Narasi Pembuktian Cinta dan Kekerasan Seksual

Oleh: Krisnaldo Triguswinri (Editor Terinews) 


Dalam relasi hetroseksual konsepsi percintaan selalu diandalkan pada komitmen demi diikatnya kasih, rasa saling percaya dan kesetiaan yang menjadi tuntunan etis mereka yang bercinta. Sayangnya, konsepsi percintaan itu kerap berakhir pada dominasi agresif cara berfikir laki-laki yang patriarkis. Sehingga hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan seringkali terjebak pada problematika kekerasan.

Laki-laki selalu menempatkan diri sebagai subyek otonom dan entitas yang berlokasi di luar dirinya. Sedangkan perempuan menyodorkan diri bersamaan dengan keseluruhan eksistensinya; total. Bagi laki-laki, mencintai adalah upaya untuk memiliki secara penuh obyek yang dicintai yang, misalnya, dapat mengendalikan secara utuh perempuannya. Sementara bagi perempuan mencintai artinya meleburkan diri atau menyerahkan segalanya pada objek yang dicintai.

Tentu hal semacam ini tidak dapat digeneralisir. Namun, diktum dari realitas sosiologis percintaan hetronormativitas selalu berakhir pada penundukan. Sebaliknya, bagi perempuan dengan kesadaran emansipatif, hal semacam itu justeru merupakan devosi.

Bujuk rayu, janji manis dan narasi pembuktiaan cinta menjadi peralatan laki-laki dalam rangka meyakinkan sang perempuan agar supaya semua kehendaknya dapat ditunaikan. Namum sebaliknya, hal-hal tersebut menjadi tabuh bila dilakukan oleh perempuan. Sebab ada relasi dimana superioritas itu surplus pada laki-laki dan defisit pada perempuan. Sehingga seluruh jenis keputusan dan keinginan tidak dibasiskan pada negosiasi yang egaliter, melainkan pola pengengambilan keputusan yang totaliter.

Pada tahun 2015, terjadi perkembangan inovasi hukum akibat sebuah Putusan Pengadilan di Indonesia yang menghukum seorang pelaku yang melakukan tidak pemerkosaan pada kekasihnya melalui bujuk rayu dan janji pembuktian cinta.
Pertimbangan dimasukkannya bujuk rayu sebagai kekerasan seksual disebabkan oleh relasi kuasa antara laki-laki yang superior dan perempuan yang inferior. Melalui terobosan hukum tersebut, bujuk rayu menjadi bagian dari tindak pidana pemerkosaan.

frasa “atas nama cinta” di-redefinisi-kan bukan lagi sekadar hasrat atau pengorbanan, melainkan kekerasan dan kekuasaan. Sebab, frasa “atas nama cinta” sering digunakan oleh laki-laki sebagai legitimasi untuk menghalangi, melarang dan membatalkan kehendak bebas perempuan untuk mengambil keputusan, bersikap, dan bertindak. Pun, frasa tersebut seolah-olah menjadi fasilitas bagi laki-laki untuk melakukan tindak kekerasan, pemaksaan, hingga pemerkosaan. Oleh sebab itu, seringkali budaya patriarki bersembunyi bahkan pada wilayah yang sangat personal dan jernih dari manusia.


Atas penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa konteks kekuasaan mewujud dalam bentuk relasi kuasa, sehingga dinamika kekerasan dalam relasi personal dianggap berkaitan erat dengan kontrol dan kekuasaan yang timpang oleh salah satu pihak (Kelly, 1988). Seksualitas perempuan menjadi identik dengan kekerasan karena konstruksi sistem gender menempatkan laki-laki untuk memiliki kontrol atas seksualitas perempuan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Narasi Pembuktian Cinta dan Kekerasan Seksual"

Posting Komentar