Bawa Topik Ekologi Forum Diskusi Mahasiswa UNTIDAR Gagap

Oleh: Ade Safri Fitria (Ketua Himaprodi PBSI UNTIDAR)


Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM Universitas Tidar yang diketuai oleh Hermowo alias Arjo bersama Theges Memimpin (HTM) di bawah lindungan payung kabinet Satyagraha, Rabu, 3 Juli 2019 di selasar UKM Bengkel Seni selepas maghrib mereka mendengungkan gong wajah kampus malam dengan budaya lama yang belakangan marak dirindukan banyak mahasiswa, khususnya kalangan pecandu dialektika. Membuka hajat bedah film dan diskusi yang mengangkat isu menyoal ekologi dengan mempertontonkan film Pulau Plastik. 

Arjo selaku Ketua BEM KM UNTIDAR 2019 sengaja menghadirkan Rohman Muhamad Pradana (Ketua MAPALA SULFUR) sebagai moderator dan Krisnaldo Triguswinri (Presma BEM KM UNTIDAR 2016 sekaligus redaktur Ikan Teri Production) beserta best couple-nya Arief Budianto (Kastratpol BEM KM UNTIDAR 2016 sekaligus ketua GMNI Magelang) sebagai pemantik diskusi. 

Keluarga Mahasiswa UNTIDAR yang biasanya beradu argumen menyoal isu pergerakan di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, pendidikan hingga agama. tiba-tiba malam itu harus mendengar orasi melalui pelantang suara  ekologi yang digunakan dalam hajat tersebut dan turut meramaikan kegagapan para pembicara yang sebenarnya miskin empirisme untuk menyinggung isu ekologi yang dipaksa hadir malam itu juga. Mulai dari ilustrasi kondusifitas yang tak terjaga, pemandangan kebiasaan forum melingkar yang tidak nampak, moderator yang menyayangkan batasan waktu karena kebijakan kampus “Jam Malam”, audiens yang mengamini giringan pembicara yang membawa hanya satu pisau analisis yakni “Marxisme” tanpa bandingan yang berarti dari kepala yang lain. Bahkan tidak cukup banyak suara yang menggema di Selasar Bengkel Seni itu. Memang ekologi adalah pengangkatan tema yang masih asing di telinga KM UNTIDAR secar universal.

Budaya konsumtif pada sampah plastik perlahan memberi cambuk kepada manusia di muka bumi ini. Mulai dari munculnya kesadaran tentang plastik adalah sampah yang memiliki jangka waktu penguraian yang sangat lama, biota laut yang mengalami kerusakan ekosistem hingga banyak fenomena penemuan ikan laut yang perutnya berisi sampah plastik, betapa minimnya masyarakat yang menggunakan tas atau kantong belanja pribadi yang terbuat dari bahan yang bukan plastik, paradigma masyarakat yang kian tidak memahami dampak sirkulasi pembuangan sampah plastik ke sungai, dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang ditelurkan beberapa kepala mahasiswa yang berhasil memberanikan diri untuk menyuarakan isi dalam benaknya.

Krisnaldo (Ncis) sebagai sang perjaka marxis ini terus mengaitkan bahwa masalah melimpahnya sampah plastik adalah bentuk dari dominasi agresif kapitalisme yang membutakan manusia akan keselamatan bumi, teori andalannya dikorelasikan pada kedudukan pemerintah yang seyogyanya kembali bercermin diri sudah sejauh mana pengetahuan mereka dalam menganalisis dampak-dampak yang dipicu aktivitas industri yang terus menggencarkan produksi berbagai kebutuhan hidup yang berbahan dasar plastik. Berbagai teori dari banyak ahli ia pinjam sebagai analisis untuk memantik diskusi. Seperti yang sudah-sudah, Ncis memang selalu terdengar akademis. 

Ncis mengamini perspektif Ade Safri Fitria, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang menawarkan pandangan bahwa plastik dapat dianalogikan seperti masalah rokok dan masalah gincu. Artinya selama barang-barang itu ada, masalah juga akan tetap ada. Pria secara umum akan merasa sempurna ketika ia merokok, begitupun dengan wanita yang pada umumnya akan merasa sempurna ketika ia mengenakan gincu sebagai penyolek bibirnya. 

Meski manusia pada umumnya telah mengetahui apa bahaya plastik, apa bahayanya rokok, dan apa bahayanya gincu tetapi tetap saja dalam status quo masyarakat yang sejatinya memahami banyak bahaya ini justru masih tetap saja mengonsumsi atau mengenakan produk-produk bentuk kapitalisasi melalui industri ini. Terlepas dari itu, Arief Budianto (A-Be) justru membantah dengan perspektif bandingan yang membawa optimisme bahwa pendidikan merupakan suatu proses memanusiakan manusia yang menghaluskan pikiran dan juga perasaan. Kaitannya dengan masalah plastik, A-Be menafsirkan keyakinannya dengan menyangka masalah ekologi ini tidak dapat terlepas dari kadar pendidikan yang melekat pada diri seseorang yang kemudian menentukan tingkat kapasitas kesadarannya dalam melakukan segala hal di kehidupan ini tanpa terkecuali dalam memahami pengaruh fatal yang disebabkan oleh sampah plastik terhadap keberlangsungan kehidupan di muka bumi ini.

A-Be pun menggunakan pisau analisis yang sejenis dengan Ncis yakni kaca mata kaum KIRI dimana ia menyepakati pula bahwa permasalahan ini tak terlepas jauh dari fenomena perang kelas. Ncis menegaskan pandangan ini dengan statement yang mengira selama kaum pemilik modal masih sedia dalam menjamin produktifitas industri, atau selama mode produksi akumulasi kapital masih hegemonik, maka selamanya masalah perusakan Ibu Bumi akan terus berkelanjutan. Pun selama pemerintah masih lalai dengan pertimbangan-pertimbangan intelektual menyoal kesehatan ekologi, selamanya segala bentuk upaya pembangunan adalah musuh dari kesehatan semesta.

Kecemasan-kecemasan pun dilontarkan beberapa mahasiswa dan satu sarjana yang duduk di kerumunan penggiat diskusi meski bentuk pola forumnya tak melingkar. Ada Ncek mahasiswa semester 2 penulis artikel kajian menyoal ganja dari Pendidikan Biologi, kemudian ada Raffi atau Koyor ketua BEM FISIP UNTIDAR 2019, ada Aprilia, S.Pd, lalu ada Vito, dan ada Aziz yang juga turut melontarkan pandangan beserta perenungan yang berkaitan dengan masalah lanjutan dari penggunaan plastik. Padahal sejatinya diskusi menyoal ekologi, meski tergolong asing tetapi semua meyakini ada banyak kepala yang beku mendiamkan isi dalam benaknya masing-masing.

Ncis dan A-Be yang biasanya lihai mempermainkan forum untuk memulai jalannya alur kontradiksi justru nampak seakan kehilangan aji. Entah karena dikejar jam malam, bahasan yang tidak begitu dikuasai moderator beserta pemantik diskusi, bahasa intelektual yang sukar diterima telinga KM UNTIDAR saat ini, perspektif mahasiswa yang turut dekonstruksi selaras dengan pergerakannya, atau ada faktor lain yang belum sempat teraba. Seberapapun gagapnya diskusi pemuka bahasan ekologi ini, semoga malam-malam yang dialektis di tengah KM UNTIDAR tetap utuh terjaga dan kebiasaan saling bagi pandangan dan wawasan tetap menjadi bentuk kedermawanan mahasiswa selaku agen perubahan yang dedikasinya selalu dinantikan bangsa dan negaranya.

PANJANG UMUR PERJUANGAN.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Bawa Topik Ekologi Forum Diskusi Mahasiswa UNTIDAR Gagap"