Berselancar di Pesta Matrimoni Polimeri dan Ekologi

Oleh: Rafi Setiawan (Mahasiswa Fisip Untidar) 



Masih berbincang pada hal yang sama, hal yg diulang-ulang dan menarik ingatanku kebelakang beberapa pekan yang lalu. Tetapi ini belum tentu menarik bagimu, baginya dan pelupuk jiwaku yang yang candu akan formulasi polimer yang indah. Membungkus tiap karton rokok yang kuhisap dan kubuang begitu saja, lalu ku ulang-ulang, hingga tibanya kehancuran.

Jujur saja mungkin kau juga salah satu pengguna masif plastik, walaupun bukan sekutu pasif yang menyumbangkan uang-uangmu ke korporasi multinasional. tapi kantong plastik bungkus botol anggurmu itu pasti kau biarkan terbawa angin malam saat dirimu tengah Hangover. Lalu, berubah ia menjadi problem ekologi.

Kepada kawanku sepersekongkolan, seperdongkolan, Krisnaldo, serta sahabat merahnya, arief Budianto, yang sedang mencoba berselancar bersama Gede Robi sang peselancar ulung di babakan ini. Robi tak lain adalah seorang aktivis yang serius mencari dan menggali perkara fundamental dari fenomena perkawinan polimer dan Ibu Buminya, dalam film Pulau Plastik, jelas secara fisik kita dapat melihat dan meresapi hulu serta hilir perjalanan romansa Plastik dan Alam sekitar, mulai dari kondom, botol plastik, jaring2 nelayan, sampah peradaban dan akhirnya kembali lagi ke perut tiap individu melaui bandeng, sirip hiu dan ikan-ikan keranjang dari pasar.


Mikroplastik, sepintas aku mendengar lagu-lagu The Beatles yang diputar melalui piringan vinyl. "Hey jude! Don't be affraid" sangat mudah dicerna dan diingat dalam memori, begitu pula kampanye ini, mikroplastik yang terurai dalam air termakan ikan dan itulah buah hasil matrimoni antara plastik dan Ibu Bumi, "ikan polimeri " mungkin akan segera dicatat ketiap-tiao buku biologi sebagai spesies baru hasil blasteran ikan sarden dan mikroplastik. Secara logis bisa diterima dengan otak telanjang, dan secara materiil bisa dibuktikan dengan riset. 


Perbincangan malam itu dimulai dengan dua punggawa merah dengan celana boxer merah, papan selancar merah, dan tanpa anggur merah. Marxisme adalah sudut pandang yang dipakai oleh mereka berdua dalam mengurai dan menciptakan dialektika dari perbincangan malam itu. 

Sontak para penghuni kolam, dan para tikus terbang pemakan buah berbisik di hatinya masing-masing "Krisnaldo dan Arief itu kiri". Tapi uraian itu berhasil produktif mengaktifkan paradigma kritis dilihatnya problem ekologi dan ekonomi. 

Bukan hanya rajin membaca wacana kritis dari perpustakaan megah di Secang. Perjuangan kelas, keserakahan kapitalisme: benda materil yang dikonversi menjadi komoditas lalu masuk ke pasar. Krisnaldo dan Arief punya peralatan konseptual untuk membedah Konsolidasi negara dengan kekuatan kapital. Hal-hal seperti itu mereka bawa menjadi tesis untuk mengguyur para audience

Walhasil beberapa sudut pandang dan pertanyaan muncul ke permukaan, ada yang sudi melempar perspektif ekonomi, aplikasi Sanitasi, ekologisentrism, bualan belakan dan eksistensi. Semua yang telah disebut wajib ada dalam memecah sepinya ombak diskusi, agar segera ditemui diskursus malam itu, dan titik temu itu, dimiliki tiap individu yg mau menyimpulkan, minimal untuk dirinya sendiri. Dan inilah yang kutemui di tengah-tengah persimpangan, akan aku tulis sekarang setelah tanda titik.

Perihal permasalahan ekologi adalah buah kandung peradaban, kapital terus dipelihara dan tumbuh besar seiring hasrat dari para konsumenya, TAK BISA DIBENDUNG sampai sumber-sumber bahan baku itu lenyap.  Maka hal yang bisa kita perbuat hanyalah menjaga dan merawat.  dimulai dari dirimu sendiri, mulainya dengan mengumpulkan, memilah, lalu layangkanlah ketempat yang semestinya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Berselancar di Pesta Matrimoni Polimeri dan Ekologi"

Posting Komentar