Kotak Pandora: Ketakutan Vs Harapan

Oleh: Tio Rivaldi (Aktivis KAMMI Magelang) 




Ada yang bilang ini benar. Oh tidak, itu adalah hal yang salah. Ada yang mengatakan tergantung, namun bahkan ada yang meragukan antara itu benar atau salah. Dan lebih jauhnya lagi, ada yang bersikap acuh tak acuh dan tak ada kepeduliannya untuk mengatakan ya atau tidak. Hening dengan sikap sinisnya untuk membuka mulutnya.
Itu merupakan segala hal yang kompleks dan kita temui dimana dan kapan saja. Benar atau salah, percaya atau tidak percaya, sesuai atau tidak sesuai. Memenuhi ruang hidup manusia dengan segala perbedaan dan suka citanya.
Jika ditanya, adakah kita dapat mempercayai suatu hal tanpa adanya keraguan sedikitpun lewat akal pikirnya. Apakah dengan masuk ke dalam sebuah kepercayaan keagamaan, menjalankan dengan taat segala ajarannya, hingga benar-benar mencintainya sampai melebihi rasa cintanya kepada dirinya sendiri. Hilang keraguannya terhadap isi dari kandungan agama itu sendiri. Saya kira tidak, mesti akan tetap ada keraguan di dalam dirinya, bahkan dalam konteks keagamaan yang penuh dengan hal metafisika. Mesti akan melahirkan pada pikiran manusia, sebuah keraguan karena tak mencapai titik rasionalnya. Bahkan hingga saat ini, tidak sepenuhnya diriku memahami dan mempercayai apa yang ada di dalam Islam. 
Dalam banyak hal ada yang masih timbul keraguan, dan sepatutnya itu akan terjadi. Kenapa ketika batal dalam wudhu lewat keluarnya bau tak sedap dalam saluran pembuangannya, harus dilakukan dengan berwudhu mulai dari tangan hingga kaki kembali. Bahkan tak ada sangkut pautnya dengan tempat bau sedap itu muncul. Tapi apakah itu berarti saya tidak meyakini Islam sebagai agamaku? Justifikasi, akan langsung begitu muncul terhadap seseorang yang merasa tidak mempercayai satu hal di dalam seluruh keyakinan yang ada.
Aku memang hingga kini meyakini Islam. Akan tetapi jika aku menelisik diriku lebih dalam, masih banyak hal yang memberikan keraguan dan ketidakpercayaanku terhadap Islam. Bukankah Allah SWT memang menciptakan diri kita, untuk selalu merasa ragu terhadap banyak hal. Dan selalu Allah SWT mewanti-wanti manusia untuk selalu berpikir dengan kalimat “Apakah kamu berpikir?”. Hanya yang menjadi perbedaan pada setiap orang adalah keberaniannya untuk mengungkapkan keresahannya, serta kemauannya untuk menghilangkan kebenaran. Namun selama proses pencarian untuk menghilangkan keraguan, malah yang muncul juga keraguan terhadap hal lainnya. Beberapa akan saya deskripsikan apa yang menjadi keraguanku
Banyak orang yang berpikir, karena secara kasat mata aku terlihat sebagai seseorang yang Islamis. Maka penyimpulan yang diperoleh adalah aku memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap Islam. Mungkin pernyataan tersebut bisa dianggap benar, akan tetapi juga banyak celah kesalahannya. Analogisnya, ketika kita berteman dan berkenalan dengan seseorang, maka diri kita akan menuntut untuk percaya terlebih dahulu. Minimal dari kasat mata, watak, perilaku, ramah tamahnya sudah dapat membuat diri kita merasa percaya terhadap dirinya. 
Akan tetapi, jika pertemanan telah jauh dan yang dilalui dengan bersama telah menapaki jangka yang cukup panjang. Disaat itu pula akan bermunculan ketidakpercayaan dan keraguan kita terhadap orang lain. “Ah, ternyata kamu ini kalau dipinjamkan uang tidak mau dikembalikan.” Maka muncul keraguan dan ketidakpercayaan kita untuk meminjamkannya uang, sebab telah mengetahui dirinya sulit untuk membayar hutangnya. Dan masih banyak hal lainnya yang tidak baik terhadap diri seseorang akan mulai bermunculan, sehingga pada beberapa sisi kita memberi keraguan terhadap dirinya.
Maka dari itu Khalifah Umar bin Khattab Ra memberi tiga ukuran untuk menimbang apakah diri kita telah mengenal seseorang dengan baik atau belum. Yaitu apakah kita pernah memiliki hubungan dagang atau hutang piutang, berargumentasi atau berbeda pendapat, dan berpergian dengan batas waktu  10 hari atau lebih dengannya. Dengan pernah melakukan ketiga ukuran tersebut, maka kejujuran, cara bicaranya, serta watak aslinya bisa kita peroleh dengan lebih baik. Yang berujung akan timbul keraguan kita terhadap dirinya, jika memiliki sesuatu yang buruk dalam perilaku dan tingkah lakunya.
Itu hanya contoh, bahwa dalam pertemanan pun jika telah mengenal seseorang dengan baik maka akan timbul keraguan kita terhadap ketulusan dan kebaikannya. Mungkin ada temanmu yang cukup dihormati dikalangan masyarakat. Akan tetapi bagi diri kita sendiri yang telah mengenalnya dengan baik, akan lebih mengerti kejelekannya disamping hal yang menjadi penghormatan atas dirinya.
Itu juga akan terjadi bagi diri kita yang memiliki kepercayaan apapun juga. Seseorang yang sudah cukup baik mengenal suatu hal, mestinya akan timbul rasa keraguan dan kecurigaan. Keraguanku terhadap Islam bisa saja lebih banyak dibanding mereka yang meragukan namun tak pernah mempelajarinya lebih mendalam. 
Kenapa Nabi Muhammad SAW menikahi seseorang yang masih berumur 9 tahun, yaitu Aisyah binti Abu Bakar RA. Atau menikahi mantan istri anak angkatnya sendiri (Zaid bin Haritsah) yaitu Zainab binti Jahsy. Jika seseorang tidak benar-benar mempelajari agama Islam seperti tentang diri Nabi Muhammad SAW, maka tidak akan ada timbul keraguannya terhadap hal semacam itu.
Akan tetapi bukan berarti saya bersikap tidak mempercayai dan akhirnya tidak meyakini diri Sang Nabi. Tidak mempercayai dan tidak meyakini adalah hal yang berbeda dengan merasa ragu. Semestinya dengan munculnya keraguan-keragauan hal semacam itu, memberikan stimulus untuk berupaya mempelajari sesuatu lebih mendalam sehingga dapat memuaskan serta menghilangkan keraguan. Bukan malah menciptakan sikap statis dan akhirnya hanya akan berakhir dengan keraguan yang terus menyelimuti diri manusia. Setidaknya ada beberapa sikap positif dari adanya sikap keraguan terhadap apapun juga. 
Ustadz Fahruddin Faiz menjelaskan dalam rutinitas ngaji filsafatnya pada pembahasan tentang “Skeptisisme”, bahwa dengan bersikap skeptis dengan kemampuan manusia dalam memahami pengetahuan dengan pasti dapat menjadikan diri menjadi rendah hati, tidak sombong, menyadari keterbatasan, kritis dan berkembang maju lebih baik. Namun, dengan skeptis juga dapat memberi dampak negatif seperti selalu menyalahkan orang lain dan tidak terbuka. Maka pada akhirnya sikap individu masing-masing untuk leluasa dan pandai-pandai dalam bermain dengan sikap skeptisnya. Karena skeptis adalah tentang berpikir. Maka seseorang yang tidak pernah atau tidak mau untuk bersikap skeptis, besar kemungkinan karena masa bodo dengan segala pikiran yang ada tentang berbagai aspek keilmuan. 
Seorang marxis sekalipun harus memberikan ruang terhadap pikirannya pada segala pikiran lainnya. Mesti memahami bahwa ketimbang sikap setujunya dengan pemikiran yang ia tekuni, akan tetap ada hal yang patut diragukan. Bahwa pemikir-pemikir setelah Marx sendiri menyatakan penghapusan kelas sosial adalah hal yang utopia. Bahkan pernah negara komunis di Uni Soviet pada era Stalin menolak teori genetika Gregor Mendel, disebabkan Lysenko (seorang ahli biologi ternama di Uni Soviet) menolak teori genetika Mendel untuk menghargai Ivan Michurin. Yaitu seorang pemulia tanaman buah yang menganut Darwinisme dan menggabungkannya menjadi sebuah pergerakan politik ilmu pengetahuan yang dikenal dengan sebutan Lysenkoisme. Karena teori tersebut dipraktikkan di seluruh ladang gandum di Uni Soviet, hingga mengakibatkan kegagalan panen pada tahun 1930-an. 
Perjuangan Imam Al-Ghazali terhadap keraguannya atas apa yang bisa dikatakan benar bisa menjadi satu hal yang baik untuk dijadikan pelajaran. Imam Al-Ghazali memahami bahwa segala aspek dan bidang keilmuan apapun akan timbul keraguan atas kebenarannya. Banyak kasus yang bisa dianggap benar pada satu aspek keilmuan, akan tetapi jika ditinjau menggunakan aspek keilmuan lainnya bisa menjadi hal yang salah. Maka untuk melakukan pencarian terhadap kebenaran yang sejati, Imam Al-Ghazali menengok kepada empat aliran yang pada saat zamannya itu sedang populer.
Pertama, Ia mencarinya di ilmu kalam yang menggunakan argumen rasional dari agama. Namun tidak menemukannya, karena banyak hal di ilmu kalam yang memberi pembatasan terhadap mereka yang memiliki kebebasan berpikir. Sehingga jika ada yang dibatasi maka ia tidak dapat memberikan argumen secara komprehensif untuk menghilangkan keraguan.
Kedua, pencariannya pindah kepada filsafat. Ia memperoleh banyak hal yang baik di dalam filsafat seperti rasional dan hal-hal yang eksak. Akan tetapi filsafat memiliki kelemahan dalam menjelaskan hal-hal yang bersifat metafisika. Karena tidak dapat mencapai kebenaran absolut di ranah yang tak dapat dijangkau oleh panca indera.
Ketiga, masuk ke dalam batiniyah miliknya Syi’ah. Dengan mengikuti seseorang yang memiliki kedekatan dengan kebenaran, yaitu Imam. Namun, Imam Al-Ghazali tidak menemukan juga kebenaran yang pasti di bathiniyah. Karena seorang imam tidak memiliki sandaran pasti selain dengan dirinya sendiri. Tetap tidak bisa dijadikan parameter yang pasti untuk menemukan kebenaran pasti yang tak dapat diragukan. Jika pun imam di dalam Syi’ah dianggap dekat dengan Allah, akan tetapi hanya dirinyalah yang dekat. Sedangkan, yang mengikutinya tidak dapat merasakan munculnya kebenaran tersebut dengan pasti. Boleh dipercaya akan tetapi tidak memberikan kepastian yang jelas dapat dirasakan oleh orang selain imam itu sendiri.
Keempat, berakhirlah pencarian Imam Al-Ghazali di tasawuf (sufisme). Bahwa para sufisme tidak mencari dalam ilmu pengetahuan untuk mencari kebenaran itu. Akan tetapi dirasakan dan dialami sendiri secara langsung oleh setiap orang. Jika ingin mengetahui dengan benar rasa manis atau tidaknya teh, bukan dengan melihat takaran gulanya. Akan tetapi dengan langsung mencicipi rasa dari teh itu sendiri. 
Bagaimana rasa ketenangan dapat muncul pada diri seseorang yang sedang bermunajar kepada Tuhannya, adalah pengalaman langsung yang setiap orang memiliki kekhasannya masing-masing. Sama halnya juga dengan rasa cinta. Bahwa ada orang yang mencintai seseorang yang dianggap biasa-biasa bagi orang lain. Itu berasal langsung dari pengalaman eksistesialnya. Dan seseorang tidak mesti menjusftifikasi seseorang dengan menggunakan rasa yang ia miliki. Bahasa lainnya keadaan semacam ini adalah intuitif.
Begitulah sebuah perjuangan dari Imam Al-Ghazali dalam mencari kebenaran. Sikap keraguannya terhadap berbagai hal yang belum bisa memuaskan kebenarannya. Melahirkan sebuah upaya yang cukup panjang untuk menghilangkan keraguannya. Maka dari itu sikap skeptis kepada apa yang diyakini oleh diripun mesti dijalankan, jika memang mencintai sebuah kebenaran. Dan menghasilkan sikap positif dalam kehidupan. Ada satu puisi yang pernah penulis buat yang berkaitan dengan hal ini.

Tuhan, aku ingin mengenal-Mu 
Iya, Inginku tahu dimana diri-Mu 
Mataku tak pernah mancapai-Mu 
Telingaku tak tahu gema Suara-Mu 

Dulu materialisme menjalar dalam pikiranku 
Yang benar-benar ada adalah materi 
Sempat lah aku merasa ragu ya Tuhan 
Benarkah diri-Mu itu nyata 

Mereka pikir setan dan hantu hanya imajinasi 
Malaikat, roh bahkan Tuhan itu tidak entitas 
Jika satu-satunya realitas adalah materi 
Lalu apakah mimpi manusia bukan realitas 

Tapi aku tetap meyakini bahwa diri-Mu itu maujud 
Jika mata, telinga, dan kulitku tak menemukan keberadaan-Mu 
Dan manusia bebas berekspresi tanpa memikirkan-Mu 
Minimal hukum-Mu adalah buku psikologisku yg terbaik 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kotak Pandora: Ketakutan Vs Harapan"

Posting Komentar