Public Sphere

Oleh: Krisnaldo Triguswinri (Mahasiswa MAP Universitas Diponegoro)

Public sphere atau ruang publik merupakan diskursus akademik yang menjadi terminologi kritis dalam percakapan kebijakan publik dan komunikasi kewargaan yang bebas dan setara. Jurgen Habermas, dalam bukunya; the stuctural transformation of the public sphere, mengutarakan bahwa ruang publik adalah area perdebatan publik untuk membahas isu-isu kebajikan, serta wilayah otonom warganegara untuk mengaktifkan partisipasi politik yang rasional dan agenda emansipatoris untuk mengakses struktur demokrasi.

Menurut Habermas, Public sphere dikonsepsionalisasikan sebagai suatu realitas kehidupan sosial dimana terdapat suatu proses pertukaran informasi dan berbagai pandangan berkenaan dengan pokok persoalan yang tengah menjadi perhatian umum sehingga dalam proses tadi terciptalah pendapat umum. Dengan dihasilkannya pendapat umum maka pada gilirannya akan membentuk kebijakan negara dan pada akhirnya akan membentuk suatu tatanan sosial masyarakat universal.

Adanya Public sphere menyaratkan keaktifan dari warga masyarakat memanfaatkan hak-haknya (deliberatif) untuk ikut berpikir terlibat di dalam suatu wacana yang sedang menjadi diskursus publik, khususnya yang berkaitan dengan permasalahan kebijakan publik. Dalam perkembangan masyarakat yang makin besar maka proses terbentuknya  wacana menuju opini publik diantarai oleh media massa (Penta Helix).

Faktor – faktor dalam dimensi struktur sosial di antaranya berkaitan dengan ekologi politik dari media, menyusun batas-batas  dari institusi media dan profil organisasi demikian juga sifat-sifat dari informasi dan bentuk-bentuk representasi yang memungkinkan diartikulasikan. Dimensi struktur sosial ini tentu saja akan berdampak pada pola interaksi sosiokultural.

Dengan demikian  struktur sosial secara kompleks membentuk seperangkat kondisi bagi Public sphere yang bisa juga diisi oleh ketiga dimensi yang lainnya. Dimensi struktur sosial tentu saja menjadi dimensi yang paling sulit diraih sehingga bagi sebagian kalangan ahli dimensi ini sebaiknya diabaikan saja jika kita tidak ingin kehilangan fokus soal Public sphere. Meski, perannya tidak bisa kita anggap remeh.

Habermas mempunyai dua persepktif mengenai teori public sphere yaitu, pertama, Habermas menggambarkan munculnya ruang publik pada kaum borjuis dalam kapitalisme liberal bahwa pada saat itu tidak terdapat ruang sosial. Seiring berjalannya waktu berkembanglah konsep negara kebangsaan, perekonomian dan mulai muncul media cetak dan mulai muncul yang namanya public sphere pada kalangan masyarakat Eropa Barat. Dalam public sphere tersebut terdapat beberapa kelompok sosial yang berproses melaui berbagai media seperti surat kabar, selembaran politik radikal, jurnal dan yang lainnya. Saat itu pertukaran informasi dilakukan dengan cara diskusi yang seringkali muncul perdebatan.

Perspektif yang kedua yaitu, mulai memudarnya kaum borjuis dan mulai muncul demokrasi massa. Adanya demokrasi massa ini mengubah segala peraturan ruang publik, yang awalnya ruang publik hanya untuk kaum-kaum elit, tetapi sekarang ruang publik bisa dimasuki oleh masyarakat yang tidak berpendidikan sekalipun. saat itu kelompok kepentingan dan organisasi-organisasi besar menjadi kunci politik bagi negara, yang akhirnya menghasilkan bentuk politik feodal yang menggantikan peran masyarakat. Munculnya kepemilikan media massa oleh para oligarki mengubah segala fungsi primer komunikasi publik dan menyebabkan kelimpuhan total ruang publik.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Public Sphere"

Posting Komentar