Δƞµoκρατία (Demokrasi)

Oleh: Mariachi Phalevi (Aktivis Perempuan)




(Buat teman-teman yang terlibat dalam massa aksi Magelang Bergerak. Saya dedikasikan tulisan ini untuk kalian.)

“Demokrasi dikebiri, reformasi dikorupsi, NKRI kok jadi begini?” Ini adalah salah satu jargon yang dibuat oleh kawan seperjuangan saya yaitu Arief Budianto dan Krisnaldo Triguswinri, yang didendangkan selama long march aksi damai Magelang Bergerak 26 September 2019. Di dalam Visi Misi DPR RI tahun 2015-2019 terdapat kata ‘Berwibawa’. DPR RI berharap menjadi lembaga yang berwibawa. Namun di mata para rakyat, DPR RI kehilangan seluruh kewibawaannya.

Banyak tokoh yang menjadi public figure mengatakan bahwa perjuangan reformasi pada tahun 1998 terulang lagi. Atmosfir barisan mahasiswa yang rela mati ditembak aparat terasa seperti kabut pekat yang menyelubungi di dalam setiap insan yang tergabung. “Bunda, relakan darah juang kami untuk membebaskan rakyat”, bahwa lagu Darah Juang membuat saya berlinangan air mata ketika saya memimpin massa untuk menyanyikannya. Lalu bahwa jawaban pertanyaan ‘Mengapa kami melakukan demonstrasi’ adalah karena rakyat dirampas haknya. Seperti tahun 1998, mahasiswa dari segala penjuru bersatu untuk menyuarakan hak-hak yang dirampas. Tahun 1998 adalah tahun dimana presiden Soeharto digulingkan oleh kekuatan reformasi mahasiswa. Dari situlah muncul doktrin yang sampai saat ini masih dijadikan sebutan bagi mahasiswa yaitu: Agent of Change.

Mahasiswa bangkit untuk melakukan protes dengan cara aksi dan demonstrasi sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap rancangan undang-undang. DPR RI sebagai lembaga legislatif dan memiliki fungsi sebagai pembuat kebijakan telah mengeluarkan pasal-pasal di dalam rancangan undang-undang yang setelah melalui proses pengkajian yang panjang akhirnya ditemukan kejanggalan yang membuat pasal-pasal itu menjadi kontroversial.

Artinya, bahwa tafsiran makna pasal-pasal yang ada dapat melebar terlalu jauh, bahkan menjadi tidak lagi kredibel. Mahasiswa sebagai garda terdepan dalam pembela rakyat menilai pasal-pasal kontroversial dan rancangan undang-undang yang ada dalam tuntutan itu menyengsarakan rakyat. Tentunya dalam penyelenggaraan demokrasi, sesuai dengan Pasal 1 ayat 2 UUD 1945 yang menjadi dasar negara, kedaulatan berada di tangan rakyat. Artinya penyampaian aspirasi tidak dilarang di negara ini, dan rakyat berhak menyampaikan aspirasinya. Dalam Pasal 28b ayat 3 UUD 1945 tentang Hak Asasi Manusia pun dikatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.

Banyak orang mengecam tindakan demonstrasi mahasiswa karena banyak sekali menimbulkan kerusakan dan rata-rata semuanya ricuh. Orang-orang yang mengecam pun adalah orang-orang yang melihat dengan sebelah mata saja. Adanya penyusup, provokator, baik dari pihak aparat maupun dari pihak oknum telah berhasil membuat kengerian terbentuk di mata rakyat. Mungkin untuk oknum-oknum seperti itu, demokrasi dan nyawa seseorang hanyalah untuk bahan bercanda.

Tentang Δƞµoκρατία


Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana terdapat persamaan hak di dalam pengambilan keputusan. Di lingkup rakyat sebuah negara, tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lain menurut kekayaan atau kehormatan dalam pengambilan keputusan. Demokrasi sangat diagungkan oleh masyarakat pada jaman dahulu karena memiliki nilai saling menghargai terhadap harkat dan martabat manusia. Demokrasi memiliki arti ‘kekuasaan oleh rakyat’, diambil dari dua kata dalam bahasa Yunani(bahasa Latin Pertengahan) yaitu dêmos yang berarti rakyat, dan kratos yang berarti kekuatan dan kekuasaan. Salah satu kota yang menjadi pelopor demokrasi adalah kota Athena. Sebuah kota yang kini adalah ibukota dari Yunani masa kini, sekaligus peninggalan sejarah dan budaya zaman abad pertengahan.

Athena adalah seorang dewi dalam mitologi Yunani, yang disebut juga sebagai dewi kebijaksanaan dan perang. Mewarisi sifat ibunya, Athena sangat bijaksana dan pandai membuat strategi dalam peperangan. Athena adalah dewi perawan yang selalu menang dalam peperangan sehingga banyak dipuja oleh manusia. Pada patung Athena yang berada di Yunani, terlihat bahwa pakaiannya adalah pakaian prajurit lengkap. 

Ia membawa tombak petir, pelindung kepala dari emas, dan perisai. Athena banyak berperang melawan dewa yang membinasakan manusia, salah satunya Ares saudaranya sendiri. Ares juga merupakan dewa peperangan karena ia memiliki seni bertarung yang indah dan tidak ada manusia yang dapat mengalahkan Ares. Melihat saudaranya itu bertarung dengan banyak membantai manusia dan menyebabkan pertumpahan darah, Athena yang memiliki kemuliaan dan keberanian tak terbatas itu turun untuk mengalahkan Ares. 

Walaupun Ares telah dikalahkan, kekejian yang dendam yang disebarkannya sudah menjangkiti manusia seperti penyakit. Perang tidak dapat dihindari karena manusia menjadi tamak akan kekuasaan hingga semua orang ingin menjadi seorang raja. Maka setelah kejadian itu manusia terus berperang untuk saling menguasai dan banyak menjarah kota-kota yang memiliki banyak harta. Banyak dewa-dewa yang turun untuk membawa damai pada manusia, namun racun pembalasan dendam Ares tetap ada sehingga membuat manusia juga berperang melawan para dewa. Hal itu terjadi sampai tahun 336 SM, saat Alexander Agung (Alexander The Great) memimpin pasukan perangnya untuk menyatukan Yunani dibawah kekuasaannya. Ia telah mencapai kemenangan dan menjadi raja dari Makedonia serta seluruh aliansi yang ditaklukkannya ketika masih berumur 20 tahun. Tahun 323 SM ketika Alexander Agung berumur 32 tahun ia terjangkit penyakit Malaria di Babilonia(sekarang Irak) dan menghembuskan nafas terakhirnya. 

Pasca kematian Alexander Agung kerajaannya pun mengalami kehancuran sedikit demi sedikit. Namun warisan budaya Yunani yang dibawa Alexander hingga ke Persia dan Mesir tetap ada dan menjadi sejarah yang sangat berharga. Walaupun begitu Alexander Agung adalah seorang feodal, sehingga selain sejarah Yunani yang menjadi warisan, feodalisme juga ikut serta menjadi peninggalan bagi orang-orang setelah kematian Alexander Agung. Pada saat itu kekuasaan politik dipimpin oleh kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan yang tersisa, dan menciptakan strata pada rakyat. Pemerintahan hanya boleh dimasuki oleh kaum ksatria, bangsawan dan orang-orang kaya.

Pada abad ke 5 SM Athena memiliki gagasan demokrasi yang digunakan dalam sistem politik dan pemerintahannya. Demokrasi di Athena waktu itu adalah demokrasi langsung, berupa hak untuk semua orang memberikan suara bagi anggota legislatif dan eksekutif. Sistem ini kemudian banyak ditiru oleh kota-kota yang ada di Yunani. Dalam sejarah Yunani Kuno demokrasi di Athena adalah demokrasi yang tercatat sebagai sejarah demokrasi yang baik. Ciri-ciri demokrasi di Athena salah satunya adalah terdapat majelis legislatif yang terdiri dari semua warga Athena(perempuan, orang asing dan budak tidak terhitung sebagai warga). Hal itu membuat penduduk di Athena memiliki pertahanan diri untuk tidak mudah tunduk pada perintah orang lain. Artinya, terdapat pengurangan penindasan dan ketidakadilan waktu itu. 

Setelah Athena memiliki gagasan demokrasi itu, muncullah Bangsa Romawi yang meniru sistem politik dan pemerintahan itu. Bangsa Romawi menjadi bangsa yang pertama di negara bagian Barat yang mencetuskan dan menggunakan demokrasi. Model pemerintahannya mencetuskan bahwa kekuasaan agung dipegang oleh rakyat, lalu dari rakyat mengajukan beberapa perwakilan yang nantinya mengisi pemangku kebijakan dan salah satu sebagai pemimpinnya. Sistem ini kemudian diadopsi oleh para politisi di abad selanjutnya. Demokrasi bangsa Romawi ini disebut demokrasi perwakilan.

Masuk ke era modern di abad ke 17 terjadi Revolusi Perancis yang kemudian menguatkan hak suara wanita di berbagai negara. Tokoh Montesquieu dan John Locke adalah pelopor pendobrakan pemerintahan absolut yang ada dalam piagam Magna Carta. Mereka sekaligus sebagai penggagas demokrasi dan mencetuskan pemberian hak-hak politik rakyat. Montesquieu mengatakan bahwa pemerintahan terbaik adalah pemerintahan yang melibatkan elemen rakyat langsung untuk memilih pemerintahnya. Ia percaya bahwa adanya demokrasi dapat menjadi kekuatan pemerintahan yang seimbang dan saling bergantungan dalam keberlangsungan sebuah negara. Hal ini memicu perkembangan demokrasi di seluruh bagian dunia. Abad ke 19 gagasan tentang demokrasi ini menjadi sebuah sistem politik berdasarkan asas kemerdeaan individu, dimana dicetuskan pula hak persamaan (equality rights) dan hak pilih untuk semua warga negara.

BTS (BEHIND THE SCENE)


Ini adalah momen-momen mengharukan yang mungkin tidak semua orang tau, yang saya refleksikan sejauh ini sehingga pembaca mengetahui rekaman kejadian di dalam otak saya. Dari waktu dimana panitia rata-rata belum sarapan ketika diharuskan berkumpul sejak jam sembilan pagi, sampai kami yang memukuli Presiden Mahasiswa Untidar jam sembilan malam.

Bagian 1

Sebelum hari aksi kami dimulai, terdapat konsolidasi bagi pelajar yang dilakukan oleh panitia karena banyaknya massa dari pelajar yang antusias ingin mengikuti aksi. Para panitia tidak menyangka bahwa pelajar juga memiliki hati nurani dan kesadaran yang terbangun di dalam diri mereka ketika mengetahui kebobrokan sistem yang akan disahkan. Konsolidasi berlangsung sampai larut malam dan membuat pekerjaan panitia sedikit tertunda. 

Kenyataannya banyak sekali yang harus dipersiapkan oleh panitia seperti banner, logistik(air mineral, baterai, genset, kantong sampah, dll), medis(P3K, oksigen, mobil kijang yang disulap menjadi ambulance dadakan), dan yang paling penting adalah strategi yang digunakan untuk kelancaran aksi. Seperti pada umumnya susunan kepanitiaan sebuah event, dalam aksi pun diperlukan kurang lebihnya sama dengan kebutuhan membuat event. Panitia kekurangan orang di bagian koordinator lapangan(tugasnya mengawasi dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti penyusup yang dapat menimbulkan tindakan provokasi) sehingga ketika long march berjalan pada hari aksi sampai separuh perjalanan, border(barisan pelindung massa aksi paling luar) mulai lumayan berantakan dan banyak massa yang tercerai keluar barisan. 

Dengan walk out-nya pasukan massa dari salah satu universitas yang tergabung dalam konsolidasi, kami semakin kekurangan orang untuk menjaga barisan massa yang semakin bertambah. Waktu itu terlihat banyak kerumunan massa aksi yang menunggu pasukan long march sampai ke tempatnya. 

Aksi damai didahului dengan berkumpulnya ‘massa cair’ di alun-alun kota. Setelah melalui proses mediasi singkat dengan kepolisian yang mengawal jalannya aksi, para koordinator acara mulai membuat arahan untuk barisan massa dan membentuk border. Ketika massa telah berbaris, kami mendapat kabar dari rekan penyedia mobil komando bahwa mobilnya terkena sweeping oleh polisi di daerah Temanggung. Seketika luapan perasaan jengkel menguasai beberapa panitia dan membuat mereka memutar otak bagaimana untuk mengarahkan massa. 

Tanpa mobil komando, massa akan tercerai berai dan rentan disusupi oleh oknum provokator yang tidak terduga. Mirisnya, panitia sampai harus mengganti genset dua kali sebelum mobil komando benar-benar berfungsi dengan baik. Sepanjang perjalanan aku terharu melihat banyak masyarakat yang peduli kami dengan membagikan air mineral berdus-dus dan banyak makanan untuk massa aksi.

Tidak ada tanda-tanda kericuhan selama long march berjalan, namun saat kami sampai pada jalan besar di depan Artos Mall, disana semua orang melihat massa yang lebih banyak. Massa itu bergabung dengan pasukan long march tadi. Lalu sesampainya mobil komando di depan gerbang DPRD panitia langsung menjalankan acara orasi dan penyampaian tuntutan-tuntutan. Semua melihat Ketua DPRD yang mau naik keatas mobil komando untuk menyuarakan kesepakatan. Ici, salah satu panitia laki-laki berambut gondrong yang sedari long march membuka bajunya karena kepanasan itu berlutut di hadapan Ketua DPRD yang sedang kebingungan bagaimana menaiki mobil komando yang adalah mobil pick up bak terbuka. Pintu belakangnya tidak bisa dibuka karena tertutup ampli sehingga orang yang mau naik keatasnya harus lewat samping dimana tinggi bak samping adalah hampir 1,5 meter. 

Ici menyerahkan satu kakinya sebagai pijakan bagi bapak Ketua DPRD yang naik ke atas mobil komando. Luqman sebagai salah satu koordinator umum menyiapkan berkas-berkas bermaterai yang akan ditandatangani. Ketika bapak Ketua DPRD telah naik keatas, tiba-tiba massa yang ada di belakang ricuh. Langsung saja panitia yang berbadan kekar maupun yang berbadan kecil menuju ke kerumunan massa untuk melerai beberapa perkelahian antar sekelompok pelajar. Ada kawan mahasiswa yang terkena pukulan dari sekelompok pelajar yang ricuh. Arjo sebagai Presiden Mahasiswa ikut melerai lalu menenangkan massa di bagian belakang entah bagaimana caranya. Setelah kondusif barulah panitia menyerahkan mikrofon kepada bapak Ketua DPRD. 

Proses penandatanganan menjadi gerbang kemenangan bagi massa aksi. Terlihat raut wajah senang dan bahagia dari kawan-kawan panitia, yang diekspresikan dengan saling berpelukan. Krisna dan Ici tertangkap kamera ketika saling berpelukan. Aku yakin semua orang memiliki momen kebahagiannya masing-masing dengan ikut bertepuk-tangan ketika bapak Ketua DPRD menunjukkan bukti tanda-tangannya kepada massa aksi. MAGELANG MENANG!

Sayangnya terdapat ekor kericuhan setelah mobil komando meninggalkan lokasi. Oknum yang entah dibayar berapa untuk menyebabkan kericuhan itu telah merusak kedamaian dari kemenangan massa aksi. Aku melihat terdapat empat orang berseragam putih biru seperti pelajar yang meneriaki mobil komando dan salah satunya mengatakan: “Diewangi kok malah lungo”. Entah apa yang ada di pikiran mereka, aku juga tidak bisa menyimpulkan. Tetapi jika melihat kericuhan terjadi sampai polisi menembakkan gas air mata, berarti ia memang menginginkan sebuah bentrokan dengan aparat kepolisian.

Panitia yang ada di mobil komando langsung kembali ke lokasi ketika mendengar bahwa masih ada banyak mahasiswa di dalam kericuhan. Sesampainya disana semua melihat bahwa polisi telah membentuk formasi dan memukul mundur kerumunan dengan formasinya tadi sembari menembakkan gas air mata. Arjo, Siam, dan beberapa orang lainnya turun dari atas mobil komando dan berlari kearah kericuhan untuk mencari kawan-kawan yang masih disana. 

Bersamaan dengan itu mobil komando juga diminta meninggalkan lokasi oleh salah satu polisi untuk menghindari bentrokan. Semua yang ada di mobil komando mengevakuasi diri ke alun-alun kota, kemudian ke depan stadion Soebroto untuk mencari tempat yang aman. Aku dan beberapa kawan yang masih memiliki daya di ponsel menghubungi semua lini untuk dikabarkan perkembangan kawan-kawan yang masih disana. Kami semua menunggu kawan-kawan kembali dengan selamat. Sesudah dipastikan tidak ada yang tertinggal kami beristirahat sejenak di depan stadion untuk bernafas lega.
Hari itu ditutup dengan pelukan satu-sama lain, ucapan terimakasih, dan sebuah kalimat:

“Sampai jumpa lagi di lain kesempatan.”

Bagian 2


 “Aku dah di GOR lho ini.” 8.47 AM

“Otw bentar lagi, begadang sampe jam 5 ci tadi. Tunggu sana ya cintakuh.” 8.50 AM

“Nanti tegas ya ci kayak waktu ospek. Aku gelisah.e” 8.51 AM

“Udah pada otw belum?:-!” 9.33 AM

“Otw.” 9.47 AM

“Sampai mana zheyenk?” 10.00 AM

Dan mereka pun datang setengah jam setelah chat terakhir dikirimkan. Krisna dan Arief datang menyalami semua orang yang ada disitu termasuk aku. Aku sebenarnya sudah memperhatikan kerah kemeja yang mengintip dari balik jaket mereka sejak mereka berdua menyalami orang-orang. 

Benar ternyata setelah mereka membuka jaket mereka, kemeja abu-abu dan merah berhasil membuat tawa orang-orang meledak. Mereka berdua seperti akan menjadi master of ceremony di sebuah konser musik. Krisna menuduh Arieflah yang memiliki ide bahwa seorang koordinator acara harus berpakaian rapi. Sebaliknya, Arief menuduh Krisnalah yang mengatakan bahwa ia ingin tampil necis (fashionable). Entah mana yang benar, sepertinya mereka memang berbakat menjadi pasangan komedian. 

Kejadian ketika Arjo, Siam dan kawan lain turun dari mobil lalu hilang di kerusuhan untuk menyelamatkan kawan-kawan mahasiswa yang terjebak sementara mobil komando diminta mundur:

“(memanggil ponsel Arjo)”

“(mengirim pesan dalam ponsel) Arjo, angkat!!!! Kamu dimana!!! Tolong jaga diri kamu!!!”

“(sambil menangis) Ci, kau tahu kan arjo itu suka nekat, aku takut dia kenapa-kenapa. Yang lain juga bagaimana ci...”

“Kita berdoa saja sekarang, semoga mereka dilindungi oleh Tuhan, aku akan cari tau lewat orang-orang yang mengevakuasi diri kedalam gedung DPRD.”

Setelah itu aku mendapat kabar dari Siam kalau Arjo dan yang lain sudah aman bersamanya. Kami yang tersisa di alun-alun kota lalu mengevakuasi diri ke depan Stadion Subroto dan menyuruh mahasiswa yang ada di sepanjang jalan kami kesana untuk segera pulang. Kami menunggu kedatangan Arjo, dan Siam di depan stadion itu. 

Ternyata Raedy juga terjebak di kantor Balitbang bersama seorang panitia medis. Kami tunggu semua kawan kami tanpa terkecuali untuk berkumpul di depan stadion. Begitu mobil yang berisi Arjo datang kami bergegas menghampiri mereka. Krisna dan aku serentak memukul lengan Arjo yang rapuh itu sebagai hukuman karena sudah membuat kakak-kakaknya khawatir. 

Kalimat pertama yang terucap dari Arjo kepada kami adalah:

“Mosok mau pas aksi aku ketemu mantanku jal.” 





















Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Δƞµoκρατία (Demokrasi)"