Mengenang Kulon Progo di Tuguran

Oleh: Febriansyah D.A (Mahasiswa Hukum Untidar)


Penggusuran yang terjadi di tengah cuaca yang sangat tidak bersahabat itupun tetap dilakukan oleh pihak Angkasa Pura (AP) I, PT. Pembangunan Perumahan, (PT-PP), PT. Surya Karya Setiabudi (PT.SKS) dan PLN Kulon Progo yang di kawal oleh TNI, POLISI, SATPOL-PP.
Tentang penyelenggaraan penggusuran mungkin sudah ada sosialisasi, tetapi pencabutan listrik secara paksa yang dilakukan oleh pihak PLN tanpa adanya sosialisasi. Disamping dicabutnya aliran listrik, anak – anak justru tidak bisa belajar walaupun harus berhadapan dengan UAS yang akan dilaksanakan pada tanggal 4 Desember mendatang.
Tentu banyak alasan mengapa mereka menolak untuk pindah. Jika memang mereka direlokasi, kenapa terlihat dengan jelas ketidak seriusan pihak penggusur (korporasi) dalam merelokasi. Sistem yang  menurut saya sangat menyulitkan bagi warga inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa mereka menolak direlokasi. Di samping itu, mata pencharian warga Kulon Progo adalah bertani, mereka tidak akan bisa meneruskan hidup mereka dengan bertani jika lahan pertanian mereka dirampas. Jika dianalogikan, mereka warga Kulon Progo seperti ikan, ikan tidak akan mungkin hidup dan bahagia bila dipaksa untuk hidup di darat, ikan akan hidup dan tetap bahagia bila tetap hidup di air, ladang adalah air mereka, mereka akan hidup dan bahagia di dalam ladang air mereka dengan latar belakang keahlian yang mereka miliki.
Hari kamis, 30 November 2017, jam dinding menunjukkan pukul 11 siang. Seperti rutinitas sebelumnya di mana saya dan teman-teman kerap menikmati secangkir kopi kantin selepas kuliah. Tak terasa perlahan langit mulai mengelap dan akhirnya hujan turun deras juga. Dalam hati saya berujar, ”terima kasih Tuhan engkau telah menurunkan hujan yang begitu indah hari ini.”
Tiba-tiba Hati saya tersentuh dan mungkin terpukul ketika Rafi seketika memperlihatkan story wa yang diunggah oleh Siam di Handphone-nya. Betapa terkejutnya melihat warga yang menangis serta berguling diatas tanah pada saat hujan lebat di depan sebuah alat berat yang hendak menghancurkan bangunan milik mereka.
saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, bahkan lokasinya pun tidak familiar dalam ingatan, Rafi lantas menjelaskan tentang apa yang terjadi dan dimana terjadinya hal diatas. Ternyata penggusuran pemukiman dan ladang milik warga terjadi di Kulon Progo, DIY.
Tanpa diketahui ternyata Sofyan telah membiarkan jemarinya menari diatas layar android yang ia miliki dan mengirimkan sebuah pesan kepada Rafi, “mau ikut solidaritas ke Kulon Progo?” dan tanpa basabasi pula Rafi meng-iya-kan ajakan Sofyan. “kowe meh melu ra?” Rafi berkata kepadaku. saya sempat ada diskusi kecil sebelum meng-iya-kan ajakan Rafi. Lalu, saya dan Rafi menanyakan kepada Susilo, Fian dan Cengki apakah mereka ingin ikut atau tidak, jujur, jawaban yang mereka berikan tak sesuai harapan saya dan Rafi, dengan berbagai alasan mereka meminta maaf tidak bisa berangkat ke Kulon Progo bersama kami.
Keberangkatan kami menuju Kulon Progo dimulai selepas maghrib, dengan jumlah total sembilan orang termasuk saya dan Rafi. Kami semua membulatkan tekad berangkat ke Kulon Progo untuk bersolidaritas. Ditemani hujan rintik – rintik di akhir bulan Desember.
Kami mulai memacu kuda besi dengan bersergamkan jas hujan yang memiliki sedikit sobekan di bagian belakang seperti orang bodoh, tak apa, lagi pula kami memiliki tujuan dalam kebodohan tersebut. Setelah memasuki wilayah Kulon Progo kami mampir di sebuah mini market berwarna merah yang aku anggap sebagai “jamur yang sangat cepat berkembang biak di Indonesia” untuk membeli logistik warga serta berisirahat.
Sesmpainya di lokasi konflik, terlihat banyak warga yang sedang melakukan pengajian di masjid di depan tempat kami akan bermalam. Kami juga menerima sambutan yang hangat dari teman – teman aktivis dari Jogja Darurat Agraria, PPLP, dan mahasiswa-mahasiswa lain dari Jogjakarta.
Didalam ruangan gelap karena lampu yang dialiri listrik dari generator diputus paksa. Diskusi kami berlanjut di tengah cahaya lilin yang menjadi sumber penerangan dalam ruangan yang gelap itu. Di awal diskusi, Mas Arief Budianto memperkenalkan kami yang berjumlah sembilan orang dari Magelang, ia memperkenalkan kelompok ini sebagai mahasiswa dari UNTIDAR. naas, banyak dari mereka yang belum tahu UNTIDAR. Namun, Kami tidak merasa sedih atau perlu sakit hati. karena yang kami tahu kami selalu bangga menjadi bagian dari UNTIDAR.
Gelas kopi, asbak dan lilin menjadi saksi bisu saat berdiskusi tentang apa yang sebenarnya terjadi di sani. Krisnaldo Triguswinri bertanya kepada saya “bagaimana menurut kamu tentang konflik agraria di Kulon Progo ini?” jujur saua yang tidak begitu  pandai dalam berbicara ini kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saat saya berusaha menjawab dengan kalimat yang terbatah – batah, di tambahkan dengan persepsi Krisnaldo “aku gak peduli tentang ormas, LSM, aparat macam TNI atau Polri, korporas, bahkan Negara. yang aku pedulikan adalah mereka yang terdampak (masyarakat) aku kesini karena kepedulianku karena sadar ada yang sedang di rampas ruang hidupnya.” Aku terdiam dan sialnya aku sependapat dengan perkataan Krisnaldo.
Waktu menunjukan pukul 03:30 dan mata saya sudah tidak kuat lagi untuk menahan kantuk yang ada. tak lama kami semua tidur dengan fasilitas seadanya dan posisi seadanya.
Di pagi hari terlihat teman – teman sedang menyapu halaman di depan tempat kami bermalam dan berbincang – bincang dengan salah seorang warga yang menolak penggusuran. Menurut yang saya dengar, ada pemaksaan oleh pemerintah dalam meminta warga untuk menjual lahan pemukiman dan ladang pertanian. Saya serentak merasa bersedih hati.
Setelahnya, dengan badan yang bau kecut, rambut berantakan, gigi yang mungkin sedikit kuning, kami memutuskan berkeliling melihat keadaan sekitar karena kami tidak ingin membuang-buang waktu berharga ini dengan mandi. Di perjalanan kami bertemu Mbah Muh, salah seorang warga yang menolak adanya penggusuran. Walaupun rumahnya tidak ada dalam wilayah peta penggusuran. Namun, banyak sekali fakta – fakta  menarik yang kami dapatkan dari mbah muh ini, mungkin terlalu banyak jika harus saya ketik. Bukannya tak mau, tapi susah bagiku untuk menjelaskan sesuatu jika tidak face to face. Tercatat saat kami kesana ada sekitar 80 warga yang masih bertahan dan tidak ingin menual tanahnya kepada korporasi.
Dari UU No.2 Tahun 2012 tentang  Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum pasal 2 di jelaskan bahwa Pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan berdasarkan asas:
  1. Kemanusiaan;
  2. Keadilan;
  3. Kemanfaatan;
  4. Kepastian;
  5. Keterbukaan;
  6. Kesepakatan;
  7. Keikutsertaan;
  8. Kesejahteraan;
  9. Keberlanjutan; 
Kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum dilakukan sesuai dengan UU Pengadaan Tanah (UU No.2/2012). Pelaksanaan Pembebasan tanah dan bangunan untuk pelaksanaan proyek harus mengacu pada Peraturan Presiden No. 71/2012. Dengan tahapan – tahapan sebagai berikut:
  1. sebelum pembangunan proyek ditetapkan pemerintah harus berkonsultasi dengan masyarakat pemilik tanah dan rumah.
  2. Bila warga menolak pemerintah tidak dapat melanjutkan proyek tersebut. (asas Kesepakatan)
  3. Bila warga setuju maka di tetapkan nilai ganti untung yang layak bagi tanah dan bangunan warga. Penetapan harga ini harus di setujui oleh kedua belah pihak. Bila warga tidak setuju dengan harga yang ditetapkan oleh panitia penetap harga, maka warga diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan Penetapan harga ke pengadilan negeri. Bila ketidaksesuaian harga berlarut – larut maka pemerintah dapat menitipkan harga ke pengadilan (Konsinyasi).
  4. Sebelum nilai yang disepakati itu belum masuk ke rekening warga, maka pemerintah tidak bisa menggusur warga dari rumah dan tanahnya.
Hal-hal diatas merupakan hukum positif yang berlaku di negara kita, sangat disayangkan sekali karena UU tersebut mungkin belum bisa di terapkan di Kulon Progo.
‘’Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata.’’ – Pasal 66 UU Nomer 32/2009 (PPLH)

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Mengenang Kulon Progo di Tuguran"

  1. Tanyain sekarang nasib mereka gimana? Udah dapet rumah mewah belum?

    BalasHapus