Mereka yang Kecewa dan Sadar Atas Kegagalan Negara

Oleh: Luqman Khakim (Perpustakaan Jalanan Blora

Semakin negara menggunakan kekerasan semakin tumbuh subur anarko. Menanggapi munculnya kelompok anarko dalam peringatan May Day 2019 kemarin banyak tudingan maupun pemahaman yang salah mengenai kelompok yang sering disebut anarko, baik yang dilakukan aparat maupun narasi yang dibangun oleh media mainsteam. 
Anarko sendiri diambil dari kata anarkisme yang merupakan suatu filsafat dan ideologi. Anarkisme sendiri sangatlah luas, ragam dan bentuknya sangat banyak, sehingga sangat sulit mendiskripsikan anarkisme hanya dengan satu pemahaman. Seperti Anarkisme-ekologi dimana fokus pada soal ekologi, anarkisme-feminisme isu kesetaraan gender bensin perjuangan mereka, anarkisme-sindikalisme tentang kelas perkerja dan masih banyak lagi cabang dan aliran anarkisme itu sendiri.
Tapi yang jelas anarkisme adalah suatu paham yang menolak adanya penindasan, kekerasan, dominasi manusia ke manusia, dominasi negara, fasisme, dan adanya hirearki bahwa semua manusia itu sama, setara, dan berdaya. Hal-hal yang membatasi, membelenggu, menindas individu harus dihapuskan.
Ada pendapat yang menarik dari salah satu tokoh anarkisme yaitu, Noam Chomsky. Dalam buku Chomsky on Anarchism; salah satu agenda anarkisme yaitu menguatkan negara. Tentu hal tersebut berbeda dengan keyakinan yang selama ini diyakini bahwa anarkisme menolak hadirnya negara. 
Menurut Chomsky, ketika kaum anarkis berhasil melemahkan dominasi negara tetapi justru menguatkan swasta tentu hal itu jauh dari cita-cita anarkisme. Negara tetap diperlukan disini, hanya saja perananya sebatas adminitrasi saja tanpa ada dominasi kehidupan masyrakat.
Kemunculan Anarkisme Beberapa Tahun Terakhir
Anarkisme masuk ke Indonesia sudah cukup lama sekali, hanya saja beberapa tahun terakhir perkembangan dan penyebarannya bisa dibilang cukup masif, dan hampir disetiap kota bahkan bermunculan bibit-bibit anarko baru. Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada kelompok ini. Sedikit atau banyak negara lah yang harus bertanggung jawab atas tumbuhnya kelompok anarkisme di Indonesia. Kegagalan dan buruknya pemerintahlah alasannya.
Korupsi yang terus terjadi, pelanggaran HAM terus bertambah, kasus pelanggaran HAM masa lalu yang tak kunjung terselesaikan, hukum yang berpihak kepada para elit, aktivitas kekerasan yang dilakukan aparat, kriminalisasi petani dan aktivis lingkungan, perampasan ruang hidup, dan perusakan lingkungan yang banyak terjadi beberapa tahun terakhir yang dirasa sudah memuakan. 
Dari situkah dapat kita pahami keadaanlah yang membuat mereka memilih menjadi anarko. Masyarakat sudah kehilangan kepercayaan kepada negara dan negara telah terbukti gagal.
Yang jelas terjadinya perampasan lahan pertanian dan meningkatnya konflik agraria dibeberapa daerah di Indonesia beberapa tahun terakhir membuat solidaritas antar kelompok anarko semakin kuat dan bermunculnya anarko-anarko baru. Dan tindak represifitas hingga berujung penganiayaan oleh aparat sampai kekerasan untuk membubarkan kegiatan diskusi, demo, maupun aksi-aksi lain dalam agenda kegiatan aktivisme belakangan sering terjadi merupakan tempat serta pupuk subur bagi anarkisme. 
Muncul kelompok anarkisme tidak dapat dipandang sebelah mata, dilarang ataupun dibendung kehadirannya, kita perlu mendengarkan tuntutan dan aspirasi mereka. Karena, kemunculan mereka adalah respon dan ketidakpuasan terhadap kondisi negara saat ini.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mereka yang Kecewa dan Sadar Atas Kegagalan Negara"

Posting Komentar