Martabat Manusia

Oleh: Jonathan Wijaya (Seminari Alkitab Asia Tenggara)



Apakah manusia berharga? Bisa saja jawaban dari pertanyaan ini adalah “tidak” dengan melihat   begitu banyaknya berita yang menyampaikan kabar pembunuhan kekerasan dan tindakan amoral lainnya di Indonesia. Minimal saya dapat melihat isu ini di dalam dua kasus.

Pertama, manusia tidak menganggap berharga sesamanya. Peristiwa yang sempat menjadi berita hangat beberapa waktu ini adalah kisah tentang Brigadir Rangga Tianto yang menembak mati Bripka Rahmat Effendy (koran kompas) . Lewat peristiwa itu, saya merefleksikan bahwa dengan mudahnya seseorang mencabut nyawa orang lain, tanpa menyadari dan berpikir bahwa orang itu berharga. Tidak hanya kisah tersebut, ada juga remaja difabel yang dianiaya hingga tewas oleh dua teman sebayanya di Pontianak (koran kompas) . Hal di atas menunjukkan begitu banyaknya kekerasan yang terjadi di dunia ini dan mungkin di sekitar kita.

Kedua, manusia tidak menganggap dirinya berharga. Ada peristiwa di mana seorang membunuh diri atau menghabisi hidupnya karena berbagai alasan, entah ia menganggap dirinya tidak berguna dan tidak berharga, persoalan cinta (diputusin oleh pacar, hamil di luar nikah) dan yang sempat menjadi berita hangat yakni “sangat penting, bantu saya memilih harus hidup atau mati” yang merupakan sebuah postingan atau unggahan seorang remaja berusia 16 tahun asal Malaysia, sebelum ia meregang nyawanya alias bunuh diri.

Saya berasumsi tindakan yang patut disayangkan ini, terjadi mungkin saja karena ia berpikir ia tidak mampu menjalani hidupnya dan ada permasalahan yang begitu besar yang tak mampu ia tanggung atau bisa jadi ia merasa tidak ada gunanya hidup dan kalau ia hidup pun tidak ada gunanya tidak ada sesuatu yang patut atau berharga yang perlu dipertahankan. Saya tidak berharga dan orang pun sependapat dengan saya -69 persen responden memilih opsi mati untuknya- mati adalah pilihan yang terbaik, mungkin yang sempat terpikirkan oleh remaja malang tersebut (koran kompas).

Kejadian 1:26-28: Manusia Berharga

Apa sih yang dikatakan oleh Kebenaran Firman Tuhan tentang hal tersebut, apakah manusia itu berharga atau tidak? Di dalam Kejadian 1:26-28 berfirmanlah Allah:

“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Lewat Kejadian 1:26-28 ini, manusia berharga karena dia adalah ciptaan Allah.

Saya punya cerita dan pengalaman yang menarik -bagi saya, tidak tahu dengan Anda- ketika saya mengunjungi paman saya yang berada di Surabaya, saat itu telah larut malam, mungkin jam 10 malam WIB. Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk menggunakan Go Car sebagai kendaraan untuk menuju tempat tujuan saya -barang bawaan saya yang begitu banyak oleh sebab itu saya memutuskan menggunakan mobil sebagai transportasi saya. Om saya tinggal di perumahan -yang elit, semua rumah berukuran besar dan bertingkat, bahkan ada lapangan golf di perumahan tersebut- yang di jaga oleh beberapa petugas pengamanan atau satpam.

Saat menuju ke kompleks perumahan pamanku, seperti biasa mobil dihentikan dan di tanyakan beberapa pertanyaan (mau ke mana? Mau bertemu siapa? Dengan siapa?) saya spontan berkata: “saya mau ke rumah om saya mau ketemu om saya dan saya adalah keponakannya”. Secara spontan langsung portal atau palang penutup gerbang di angkat atau dibukakan dan saya melihat dengan jelas mereka menghormati dan tersenyum kepada saya. Namun ketika saya kembali lagi ke rumah paman saya pada keesokan harinya, namun saat itu saya menggunakan Gojek atau Go ride, sepeti biasa pertanyaan dilontarkan oleh penjaga portal. Saya pun menjawab dengan jawaban yang sama -yang kemarin saya sempat sampaikan-, namun mimik atau ekspresi wajah satpam tersebut seperti mencurigai dan tidak percaya kepada saya begitu saja. Saya ditahan dan dimintai untuk menyerahkan KTP saya kepadanya.

Saat itu saya dibiarkan masuk, tetapi ekspresi orang itu tidak kunjung berubah, tetap sama dan tetap memperhatikan saya, walaupun saya telah meninggalkan tempat itu dengan driver online tersebut, saya masih dilihat dengan mata yang penuh kecurigaan -disisi lain saya harus mengapresiasi apa yang dilakukan satpam tersebut, karena telah melakukan tugasnya dengan baik. Saya dapat berkata bahwa dunia menilai harga diri seseorang dilihat dari penampilan luar semata, orang akan di hargai jika memiliki kekayaan, kedudukan, fisik yang baik dan ideal, kepintaran, keahlian, kecakapan,  dan keluarga yang terpandang. Namun apakah seperti itu yang dikatakan oleh Alkitab dan yang sesuai dengan penilaian Tuhan?

Kita di ciptakan-Nya serupa dan segambar dengan Dia. Serta kita dibentuk dengan tangan-Nya yang maha mulia. Itulah yang membuat kita berharga dan Tuhan memandang kita berharga bukan karena kita baik, punya uang banyak, pintar, cantik atau ganteng, orang tua yang terpandang, hebat, punya banyak keahlian. Tetapi karena Ia sendiri yang menciptakan kita berharga.

Manusia berharga! Lalu?

Manusia yang berdosa, membuat kita melihat orang lain berharga jika pintar, ganteng/cantik, baik, kaya dan punya keahlian. Jika kamu tidak pintar maka kamu akan dikucilkan, jika kamu jelek kamu akan di hina, jika kamu miskin tidak ada yang memperhatikan dan bergaul dengan kamu, dan jika kamu tidak dapat berbuat apa-apa, mereka tidak akan hormat padamu. Namun seharusnya kita, sebagai orang percaya kepada Tuhan, mesti melihat bahwa manusia itu berharga bukan karena ia memiliki atau mempunyai sesuatu yang di anggap orang lain itu berharga, dan bukan juga kita di anggap berharga karena penilaian atau pengakuan orang lain terhadap kita, namun kita berharga karena Tuhan memandang kita berharga.

Seharusnya kita memandang diri sendiri dan sesama berharga. Bukan seperti yang dipandang oleh dunia ini, namun sesuai dengan penilaian Tuhan. Jangan takut dianggap tak berharga oleh orang lain, sebab Tuhan tetap memandang kita berharga dengan apa adanya kita. Kita pun terpanggil untuk memandang berharga orang lain bukan untuk mendapatkan keuntungan, namun karena Tuhan memandang kita berharga dan orang lain pun berharga dimata Tuhan.


Belajarlah untuk menghargai orang yang tidak menghargai kita dan terus menghargai orang lain. Jangan bersedih jika tidak ada orang yang menghargai kita, sebab ada Pribadi yang masih dan tetap menghargai kita, yaitu Tuhan. Jangan mencari penghargaan dari orang yang berdosa, tetapi terimalah penghargaan dari Tuhan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Martabat Manusia"

Posting Komentar