Plastik, Ekologi & Kapitalisme

Oleh: Rizki Wahyuda (Mahasiswa Biologi Untidar) 



Tanggapan atas Krisnaldo Triguswinri dan perdebatan asumsi yang kontra-produktif

Tak bisa dipungkiri, bahwa kita sebagai makhluk hidup, tumbuh berdampingan dengan alam. Alam yang seharusnya kita jaga dan rawat layaknya orangtua yang mendidik kita (baca: Ibu Bumi), malah kita rusak dan kita kotori dengan segala egosentrisme demi memenuhi kebutuhan yang tamak. Dimana alam dirusak disatu sisi, ia akan mencari keseimbangan di sisi lain, itulah prinsip kerja ekologi. Hal-hal seperti bencana alam dan permasalahan lingkungan lainnya, disebabkan oleh dominasi manusia terhadap alam.

Film dokumenter Pulau Plastik, mencoba mendeskripsikan bagaimana single use plastic yang kita gunakan setiap harinya, harus berakhir menjadi sampah di tanah-tanah para petani dan menumpuk di hulu-hulu sungai. Plastik yang kita gunakan setiap harinya akan sulit terurai, pun jika terurai hanya akan menjadi sampah micro-plastic yang akan diserap oleh akar-akar tanaman, atau di perut-perut makhluk hidup laut yang akan kembali ke meja makan kita. Tentunya, hal ini menjadi permasalahan serius mengenai aspek ekologi dan dampaknya bagi kehidupan.

Krisnaldo Triguswinri, Presiden Mahasiswa Untidar 2016, mencoba mengulas tentang ekologi dari sudut pandang Marxian. Ia menyatakan, bahwa tiap-tiap kerusakan ini tak lepas dari campur tangan proses produksi atau para pemilik modal yang terus-menerus mengeksploitasi dan mengekspansi sumber daya alam secara masif atas nama kebutuhan manusia. Tiap-tiap pejuang lingkungan yang memperjuangkan ekologi sehebat apapun, akan tetap kalah karena kebijakan yang dibuat oleh para pemegang kepentingan tidak akan pernah benar-benar bijaksana.

Krisnaldo coba mendasari permasalahan ekologi pada film Pulau Plastik ini dengan teori Marx, yang menyatakan bahwa kapitalisme tak akan pernah puas dengan apa yang ia produksi, dan akan terus mengeksploitasi alam demi keuntungan pribadi. Ini berarti para pemodal tersebut hanya mencari keuntungan dan tidak pernah memikirkan dampak lingkungan,  pun tidak mengkaji secara kritis mengenai akhir dari apa yang mereka produksi (sampah).

Perlu semacam public policy untuk mengatasi sampah-sampah yang ada melalui aturan yang dibuat demi keberlangsungan hidup manusia. Maka Krisnaldo salah dengan statement bahwa “Bumi harus mengalami kehancuran, agar tercipta ulang bumi yang lebih manusiawi. Apabila kita membiarkan kapitalisme itu tumbuh secara struktural, maka biarlah kapitalisme itu menjadi absolut dan hancur dengan sendirinya”.

Deregulasi plastik-mikroplastik

"Kapitalisme akan terus tumbuh selama peradaban manusia tetap ada" (Rafi Setiyawan, BEM FISIP 2018). Kapitalisme akan selalu hadir, dalam setiap kegiatan ekonomi produktif yang dilakukan manusia. Artinya, manusia sebagai makhluk konsumerisme tak mungkin lepas dari apa yang di produksi oleh para kaum borjuis tersebut. Manusia akan selalu memenuhi kebutuhannya tanpa berfikir ulang siapa, apa, dan darimana asal usul produk tersebut.

Budaya konsumtif masyarakat modern yang kapitalistik hari-hari ini juga mengakibatkan kerusakan yang sangat nyata, bahwa makanan yang ada di meja kita hari ini bisa jadi terkontaminasi mikroplastik, air yang kita gunakan untuk mandi dan keperluan dapur bisa jadi terkontaminasi merkuri yang berasal dari plastik, ataupun penyakit manusia hari-hari ini diakibatkan oleh apapun yang tercemar oleh plastik, pun dampak dari plastik terutama ekspansi kapital ini menyebabkan kesenjangan sosial antara kaum borjuis yang memproduksi barang dengan masif,  dengan kaum proletar yang terkena dampak buruknya. Artinya, tercipta ketidakadilan struktural.

Rasanya sulit memang untuk melawan kapitalisme, apalagi menghancurkannya. Upaya-upaya yang kita lakukan dalam memerangi plastik adalah hanya dengan meminimalisir dan membentuk kesadaran publik di setiap individu dalam skala kecil. Misalnya bungkus rokok yang kita  hisap haruslah terbuang di tempat sampah an-organik, meminimalisir pembelian makanan/minuman yang menggunakan single use plastic, ataupun dengan membuat bank sampah sendiri untuk memisahkan sampah antara yang bisa di olah dengan yang dapat di daur ulang. Mungkin dengan cara-cara tersebut dampaknya tak akan kelihatan apabila dilakukan secara individualis, namun akan berdampak besar apabila itu dilakukan oleh orang banyak.

Upaya lain dalam memerangi penggunaan plastik adalah misalnya dengan mengganti plastik dengan plastic hemp yang terdapat pada serat tanaman ganja, menciptakan plastik dari rumput laut, mengganti plastik dengan kertas makanan pembungkus yang sudah terdaftar menjadi foodgrade atau membuat plastik yang ramah lingkungan.

Dari hal kecil semacam itu, adalah bentuk upaya positif dari pesimisme bahwa ketika kita tak dapat menghancurkan kapitalisme, paling tidak kita bisa meminimalisir terjadinya kerusakan alam. Walaupun secara jelas digambarkan bahwa dasar dari permasalahan ekologi adalah kapitalisme.
Ketika kita membuang satu jenis sampah di satu sisi, maka kita juga harus membersihkan satu jenis sampah di tempat lain. Ketika kita merusak pohon dan tanaman dengan alasan pembangunan ataupun lahan produktif di satu tempat, di tempat lain kita juga mesti menanam pohon berdasarkan perhitungan yang telah kita rusak.

Perlu kesadaran kritis terhadap tiap individu untuk menjaga alam sebagaimana alam telah menjaga kita. Karena hari-hari ini, alam telah berubah statusnya dari ‘Ibu Bumi’ (subjek), menjadi bumi objek yang terus-menerus di ekspansi kelebihannya dan dihancurkan oleh tangan-tangan serakah.


Konklusinya, kapitalisme adalah hal paling mendasar yang menyebabkan sekian banyak dari permasalahan ekologis dan lingkungan. Imperialisme dan kolonialisme tangan-tangan tamak yang tak pernah puas dari apa yang ia produksi menyebabkan bumi mengalami kerusakan yang krusial, dan dampaknya dapat kita rasakan di hari-hari belakangan ini.

Film dokumenter Pulau Plastik adalah gambaran kecil dari sekian banyak permasalahan lingkungan yang ada di bumi untuk menyadarkan kita tentang kepedulian terhadap lingkungan dan menganalisa siapa dalang dari permasalahan ini Tiap mahasiswa yang me-labeli dirinya sebagai agent of change, mestilah menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan dan mengkritisi serta mengkaji ulang tiap-tiap permasalahan lingkungan, tentang plastic-microplastic misalnya.

Budaya berdiskusi dan membaca juga haruslah di imbangi dengan keterlibatannya di kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan seperti ini sehingga tidak menjadi lebih kronis di kemudian hari.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Plastik, Ekologi & Kapitalisme"

  1. "Manusia akan selalu memenuhi kebutuhannya tanpa berfikir ulang siapa, apa, dan darimana asal usul produk tersebut"
    Yg saya ketahuai produk yg di buat itu akan tertera siapa yg menghasilkan? Perusahan Yg ada di label. Apa yg di hasilkan? Produk itu sendiri.
    Asal usul produk? Saya tidak akan tau jikat tidak melihatnyablangsung. Dri bahan apa prosesnya apa.
    Pertenyaan:
    Solusi penulis untuk manusia yang ingin memenuhi kebutuhannya biar bisa berfikir terlebih dahulu siapa,apa dan asal usul produk itu gimana? Gimana biar bisa berfikir.
    Terimakasih.

    BalasHapus
  2. Apakah penulis sendiri suda bisa mengurangi penggunaan produk berbahan plastik? Jika minum saja masih membeli air mineral botol. Sama saja.

    BalasHapus