7 Novel Wajib Baca Sebelum Pergi Bunuh Diri

Oleh: Krisnaldo Triguswinri (Pengangguran)



Ini merupakan catatan personal mengenai novel-novel menyenangkan yang memaksa tubuh terus-menerus memproduksi serotonin saat menjelajahi kata demi kata, kalimat demi kalimat ketika membacanya. Daftar novel-novel ini adalah teman perjalanan dan pacar sunyi yang menemani saya selama masa 2019 yang belum selesai. Pun, alat meditasi sembari menunggu polariasai politik akibat konstelasi kotak suara 01 dan 02 selesai. Kendati golput, baca novel justru lebih menarik ketimbang menyelupkan jari ke tinta biru;

On The Road – Jack Kerouac

Dipenuhi oleh denyut Amerika bawa tanah tahun 50-an; jazz, seks, mabuk, dan kegilaan yang telanjang. Novel klasik Jack tentang kebebasan dan kerinduan ini merumuskan tentang apa artinya menjadi ‘beat’. Novel ini berlanjut mengilhami generasi-generasi yang lebih muda yang lahir setelah penerbitan pertamanya pada 1957.

On The Road, yang ditulis berdasarkan pengalaman petualangan bersama sahabatnya Neal Cassady, menceritakan kisah perjalanan mereka menjelajahi Amerika untuk mencari makna dan pengalaman sejati. Ditulis dengan campuran kenaifan sendu dan semangat ugal-ugalan, rasa kasihnya pada manusia. On The Road adalah visi Amerika paling penting tentang kebebasan dan harapan – bergelora, meyakinkan, dan penuh ketakjuban.

The Fall – Albert Camus

Sebuah karya monolog Camus yang dianggap sebagai karya terindah terakhir sebelum menerima Nobel Sastra dan dihadapkan dengan kematian. Camus berpersepsi bahwa kebenaran adalah misteri, sulit dipahami, tetapi selalu harus ada alasan untuk menaklukannya.

Camus menjelaskan bahwa seorang penulis tidak akan pernah bebas dari tanggung jawab yang berat. Ia tidak bisa meletakkan dirinya sebagai pelayan kepada mereka yang membuat sejarah, namun harus melayani mereka yang menderita. tidak juga semua pasukan para tiran dan jutaan manusia mampu membebaskannya dari keterasingannya. Tetapi kesunyian dari dirinya sendiri yang tak dikenal, yang ditinggalkannya untuk dipermalukan, cukup untuk menariknya dari keterasingan. Maka, Camus beranggapan bahwa ditengah-tengah kebebasan, ia tidak akan pernah melupakan kesunyian itu. 


1984 – George Orwell

Big brother is watching you! Kutipan terkenal yang menjadi magnum opus bagi para Orwellian politics.

Tujuh bulan setelah karya ini terbit, Orwell meninggal dunia. Orang cendrung menghubungkan sukses Orwell antara lain dengan kenyataan bahwa dalam karyanya ini Orwell berkisah secara mendebarkan, setidaknya menurut ukuran waktu itu, tentang fantasi remaja: grilya seks, pembangkangan politik, serta teror yang fatal yang dilakukan oleh kekuasaan yang otoriter.

1984 merupakan satire tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan yang di dalamnya setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan. Hingga kini, 1984 merupakan karya penting Orwell yang mengantarkannya ke puncak kemasyhuran. 


The Punk – Gideon Sams

Sams menjadi bagian dari anak-anak muda yang mendewakan Sex Pistols karena singel Anarchy in The UK. Dia juga termasuk yang mengalami langsung konser di The Roebuck dan Water Rat. Berlari sembunyi ketika anak-anak skinhead dari kelas buruh datang mencari anak-anak punk untuk dibunuh, dan mengingat suporter Chelsea berkeliaran ingin memukuli anak-anak punk.

Sams menulis novel ini sebagai suatu proyek di kelasnya semasa dia sekolah. Novel ini diselamatkan dari tindakan Ibu yang sangat dengki dan berusaha membuangnya karena melihat ada peluang untuk menyelamatkan masyarakat dari pengaruh buruk punk.

Nick Drake – Patrick Humphiries

Pada tahun 1974 Nick Drake mati muda dalam keadaan terpuruk. Depresinya akut dan karir musiknya suram. Five leaves left dan pink moon, dua album yang dirilis semasa kehidupannya tidak laku. Namanya asing di belantika musik rock n roll tahun 60-an. Tapi bertahun-tahun kemudian dia menjadi sosok legendaris. The Cure dan Donovan menjadi dua dari sekian banyak orang yang menggandrungi musik-musiknya. Lewat buku ini Patrick menelusuri lika-liku hidup dan mitos yang menyelumbungi pahlawan malang itu.

Amba – Laksmi Pamuntjak

Novel berlatar sejarah ini mengisahkan kehidupan dan cinta Amba, anak seorang guru di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. di Kediri ia bertemu Bhisma. Percintaan mereka terputus dengan tiba-tiba di sekitar Peristiwa G30S di Yogyakarta. Baru di Pulau Buru Amba tahu kenapa Bhisma tak kembali. Dan mati.

Laki-laki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali.

Burung-burung Manyar – Mangunwijaya

Novel ini merupakan roman yang ditulis Romo Mangun dengan penuh keberanian dan kejujuran tentang kehidupan manusia-manusia yang terlibat peperangan, baik fisik maupun batin. 





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "7 Novel Wajib Baca Sebelum Pergi Bunuh Diri"

Posting Komentar