Wajah Mahasiswa Untidar Yang Bopeng Sebelah

Oleh: Mariachi Phalevi (Aktivis Perempuan)


Membaca adalah Melawan. Tetapi bacalah buku yang dapat membuka jendela pemikiran lain, bukannya malah mendalami cerita KKN di desa penari.

Membaca tulisan saya sebelumnya tentang demokrasi, yang diambil dari bahasa Latin yaitu demos dan kratos yang artinya menuhankan kekuasaan di tangan rakyat, sejatinya demokrasi adalah berdasar pada hak asasi manusia. Persamaan manusia adalah semua memiliki hak untuk hidup, dan hak kebebasan atas keputusan yang ia ambil. Bahwa semua manusia memiliki hak atas keadilan dan kemerdekaannya. Disini saya bukan seorang sosialis, dan ini pun bukan persoalan paham komunis, atau paham kapitalis. Bukan juga merupakan penggalan dari anarkis. Ini adalah tentang kemanusiaan dan perjuangan.

Selayaknya demokrasi harusnya dipandang sebagai sebuah persatuan bagi warga negara Indonesia, terutama kaum terpelajar yang memiliki gelar ‘mahasiswa’ ataupun ‘mantan mahasiswa’. Sejatinya pula sebagai mahasiswa harusnya ditanamkan betul nilai Tridharma Perguruan Tinggi, secara menyeluruh, bukan separuh. Banyak sekali kegiatan-kegiatan mahasiswa yang telah dilaksankan, baik itu dari organisasi intern maupun ekstern, yang menumbuhkan pola pikir terbuka dan baru untuk mahasiswa, namun tidak memiliki tanggapan seperti yang diinginkan.

Daripada datang ke diskusi tentang film perjuangan dan cinta lingkungan, mahasiswa Untidar lebih senang datang ke seminar yang berhadiah botol minum gratis. Mungkin tidak ada seperempat dari total jumlah mahasiswa yang ada, adalah mereka yang memiliki kesadaran dan kemauan untuk memperjuangkan keadilan. Seperti pada kasus wisuda yang molor kemarin, aliansi wisudawan akhirnya tidak jadi melayangkan tuntutannya karena sebuah argumen private interest tentang make-up yang luntur dan gedung jelek. Tidak mutu sekali.


Menilik tulisan sahabat saya Krisnaldo yang berjudul Public Sphere, saya lalu memahami alasan mengapa ruang publik tergempur. Tidak adanya proses pertukaran pikiran dan partisipasi berpikir serta terlibat yang terjadi, itulah yang menyebabkan matinya ruang publik, sehingga terdapatlah kompromi yang terasa seperti korek api yang dicelupkan ke air. Di akhir tulisannya Krisnaldo mengatakan bahwa adanya demokrasi massa telah membuat ruang publik dimasuki oleh masyarakat dari segala arah. Hal itu menumbuhkan keinginan para kaum oligarki untuk dapat menggantikan peran masyarakat dalam negara. Artinya, ketika tak ada lagi ruang publik maka demokrasi telah mati dan tiranilah yang berkuasa. Tak akan ada lagi kebebasan dan kemerdekaan bagi rakyat, dan kita semua hanya akan menjadi fosil sejarah.


Dalam pembahasan tentang mundurnya wisuda periode Oktober, seseorang menantang pengetahuan saya tentang apa itu penindasan. Dengan angkuhnya ia yang berkompromi dengan para birokrat dan masuk ke tatanan oligarki itu membela diri dan tidak menerima kata penindasan yang saya layangkan kepada mahasiswa yang mengkhianati perjuangan. Mungkin ia tak pernah membaca buku sehingga ia tidak sadar bahwa mahasiswa sedang ditindas. Menurut Robert Michels tentang The Iron Law of Oligarchy,  demokrasi di dalam masyarakat akan memiliki kecenderungan untuk berubah menjadi sebuah oligarki. 

Seperti perputaran jabatan yang hanya dilakukan oleh kaum elit dengan tujuan menindas yang ada dibawahnya agar kaum elit tetap dapat terus memusatkan kewenangan kekuasaan. Dalam hal ini, maksud saya adalah apa yang terjadi kemarin tentang keputusan-keputusan dan kebijakan sewenang-wenang dari kampus adalah suatu tirani.


Judul ini mengambil dari salah satu tulisan mendiang Gie dengan kata-kata yang sama yaitu ‘Wajah Mahasiswa UI yang Bopeng Sebelah’. Gie meluapkan keresahan dan kekecewaannya untuk mahasiswa yang kehilangan identitas diri mereka, alias banyak berkompromi dengan elit pemerintahan demi kepuasan pribadi. Pada KBBI, kata feodalisme memiliki tiga definisi, salah satunya adalah sistem sosial di Eropa pada abad pertengahan yang ditandai dengan kekuasaan besar di tangan tuan tanah. Hal ini dapat dibuat kesimpulan bahwa feodalisme yang terjadi di Untidar adalah sistem sosial yang memberikan kekuasaan besar kepada elit kampus dan terjadi ketidakseimbangan antara orang-orang yang dipengaruhi kekuasaan tersebut atau dengan kata lain orang-orang yang berkompromi. 

Mahasiswa tidak memiliki keberanian untuk berbicara diatas, sedangkan mereka kerapkali berbicara dibawah. Ketika dihadapkan pada suatu penyelewengan yang dilakukan oleh dosen di kelas, mahasiswa hanya tunduk dan tidak berbuat apa-apa terkait itu. Sedangkan ketika keluar dari kelas dan berkumpul dengan temannya barulah mereka menyampaikan keluh kesahnya seperti maestro yang memimpin sebuah symphony. Tanpa diikuti tindakan penyelesaian masalah.

Bertahannya fenomena kebobrokan sistem di Untidar membuat para elit semakin sewenang-wenang dengan kebijakan kampus. Keputusan-keputusan yang datang tiba-tiba, serta sosialisasi maupun audiensi yang harus diminta mahasiswa terlebih dahulu, adalah salah satu dari matinya demokrasi. Sebagai salah satu kampus yang kini sudah berstatus negeri, tugas mahasiswa kini bukan hanya menjadi garda terdepan dari pertanyaan Mengapa Gunung Tidar disebut Pakuning Tanah Jawa? 

Namun bagaimana nantinya kita akan dapat berguna bagi bangsa dan negara. Sayangnya mahasiswa Untidar kebanyakan tidak memaknai gelarnya sebagai seorang MAHASISWA, yang artinya kita ini lebih dari seorang SISWA. Inikah pemikiran-pemikiran yang dihasilkan selama kuliah kurang lebihnya empat tahun?

Saya heran, bagaimana bisa ada orang dengan santainya berkata “Hari ini makan apa?”, ketika di saat yang sama orang lain berkata, “Apakah hari ini saya bisa makan?”.

Bagaimana bisa ada beberapa orang yang mengeluh tentang gedung wisuda yang panas dan berbicara tentang kekhawatiran make-up yang luntur, padahal ia tau bahwa ada sebuah keluarga yang merelakan sebulan makan nasi hanya dengan garam demi melihat anak pertamanya diwisuda. Bagaimana pula beberapa mahasiswa mampu berkata bahwa mereka rugi jika diwisuda didalam gedung yang tidak mewah, sedangkan kawannya rela tidur beratapkan langit. Apakah mereka menutup mata dengan keadaaan di sekeliling mereka? Aku justru berani menyimpulkan bahwa mereka hidup hanya untuk memenuhi gengsi. Mereka yang tidak menghargai kebenaran dan keadilan yang sedang diperjuangkan sebaiknya musnah dari bumi. Atau mata mereka seharusnya dicongkel, agar hati nurani yang adalah mata bagi kemanusiaan dapat digunakan untuk melihat keadaan sekeliling mereka.
Hah! Saya lebih suka menyebut kampus dengan sebutan Untid ketimbang Untidar.

Hormat saya kepada rekan-rekan yang telah berjuang untuk hak wisudawan yang dirampas. May God be with you as always.

PANJANG UMUR PERJUANGAN!








Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wajah Mahasiswa Untidar Yang Bopeng Sebelah"

Posting Komentar