Masih Perihal Plastik: Menyelesaikan Apa yang Sudah Kita Mulai

Oleh: Rizky Rambe (Mahasiswa Hukum Untidar)



“Tak akan ada Ibu Bumi kedua, bila Ibu Bumi telah tiada” merupakan cuplikan pembuka pada acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pulau Plastik yang disutradarai oleh Roby vokalis Navicula di Selasaran Bengkel Seni UNTIDAR. Berjalan penuh hikmat dan hangat yang dimulai sekitar pukul 18.30 WIB, Rabu (3/7/19). Dengan dipandu oleh Ketua MAPALA SULFUR UNTIDAR, saudara Rohman Muhammad Pradana. Dengan dua pemantik yang akrab membersamai ruang-ruang dialektika mahasiswa UNTIDAR, saudara Arief Budianto (Demisioner KASTRATPOL BEM KM UNTIDAR 2016) dan saudara Krisnaldo Triguswinri, S.Sos. (Demisioner Ketua BEM KM UNTIDAR 2016). 

Kemudian muncul pertanyaan, apa yang menarik dari Pulau Plastik sehingga layak menjadi sebuah perbincangan dalam ruang terbuka kampus elang tidar? Apa itu Pulau Plastik? dimanakah titik koordinat keberadaan pulau tersebut? mengapa selama ini tidak terdengar bahkan asing di telinga pelajar, muda-mudi, hingga para ahli?

Judul yang ditawarkan oleh Roby sang sutradara memang menuai kontroversi dan berbagai konspirasi. Benar saja, saat film dokumenter seri pertama tersebut diputarkan oleh dinding Gedung Auditorium melalui mesin proyektor, decak kagum langsung dirasa bagi setiap pasang mata yang menyaksikan. Pemikiran-pemikiran pun mulai berkelakar, dan keresahan demi keresahan tergugah oleh bait-bait gambar yang menempel di dinding Auditorium. 

Kemudian, demi tercapainya sebuah ruang dialektika yang memiliki arah dan pola, hadirlah peran pemantik yan menawan dan piawai dalam mengulik dan mengupas helai demi helai, lembar demi lembar bahagian kontroversi film dokumenter tersebut. Saudara Krisnaldo yang akrab disapa Bang Ncis (Manusia dari Sumatra) dengan akal dan perpustakaan berjalannya yang selalu ia bawa kemana-mana, serta Marxis yang selalu ia perkenalkan kepada kaum manusia yang lapar akan pengetahuan. Juga saudara Arief Budianto yang akrab disapa Bung Arief dengan ideologi yang sama dengan penguatan nasionalisme dalam setiap pembawaannya, tak lepas andil dari perannya sebagai ketua GMNI Kota Magelang. 

Menariknya dalam diskusi kali ini, bahasan yang dibawakan lebih jauh dari gairah dan gejolak mahasiswa UNTIDAR belakangan. Lingkungan hidup, ekologi, dan sampah lebih tepatnya. 


Sudah menjadi rahasia umum saat ini, bahwa Indonesia berhasil menjadi negara penghasil sampah terbesar kedua di dunia setelah China. Keberhasilan tersebut bukanlah suatu pencapaian berarti jika tanpa dukungan dan semangat dari seluruh elemen masyarakat Indonesia khususnya Pengusaha dan Penguasa. Menurut data yang diperoleh melalui Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia menghasilkan 64 juta ton sampah plastik/ tahunnya dimana 3,2 juta tonnya di buang ke laut.

Tidak berhenti sampai disitu, sampah plastik yang berakhir di laut tidak akan bisa terurai malah justru menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplastic yang berukuran berkisar di antara 3,1 hingga 3,3 milimeter. Saat kemudian kita merasa bahwa sampah yang kita buang pada tempatnya pun akan menyelamatkan hidup kita, kita tidak tahu bahwa saat anak cucu kita nanti melakukan hal yang sama, sampah tersebut justru berhasil bertransformasi menjadi partikel microplastic tadi. Yang kemudian tanpa kita sadari ada dimana-mana, di darat, laut, bahkan di udara. Saat partikel tadi sampai ke lautan, masuk ke perut ikan. Hal tersebut lah yang melatar-belakangi seorang Roby menggarap film dokumenter ini.

Semua data statistik yang ada di atas tertangkap jelas oleh seluruh mahasiswa yang hadir malam itu. Namun, sangat disayangkan, ruang yang telah dibentuk oleh BEM KM UNTIDAR seakan-akan hanya sebatas ajang pertemuan tatap muka seorang dosen dan mahasiswanya. Bahkan berkali-kali terlontar dari Pemantik baik Bang Ncis maupun Bung Arief yang meminta agar peserta diskusi dapat berperan aktif untuk mencairkan pemikiran. “Mungkin teman-teman mahasiswa dapat memberikan aspirasi, ide-ide, serta gagasan untuk diskusi kita pada malam hari ini”, tutur Bang Ncis di sela-sela diskusi.

Disuguhi secangkir kopi hangat, ia melanjutkan, bahwa seiring menguatnya konsumerisme masyarakat Indonesia, saat itu pula Kapitalisme mencapai puncaknya. Sementara dari Bung Arief dengan latar belakang yang dimilikinya, “sejauh ini, metode melalui Pendidikan masih menjadi senjata untuk mengatasi masalah ekologi berkelanjutan yang ada”. Kedua pemantik malam itu bak keran yang mengaliri air ke wadah persoalan ekologi yang didiskusikan. 

Dari hilir ke hulu pembahasan dikupas habis-habisan dengan cakap oleh kedua pemantik. Kemudian,  saudari Ade Safitri (Ketua Himaprodi PBSI 2019) dengan metafora lipstik dan rokok nya. Ia menjelaskan, “kita sama-sama mengetahui bahwa lipstik dan rokok merupakan hal yang biasa kita temui, dan sudah menjadi rahasia umum tentang bahaya dan dampak yang ditimbulkan dari kedua benda tersebut”. Imbuh nya lagi, “menurut saya, kita tidak ujuk-ujuk menyalahkan pemerintah dalam ha ini, begitupun dengan masyarakat dan akademisi. Jalan keluar yang saya tawarkan adalah dengan menghilangkan plastik tersebut. Mungkin bisa menggantinya dengan besi, tembaga, atau benda lainnya yang lebih ramah lingkungan”. Ada pula pernyataan dari mahasiswa lainnya, “dengan kita hadir disini sudah merupakan solusi dari permasalahan yang ada”. 

Dengan membawa konsep yuridis, saudara Raffi (Wakil Ketua BEM FISIP 2019) yang akrab disapa koyor menjelaskan tentang pertanyaan dari peserta, “apakah sanksi pidana dapat dikenakan kepada pelaku kerusakan ekologi atau tidak?”. Dengan tegas saudara Raffi mengamini bahwa seorang pelaku kerusakan ekologi dapat dikenakan sanksi pidana.

Menariknya, walau dengan tingkat partisipasi mahasiswa yang terbilang rendah dalam diskusi malam itu. BEM KM UNTIDAR di bawah komando Hermowo berusaha menghadirkan oase untuk mendulang terciptanya kembali kultur diskusi di UNTIDAR atau entah sebagai bentuk guyonan semata dengan memberikan peserta terheboh diskusi film malam itu lewat sebuah Al-Qur’an.

Melihat betapa kuatnya kaum kapitalis dalam menduduki kekuasaan di planet bumi, tanpa mengindahkan kerusakan yang ditimbulkan akibat keserakahan manusia khususnya kaum kapitalis tersebut. Disini, saya coba menyoroti bukan dari bagaimana pemantik yang luar biasa menyampaikan gagasan dan literaturnya. Tapi, tentang bagaimana kondisi mahasiswa kini yang mulai kehilangan kultur diskusi di lingkungannya. Dari seluruh peserta yang hadir, hanya sepertiga kurang yang dapat menangkap hasil dari diskusi. Belum lagi, adanya keterbatasan waktu di UNTIDAR sendiri, menyebabkan ketergesa-gesaan menyelimuti suasana diskusi.

Bak keran yang mengalir, wadah hanya diam dan menampung, wadah yang tidak fleksibel, dan tidak pula lihai menyikapi air yang sudah kepenuhan atau kekurangan. Dari sini kita bisa berkaca bahwa paham kapitalis bukan hanya mengancam alam, namun juga mengancam akal sehat manusia.

Dan Teringat sebuah fakta menarik yang berhasil saya temukan dalam sebuah buku berjudul Sosialisme Abad 21, bahwa dibandingkan dengan kapitalisme, sosialisme ternyata mampu membuka jalan bagi kesejahteraan, kesetaraan, dan solidaritas sosial yang juga diilhami oleh praktik sosialisme Skandinavia dari komunisme Kuba.  Tidak lengkap bila saya tidak mengakhiri tulisan ini dengan sebuah kutipan yang saya ambil dari Suku pedalaman Cree Indian dari Amerika Utara, “Hanya ketika pohon terakhir telah mati, dan sungai terakhir telah teracuni, dan ikan terakhir telah tertangkap, maka kita akan menyadari bahwa kita tidak bisa makan uang”.







Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Masih Perihal Plastik: Menyelesaikan Apa yang Sudah Kita Mulai"

Posting Komentar