Grandio Sonora Tidar, Kerja Kolektif dan Prestasi Internasional (Interview Bagian 1)

Oleh: Krisnaldo Triguswinri  (Mahasiswa MAP Universitas Diponegoro) 



Gradio Sonora Tidar atau yang biasa disingkat GST adalah kelompok Paduan Suara Mahasiswa Untidar yang terbentuk pada tanggal 28 Februari 2008 di Magelang. Gradio Sonora Tidar telah meraih beragam penghargaan nasional maupun internasional melalui beragam ajang kompetisi bergengsi.

Pada tahun 2017 lalu, GST berkesempatan menjadi partisipan dalam Vietnam International Choir Competition di Hoi An dan berhasil membawa pulang Golden Diploma Level II untuk Mixed Choirs Category, Golden Diploma Level II untuk Folklore Category, Silver Diploma Level IX untuk Sacred Choir Music Category, dan Special Prize for Excellent in Programming.

Selain itu, Gradio Sonora Tidar kerap menggelar hajat konser yang, misalnya, ditujukan sebagai agenda tahunan atau ritual sebelum berangkat berkompetisi pada tingkat lokal maupun internasional.

Pada tahun 2016, GST menggelar konser bertajuk Sound of Love; Dont be Afraid Because Love is All You Need. Kemudian pada tahun 2017 dalam rangka merayakan keikutsertaan GST pada kompetisi di Vietnam, mereka menggelar konser bertajuk; Yes, We Can Make It! Pada tahun 2018, GST menggelar konser bertajuk Manggala Gita. Dan diakhiri oleh konser membanggakan bertajuk Aruna Dipta pada 7 Juli 2019 yang lalu. Aruna Dipta merupakan pertunjukan monumental GST sebelum tiba pada kompetisi International Choral Festival Orientale Concentus, di Singapore beberapa waktu lalu.

Dalam perjalanan panjang GST mengikuti kompetisi bergensi di Singapore dan meraih prestasi menakjubkan karena berhasil membawa pulang Gold Medal untuk kategori Folklore dan Silver Medal untuk kategori Mixed Voices Open, ternyata terdapat perjuangan keras serta sendu, sedan, tangis, dan duka dalam proses mereka mempersipkan seluruh jenis kebutuhan keberangkatan. Tidak hanya latihan teknis dan fisik sebagai upaya untuk sempurna tampil dihadapan mata internasional. Pun, perjuangan mereka menghimpun dana secara mandiri dan kolektif. Tentu untuk dua hal, demi eksistensi Indonesia pada umumnya, dan Magelang khususnya.

Saya berkesempatan mewawancarai Ficky Jihan Ababa, salah satu front man Gradio Sonora Tidar yang memiliki peran keterlibatan dalam banyak proses-proses dan hari-hari sulit GST mencari dana, berlatih dan mepersiapkan kepentingan keberangkatan lainnya ke Singapore beberapa waktu yang lalu.

Setelah mendapatkan beberapa penghargaan Internasional di Vietnam tahun lalu. PSM GST bulan ini mengikuti kompetisi internasional di Singapore. Mungkin bisa dicertain proses PSM GST ke Singapore?

Tujuannya adalah lomba. Tetapi sebelum kesana, saya mau ceritakan dulu. Sebenarnya kita (PSM GST) dihadapkan pada dua pilihan. Kira-kira bulan Juli 2018 GST dapat undangan dua kompetisi internasional; Hongkong dan Singapore. Saat itu tim official sudah menentukan bahwa, bagaimana kalau kita mencoba ke Hongkong, soalnya kita dapat banyak informasi bahwa di Hongkong kita bisa bebas visa. Akhirnya, kita fokus mempersiapkan tim untuk mengikuti kompetisi di Hongkong.

Setelah melalui banyak proses penyaringan untuk para penyanyinya, akhirnya kita mendapatkan 40 penyanyi dari 70 pendaftar. Tentu setelah melawati proses seleksi yang ketat dan panjang. Setelah itu, semua pendaftar yang  mengikuti proses seleksi kita beri surat pemberitahuan tentang diterima atau tidak diterimanya mereka. bagi yang diterima, kita beri tahu untuk berkumpul di Gunung Tidar dan tidak boleh meberi tahu kepada sesama teman GST lainnya. Akhirnya datanglah mereka yang lolos, yang sebenarnya tidak tahu siapa-siapa aja yang lolos. Mereka semua kaget! Tim itu diberi nama Aruna Dipta dan proses pendeklarasiannya itu kita laksanakan di Gunung Tidar.

Pada saat itu juga diputuskan secara bersama-sama, memilih mengikuti kompetisi di Hongkong atau Singapore. Kalau berangkat ke Hongkong estimasi anggaran personal yang akan dikeluarkan segini, kalau ke Singapore segini. Hongkong itu menghabiskan 7-11 juta per/orang, sedangkan Singapore 3-5 juta per/orang.

Dan setelah melalui proses pemufakatan bersama, kita memilik ke Singapore dengan beragam macam alasan anggaran. Soalnya saat itu kita berfikir untuk tidak berharp banyak pada kampus, soalnya kita sudah sangat terbiasa dengan kemandirian. Maka kita lebih memilih untuk membangun kerja-kerja pengumpulan dana sendiri dan kolektif.

Bagaimana dengan proses seleksi?

Kalau prosesnya. Kita menyanyikan lagu Tanah Airku (secara solo dan grup), menyanyikan 4 jenis suara (alto, bass, tenor, sopran), dan terakhir wawancara. Gitu.

Apa aja sih pengalaman menarik teman-teman GST ketika berproses sebelum berangkat ke Singapore?

Ada yang menarik nih. Jadi ada dua orang anak GST yang pada saat itu melewati batas waktu wawancara, jadi saat wawancara berlangsung dia belum datang, karena memang lagi pulang kampung. Akhirnya Pak Koko yang adalah pelatih kita ngomong, kalau mereka berdua gak ikut wawancara dengan sendiri mereka tereliminasi.

Menariknya, satu anak yang kebetulan rumahnya itu di Pekalongan seketika langsung berangkat ke Magelang hanya untuk mengikuti tes wawancara, dan akhirnya dengan kesungguhan dan kerja keras dia itu, dia diterima masuk dalam tim.


Kerja kolektif teman-teman GST demi berangkat ke Singapore kan tidak sedikit. Mungkin bisa dijelaskan apa saja yang dilakukan?

Saat itu kan sudah terbentuk tim nih. Dan tidak mungkin setiap orang rela mengeluarkan 5 juta untuk berangkat ke Singapore. Setidaknya kita, tim official waktu itu, berfikir keras untuk mencari cara bagaimana dapat meringankan beban mereka. saat itu targetnya per/orang minimal bisa kita bantu bayarin 2 juta.

Akhrinya kita putuskan untuk ngamen setiap minggu di car free day Kota Magelang. Sayangnya, kita dapat kritik dari seorang dosen yang berkata bahwa ngamen di jalan justeru bakal membuat nama kampus menjadi jelek. Sedangkan kita emang lagi butuh uang waktu itu, karena kampus tidak memberi kami pembiyayaan sama sekali. Setelah itu, temen-temen yang baru pertama kali mengikuti kompetisi agak tertekan dan kehilangan kepercayaan diri, dan tim official saat itu langsung memberikan penguatan: “gak apa-apa, ini adalah proses. Kalau kampusmu malu, emang kampus harus malu. Soalnya kampus tidak mengeluarkan apapun untuk kita”. 

Kita tetap konsisten untuk terus menggelar agenda ngamen setiap minggu di Car Free Day. Dari kritik itu justeru jadi semacam cambukan buat temen-temen lebih semangat untuk mewujudkan keberangkatan GST ke kompetisi di Singapore. Lumayan sekali loh, karena setiap ngamen kita dapet 500rb.

Sebenarnya target dari hasil selama kita ngamen cuma 2 juta, tetapi ternyata melampaui ekspektasi, yaitu, 12 juta.
Selain itu kita juga menjual rongsok, jual merchandise, dan membuat konser serta mengikuti kompetisi. Semua usaha itu ditunjukan untuk menutupi kekurangan dana kita sebelum berangkat ke Singapore. Akhirnya, dari konser kita dapat dana 13 juta, dari kompetisi kita dapat 50 juta, dari jual merchandise kita dapat 7 juta, dan dari hasil jual rongsok kita dapat 2 juta.

Seperti apa proses latihan teman-teman GST untuk mempersiapkan kesiapan tim sebelum berangkat ke Singapore?

Wah, banyak banget. Gak selesai kalau harus diceritakan. Kita latihan selama 10 bulan dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Soalnya dalam waktu yang bersamaan kita tidak bisa lagi menggunakan kampus sebagai tempat latihan karena ada peraturan baru tentang jam malam, sedangkan biasanya kita kalau latihan sampai jam 11 malam. Akhirnya, kita latihan berpindah-pindah. Mulai dari di Balai RW Potrobangsan, Taman Bada’an, rumah Pak Dadik yang adalah pembina GST, hingga di SMP 1 Magelang.

Kita latihan hampir setiap hari. Selain itu, kita juga sering latihan fisik. Kita pernah nyanyi do re mi fa so la si do selama satu jam setiap hari. Berulang-ulang, terus-menerus. Itu namanya vocalising. Padahal untuk menyanyi satu lagu kita cuma butuh waktu kurang dari 10 menit. Nah, pada saat itu, Pak Koko memberi pengertian bahwa sebelum masuk pada lagu atau bernyanyi, kita harus bener dulu teknik dasarnya.

Yang menarik dari proses latihan itu sebenarnya terletak pada semangat dan lelah yang kita rasakan bersama-sama. pulang malam, laper, dingin, dll. Tapi kita berhasil nikmati setiap prosesnya. Bahkan sampai pernah ada yang pingsan saat latihan.

*Pada bagian 2 Interview ini akan membahas tentang pengalaman GST selama berada di Singapore dan hal-hal bersemangat serta penuh haru ketika mengikuti kompetisi International Choral Festival Orientale Concentus.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Grandio Sonora Tidar, Kerja Kolektif dan Prestasi Internasional (Interview Bagian 1)"

  1. nice kaka😊😊😊😊 alhamdulillah ikut bangga

    BalasHapus