Kapan yang Pintar Terlihat Bodoh?







bisakah emosi menjadi cerdas? Kepopuleran pertanyaan tersebut sempat diikuti dengan kasus, seorang siswa yang melukai guru fisikanya dengan sebilah pisau, hanya karena guru tersebut memberikan nilai B pada pelajaran fisika. Alasan tersebut dikemukan oleh Jason karena, nilai yang diberikan dianggap mampu menghalangi keinginannya untuk bisa melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran Harvard. Akibat dari kasus tersebut, Jason pun akhirnya pindah ke sekolah swasta, dan nasib baik mempertemukan dirinya sebagai lulusan terbaik saat itu.

Beranjak dari luar negeri, hal serupa pun pernah terjadi di salah satu SMA terbaik di Magelang. Seorang siswa A yang tega membunuh temanya sendiri hanya karena, siswa tersebut dilaporkan oleh temanya, karena  telah melakukan suatu pelanggaran. Belakang diketahui bahwa siswa A ternyata memiliki  banyak prestasi dan  kejuaraan dalam bidang akademis.

Munculah sebuah pertanyaa dari dua kasus di atas. 
Bagaimana bisa seseorang yang begitu pintar secara akademis bisa melakukan hal-hal bodoh seperti itu?

Pertanyaan tersebut mempertemukan dengan sebuah jawaban, bahwa tidak semua manusia mampu memiliki kendali emosi yang baik. Disisi lain juga, kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak dan kesulitan hidup. Banyak orang tidak terlalu menganggap penting sisi kecerdasan manusia yang satu ini. Fokus kesuksesan seseorang hanya dipatok, pada  bagaimana besarnya IQ  mampu mempertemukan mereka dengan karier yang cemerlang.

Orang dikatakan  matang dan cerdas secara emosi jika kriteria di bawah ini sudah terpenuhi. Seperti
Memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri
Kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi frustasi
Kemamouan untuk mengendalikan dorongan hati
Tidak berlebihan ketika sedang senang
Memiliki kemampuan untuk mengatur suasana hati dan menjaga agar  beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir.

Orang dengan keterampilan emosional yang berkembang baik, kemungkinan besar ia akan Bahagia dan berhasil dalam kehidupan, serta mampu menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka. Dalam buku Emotional Intellegence karya Daniel Golleman dikatakan bahwa seseorang dengan kendali emosi yang baik akan memiliki peluang besar untuk bisa menjalani segala  macam tekanan dan frustasi sehingga perjalanan hidupnya akan lebih teratur.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kapan yang Pintar Terlihat Bodoh?"

Posting Komentar