Tanggapan Buat Krisnaldo Triguswinri

Oleh: Mariachi Phalevi (Aktivis Perempuan) 



Sejenak orang membaca tulisan ini mungkin yang muncul di dalam benak adalah lagu dari Virgoun yang berjudul Bukti. Ini bukan kisah seperti Starla yang dibuatkan lagu romantis oleh seseorang yang mengaguminya. Tetapi mungkin jika diibaratkan, maka Krisna adalah Starla itu. Benar sekali, saya memang mengagumi sosok Krisna sebagai public figure pada masa produktif saya di organisasi kampus waktu itu.

Krisna adalah seorang laki-laki yang berasal dari pulau Sumatra dan berkuliah di kampus yang sama denganku. Figurnya yang pembangkang dan pendobrak kekejaman birokrasi adalah yang saya kagumi. Serentak di dalam pikiran saya saat ini saya mengatakan, “Berani sekali orang Sumatra itu koar-koar di pulauku.” 

Tulisan ini saya buat sekaligus untuk memberitahukan kepada orang-orang yang mengira saya menghilang dari peradaban dan berhenti berjuang. Tidak, saya tidak pernah berhenti berjuang. Saya bukan tipe orang yang ‘musiman’, yang hanya mengikuti trend yang ada kemudian menghilang begitu saja. Perjuangan tidak semerta-merta mesti dilakukan di permukaan. Tidak perlu dipublikasikan, pada intinya itu merupakan hal yang berguna bagi orang lain. Saya hanya manusia biasa yang mencoba menjalani kehidupan yang seimbang.

Benar bahwa saya tidak mau dibilang seorang feminis, karena bagi saya seorang feminis adalah pejuang wanita garis keras yang dalam pikirannya hafal apa saja pencapaian para tokoh perempuan.

Menurut saya perjuangan bukan tentang kita yang menjadi seorang feminis, atau Krisna yang saklek pada kritik terhadap Kapitalisme. Dahulu (walau saya sendiri bimbang sebenarnya dia ini penganut aliran siapa) perjuangan adalah bagaimana menjadi diri yang berguna bagi orang lain. Menjadi berguna artinya akan memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan.

Sedikit bercerita, pada tahun 2016 saya pernah menjabat menjadi seorang ketua departement sosial masyarakat di sebuah organisasi tingkat kampus (sekarang namanya kementrian). Waktu itu Krisna menjadi pelopor budaya diskusi mahasiswa, yang dimulainya dari organisasi. Tak heran, topik diskusi pertama waktu itu adalah tentang cinta. Ah, Krisna ini mengatai diriku yang menjadi lemah karena cinta, padahal ia pun tak berbeda jauh dariku.

Terkait dengan tulisan Krisna untuk saya, memang benar bahwa saya pernah membuat kerangka novel yang bisa dibilang “cerita bodoh soal pacar”. Dogma tentang cinta dapat mengubah batu karang sekalipun menjadi pasir yang sangat lembut. Saya mengaku bahwa saya pernah jatuh cinta sampai kehilangan akal sehat tentang perjuangan dan keadilan. Ketika orang merasakan jatuh cinta, mereka akan melakukan segalanya untuk mendapatkan sebuah perasaan yang tidak bisa dianalogikan seperti lagu-lagu indie yang memiliki alunan indah. Hampir saja saya menjadi Krisna versi perempuan. Saya tidak jadi menerbitkan novel yang disinggung Krisna berkali-kali itu. Mengapa?

Krisna benar bahwa ia mengatakan saya ini tidak waras. Saya memang tidak waras ketika sedang jatuh cinta. Setelah produk patah hati tentang Putra, saya membuat lagi produk patah hati lainnya. Kali ini namanya Ferdinand. Saat orang-orang banyak berkata kepada saya atau kepada teman saya “Achi sekarang sudah berubah menjadi lebih baik”, itu adalah karena Ferdinand yang membantu saya untuk menyayangi dan memaafkan diri sendiri.

Usai keterpurukan dari seabrak masalah tentang Putra, saya mendapat banyak pujian tentang perubahan saya. Seperti sebuah kebangkitan dan kehidupan baru, ini yang saya rasakan sekarang. Saya berdamai dengan masa lalu dan melanjutkan hidup. Itu adalah alasan saya tidak mempublikasikan novel yang merupakan produk patah hati. Meski begitu saya masih tetap menulis, dan mungkin akan ada karya saya yang saya publikasikan. Tunggu saja.

Tentang Krisna, bagi saya ia adalah seorang kawan yang saya anggap saudara. Walaupun kami pernah cekcok tiga kali karena perbedaan pendapat, tetapi Krisna dan saya saat ini berhubungan baik. Kami bahkan waktu itu bertemu dan membicarakan banyak hal, sebelum ia mengurusi pindahannya untuk melanjutkan kuliah di kota lain. Mungkin ia bisa menjadi seorang dosen idealis yang sangar kelak. Semoga Krisna selalu mendapat kekuatan untuk terus berjuang memperjuangkan ketidakadilan dimanapun ia berada.


Krisna, orang luar yang koar-koar di pulau Jawa, mengapa saya sebagai orang Jawa hanya diam? Itulah hal pertama yang memicu api perjuangan di dalam diri saya. Panjang umur perjuangan! Dari Achi, yang bermimpi untuk menjadi seorang Batman di dunia nyata.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tanggapan Buat Krisnaldo Triguswinri"

Posting Komentar