Kepada Mariachi Phalevi

Oleh: Krisnaldo Triguswinri


Reminiscing the past...

Usai Mariachi Palevi alias EL memberikan sebuah novel berjudul Putra, saya seketika shock serupa pengidap penyakit jantung kronis yang untuk beberapa waktu kehilangan nyawa dan kesadaran. Sialnya, saya mengenal Mariachi sebagai sahabat dan partner in crime, bukan atau novelis yang sempurna. Aktivisme organisasi saya di kampus tidak terlepas dari peran Mariachi sebagai patron bergerak yang ideal, pembangkang tanpa bensin, kain dan botol kecap, serta tukang masak mie goreng, orator dan sesekali menjadi penyair dalam rangkaian acara kolektif teman-teman di Magelang. Penyakit jantung kronis yang datang seketika berakhir sipu, pun Mariachi sebagai pemarah dapat instan bertransformasi menjadi sangat romantis lewat Putra.

Adakah keterlibatan Ernest Hemingway atau Haruki Murukami dalam Putra yang  membuat Mariachi terbaca begitu manis. aih, yang penting dan harus di garis bawahi adalah, Mariachi sebagai personal berhasil keluar dari ruang-ruang paradoks aktivisme intlektualis mereka yang hanya menyibukan dirinya berkontradiksi mempertarungkan gagasan, konsepsi dan program-program seremonial. Lebih dari itu, Mariachi membuat sebuah pembuktian baru, bahwa seorang aktvis tidak melulu harus pandai bergulat dalam persoalan logika saja, namun dapat pula menjadi sangat artistik dan estetik secara verbal.

Saya fikir Achi telah berhasil di wilayah aktivisme organisasi dan kemahasiswaan untuk merubah paradigma: bahwa tugas akhir mahasiswa tidak hanya memproduksi skripsi saja, skripsi adalah produk mutlak semua mahasiswa. lantas, apa yang lebih agung dari memprodukasi sebuah novel sebelum akhirnya hengkang dari bangku kelas dan presentasi.

Sebelum jauh masuk dalam membongkar novel berjudul Putra, saya akan melaporkan pengakuan dosa saya: seperti kebanyakan teman-teman, awalnya saya beranggapan bahwa novel karya Mariachi bercover dan berjudul konyol serta menggelikan serupa diktat poto-kopi-an mahasiswa semester akhir yang tergeletak menyampah di Purnama.

Namun, pasca berkontemplasi membaca Putra sampai tuntas, akhirnya saya sepakat dan berdamain dengan asumsi, saya fikir bukan saatnya menilai sesuatu hanya berdasarkan cover dan judulnya saja. walaupun sejak awal, sangat tidak mungkin mendiskreditkan kualitas dan teknis kepenulisan Mariachi sebagai mahasiswa berlatar belakang Bahasa Inggris, ia pastinya akan memanfaatkan disiplin keilmuanya dalam merampungkan buku yang proses kepenulisanya relatif sangat singkat ini.

Mungkin ini yang menjadi alasan kenapa ia memilih cover dan judul sejelek itu, pertama. Karena mungkin ruang dan waktu yang menyempit, kedua. Karena mungkin cover ini bersifat temprorer, dan ia ingin sesegera mungkin menggantinya sembari masuk dalam tahap produksi yang lebih serius lagi. Layouting, Editing bahkan Launching.

Achi ini adalah perempuan taktis, kalau tidak mau disebut feminis. ia mampu menjaga api dan progresifitas yang berkaitan dengan prinsip dan wacana-kritisnya. lantas, akhir-akhir ini saya melihat ia menjadi lebih progresif dari biasanya, mungkin termotivasi oleh faktor eksternal bernama Putra. Itulah kenapa saya kehilangan nyawa dan kesadaran ketika Achi memberikan novel karyanya kala saya menjumpainya disela-sela kesibukan berorganisasi.

Walaupun Sebenarnya saya sedikit kecewa dan melayangkan protes pada Achi karena pemilihan judul novel atas nama seseorang, berdasarkan pengalaman empiris saya, Jazz Untuk Nada adalah proyek jatuh cinta yang kemudian berakhir dengan patah hati, bias dan sia-sia. Saya hanya tidak ingin suatu hari nanti Achi merasakan apa yang kemudian pernah saya rasakan.

Namun Achi bergegas menegaskan, bahwa konten tulisan yang ada dalam novel ini adalah sesuatu yang saling berkaitan dan berhubungan dalam satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari Putra sebagai objek sentral, Putra dalah benang merah dari konsepsi yang dibangun lalu dikerucutkan, Putra adalah representasi absolut yang tak dapat di ganggu gugat. Achi hanya ingin jujur dan to the point, ia tidak ingin hiperbola dan mengindah-indahkan judul novel perdananya, sekali lagi, Achi terlalu jujur dalam novel ini. bahwa ia menulis untuk dirinya sendiri tapi karena Putra.

Dengan segenap kesadaran dan penyadaran, esensi novel karya Mariachi ini secara makro saya anggap penuh dengan kejujuran, persis seperti paragraph di atas, kejujuran yang ia reduksi melalui fenomena dan momentum meliriskan, atau dalam bahasa hari ini di kenal sebagai ‘baper’.

Novel ini banyak Achi berangkatkan dari manifestasi pergolakan batin dan pilunya perasaan yang bersentuhan langsung denganya. Tidak hanya tentang pertemuan pertama bersama Putra: di saat ia (Mariachi) berusaha menggagalkan sebuah rencana aksi bela Papua Barat yang di inisiasi oleh segelintiran mahasiswa-mahasiswa Fisipol. namun lebih dari itu, novel ini sedikit banyaknya akan menarasikan aktivitas gerakan Achi selama memangku posisi penting dalam sebuah organisasi kampus, tentang bagaimana ia tumbuh dan besar di jalanan, terlibat dalam aksi demonstrasi di Jakarta yang ia ceritakan dan ia kemas dengan romasa pada bab pertama, kreta api yang malaju jauh dari Malang ke Stasiun Pasar Senin seraya menggelandang menyusuri hitam aspal lampu neon Jakarta dan teriakan parau ribuan mahasiswa, larut dan bangkitnya ia dari pesakitan atas permasalahan keluarga yang tidak baik-baik saja, surat-surat penuh elegi dan tetes air mata, harapan dan keyakinan-keyakinan kecil tentang cinta yang bias. serta hiruk-pikuk pertemanan yang sangat menjijikan. Achi dalam novel ini mencoba memberikan banyak kompleksitas informasi tentang apa yang terjadi di dalam dirinya dan jauh di luar dirinya. Jika Sartre berfilsafat tentang Eksistensialisme dan Humanisme, maka Achi kelihatanya kehilangan eksistensi sebagai seorang perempuan militan yang akhirnya mengalami proses deradikalisasi. Lagi-lagi ia terpuruk dan menangis. lagi-lagi penyebabnya adalah cinta

Ungkapan Maxim Gorky di atas saya fikir relevan dalam merepresentasikan Mariachi secara komperhensif melalui novel berjudul Putra. Dan entah kenapa saya sedikit sentimen pada Putra, tidak Putra sebagai objek novel ini, tetapi Putra sebagai individu. Sialnya, Putra sebagai individu mampu menggerakan seorang keras kepala seperti Achi yang berakhir lembut dan melankolis, saya tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa Achi akan menulis novel seindah ini.

Parahnya lagi, Achi menulis sebuah novel yang secara khusus didedikasikannya kepada putra. tadinya saya berpikir bahwa Achi adalah seorang perempuan yang tidak mungkin menarik dirinya masuk ke dalam ruangan yang mewajibkanya melibatkan prasaan, saya justru pernah berkeyakinan. bahwa Achi akan lebih konsen mengurusi persoalan sosial-politik dan pengorganisiran. Namun saya keliru, ketika Achi jatuh cinta, ternyata ia turut membabi-buta serupa puisi Saut Situmorang buat Romeo dan Juliet, bahkan lebih gila serupa curahan cinta John Lenon kepada Yoko Ono. Dan buruknya lagi, ia begitu mendayu, menangis, getir dan tersayat. Dan mungkin akan berakhir dengan tidak waras atau bunuh diri.


Saya mendakwah bahwa Achi mengamini pernyataan Pram: bahwa menulis adalah upaya menuju keabadian, maka ia menulis, dengan harapan dapat pula abadi. Dalam hal ini mengabadikan cintanya bersama Putra. Bukan Putra sebagai sebuah buku, namun Putra sebagai lawan jenis.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kepada Mariachi Phalevi"

Posting Komentar