Mahasiswa: ”Agent of Event Organizer” Dan Perubahan Paradigma Pergerakan

Oleh: Evin Nasrulloh A (Editor Ikan Teri Production)


"Kepada para mahasiswa, yang merindukan kejayaan. Kepada rakyat yang kebingungan dipersimpangan jalan” sayup-sayup mars tersebut setidaknya pernah terdengar ketika pemuda cum intelektual yang biasa disebut mahasiswa pertama kali memasuki dunia akademis kampus. Mahasiswa adalah insan intelektual yang akan menjadi generasi penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Dalam rangka berproses untuk mengembangkan kemampuannya, mahasiswa tidak hanya bisa memanfaatkan ruang kuliah sebagai tempat belajar, berhimpun dalam organisasi kemahasiswaan juga merupakan sarana belajar bagi setiap mahasiswa untuk bisa mengembangkan kemampuan intelektual, kemampuan sosial dan kemampuan religiusnya.

Organisasi kemahasiswaan yang dibentuk oleh mahasiswa merupakan miniature student goverment yang melaksanakan tugas dan fungsi seperti sebuah negara. Konsekuensi dari organisasi kemahasiswaan yang menganut student government ialah segala aktivitasnya merupakan aktivitas politik. Hal ini diungkapkan oleh Sitepu (2012, hlm. 10) yang menyatakan bahwa politik adalah segala hal yang terkait dengan “penyelenggaraan negara dan pemerintahan”. Jadi bisa dikatakan bahwa dengan mengikuti organisasi kemahasiswaan maka seorang mahasiswa sedang belajar berpolitik. 

Berhimpun ke dalam organisasi kemahasiswaan merupakan hak bagi setiap mahasiswa. Seperti diatur di dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 77 ayat 1 sampai 3.

Dihampir seluruh PTN/PTS di Indonesia,  lembaga mahasiswa adalah suatu wadah yang sangat mudah untuk dijumpai, malah akan terasa aneh apabila suatu PTN/PTS tidak mempunyai suatu lembaga mahasiswa. Lembaga mahasiswa (intra kampus) di Indonesia sangat beragam, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa(BEM) sebagai badan eksekutif dan Dewan Perwakilan Mahasiswa(DPM) sebagai badan legislatif ditingkat universitas maupun fakultas, dan Unit Kegitan Mahasiswa (UKM) di tingkat universitas sebagai lembaga  yang bergerak untuk mengembangkan bakat dan minat mahasiswa dalam bidang keagamaan, kesenian, olahraga dan, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ/HIMA) di setiap program studi atau tingkat jurusan. 

Megenai nama-nama lembaga mahasiswa di Indonesia juga sangat bergam dan berbeda-beda di setiap kampus. 
Dari tujuan didirikannya lembaga mahasiswa baik di PTN/PTS di seluruh Indonesia adalah untuk membantu para mahasiswa mengembangkan diri di bidang akademik maupun non-akademik. Akan tetapi fenomena yang terjadi belakangan ini di kebanyakan kampus-kampus yang ada, lembaga mahasiswa justru keluar dari jalur atau visi kelembagaannya itu sendiri. 
Lembaga mahasiswa yang seharusnya menyajikan kegiatan-kegiatan yang progresif visioner kepada mahasiswa, justru saat ini hanya membuat event-event yang hanya bersifat kesenangan (hura-hura) di kalangan mahasiswa itu sendiri. 

Seperti menyajikan event-event musik, lomba-lomba olahraga bahkan sampai ada lomba game online, mirisnya tidak sedikit mahasiswa yang justru menggemari event yang disajikan tersebut.

Lembaga mahasiswa yang ada di kampus saat ini hanya disibukan dengan proposal-proposal sembari “mengemis” dana pada pihak birokrat kampus mulai dari tingkat fakultas, universitas, bahkan sampai pada korporasi kapitalistik. Dari banyaknya event yang disajikan oleh lembaga internal kampus yang dananya berasal dari pemberian pihak kampus dari hasil lobi-lobi indah para anggota lembaga kampus tersebut dan menyerahkan proposal visioner yang diselimuti pembodohan, yang sejatinya akan membungkam dan menumpulkan kekritisan lembaga mahasiswa itu sendiri. Karena semakin seringnya lembaga mahasiswa disodorkan dana oleh pihak universitas maupun fakultas, sehingga semakin meninabobokan lembaga mahasiswa dengan jadwal event-eventnya yang sangat padat serta akan membuat mahasiwa tidak peduli dengan kebijakan-kebijakan kampus. 

Bahkan, tidak sedikit pula event yang diselenggarakan oleh lembaga internal kampus yang, lembaga mahasiswanya juga menyodorkan proposal dan meminta dana kepada korporat. Sering kali juga setiap event yang ada di lingkungan kampus kita akan melihat suatu produk-produk kapitalistik yang membuka lapak di event yang dibuat oleh lembaga mahasiswa tersebut. Banyak masyarakat kita yang selalu ditindas oleh ketidakadilan para kapitalis dan lembaga mahasiswa yang seharusnya menjadi garda terdepan untuk membela masyarakat tertindas, bukan malah mejauhkan diri terhadap masyarakat tertindas dan tidak peduli dengan persoalan bangsa dan negara. Lembaga mahasiswa justru asyik bermesraan dengan para korporat-korporat kapitalis yang menyodorkan dana untuk event yang diselengrakan oleh lembaga itu sendiri.

Jika sudah begini, maka tidak berlebihan rasanya jika muncul stigma lembaga mahasiswa hanya seperti pengemis dan bermental event organizer. Dari banyaknya event yang diselengarakan oleh lembaga mahasiswa yang hanya berisi kesenangan sementara dan cenderung tidak berguna, itu hanya membuat mahasiswa jauh dari pengkajian keilmuan, penelitian, dan dari masyarakat kecil. Sudah seharusnya lembaga mahasiswa menyelenggarakan event yang lebih berguna, seperti pembahasan isu-isu nasional, isu lingkungan yang diperbanyak minimal mengajak mahasiswa untuk berdiskusi di pojokan kampus, didepan gerbang kampus sekalipun yang barang tentu tidak perlu mengerluarkan banyak biaya. 

Lembaga mahasiswa adalah salah satu sarana terbaik untuk pembelajaran berorganisasi dan kepemimpinan di lingkungan internal kampus sekaligus untuk menciptakan rantai intelektual, budaya kritis terhadap segala sesuatu dan kepekaan sosial mahasiswa itu sendiri. Sudah seharusnya lembaga mahasiswa menjadi lembaga yang mandiri dan revolusioner serta menjadi libido di setiap pergerakan mahasiswa. Jangan menjadi lembaga mahasiswa bermental event organizer dan pengemis yang selalu bergantung pada birokrat kampus apalagi korporat kapitalis yang selalu menindas rakyat kecil.

Tiorivaldi (Senior saya di BEM KM), beliau mengatakn bahwa Mahasiswa dalam bergerak memerlukan sikap inklusif dan kemoderatannya, sehingga bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Penjatuhan Soeharto pun termasuk karena pelopor gerakan tersebut meninggkalkan rasa eksklusif-konservatif nya. 

Jika kita hendak membela kebenaran tanpa sebuah kemunafikan, maka harus berani untuk menyatakan salah walau akan menyakiti eksisten diri sendiri. Dari hal seperti inilah saya hendak mengutip pernyataan Soe Hok Gie : “Minggu-minggu ini adalah hari-hari yang berat untuk saya, karena saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.”

Jika Arief Budianto dalam sebuah diskusi mengatakan bahwa mahasiswa saat ini sedang terjebak dalam ilusi, lebih dari itu, saya berani mengatakan bahwa saat ini mahasiswa tidak hanya terjebak, melainkan tersesat dalam sebuah jalan pergerakan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mahasiswa: ”Agent of Event Organizer” Dan Perubahan Paradigma Pergerakan "

Posting Komentar