Nihilisme Nietzsche di Era Teknologi dan Para Intelektual yang Kehilangan Pegangan

Oleh: Asditya Alif  (IT & Development ITP)


Nihilisme adalah suatu paham yang apabila dilihat dari kata kerjanya adalah ANNIHILATE yang artinya meniadakan, membasmi, memusnahkan, menghapuskan, melenyapkan segenap eksistensi. 

Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan salah seorang tokohnya yang bernama Friedrich Nietzsche. 

Dalam paham yang dilontarkannya, Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini terutama keberadaan manusia di dunia tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis 
biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang 
mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain. Pemeluk aliran filsafat ini adalah orang-orang yang memahami bahwa realitas yang ada di alam ini hanyalah keburukan. 

Mereka beranggapan bahwa fenomena-fenomena yang ada pada manusia tidak lain adalah penderitaan, kemalangan, kemiskinan, dan kehancuran. Begitu pula, segala maujud selain manusia adalah buruk dan tak bermanfaat bagi manusia. Secara umum, yang ada di alam hanyalah suara-suara keburukan dan atmosfir-atmosfir keputus-asaan.

Gerbang pertama yang dimasuki adalah ide cemerlang nihilisme Nietzsche 
berupa aforisme “Nihilisme hadir di depan pintu: dari mana datangnya yang paling aneh dari semua pintu”. Secara sederhana, filsafat nihilisme bertujuan untuk memutuskan dan mengakhiri semua klaim terhadap kebenaran pemikiran metafisis tradisional, dalam suatu proses yang melompat hanya ketika ia mencapai titik dimana “kebenaran-kebenaran” prasangka tersebut seperti Tuhan dan jiwa 
diperlihatkan sebagai nilai yang tidak kurang subjektif dan tidak lebih dari 
“kekeliruan-kekeliruan” ketimbang keyakinan dan pendapat manusia lainnya. 

Gagasan nihilisme Nietzsche menelanjangi tradisi pemikiran-metafisika 
Barat yang saling bergantung. Pemikiraan nihilistik berusaha meradikalkan kebenaran metafisis hanyalah ungkapan subjektif individu maupun kelompok sosial 
tertentu, bukan yang tak terbantah, hakikat dunia Tuhan, manusia dan alam yang tak berubah, yang ada menurut Nietzsche hanyalah kehendak untuk berkuasa setelah ia menihilkan dan merelatifkan segala sesuatu. 

Orisinalitas gagasan nihilisme Nietzsche berujung pada pembunuhan Tuhan. Manusia hanya didorong oleh suatu kehendak untuk berkuasa, (Will to Power). Semua impuls tindakan kita 
berasal dari kehendak untuk berkuasa. Agama menghotbahkan sesuatu yang 
bertentangan dengan will to power, melalui gagasan-gagasannya akan kerendahan hati, cinta antar saudara dan lain-lain, tetapi, itu hanyalah penyamaran yang cerdik dari kehendak untuk berkuasa-bahkan dominasi. Pada akhirnya nihilisme menelanjangi segenap sistem nalar sebagai sistem-sistem persuasi, dan untuk memperlihatkan bahwa logika-landasan pemikiraan metafisika rasional- hanyalah sejenis retorika.

Nihilisme merupakan kecenderungan baru di zaman modern. Pada masa 
yang lalu, yang ada hanyalah Pesimisme dan bukan Nihilisme, namun di abad 
kontemporer Pesimisme mencapai puncak kejayaannya dan menjadi Nihilisme. Bunuh diri, lari dari tanggung jawab hidup, dan memandang hidup ini sebagai canda-gurau belaka adalah merupakan tanda-tanda bahwa manusia masa kini memandang rendah kehidupan dan terjebak dalam dunia Nihilisme.

Perkembangan pesat AI (Artificial Intelligenct) saat ini juga menunjukan semakin pekatnya paham nihilisme di kalangan teknokrat dan intelektual (terutama para intelek Barat), mereka beranggapan bahwa manusia telah begitu lama hidup sendiri di dunia, dan sudah saatnya mereka menciptakan "teman" mereka sendiri. Dunia Barat dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang lebih pesat dibanding wilayah lain di bumi pada kenyataanya telah lama kehilangan keyakinan hidup mereka, mereka menganggap hidup tidak lebih dari sekedar kehampaan semata. 

Perkembangan teknologi kedepannya akan semakin pesat, dimana dengan dorongan globalisasi, bahkan negara berkembang seperti Indonesia, kelak akan menikmatinya dengan suka cita. Perkembangan ini tidak akan pernah berhenti, setidaknya sampai kondisi di dunia ini menyerupai genre sastra fiksi Cyberpunk

Nyatanya, sastra dengan genre Cyberpunk telah menjadi keyakinan para teknokrat saat ini akan wajah dunia di masa mendatang. Alih-alih menggambarkan kehidupan dunia yang aman dan damai, genre Cyberpunk yang dimotori oleh William Gibson lebih mengangkat unsur distopia. Distopia adalah sebuah konsep mengenai kehidupan yang tidak layak dan menakutkan. Merupakan kebalikan dari utopia yang hidup dengan makmur dan canggih.

Unsur spiritual yang dulunya menjadi dasar kehidupan umat manusia, kini tergerus oleh arus materialisme di segala bidang, termasuk menurut hemat Jonathan Black, agama. Tokoh dunia yang menjadi pusat perhatian ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini tidak lain selalu dikaitkan dengan unsur logis dan mengabaikan segala bentuk spiritual yang tidak dapat dilihat manusia. 

Jika benda yang nampak di mata manusia merupakan benda yang terkena paparan cahaya, lalu, apakah cahaya dapat memperlihatkan semua benda kedepan mata manusia? Apakah angin yang kita rasakan sensasinya dapat ditangkap oleh cahaya? Apakah logika ilmu pengetahuan dapat menerangkan proses mediasi roh ke dalam tubuh manusia dengan logis tanpa unsur spiritual? 

Keberadaan Sang Pencipta memang tidak dapat dilihat hanya dengan logika benar/salah yang berkembang dikalangan intelek barat saat ini, akan sangat disayangkan rasanya jika Indonesia yang telah begitu kuat nilai dan normanya, kelak akan ikut tersesat kedalam penderitaan para penganut nihilisme hanya karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ada di pihak mereka.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nihilisme Nietzsche di Era Teknologi dan Para Intelektual yang Kehilangan Pegangan"

Posting Komentar