Tentang Kelas Ilmu Sosial

Oleh: Arief Budianto (Inisiator)


Untuk Krisna bersama munculnya ide Kelas Ilmu Sosial

Philosophia est mater scientiarum - teriring doa kepada Tuhan dan semesta raya, agar (philo) cinta dan (sophia) kebijaksanaan lahir dan terawat bersama pembelajaran.

Gie, Tan, Che, Fidel hingga Marx, dulu sekali, tepat 3 tahun yang lalu adalah bahasan romantis dan cukup subur, untuk di petik setiap pagi, dan dipupuk setiap menjelang malam, bersama secangkir kopi dan sebatang rokok yang kita nikmati bersama. "Lampu mulai meredup, Cis!" kataku, seraya memaki gerbang kuning, yang beriringan pada redupnya rasionalitas kebijakan kala itu.

"Hari-hari berbagi api" meminjam istilah yang kau pakai, adalah preferensi yang kita pilih guna menghasilkan kesehatan berfikir - critical thinking, keadilan, kebebasan dan kesetaraan dalam banyaknya kesempatan trasendental di ruang-ruang aktif akademik.

we shall overcome someday” adalah kredo suci, membangkitkan jiwa yang di tidurkan, puisi pesakitan bagi mereka yang minor serta lagu romantis nan sakral bagi mereka yang hendak melaksanakan perjuangan.

Tak ada yang banyak berubah, Cis! Tuguran tetap hangat pada setiap sudut-sudutnya. Hanya saja, banyak sekali polusi-kolusi yang menjamur di pinggiran trotoar, hingga masuk didalam raung-ruang birokrasi. Akibatnya, pagi terlalu panas, siang terlalu membakar dan malam menghadirkan banyak kegelisahan. Sebentar lagi aku menyusul keluar, Cis! Ku ingat, yang tersisa hanya memoar manis 16. Selebihnya hanya semacam operasionalisasi pabrik pengetahuan yang memproduksi buruh baru.

Aku tahu terdapat skema besar di kepalamu yang selalu ingin kau tuntaskan. Skema emosional yang menjadi pertanggung jawaban moral sosialmu sebagai kaum terpendidik. Banyaknya kesempatan kerja politik yang kerap datang padamu, permintaan orang tuamu agar kau pulang dan tinggal disana, selalu kalah demi rencana besarmu melanjutkan karir intelektual. Kau adalah sumur pengetahuan, pemikir flamboyan, dan pelawan yang tak kenal lelah. Aku selalu bangga padamu.

Semoga Tuhan tetap menjaga kesehatanmu, menjaga prinsipmu yang kokoh, dan menitipkan setitik kekuatan agar hal-hal serupa tetap terjaga dalam persahabatan kita.

Tiga tahun berselang, pada akhirnya ada kesempatan bagi kita untuk pergi menikmati alam. Bersama hutan nan hijau, kicau burung pada ketinggian pohon, udara tanpa polusi dan keringat di sekujur tubuh, adalah aktifitas paling menyenangkan bagi kita pada tahun ini. Alam ternyata mampu mengobati pikran yang kalut, jiwa yang penuh keraguan dan perasaan yang lemah melalui ketinggian - 1726 MASL kala kita mendaki Gunung.

Hangat di tengah dinginnya guyuran angin pada pembicaraan seputar spektrum filsafaf politik yang kau jelaskan padaku, dan perubahan psikokologis akibat dentuman keindahan alam, nampaknya mampu menghantarkan kita pada satu gagasan tentang upaya untuk membentuk ruang pembelajaran dalam wacana dan khazanah sosial.

Terinspirasi oleh banyaknya perkembangan dunia pendidikan alernatif yang justru memberikan sumbangan terhadap dinamisasi ilmu pengetahuan, terlebih, lemahnya suasana akademis dalam perspektif pengetahuan sosial, yang mana menjadi salah satu penghambat kurang gencarnya gerakan-gerakan sosial di kota ini. Ini tentu menjadi bagian dari sekian alasan kita mecentuskan ide pembentukan ruang pembelajaran baru. Hingga pada akhir perjalanan, bersama lelah yang semakin memuncak, Kelas Ilmu Sosial menjadi nama pilihan sebagai simbol atas itikad baik guna kepentingan dunia pendidikan dan kemanusiaan.

Seraya duduk pada permenungan malam, di depan secangkir syphone coffee tepat di tengah kafe tua di pinggiran kota, bersamaan dengan puisi Tuhan yang memilukan lewat desiran angin malam. Tulisan ini akan menggambarkan bagaimana dan seperti apa nantinya Kelas Ilmu Sosial diadakan.

Filosofi belajar

Belajar adalah satu dari banyaknya kebutuhan primer manusia sebagai syarat mutlak dalam berkehidupan di bumi. Bahwa segala aktifitas dan kegiatan manuisa sebagai suatu entitas-indiviudal dan kelompok-sosial, di hasilakan bersamaan dengan pembelajaran organik maupun mekanik yang diwujudkan dalam bentuk pengalaman. Mengacu pada teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dalam kata lain, belajar adalah sebuah proses menerima, memahami sekaligus menjalankan suatu aktifitas-kegiatan yang di tunjukan dalam bentuk perubahan behavioral.

Masih dalam kaitannya pada pengertian belajar. Tak jarang publik meng-esklusifkan kata belajar, yang di klasifikasikan, hingga dikhususkan sebagai suatu kegiataan pokok, yang di lekatkan pada kaum pelajar. Asumsi publik demikian mengarahkan dan melabuhkan pengertian belajar pada dermaga kesempitan. Pada diemensi yang berlainan, penulis hendak menegasikan asumsi tersebut pada perluasan pengertian. Bahwa belajar adalah proses dinamis alamiah-natural, yang menghadirkan pengalaman-pengetahuan baik secara ilmiah-akademis maupun sebaliknya. Maka dalam pengertian ini, belajar adalah satu kesatuan dimensi yang tak terbatas.

Kelas Ilmu Sosial Sebagai Sarana Belajar

Pilihan terhadap Kelas Imu Sosial adalah sebuah harapan dan keyakinan penuh nilai. Kebebasan dan rasionalitas berfikir dalam proses pembelajaran menjadi prinsip utuh sebagai penghormatan terhadap martabat kemanusiaan dan ilmu pengetahuan. Ide kebebasan dan rasionalitas merupakan gagasan dasar dan sentral dalam Kelas Ilmu Sosial. Pengertian bebas dalam konsepsi Kelas Ilmu Sosial berciri dwi dimensional dan komplementer. Bebas mengacu pada situasi dan kondisi yang terlepas dari berbagai halangan, rintangan, larangan, pantangan, kungkungan, tabu dan mitos secara tanggung jawab. Kemudian, bebas berarti memuat potensialitas dan kemampuan untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendaki dan di senangi tanpa ada rasa cemas, takut dan malu. Maka penalaran dan keberanian berargumentasi di ajarkan dan ditanamkan dalam Kelas Ilmu Sosial.

Dalam tataran praksis atau pada taraf aktivitas pembelajaran dan pengetahuan, semua peristiwa dan fakta dipahami sebagai elemen objektif dan kontekstual. Dengan cara demikiam, Kelas Ilmu Sosial terhindar dan dihindarkan dari dogmatisme dan hukum abadi. Menghindar dari dogmatisme bukan berarti jatuh dalam relativisme. Kelas Ilmu Sosial hendaklah di posisikan sebagai sarana belajar dan pembelajaran yang senantiasa berusaha menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi sosial aktual umat manusia, agar dapat memberikan pilihan lain dan jalan keluar bagi perubahan dan perbaikan pemahaman teori.

Kelas Ilmu Sosial menawarkan pola pendekatan lain dengan mengembangkan materi-materi pilihan yang berpijak dan berangkat dari kenyataan dan pengalaman aktual dalam kehidupan sosial. Fakta-fakta dan peristiwa merupakan objek dan sekaligus sarana pengetahuan yang menyimbolkan dan memuat makna dan pesan. Selain itu pembelajaran teori dan peristiwa sejarah masa lalu merupakan bagian untuk menemukan keterkaitan atas dialektika dan pembaharuan pengetahuan. Maka pendekatan ini dinamakan pedekatan matrealis-historis.


Secara hakiki gagasan dan rumusan teori ilmiah selalu terarah pada perbaikan dan penyempurnaan hidup manusia baik pada tataran konseptual maupun terapan. ketika teori menjadi sistem yang mapan dan berdaya guna, pikiran dan tingkah laku individu lambat laun akan terkondisi secara otomatis. Kemampuan dalam memahami dan menafsirkan hubungan dialektis antara konsep, realita dan kondisi sosial merupakan kunci untuk mengerti sejarah indivdu, masyarakat, dan institusi. Dengan demikian, harapanya Kelas Ilmu Sosial dapat di manfaatkan sebagai ruang belajar dan pembelajaran yang efektif dan progresif.

Metode Berfikir dan Tujuan Kelas Ilmu Sosial

Kelas Ilmu Sosial nantinya akan terkait dengan semangat kemajuan atau modernitas seiring dengan pesatnya perubahan dan pembaharuan aspek kehidupan manusia. Modernitas merupakan sebutan yang bertalian dengan wacana, pemahaman dan visi terhadap dunia, makhluk hidup, kebudayaan dan manusia secara perorangan maupun soisal. Dengan mengikuti modernitas, Kelas Ilmu Sosial akan senantiasa berperan aktif, bergerak maju dan menginginkan perubahan radikal sebagai bekal pembelajaran dalam mengahdapi perubahan ilmu pengetahuan. Adapun tujuan besar Kelas Ilmu Sosial adalah menjembatani kepada mereka yang belajar bersama, guna melakukan penalaran untuk mendapatkan cara baru dalam berfikir dan cara baru dalam menghayati hidup.

Kelas Ilmu Sosial pada proesesnya akan mengedepankan metode interdisipiner-multidisipliner. Metode ini berguna sebagai sarana untuk memahami materi maupun persitiwa secara komprehensif, dengan menggabungkan berbagai tujuan dan melakukan pendekatan dari banyak perspektif serta bidang keilmuan yang relevan.

Adapun tujuan lain dari diadakannya Kelas Ilmu Sosial adalah, memberikan bekal keilmuan teruntuk mereka yang di terima didalamnya, sebagai pegangan dalam melakukan aktifitas sehari hari. Objektivitas serta kebenaran merupakan tolok ukur sahih dan tujuan ilmu pengetahuan beserta Kelas Ilmu Sosial. Semangat kelas ilmu sosial dalam mengedepankan kebenaran dan objektivitas setidaknya menjadi pembeda dari sekedar pencurahan hasrat intelektual.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tentang Kelas Ilmu Sosial"

Posting Komentar