Kritik dan Balasan ialah Cinta yang Lengkap

Oleh: Ade Safri Fitria (Aktivis Perempuan)



(Tanggapan atas artikel Muhammad Ardiansyah Lazuard dan Mariachi Phalevi)

Mendekati fase Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) Keluarga Mahasiswa UNTIDAR, media alternatif mahasiswa kampus Tuguran ITP (Alias Ikan Teri Production) yang dirintis oleh salah satu perintis Gerakan Pemandu Karaoke, Krisnaldo Triguswinri, atau purna aktivis UNTIDAR 2016 yang familiar dengan panggilan “Ncis” ini sempat diramaikan dinamika tebar tulisan-tulisan yang mengkritisi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) KM UNTIDAR.

Ardiansyah Lazuard mahasiswa program studi Hukum Fisipol UNTIDAR yang komplit dengan balasan bumbu-bumbu manis pahitnya kesaksian juang Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) KM UNTIDAR yang ditulis oleh mahasiswi pengkolan FKIP yang enggan disebut sebagai feminist dari fakultas yang dicaci sebagai fakultas banci oleh dekanat kantin UNTIDAR, Prof. Dolop saat tahun 2016 silam.

Membaca dua tulisan kritik konstruktif dari Ardiansyah rasanya ada buih renung yang menggumpal di benak terdalam “Wah, gila ini bocah kemarin sore kesurupan apa kok berani sebaja ini mentalnya untuk menghidupi genderang perang? (meminjam istilah Mbak Achi)” terlepas dari perenungan pasca menelan dua kemasan sentilan dari Ardiansyah, berbalik pertanyaan baru “Waduh ini aktivis perempuan senior ane di fakultas yang udah nggak banci ngapain lagi ngirim sentilan via instastory tambah artikel balasan di Ikan Teri Production? Apakah ini pelarian Mbak Chi atas kekesalan pada kritik untuk DPM KM yang menutup mata pada sejarah? Atau ini pelarian Mbak Chi atas kekesalan pasca digarapi dosen pembimbing skripsi yang kemarin ia sambati pada adiknya yang begitu santun di FKIP ini? Ehe.”


Andai daku bisa memilih untuk lahir dari mana dan hidup di mana mungkin saat ini aku ingin lahir dari rahim ahli hukum dan ketatanegaraan serta hidup di ruang yang tiap dinding berdekorasi pasal-pasal, istilah-istilah hukum, atau bahkan didewasakan Papah Mamah untuk setiap waktunya les privat cara menjadi penulis dan kritikus handal. Semua kehaluan ini diperuntukkan demi kemampuan diri untuk (minimal) mendekati pola analisis otak Ardiansyah yang super lihai menghayati studi perkuliahannya yakni dunia hukum; sampai sebegitu cermat menganalisis produk-produk hukum DPM KM, atau sekadar menjadi penulis yang jemarinya seseksi jemari tajamnya Mbak Achi demi berkontribusi konten-konten pelaris pamor ITP yang saat ini nahkodanya di atas tangan komika yang biasa-biasa saja dari UNTIDAR, Abang Aveq-aveq Jos. Hehe.

Karena daku terlahir sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, maka dari itu yang ingin digiring dari tulisan ini bukanlah menyoal pengistilahan dunia hukum atau sejarah perjuangan BLM kala itu. Eits, tapi bukan juga daku bermaksud menjadi kritikus kesalahan diksi, pemenggalan, pemaknaan atau gaya bahasa yang dipilih seorang Ardiansyah maupun Mbak Achi dalam masing-masing artikel yang diarsipkan pada laman ITP.

Ada beberapa kemungkinan yang bisa diterka dari tulisan Ardiansyah. Bisa saja kritikus muda ini memang tulus jiwa raga mengambil segala bentuk resiko untuk melambungkan evaluasi terhadap produk legislatif setingkat Universitas, DPM KM sesuai dengan pengabdian yang korelatif dengan asal program studinya yakni Hukum. Mungkin juga dua tulisan yang ia titip pada dinding ITP memang perenungan yang sudah lama tak bertuan, maksudnya apa yang ia tuang adalah gagasan-gagasan yang tak ia ketahui harus disampaikan pada siapa agar perjalanan kritiknya langsung diserap Keluarga Mahasiswa secara luas.


Ya meski jujur daku pribadi merasa sedikit tersulut, bukan karena posisiku saat itu menjadi mantan bakal calon Ketum DPM KM 2020 tetapi karena gejolak daku yang kala itu sedemikian rajin mengikuti Kongres V KM UNTIDAR dari awal sampai akhir bela-belain tahan kantuk, menahan mbucin karena memang tidak memiliki pasangan mbucin, menjaga raga berhari-hari memeras otak bersama delegasi organisasi-organisasi tanpa mengindahkan sistem pergantian pemain, bahkan terlibat dalam kesaksian kisah WO-nya fakultas saudara Ardiansyah saat itu, terlebih selama itu memang daku menjadi Kamus Hidup Bahasa Indonesia yang duduk utuh menjaga diri hingga titik darah penghabisan dinamika Kongres V KM UNTIDAR.

Huft, sakitnya dibego-begoin tu rasanya belum sesakit dianu-anuin setelah semua disepakati pasca melalui pelbagai Peninjauan Kembali (PK) dan penandatangan semua pimpinan KM UNTIDAR termasuk fakultas yang WO tetapi turut mengamini segala produk hukum. Kebingungan menyoal penandatangan pimpinan fakultasnya yang padahal WO-pun diakui Ardiansyah saat kuajak kongkow di kantin Untid tercinta di sebuah sore menuju senja tepat setelah tulisan keduanya rilis. Yo piye yo?


Melihat keberanian sosok Ardiansyah rasanya aku sedang bercermin pada “aku yang dulu” terlalu saklek pada pemahaman, merenungkan sistem Keluarga Mahasiswa yang sepertinya nanggung dalam mengadopsi trias pollitica, juga merasa esensi pemaknaan istilah “keluarga” yang tidak terasa dampak sirkulasi sistemnya, merasa terdiskriminasi karena mahasiswa sejagad kampus Untid masih terlalu sinis dengan analogi “kritik sama dengan cinta”, bahkan ngerinya lagi Ardiansyah mengingatkan seorang aku pada pengalaman pahit menyoal terror psikis dan kegelisahan pada tindak represif yang mungkin saja dapat menghampiri.

Ya beginilah UNTIDAR terkasih, susu dibalas air tuba, air tuba dibalas ciu, ciu dibalas ocehan ibu kos. Artinya segala sesuatu tidak ditanggapi dengan hal yang serupa. Baper menjadi bumbu dari indikator keberhasilan bangunan dinamika organisasi, tetapi sangat disayangkan ketika curhatan Ardiansyah mengamini isu terror yang telingaku tangkap padahal aku tahu betul yang menerornya adalah Kakak Tingkat yang dikenal W-O-W di jagad KM UNTIDAR, ironis. (Kalau penerornya baca maap ya, Kakting identitasmu aman kok tapi mbokyao bersikap lebih logis saja lah pada kader kampus yang katanya bersistem Keluarga Mahasiswa, nek meh gelut yo gelut sisan wae daku suka baku hantam ehehe).



Berkat didikan sosok Bang Ncis, Bung Siam, Bung Arif dan Presmaku Mas Arjo menyoal berperi kemanusiaan adalah keharusan setiap insan, rasanya akan sangat berdosa ketika aku marah pada adik sendiri tetapi tidak mendekapnya penuh perlindungan dan keutuhan kasih sayang walau apapun yang terjadi, ya meski aku paham kodrat perempuan ialah mahluk yang lebih terbatas dan seharusnya yang menjadi dilindungi. Melihat pola-pola diskriminatif hanya karena selisih pandang rasanya hari-hari ini KM UNTIDAR memang kaya akan tokoh idealis tetapi mulai kehilangan empu kemanusiaan. 

Aku yakin jika yang menjadi posisi Ardiansyah saat ini adalah aku, dan segala tekanan psikis sampai pada telinga mereka mungkin akan kembali kisah (hampir) turun tangannya aktivis kemanusiaan UNTIDAR untuk mencampuri kembali daleman KM UNTIDAR seperti dampak dari dinamika yang aku buat bulan-bulan lalu menyoal sentilan aturan batasan masuknya identitas organisasi eksternal yang belum dirampungkan DPM KM hingga detik ini. Mungkin Bang Ncis akan kembali mengontrol setiap waktu bahkan mempertegas adik-adiknya agar supaya tidak perlu berlaku kebocahan hanya karena urusan organisasi yang dibawa ke ranah pribadi, atau mungkin Bang Ncis juga akan mengingatkan Bang Wibi (sahabatnya yang masih di dalam KM UNTIDAR) untuk membantu menyelesaikan konflik yang sebenarnya besar tetapi tidak kami bawa ke muka umum. 

Huft, lagi-lagi kemanusiaan menjadi bacaan yang perlu diremidikan di KM UNTIDAR belakangan ini, Abang-abangku dan Mbak Chi.

Dua kali Mbak Chi tercabik atas tulisan Ardiansyah yang menurut Mbak Chi kader prodi Hukum ini kritis dan wawasannya sangar tetapi naas anak seusia jagung muda ini masih begitu saklek pada satu kaca mata diri. Padahal KM UNTIDAR tidak hanya ada FISIP apalagi hanya prodi HUKUM. Mbak Achi mengamini konsep Keluarga Mahasiswa disepakati sebagai forum berarti segala ketentuan aturan atau kebijakan yang mengikat semestinya bersifat fleksibel dan situasional, alias tidak musti sesaklek aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ha nek mbok gowo analogi negara, UNTID dewe yo klenger


Pun aku menyepakati segala produk hukum ialah buah dari kesepakatan tertinggi KM UNTIDAR, Kongres KM dan/ atau penambahan keterwakilan mufakat melalui Forum Legislatif (Forleg) yang berisi DPM KM beserta para DPM Fakultas. Dari sini tentu aku mengiyakan anggapan ketika Ardiansyah menulis penuh “nuhinahinu” terhadap produk unggulan DPM KM berarti yang ia hina bukanlah satu institusi legislatif mahasiswa di tingkat universitas tetapi mencacati seluruh bagian dari Keluarga Mahasiswa yang menyepakati ketukan-ketukan palu sidang selama Kongres KM UNTIDAR tanpa terkecuali seluruh elemen fakultas dan prodinya sendiri.

Kembali menyinggung Mbak Achi yang siang itu memelukku pasca sambat soal dosen pembimbing skripsi, aku menjadi merasa bersalah penuh ketika iktikad maju sebagai bakal perempuan tunggal yang nekad merambah atmosfer tingkat Universitas dengan embel-embel calon Bu Ketum DPM KM 2020 dengan modal penjagaan KM yang terancam pelbagai kepentingan internal bahkan eksternal tiba-tiba terkurung kemudian H-2 jam penutupan pendaftaran PEMIRA KM 2019 aku memutuskan diri untuk balik kanan dan kembali ke rumah kemudian mencalonkan diri sebagai calon ketua DPM FKIP tercinta. 

Malam itu malam yang penuh konflik batin, Mbak Chi. Tentu Mbak Chi tahu bagaimana rasa menjadi aktifis perempuan yang melawan sekian kerasnya pikir sirkulasi lelaki seperjuangan di sekitar. Menyoal ini rasanya tak perlu diperpanjang di sini. Cukup squad bar-barisme seperotadamaan 2017 aku, Buyung, Rama/ Ramboo, Niko, Evin, Yusril dan Mas Bagas Gubernur FKIP 2019 yang tahu drama yang begitu menggelikan di balik Pemira KM 2019. BTW, Buyung, Rama, Niko, Evin, Yusril lewat tulisan ini aku pesen senyum dan salam jari tengah yak. Ohya jangan kelamaan sensi ke sahabat perempuan bar-bar tunggal yang selalu sabar ngindarin asap rokok kalian beserta aroma ciu yang selalu kalian tawarkan tetapi selalu aku tolak karena aku istiqomah menjadi ukhtivis, ehe. Pasca pemira pokokmen harus lebih sering traktir aku di angkringan-angkringan kesayangan.

Mbak Achi ternyata memiliki banyak asa di BLM KM pada masanya. Pantesan begitu girang ketika namaku jebol di MUBES KM FKIP sebagai Calon Ketua DPM KM, perempuan pula. Begitu bulat dendam Mbak Chi yang gagal menjadi Ketum BLM KM kala itu tetapi mimpinya tidak kemudian aku teruskan. “Dingampuro yo, Mbak nek nesu ayo gelut cantik. Hehe.” DPM KM yang beberapa kali disentil kupikir takkan pernah menggoyahkan kepercayaan Mbak Chi pada besarnya kerelaan seorang legislator yang mau-maunya berdedikasi penuh perasan otak, dihujat dimaki karena ketidakbecusan formulasi produk hukum, menjabat tanpa peningkatan follwers instagram seperti para eksekutor yang hanya tebar-tebar ”open PO dan blablabla proudly present..”

Miris memang ketika menyinggung kaderisasi yang masih pincang dalam menumbuhkan legislator ideal dan sadar peran beserta segala konsekuensi yang tidak memberi balas pada eksistensi diri. Demi apapun aku sepakat, legislator sejati akan ditentukan oleh besar kecilnya jiwa tiap pribadinya. Ketika aku sambat mempertanyakan mengapa aku dengan sosok perempuan yang melawan seperti Mbak Mariachi ini tidak lahir satu baya di kampus Tuguran sontak Mbak Chi jawab “De, kalau kita sebaya nanti ceritanya beda. Justru karena kita nggak sebaya, aku bisa membimbingmu. Dan nantinya kamu juga akan ada di posisiku untuk membimbing yang lain. Mungkin kalau kita sebaya kampus tiap hari kita demo ya :D”

Mbak Chi tidak luput untuk mengingatkan “De, orang-orang yang ngejar jabatan di eksekutif itu 70%nya numpang tenar. Cari eksistensi. Percaya sama aku. Ilmu mereka cuma mentok di event organizer. Sedangkan ketika kita di legislatif, pelajaran dan ilmunya akan lebiiiiiihhh banyak. Legislatif akan semakin mengasah kekritisan kita.” Sontak dari sini aku menyimpulkan bahwasanya menjadi legislator berarti menjadi ibu yang paling ibu. Dan pada Ardiansyah, aku ingin berpesan jangan pernah menyerah untuk menyuarakan apa yang semestinya disuarakan, rubahnya warna sebelanga jangan kira setitik. 

Revolusi tidak sekilat mata berkedip, Adikku sayang. Menjaga pemahaman atau idealisme memang bagus, tetapi menjadi pribadi yang memahami kultur manusia di luar kita adalah tanda sebesar-besarnya ruang hati yang terpupuk kemanusiaan. Sepertinya aku tak perlu mendakwah seberapa pentingnya aktualisasi JAS MERAH. Pun pada Mbak Chi terima kasih selalu menjadi ibu bagi siapapun yang mengibukan Mbak Chi. Semoga Tuhan senantiasa membersamai kita. Kepada para pembaca, aku  membebaskan sebebas-bebasnya penyepakatan asumsi diri masing-masing terhadap tulisan kami bertiga. 

KM UNTIDAR adalah rumah yang terlalu indah untuk diperebutkan kepentingan dan sangat disayangkan ketika harus terancam penurunan kesadaran kekeluargaan, kemanusiaan, dan keterbukaan.











Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kritik dan Balasan ialah Cinta yang Lengkap"

Posting Komentar