Kebebasan dan Post-Modernisme

Oleh: Rizki Wahyuda (Mahasiswa Biologi Untidar) 



Retrospeksi eksistensial a la Jean-Paul Sartre.

Manusia ada selama orang lain ada untuk dirinya. Artinya, subjektivitas tetaplah subjek untuk dirinya sendiri selama orang lain tidak mengobjekkan dirinya atau mengambil kebebasan tubuh fisiknya sebagai subjek. Dalam hal ini, manusia ada bagi diri dan untuk diri (etre-en-soi dan etre-pour-soi). Ketika orang lain mengobjekkan orang yang lainnya demi pemenuhan hasrat ataupun melihatnya sebagai makhluk yang diobjekkan, secara tidak langsung orang lain tersebut mengunci tubuh fisiknya dan membuatnya menjadi makhluk yang tidak lagi dalam kebebasan.

Makna hasrat disini ialah apa yang ditimbulkan diri sendiri karena suatu hal, ataupun apa yang menimbulkan keinginan diri sendiri untuk suatu hal. Sedangkan  makna kebebasan adalah  ketika manusia merasa tak dikurung dalam bentuk objek yang semu. Walaupun manusia ada selama orang lain ada untuk dirinya, akan tetapi makna dari merenggut kebebasan adalah ketika orang lain merasa tubuh fisiknya tak lagi utuh secara implisit, dan terkurung dalam belenggu objek.

Maka dengan jelas Sartre bilang: Orang lain adalah Neraka.

Modernisme mengacu kepada hal yang serba maju, mapan, dan progresif. Jacques Derrida menciptakan sebuah pemikiran tentang dekonstruksi: Post-modernisme, yaitu menentang terhadap suatu ilmu yang tidak bisa dibantah, yang dalam hal ini merupakan buah dari pemikiran modernisme. Artinya apapun yang dilarang, yang kaku dan fundamental adalah hal yang negatif dari modernisme, ini berarti memaksa tiap orang untuk patuh dan mengamini hal-hal yang ada, termasuk aturan. Padahal, Derrida menentang pemikiran semacam itu karena kebenaran akan suatu hal dapat teruji oleh waktu, dan  keabsahan  pemikiran lama dapat menghasilkan pemikiran baru. Pun Sartre juga mengatakan hal yang mirip yaitu: Dilarang Melarang!

Hari-hari ini, sekolah telah mendehumanisasi para siswanya dengan membedakan mereka antara yang pintar dan yang biasa saja dengan mengklasifikasikan antara Sains dan Sosial, juga ranking dalam penilaian akhir pembelajaran Pun, sekolah juga menerapkan cara semi-militarianisme dimana rambut adalah tolak ukur rapih dan tidaknya seorang siswa, ketepatan waktu hadir dalam belajar sebagai tolak ukur kedisiplinan, catatan tugas harian sebagai pembeda antara yang rajin dan yang malas, merokok atau tidaknya, dan melabeli mereka ‘nakal’ berdasarkan gaya rambut, cara berpakaian, sepatu ataupun dengan hal lain sebagainya. Padahal itu adalah bentuk pengobjekkan subjek yang mengambil kebebasan seseorang.

Chomsky, dalam  bukunya anarkisme mengatakan bahwa “Sekolah (Academus) adalah tempat semua pengetahuan teoritis diajukan, diuji, dan dikodifikasi tanpa keberpihakan”:. Artinya, sekolah adalah tempat yang seharusnya bebas untuk kita mempelajari suatu ilmu tanpa keterpihakan, tempat kita membahas hal yang paling ringan hingga yang paling tabu, serta tempat kita untuk mengasah kreatifitas dan ketajaman berfikir berdasarkan apa yang ingin kita tampilkan secara bebas tanpa mengganggu proses pembelajaran.

Tapi realitanya, sekolah  tidak lagi membebaskan para siswanya untuk bebas berkreasi menggunakan kemampuan dan nalarnya, justru mengikatnya dengan berbagai aturan yang men-dehumanisasinya.

Seperti sekolah, agama juga adalah hal yang seharusnya bebas dipeluk dan diyakini oleh tiap orang tanpa keterpaksaan. Sebab, tiap-tiap orang mempunyai perjalanan soal iman secara personal, lingkungan lah yang memberi pengaruh terhadap perjalanan keimanan setiap orang. Semakin dewasa, pencarian jati diri tentang nilai keagamaan semakin matang, Apabila seseorang ingin memeluk agama lain, seharusnya orang lain tidak berhak melarang orang itu untuk tidak memeluk agama lain, melainkan hanya sebatas memberi arahan mana yang menurut orang lain baik dan tidak.

Selebihnya, biarlah orang tersebut yang memilih mana yang menurutnya benar dengan keyakinan dan tanpa keterpaksaan. Sebab ketika kita melarang seseorang tersebut dan memaksanya untuk menganut suatu keyakinan, berarti kita telah mengobjekkan orang tersebut dan mengambil kebebasan tubuh fisiknya yang secara tidak sadar orang tersebut menjadi objek bagi diri kita yang tidak lagi dalam kebebasan. Maka kita adalah neraka bagi orang lain.

Makna dilarang melarang adalah ketika seseorang yang melakukan suatu hal yang bebas dan tidak merugikan orang lain. Walaupun itu adalah hal yang aneh dimata publik, tetapi selama itu tidak merenggut kebebasan orang lain itu adalah hal yang sah. Artinya manusia sebagai makhluk yang bebas; humanism de la liberte, mempunyai tanggung jawab penuh atas dirinya sendiri untuk menjaga tubuh subjeknya dengan tidak merenggut kebebasan orang lain.

Namun ketika manusia melakukan suatu kesalahan yang menjadikan subjek lainnya sebagai objek, kadang aturan-aturan hukum lah yang mengobjekkan subjek yang telah melakukan kesalahan tadi. Artinya, subjek tetaplah subjek untuk dirinya sendiri, secara sadar ataupun tidak, dengan atau tanpa merenggut kebebasan tubuh fisik orang lain, manusia akan terus-menerus mengobjekkan subjek lain. Maka kembali lagi ke definisi awal: bahwa manusia ada selama orang lain ada untuk dirinya.

Singkatnya adalah manusia tak mungkin menjadi subjek yang terlampau bebas melebihi aturan yang mengikat, walau kadang aturan-aturan yang dibuat mengobjekkan manusia sebagai subjek, tetapi aturan tersebut lah yang menciptakan ulang tatatan peradaban yang lebih manusiawi. Sebab ketika tak ada aturan yang mengatur manusia, akankah manusia akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri?

Pada akhirnya post-modernisme adalah upaya untuk menciptakan ulang kebebasan di era modernisme serta menentang hal-hal kaku dan fundamental dari implementasi hal yang mengobjekkan kebebasan subjek. Berdasarkan refleksi Sartre tentang eksistensialisme, saya tak ingin memaksa pembaca untuk percaya bahwa pembaca mesti mengamini kebebasan eksistensialisme Sartre di era modern ini. Lebih dari itu, saya ingin pembaca memahami tentang esensi kebebasan atas subjektivitas yang tidak merenggut kebebasan orang lain (tidak mengobjekkan) dan mengupayakan partisipasi imajiner pembaca terhadap selfishness dan mengimplementasikannya secara logis.


Jadi, apa definisi kebebasan menurutmu?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kebebasan dan Post-Modernisme"

Posting Komentar