang telah terkontaminasi dan terbawa aras barbar dari bentuk-bentuk baru dari pada kapitalisme yang berusaha merubah kepribadian kultural mahasiswa sebagai bagian dari ketidaksadaran dalam melanggengkan kapitalisme.

Oleh karena itu, adalah hedonisme, individualisme, keserakahan, rasa dengki, dan kemunafikan kelas yang merupakan suatu bentuk kebudayaan baru yang dibawa oleh kapitalisme. Tentu menadirkan sebuah ketololan dan kedunguan yang ilmiah. Disinilah puncak terjadinya kemerosotan moral atau demoralisasi. Hal ini dintunjukannya dengan kepentingan individual yang menjadi prioritas diatas segala-galanya. 

Krisnaldo beranggapan bahwasanya persaudaraan universal adalah sesuatu yang tidak laku, dan individualitas adalah jajanan laris manis. Kemudian dikuatkan kembali oleh Bung Karno yang di kutipnya pada ajaran Hindu, “Tat Twam Asi Tat Twam Asi” yang artinya, ‘’aku adalah kau dan kau adalah aku, aku adalah kalian dan kalian adalah aku’’ saya memaknainya sebagai sebuah formula: sakit ku adalah sakit kalian, dan sakit kalian adalah sakitku. Lagi-lagi ajaran tersebut sudah tidak populer. lagi di kalangan mahasiswa, lagi-lagi penyebabnya adalah kapitalisme. Kita benar-benar terilusi dengan hal-hal semacam itu.

Kemudian, eksistensi yang dimaksudkan diatas bukan berarti kemudian kita menginginkan adanya sebuah eksis status sosial dengan pujian dan ketenaran tindakan agar mendapat imbalan berupa pengakuan objektif. Namun memahami eksistensi sama halnya dengan mamahami diri sendiri secara utuh, bahwa setiap individu mempunyai kehendak bebas yang ber-moral sebagai makhaluk sosial. Artinya adalah, kita berbuat dan bertindak untuk kemanusiaan, seperti yang di lakukan oleh Jean Paul Satre, esistensi adalah humanisme.

Namun saya melihat, sikap pesimisme bukanlah sebuah putusan yang bijak untuk dijustifikasi. Berdiam diri sama halnya dengan bunuh diri. Tindakan berupa aksi langsung adalah kebahagian hakikat manusia. Liebniz menguatkan dalam filsafatnya. Kebahagiaan adalah sesutau hal mutlak yang di ingginkan oleh setiap manusia. Namun untuk mencapai kebahagiaan, manusia harus bertindak sesuai moral yang berbudi luhur. Misalnya, memberangkatkan diri untuk sentiasa menghadirkan moral sosial. Moral politik. Bahkan, moral budaya.

Maka dari itu, kenapa kemudian saya memilih beberapa pemikir praksis diatas. Karana saya beranggapan ada relevansi yang koheren untuk menumbuhkan spirit mahasiswa. Demikianlah beberapa kutipan pernyataan para intelektual tersebut, yang diharapkan dapat membuka ruang pikir pembaca, juga ruang diskusi untuk meng-amini Kemanusiaan sebagai nilai tertinggi yang harus di jaga rasionalitasnya.

“Kehidupan ini di tentukan oleh Kesadaran Manusia ”

Marx mencoba untuk menekankan kepada kita, bahwa pertentangan yang terjadi di dunia ini, dapat terselesaikan atas dasar Kesadaran Manusia yang Utuh. Begitupun halnya dengan mahasiswa. Mereka yang sadar akan dirinya sebagai tonggak penerus bangsa, pada prinsipnya tidak boleh hanya terjebak pada Ilusi akademis. Maksudnya, mereka yang beranggapan bahwasanya IPK menjadi penentu kesuksesan, merupakan sebuah pemikiran yang kurang tepat jika mereka yang membaiatkan dirinya untuk memperkaya diri sendiri dengan ilmu pengetahuan tanpa mau terjun langsung pada kehidupan masyrakat. 

Mereka itulah yang nantinya berada pada posisi struktural dalam sebuah instansi tertentu yang akan membungkam mulut dari pada rakyat itu sendiri. Analoginya sangat sederhana sekali. “Ketika manusia lapar, maka dia akan makan. Ketika kucing lapar, maka dia juga akan makan. Ketika manusia sakit perut, maka dia kan berak. Ketika kucing sakit perut, maka kuicng juga akan berak.”. yang membedakan adalah, manusia mempunyai akal, estetika dan etika. Manusia sebagai makhaluk sosial, seyogyanya secara alamiah mempunyai kepekaan yang baik (Nurani).

“Saya mengetahui supaya saya bertindak”

Aguste comte tidak mau tertinggal diam. Dengan kredo yang ia buat, secara tidak langsung dan jelas, menjadi tamparan keras bagi mahasiswa. Kenapa tidak. Pasalnya mahasiswa mengetahui status dirinya sebagai Agent of Change. Maksudnya, mahasiswa baru selesai pada tahap mengetahui akan permasalahan saja. Dalam hal ini, mereka masih berada pada satu unsur terkecil, “saya mengetahui”. Untuk dapat mengetahui unsur terbesar “siap bertindak”, mahasiswa harus berani mengambil langkah kongkret untuk pertama-tama menarik diri dari keterjebakan ruang diskusi dan buku bacaan semata. 

Mengutip salah satu jargon Perpustakaan Jalanan magelang “membaca adalah melawan”, saya sepakat. Namun ketika mahasiswa tidak segera beranjak dari  bacaan, maka buku hanya akan menajdi sebuah keterkungkungan atas angan-angan dan cita cita yang utpois. Analoginya cukup mudah. Membayangkan tanpa merasakan, bagai tidur pulas di atas jerami. Ernest Mendel pernah memberi nasehat: tidak ada praktek yang sempurna tanpa teori yang sempurna. Dan sebaliknya. Membaca adalah pengayaan wacana-kritis, lalu harus menjadi parsis.

“aku berpikir maka aku ada”

Jauh-jauh dari Perancis, Descartes pun teriak diatas menara eiffel seolah tidak terima akan realitas yang terjadi pada dimensi Kemahasiswaan. Dengan tegas, descartes menolak adanya sifat mengekor. Artinya, mahasiswa sudah selayaknya bertindak atas kehendak “Akal”, untuk menuntunya kepada kebenaran pengetahuan yang mutlak. 

Sudah seharusnya mahasiswa, mengilhami secara sadar, bahwa substansi dari pada “pendidikan” yang di berikan untuknya, adalah sebagai media pembebasan. Maksudnya adalah, mahasiswa harus terus berpikir sebagai “pejuang pemikir”  “pemikir pejuang” yang dapat terus berkumpul bersama membangun soliditas dan solidaritas, menulis dan bergerak secara kongkret sesuai tujuan, tanpa ada keraguan. Karena mereka bertindak atas tuntunan Akal (Budi Nurani).

"Konfederasi dan satu kesatuan"

Mengutip apa yang di sampaikan oleh Bung karno, sikap chauvinis adalah awal mula kehancuran secara internal pada tubuh Indonesia. Kenapa tidak. Pluralitas yang ada di indonesia merupakan sebuah satu kesatuan yang terbungkus dalam bingkai Persatuan. Coba kalian bayangkan? Bagaimana jadinya ketika kesatuan dan persaatuan itu terpecah akibat kepentingan dan egoisme antar individu maupun golongan masing-masing. 

Sebagai contoh, bagaimana jadinya ketika Magelang dan Temanggung saling menganggap satu sama lain adalah yang paling benar. Atau bagaimana jadinya ketika kampung Dumpoh dan kampung Tuguran saling beranggapan bahwa organisasi “karang taruna” merekalah yang paling benar. Atau lagi lagi, bagaimana ketika Faklutas Ekonomi menganggap fakultasnya lebih baik, dan fakuktas pertanian juga menganggap fakultasnya lebih baik. Maka Perpecahan Kehancuran adalah sebuah keniscayaan.

Dalam hal ini, konfederasi dan satu kesatuan adalah mufakat yang paling baik. Maksudnya adalah, dalam suatu struktural keorganisasian, mahasiswa harus berpegang pada prinsip dialektika. Artinya semua pendapat dan pandangan adalah kebebasan yang mutlak bagi setiap individu. 

Tantangannya adalah, bagaimana mampu mengkonstruksikan perbedaan menjadi suatu pandangan bersama. Saling menghargai atas perbedaan pandangan akan membawa mahasiswa kearah pola pikir yang lebih rasional ketika menjalankan roda organisasi. Bukan untuk sekedar memuaskan nafsu kesenangan saja, namun lebih dari pada itu organisasi sebagai pisau analisa permasalahan masyarakat. dengan berpikir dialektis progresif (maju) kritis, radikal (mendasar) dan visioner (kedepan) maka terlahirlah mahasiswa berserta organisasinya yang ideal.

Kesimpulan
Pada akhirnya saya hanya bisa menyimpulkan. Hidup rukun, sejartera, aman, tentram, hanya akan hadir dalam kesamaan hak, kesempatan yang sama, kesetaraan, kebebasan, dan rasa cinta pada sesama manusia. Islam telah jauh mengajarkannya kepada kita saemua. Dan bahagia adalah sebuah tujuan bersama dari setiap manusia. Konsensus atau kesepakatan kolektif menjadi lokomotif untuk menuju hidup dan penghidupan yang harmonis.

Mahasiswa sebagai manusia yang berstatus kelas menengah. Manuisa yang berpendidikan. Manusia yang mempunyai tujuan mulia. Harulah bersatu padu untuk kemudian bersama-sama keluar dari jebakan ilusi yang tanpa di sadari kian hari makin dalam membelenggu. Keluar dari zona nyaman. Keluar dari ruang diskusi, keluar dari kesekretariatan dan kemudian membangun barisan Kemanusiaan sebagai sebuah pembuktian eksistensi diri (humanisme).
Yakinlah, manuisa sebagai substsnsi Material, akan menjadi sempurna ketika bergerak atas kemanusiaan. Yakinlah bahwa kalian ada. Cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada).



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Terjebaknya Mahasiswa Dalam Logical Fallacy"

Posting Komentar