Esensi Subyek

Oleh: Tio Rivaldi (Aktivis KAMMI Magelang) 


Satu hal kunci dari menciptakan karakter ataupun keahlian adalah kesinambungan. Aku pada akhirnya bisa bermain alat musik seperti gitar, dilakukan bukan karena pembelajaran teori semata. Namun, percobaan berulang kali. Pada awalnya yang ku lakukan membiasakan diri terhadap jari yg masih kaku dalam membentuk kunci nada dalam gitar. Ataupun melakukan petikan dan menggerakkan jari ke setiap sisinya sesuai alunan nada yg diadakan. Dan pada akhirnya, dapat bermain gitar tercipta karena usaha berulang kali hingga jari menjadi tak lagi merasa sakit ketika memencet senarnya. Dan gerakan jaripun dapat sebanding dengan nada yang dimainkan.
Pun sama ketika aku pada klimaksnya dapat menggambar wajah seseorang, hingga hampir menyerupai diri seorang tersebut. Bukan saja karena aku paham bentuk hidung, mata, telinga dan setiap sisi wajahnya. Itupun dapat terkreasi karena adanya pengulangan berulang kali, menyeret pensil hingga feel telah melampaui kemauannya. Setiap saat menggambar, akan memperoleh pemahaman kesalahan untuk dievaluasi di kemudian waktunya. Iya, pada akhirnya seseorang dapat menggambar, diraih dari banyaknya input kedalam suplai otak hingga otak dan anggota gerak tubuh dapat seirama meraih hasil yg indah.
Otak manusia itu seperti plastik. Atau sering dikatakan sebagai neuroplastisitas. Neuroplastisitas adalah kemampuan otak manusia untuk mengubah beragam jaringan saraf dan sel yang ada di dalamnya. Ini bisa terjadi sepanjang hidup manusia. Zaman dahulu, para filsuf menganggap seseorang akan ada batasan dalam membentuk otak manusia tergantung pada usianya.
Lalu setelah melalui beragam penelitian yang panjang dan berulang, pandangan ini pun dipatahkan. Dengan melakukan beberapa tindakan tertentu, atau mengubah pola hidup secara keseluruhan, struktur otak seseorang bisa berubah. Dengan latihan yang sistematis, otak bisa menjadi sehat kembali, walaupun ia telah mengalami luka sebelumnya. Struktur otak kita, dan fungsi serta kinerjanya, amat tergantung dari bagaimana kita menggunakan otak kita di dalam berpikir. Jika kita bermalas-malasan sepanjang hari, maka jaringan sel saraf di otak juga akan membentuk pola hubungan tertentu. 
Sebaliknya, jika kita rajin belajar sesuatu yang baru, jaringan saraf di otak kita akan menebal, dan kinerja serta kesehatannya pun juga akan membaik. Ibarat otak manusia itu seperti plastik yg akan dapat terus mengembang jika ada massa yg masuk didalamnya, baik dimasukkan angin, air, dll
Sama halnya juga tubuh manusia dengan jiwa manusia seperti hardware dan software komputer. Esensi yg diperoleh tergantung pada software tersebut, seperti jiwa manusia. Cara menggerakkan esensi tersebut sama seperti tubuh manusia yg bergerak sesuai dengan jiwanya. Jika software dikembangkan, maka esensi yg dihasilkan dapat lebih meluas. Pun jika software mengalami kerusakan maka berimbas juga pada tingkat fungsi hardware tersebut.
Namun, kenapa banyak yg berupaya membentuk seseorang dari input pelatihan dalam selang waktu 7 hari, 3 hari bahkan sehari. Logika kaderisasi kadangkala bertolak belakang dengan mekanisme pengadaan.
Di bumi ini satu-satunya subyek adalah manusia dan selain itu adalah obyek. Kenapa begitu?

Karena manusialah satu-satunya yang dapat menentukan substansi dan esensi setiap obyek. Misalnya contoh pisau adalah sebuah obyek, satu-satunya yg dapat menciptakan esensi dari obyek tersebut adalah sang subyek yaitu manusia. Atau gampangannya, kalau dalam satu buah kalimat disebut sebagai predikat. Apakah ia mempunyai esensi sebagai membunuh atau digunakan untuk memotong bahan makanan. Tergantung kepada subyek yang sedang menggunakannya.

Hal ini pun sepenuhnya harus diperhatikan dalam upaya membentuk manusia lainnya sesuai yang kita inginkan. Karena tak dapat di elak, seseorang yang berharap membentuk kader memerlukan banyak perangkat dan pada akhirnya yang terpenting adalah berkesinambungan. Kenali subyek tersebut secara langsung, supaya dapat menggunakan teknik yg benar dalam usaha membentuknya. Dan selalu massif dalam memberi suplai kepada otak kita maupun seseorang, adalah satu bentuk upaya terbaik dalam membentuk manusia sesuai dengan inputnya.

Membuat sebuah pelatihan adalah hal yg baik, karena bagaimanapun walau pelatihan sangat sedikit kemungkinan langsung dapat membentuk manusia. Namun, minimal jika pelatihan tersebut memberi kesan kepada seseorang. Akan muncul hasrat dan kemauan untuk merubah diri dan membentuknya. Sehingga pada akhirnya pelatihan lebih bermanfaat untuk menjadi awalan dari manusia. 
Namun, bukankah untuk memastikan seseorang tersebut terbentuk dengan baik perlu sebuah pengendalian yang baik? Saat proyek konstruksi telah selesai dilaksanakan, bukan berarti telah selesai dengan baik. Setelahnya memerlukan pengendalian proyek sehingga proyek tersebut dapat tetap bertahan sesuai dengan perencanaan yg telah ditentukan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Esensi Subyek"

Posting Komentar