Papua dalam Sempitan Makna

Oleh: Tio Rivaldi (Aktivis Pro-demokrasi) 


Prasangka Ras

Apa yang terjadi pada mahasiswa Papua di Jawa Timur beberapa waktu yang lalu memang cukup menyisakan kepahitan dan kepedihan. Pada sebuah rekaman video yang banyak tersebar di dalam dunia maya. Kita dapat melihat bagaimana seseorang dengan kendali emosi yang lemah melontarkan perkataan “monyet” terhadap seorang Papua. Dengan satu kata itu saja, dapat membuat marah banyak masyarakat Papua. Sehingga muncul tindakan kemarahan pada masyarakat Papua dan “selain Papua”. Hingga puncaknya terjadi aksi massa dan demonstrasi di berbagai tempat di Indonesia. Sungguh sangat disayangkan ucapan itu langsung saja terlontar oleh seseorang (di duga adalah oknum TNI) yang karena perusakan bendera merah putih, yang belum tentu itu benar-benar dilakukan oleh seorang mahasiswa Papua itu sendiri.

Coba jika kita lakukan sedikit simulasi terhadap apa yang terjadi pada saat itu, dengan menggantikan posisi subyek pelaku sebagai orang yang bukan dari Papua. Apakah ketika orang-orang pada saat itu melihat adanya tiang bendera yang rusak di depan asrama mahasiswa “Bukan Papua” ia akan melakukan tindakan yang sama? Setiap orang mungkin akan memiliki jawaban yang berbeda-beda, tapi saya merasa akan besar kemungkinan penuduhan tidak akan langsung tertuju kepada mereka yang berada di asrama tersebut. Akan ada klarifikasi terlebih dahulu kepada mereka yang berada di asrama, dan menanyakan lebih lanjut apakah mereka yang berada di asrama tersebut yang melakukan perusakan.
Apa yang coba saya sampaikan adalah, bahwa stereotip dan justifikasi masyarakat berprasangka negatif ataupun positif (su’udzan dan husnudzan) tergantung pada ras dan golongan orang tersebut.

Masyarakat Papua sudah luas dikenal banyak orang dengan anggapan-anggapan yang buruk dan sering di anak tirikan. Apalagi diperkuat dengan adanya gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sehingga memantapkan persepsi manusia Indonesia bahwa semua orang Papua ingin bebas dari negara Indonesia. Maka dari itu, ketika perusakan bendera terjadi tepat pada asrama mahasiswa Papua. Tanpa memerlukan klarifikasi dan prosesi husnudzan terlebih dahulu, banyak masyarakat Indonesia yang langsung justifikasi bahwa itu adalah perbuatan mereka. Sebagai salah satu tindakan menginginkan kemerdekaan bagi Papua itu sendiri.


Memang tidak juga kita menutup fakta bahwa ada orang-orang Papua yang memiliki perilaku buruk di berbagai daerah. Akan tetapi, kenapa seseorang selalu dicirikan dalam bentuk yang menyentuh identitas kelompoknya. Saat kita sedang berbicara tentang manusia, berarti kita sedang mencoba membicarakan setiap individunya bukan hanya setiap golongan dan kelompoknya. Dalam filsafat, pembelajaran tentang sosiologi dan antropologi adalah pembelajaran yang subyektif. Memahami manusia dalam bentuk yang obyektif bisa dilakukan, akan tetapi kebenaran yang bersikap obyektif kepada manusia tidak selalu diperoleh. Contoh termudahnya adalah stigma terorisme yang dilekatkan kepada orang yang beragama Islam.

Memang ada. Namun, jika kita generalisasi dalam keseluruhannya. Tidaklah mencapai 1% seorang terorisme dari muslim, jika dengan dibandingkan kepada seluruh populasi muslim di dunia. Begitupun juga yang terjadi pada masyarakat Papua, dengan beberapa gelintir perilaku buruk dari orang-orang Papua. Dianggap sudah mewakili pemahaman tentang setiap orang Papua yang ada.

Olok-Olok yang Menggolok

Memang porsi ucapan sangat besar pengaruhnya terhadap lawan bicara. Sikap kehati-hatian ini juga dinyatakan dalam ucapan Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang hendak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika tak mampu untuk mengungkapkan kata-kata yang baik walaupun mengetahui kebenarannya.

Tindakan untuk diam lebih tepat untuk dipakai, agar tak menimbulkan kemudharatan lebih besar ketimbang maslahatnya. Jika di Jawa sendiri ada yang disebut bener dan pener. Sesuatu yang benar belum tentu ia adalah hal yang pener. Jika saya berpapasan dengan seseorang yang berkulit hitam, lalu saya katakan kepada “hey kulit hitam” itu adalah perkataan yang benar. Karena memang secara fisik ia berkulit hitam.

Namun, perkataan semacam itu tidaklah pener. Maksudnya tidak sesuai dengan porsi dan tempatnya. Itupun juga yang menjadikan alim ulama Nahdlatul Ulama untuk menghimbau masyarakat agar tidak mengatakan kafir kepada seseorang di luar Islam, terlepas dari setuju atau tidaknya saya secara pribadi terhadap maksud dari Nahdlatul Ulama.

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS.Al-Hujurat:11)

Sangat ditekankan disana bahwa kata “janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk” merupakan satu tujuan mengolok-olok bahkan menilai rendah manusia lainnya. Itu lah kenapa kata gelar yang buruk disandingkan dalam satu ayat dengan pemahaman tentang mengolok-olok. Lebih jauhnya lagi, mereka yang berbuat hal semacam itu dijatuhi vonis sebagai “orang-orang yang zalim”. Zalim memang luas maknanya, akan tetapi zalim selalu dicirikan dalam bentuk yang negatif. Salah satunya adalah bersikap tidak adil terhadap setiap orang. Maka dari itu, menghinakan satu ras dibandingkan ras yang lain. Adalah satu bentuk ketidakadilan dalam bersikap dan mengeruhkan sila kelima pada Pancasila.

Pada ayat selanjutnya (ayat 12) ditekankan kembali tentang “janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain”. Seakan-akan Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang benar-benar memperingatkan dengan cukup ketat terhadap perkataan seseorang yang dapat memicu kemarahan dan permusuhan antara satu sama lainnya. Sehingga ucapan buruk yang terlontar kepada seseorang, sangat dilarang demi tercapainya masyarakat yang penuh dengan cinta.

Hakikat manusia itu adalah plural artinya entitas setiap individu tidak sama dengan individu yang lain. Kemajemukan ini didasarkan atas perkembangan mereka pada lekatan lingkungan, adat, kebudayaan dan lain sebagainya. Bahkan Indonesia sendiri merupakan salah satu negara plural sedunia dengan berbagai suku, adat dan agama yang saling berinteraksi dalam memanusiakan satu sama lain. Dan di ayat ke 13 inilah yang menjadi sebuah pemahaman pluralitas dalam berkehidupan.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”


Kehidupan plural memang sudah menjadi kodrat yang tak terelakkan dan mesti ada dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan pemahaman tentang pluralitas itulah kita bisa mengerti dan mengenal setiap orang dengan lebih mudah dan bertindak dengan seadil-adilnya. “Oh dia orangnya bagus di bagian ini”, “oh kalau yang ini bagusnya di bagian ini”. Kita bisa mengenali setiap orangnya, karena adanya ciri pembeda dirinya dengan orang lain.

Bukankah ketika menemui orang kembar, kita akan merasa kesulitan untuk mengenali salah satu diantara keduanya. Melainkan jika kita telah benar-benar mengenal jauh atas setiap bentuk diantara kedua anak kembar tersebut. Bukankah kita tidak mengerti apa yang disebut dengan perbuatan baik, jika kita sendiri tidak mengenal apa yang disebut dengan perbuatan buruk. Dengan setiap pembedaan tersebutlah kita bisa bersikap dengan adil atas potensi masing-masing orang. Bukan menjadikan suatu individu maupun kelompok merasa lebih tinggi dibandingkan dengan individu dan kelompok lain.

Kelas Horizontal dan Vertikal

Selama ini penciptaan kelas di masyarakat beragam terjadi. Tidak jarang, para pemikir juga menciptakan pemahaman terhadap kelas itu masing-masing berdasarkan landasan ideologisnya. Seperti kelas yang diciptakan berdasarkan ekonomi, jabatan, keturunan, bahkan warna kulit. Seperti yang dilakukan oleh golongan yang menyatakan diri sebagai manusia paling tinggi dan mulia di dunia karena warna kulit mereka dengan slogannya yaitu “White Power”.

Apalah arti sebuah warna kulit, sehingga bisa menjadikan diri berada dikelas yang berbeda dengan yang lainnya. Warna kulit, tinggi badan, paras tampan maupun cantik adalah fitrah yang terlahir lewat persilangan dari seorang ayah dan ibu. Ia terbentuk atas sesuatu yang tak terhindarkan, walaupun warna kulit bisa menjadi putih lewat perawatan, tinggi badan bisa diusahakan dengan olahraga dan asupan makanan, serta tampan dan cantik bisa diubah dengan operasi plastik.

Akan tetapi, bukankah nilai manusia diperoleh dari apa yang ia perbuat dalam hidupnya seperti baik atau buruk dan bermanfaat atau merugikan bagi manusia lain. Seperti budak bernama Bilal bin Rabah Ra, seseorang yang berkulit hitam hingga sering hanya tampak mata dan giginya yang putih. Ia dimerdekakan dengan Abu Bakar Ra. Namun, atas usahanya dalam memperjuangkan kehidupan, ia menjadi seorang besar dan penggema pertama Adzan di waktu shalat pada masa itu.

Ini pun yang menjadi ayat ke 13 yang menjelaskan tidak adanya kelas dan derajat di antara manusia. Kalaupun ada, itu adalah derajat ketakwaannya terhadap Allah SWT. Namun, siapa yang jamin dan bisa mengetahui derajat ketakwaan seseorang dengan orang lainnya melainkan hanya Dia?

Ketakwaan masuk ke dalam ranah metafisika (immaterial). Artinya secara material (fisik), manusia satu sama lain tidak akan mengetahui penderajatannya. Seseorang yang nampak seperti ahli ibadah, tidak menjadikan dirinya orang yabng lebih takwa dibanding dengan orang yang terlihat biasa saja dalam menjalankan rutinitas ibadah. Maka dari itu, seseorang yang terlihat beriman sekalipun karena sikap dan tindakan yang ia pertunjukkan kepada orang lain. Tidak menjadikan dirinya lebih tinggi dibanding dengan seseorang yang bersikap normal. Siapa yang tahu niat yang sejatinya muncul dalam hati setiap manusia. Kecuali dirinya sendiri dan Sang Maha Pencipta.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali Lagi, Prasangka Ras

Semakin rasa prihatin yang mendalam juga tertuju ketika ada kembali video dimana oknum polisi memberikan dua dus minuman keras kepada mahasiswa Papua. Tidak selesai dengan pemahaman negatif tentang Papua dalam perbuatannya. Kini muncul, stigma negatif bahwa orang-orang Papua adalah pemabuk. Maka, negosiasi yang dilakukan oknum polisi tersebut malah terlihat merendahkan dan bentuk penghinaan terhadap orang Papua.

MasyaAllah, benarkah kita adalah negara yang cinta akan keberagaman seperti yang di jelaskan dengan sangat menawan dalam Pancasila?

Mencintai Indonesia adalah hal yang baik. Akan tetapi mencintai Indonesia dengan segala keberagamannya adalah hal yang lebih baik.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Papua dalam Sempitan Makna"

Posting Komentar