Zine Perempuan dan Lingkungan; Sebuah Dedikasi Kepada Greta Thunberg dan Refleksi Imparsial Mahasiswa Untidar

Oleh: Krisnaldo Triguswinri (Mahasiswa Magister Administrasi Publik Universitas Diponegoro)


Greta Thunberg, seorang aktivs perempuan cantik asal Swedia, berusia 16 tahun, memimpin pemogokan sekolah demi mengorganisir protes terhadap pemerintah dan korporasi yang dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah kerusakan lingkungan dan perubahan iklim dunia.

Selain konsisten memperjuangkan permasalahan lingkungan dan hak asasi anak, Greta memupuk keberanian untuk melantangkan pidatonya dihadapan peserta dunia pada hajat agenda Cilmate Action Summit. Dalam pidatonya, Greta menggalakan pesan kepada pemerintah dan korporasi untuk tidak sekadar mementingkan pembangunan demi menumbuhnya aktivitas ekonomi.

‘’Ini semua salah. Saya bahkan seharusnya tidak ada di sini. Saya seharusnya berada di sekolah, di sisi lain samudra. Namun, kalian semua datang ke anak muda untuk sebuah harapan. Beraninya kalian semua. Kalian sudah mengambil impian dan masa kecil saya dengan sebuah omong kosong belaka. Saya masih beruntung, tapi orang-orang di sekitar saya menderita, mereka semua sekarat. Seluruh ekosistem telah runtuh.” Ucap Greta.

Kendati sadar bahwa pembangunan sarat akan fungsi yang, misalnya, dekat dengan kebijakan kesejahteraan dan pertumbuhan makro ekonomi sebuah negara. Namun terkadang justeru menjadi sangat kontradiktif karena acap menimbulkan permasalahan paradoks dengan lingkungan. Disebabkan oleh proses formulasi kebijakan yang senantiasa dekat dengan agenda pembangunan. Secara ekologis, ia inheren dengan penyebab terjadinya kerusakan dan ketidak adilan lingkungan.

Seperti Greta, seorang ekonom peraih nobel prize asal India, Amartya Sen, menulis satu buku terkenal; Development As Freedom, yang menjadi semacam naskah akademik bagi World Bank melalui salah satu devisinya, United Nations for Development Programmes, untuk merumuskan indikator baru dalam rangka mengukur keberhasilan pembangunan sebuah negara.

Dalam bukunya, Amartya Sen berupaya menegaskan ulang bahwa pembangunan harus dilihat sebagai proses perluasan kebebasan yang sesungguhnya bagi seluruh warga dunia. Dengan kata lain, pembangunan tidak boleh berdampak pada kemiskinan, kerusakan lingkungan, kemerosotan sosial, konflik horizontal, subordinasi perempuan, pelayanan publik yang buruk, hingga represifitas negara terhadap objek pembangunan.

Oleh karena itu, sukses pembangunan sebuah negara tidak lagi diukur berdasarkan Human Development Index dan atau pertumbuhan pendapatan nasional kotor, pendarapan per kapita, kapasitas industrialisasi, hingga modernisasi kehidupan warga negara. Namun, terdapat indikator baru yang disebut sebagai Gender Related Development Index atau Gender Empowerment Measurement.

Konsep kesataraan gender dalam pembangunan yang dirumuskan oleh World Bank tidak sekadar menjadi isu atau wacana, namun telah menetap sebagai agenda krusial yang harus diutamakan oleh pemerintah manapun termasuk Indonesia.

Bahwa setelah perjuangan panjang 100 tahun yang menghasilkan hak politik, budaya, sosial, dan ekonomi bagi perempuan – namun hak-hak tersebut masih terus harus diperjuangkan. Pun, kondisi kebudayaan Indonesia yang masih didominasi oleh cara berfikir laki-laki yang puritan dan patriarkis. Tentu akan memiliki kecendrungan sulit untuk menghasilkan semacam kesetaraan total bagi relasi perempuan dan laki-laki, kebijakan yang sensitif gender, dan partisipasi aktif perempuan dengan kesadaran feminitas untuk masuk ke dalam ruang-ruang pembuatan kebijakan publik.

Maka, kehadiran Greta yang adalah seorang perempuan 16 tahun dengan fokus perjuangan pada diskursus ekologi, menjadi fenomena sosial-lingkungan baru pasca Vandana Shiva dan Mama Alerta.

Greta tidak memiliki perspektif biosentris yang tunggal sebagai ecofeminist ketika mempertarungkan pengetahuan idealnya menyoal climate change di jalanan. Namun, ia mampu membatalkan glorifikasi negara dan kapitalisme yang melihat ekologi sebatas sebagai objek eksploitasi politik dan bisnis.

Seperti Greta, teman-teman Aktivis Mahasiswa Untidar berupaya memproduksi narasi intelektual yang didasarkan oleh pengalaman empirik atau sekadar persepsi teoritis untuk membicarakan ulang permasalahan Perempuan dan Lingkungan. Kendati sebagian besar kontributor bukanlah pegiat lingkungan hidup, namun mereka berhasil memaksimalkan konsepsi kontekstual untuk memberikan keterangan atraktif dari realitas keperempuanan dan lingkungan yang beririsan dengan dominasi agresif kapitalisme, eksploitasi bisnis, marginalisasi perempuan dalam pembuatan kebijakan, kebudayaan yang konservatif, relasi yang ingender equalites, hingga hegemoni kekuasaan.

Seperti ungkapan kebayakan ecofeminis; hanya perempuan yang memiliki kecendrungan dekat secara spesifik dan emosional dengan penderitaan lingkungan. Dengan kata lain, perempuan dengan semangat emansipatoris dan partisipatif bisa meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan.

Refleksi Imparsial Mahasiswa Untidar

Zine merupakan tradisi kritis yang sejauh dan selama ini menjadi salah satu fasilitas untuk mempertarungkan hingga mendistribusikan gagasan, meminjam istilah Gramsci, organik teman-teman mahasiswa di Tuguran. Keterbatasan ruang yang disedikan media-media populer menjadikan ruang gerak mereka yang hendak mengekspresikan intelektualitasnya menjadi terhambat.

Bukan. Ini bukan tentang kualitas atau kapasitas kepenulisan seseorang sehingga ide-ide tekstualnya bisa diakomodir oleh media arus utama dan dibaca oleh jutaan samudra khalayak. Ini tentang bagaimana media arus utama telah dimonopoli oleh kekuatan modal (oligarki media) dan politik. sehingga zine menjadi layak dalam rangka menandingi kebebalan sosial media yang tidak sosial sama sekali.

Diskursus Perempuan dan Lingkungan dipilih sebagai tema utama zine ini dikarenakan krisis ekologi dan maraknya kekerasan seksual terhadap perempuan yang belakangan menjadi perbincangan hangat warga dunia. Itu sebabnya, keaktualan isu dan wacana menjadi penting untuk direspon secara kritis melalui beragam perspektif dari para kontributor. Ditambah lagi, selalu ada semacam keterhubungan spesifik antara perempuan dan lingkungan. Misalnya, terminologi Ibu Bumi, Dewi Sri, hingga Mitologi Yunani tentang lahirnya dewa kebudayaan (baca; pegasus) disimbolkan melalui pengalaman otentik perempuan.

Pun, dalam tradisi ilmu pengetahuan, perempuan disubjekan dekat dengan kelestarian lingkungan. Sebab mereka yang berada dalam lokasi domestik, pasti akan selalu memiliki pespektif yang egaliter tentang bagaimana keberlangsungan alam kehidupan (sosial-ekonomi dan lingkungan) dapat terjaga; air, bahan pokok, kayu api, dll.

Mariachi Phalevi, seorang feminist dan penulis sastra, berupaya menggambarkan permasalahan lingkungan melalui data-data yang ia sajikan menyoal perubahan iklim. Seperti Greta, Mariachi Phalevi hendak mengajak para pembaca untuk meminimalisir gaya hidup yang tidak ramah lingkungan. Dalam artikelnya Mariachi memberikan ilustrasi yang menarik; penggunaan kertas yang terlalu berlebihan dalam aktivias kepenulisan skripsi berdampak pada lebih banyaknya hutan oksigen yang dialih fungsikan menjadi hutan tanaman industri demi ditanaminya akasia. Pun, Mariachi memberikan tambahan keterangan teknis perubahan iklim yang meninggalkan pertanyaan eksistensial;

“Peningkatan suhu itu akan menyebabkan perubahan permukaan air laut yang dapat menyebabkan pergeseran lempeng bumi, dan pada akhirnya terjadi bencana alam dan perubahan fenomena cuaca yang ada. Dengan bantuan dari gundulnya hutan yang telah ditebang demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan, pembuangan sampah dan limbah sembarangan yang berujung ke laut, dan populasi manusia yang semakin banyak, semuanya sempurna untuk membuat Bumi ini semakin jatuh dalam pesakitan yang bahkan melebihi penderita penyakit kanker yang sedang melakukan kemoterapi.Krisis Iklim yang terjadi pastinya akan menuai banyak dampak di segala sektor, dan nantinya akan menimbulkan permasalahan besar yaitu: bagaimana manusia dapat bertahan hidup?.”

Rizki Wahyuda, mahasiswa biologi yang memiliki ketertarikan dengan diskursus evolusi a la darwinisme sosial dan terlibat dalam beragam aktivisme gerakan, menulis sebuah artikel yang didasari oleh satu pespektif biosentrisme etika lingkungan dan ia kawinkan dengan tradisi kritis eco-feminisme. Ia berhasil membuat trade off  yang saling berhubungan dan berkaitan dalam satu kesatuan antara perempuan, bumi, ibu dan cinta kasih.

“Apabila kita membicarakan konsep ekologi dalam kacamata yang radikal, maka konteks ‘Ibu Bumi’ sama artinya dengan perempuan, yang inheren dengan feminisme; yang seharusnya kita jaga dengan sepenuh hati, kita rawat dengan sepenuh cinta, dan kita kasihi dengan penuh bijaksana. Artinya bumi yang kita beri subjek ‘Ibu’ juga mesti kita perlakukan sebagaimana sikap kita terhadap Ibu kita sendiri.”

Nurul Dwi Astari, seorang fasilitator Sexsual Reproductive Health & Right yang memiliki ketertarikan terhadap Keadilan Gender Islam dan terlibat mengadvokasi permasalahan penggunaan energi kotor. Dalam artikelnya ia mencoba untuk merubah paradigma bahwa kesetaraan gender bukan sekadar tentang relasi setara antara laki-laki dan perempuan dalam konstruksi sosial dan budaya. Bagi Nurul, ada semacam kondisi alamiah yang merestriksi kehendak bebas perempuan untuk memberlangsungkan gender equality dan menumbuhkan justice origins dalam rangka miminimalisir hegemoni patriarkisme, yaitu, perbedaan reproduksi biologis antara laki-laki dan perempuan..

“Ingin tau rasanya kram saat menstruasi? Menurut Profesor dari University College London, John Guillebaud, jika kita ingin mengetahui seperti apa rasanya dismenorea, bayangkan saja sedang terkena serangan jantung secara tiba-tiba. Ya gitu! Enggak lebay, memang begitu, atau jika masih sulit membayangkannya, rasanya mirip seperti sedang sembelit ketika ingin Buang Air Besar (BAB), atau bayangkan saja perutmu dipukul beramai-ramai secara bersamaan dalam waktu yang cukup lama. Alih-alih memberikan perhatian khusus kepada perempuan, banyak laki-laki malah menganggap bahwa rasa sakit saat menstruasi hanyalah tipuan belaka.”

Tiorivaldi, aktivis gerakan sosial, penulis dan pembaca buku yang rajin, lagi-lagi memberi umpan terhadap problem perempuan melalui perspektif teologis. Namun, yang menarik dari Tio dalam zine ini adalah, ia menggunakan pintu masuk untuk mengajukan argumentasinya melalui film Bumi Manusia. Tio secara terang-terangan menggugat posisi Anellise dalam film itu yang ia anggap tidak sesuai dengan apa yang ia baca dalam novel aslinya. Bahwa hilangnya nuansa kolonialisme dan bias class analysis dalam film itu membuat ketubuhan perempuan lagi-lagi terkomodifikasi dan hanya sekadar menjadi objek pasar.

“Cerita cinta antara Minke dan Annelies ini pun pada filmnya, terkesan dilebih-lebihkan. Durasi film, banyak habis pada scene Minke dan Annelies. Dan banyak scene lain yang ada di novelnya, yang cukup berbobot tidak muncul. Seperti pergolakan antara Minke dan Kommer dalam memberikan kritik terhadap tulisan-tulisan Minke. Dan banyak kata-kata yang epik yang dilontarkan pada berbagai tokoh yang ada, misal kutipan dari ucapan Jean Marais, “Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Kau terpelajar, Minke, Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.”

Evin Nasrulloh, mahasiswa ekonomi yang aktif sebagai kordinator Kajian & Strategi Sosial Politik BEM KM 2019, Redaktur Terinews.com dan memiliki ketertarikan dengan wacana kritis. Evin masuk pada konteks historis dan sosiologis menyoal konflik pembangunan pabrik semen di Tegaldowo, Rembang. Ia menjelaskan bagaimana relasi antara pembangunan, imperialisme ekologi dan ekologi itu sendiri.

“Akhirnya, dari merajalelanya kasus-kasus "enclosure", saya ingin menyatakan bahwa dalam 21 tahun reformasi, politik liberal membuktikan dirinya sebagai proyek utopia untuk kemajuan bersama. Proyek ini kurang lebih adalah kendaraan untuk mengonsolidasi dan memapankan kelas yang memerintah, yaitu kelas kapitalis. Semua teori bisa saja dipakai untuk mengurai kebobrokan penyelenggara negara yang datang dan pergi, tetapi tidak ada teori yang lebih maju yang menyatakan kebalikan dari ini: "negara adalah alat kelas borjuis untuk memajukan kepentingan-kepentingannya." Di sinilah sasaran untuk perubahan yang sebenar-benarnya.

Terakhir, Luqman Khakim, seorang anarko dan pegiat Perpustakaan Jalanan Blora. Luqman adalah aktivis yang mengambil keterlibatan langsung ketika hari-hari di Temon Kulon Progo tiba pada puncak krisisnya akibat penggusuran rumah dan lahan pertanian warga oleh ekspansi modal demi dibangunnya New Yogyakarta International Airpot. Dalam artikelnya di zine ini, Luqman menunjukan realitas politik bahwa eksistensi terakhir dari mapannya kapitalisme adalah krisis ekologi.

“Polusi lingkungan dan kerusakan alam merupakan kegagalan terbesar kapitalisme. Penggunaan energi tidak terbarukan masih sangat digandrungi di Negara Berkembang. Alasannya karena biaya murah sehingga dapat menekan biaya produksi sehingga keuntungan bagi kaum kapitalis semakin besar. Belum lagi sistem Indutrisi yang masih tidak ramah terhadap lingkungan yang dalam prosesnya justru memperoleh legitimasi dari negara untuk menjalankan industrialisasi yang kemudian berdampak pada kerusakan lingkungan dan pencemaran lingkungan semakin gamblang terjadi karena mendapat dukungan dari negara, tentunya melalui peran para elit negara.”

Maka, zine ini diproduksi semata-mata untuk mengingatkan ulang kepada kita semua bahwa, akhir dari sejarah dunia tidak dimenangkan oleh kapitalisme. Melainkan, dimenangkan oleh membesarnya kehancuran ekologi alam semesta. Batas dari ekspansi kapital adalah ekologi.

Seperti yang diperjuangkan oleh Greta, kita semua harus mengambil keterlibatan serupa dalam rangka meminimalisir terjadi krisis ekologi. Dengan demikian, kehendak untuk menyepakati peminimalisiran krisis tersebut, pertama-tama kita, sebagai laki-laki, harus menghilangkan struktur vertikal relasi antara laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, tidak ada lagi superioritas dan inferioritas laki-laki dan perempuan untuk terlibat pada banyak ruang sosial-politik.

Selamat membaca zine ini, nantinya. Kepada Greta yang manis, aktivis lingkungan hidup yang berjuang dititik-titik api krisis ekologi, dan para pembaca yang agung, untuk kalianlah zine ini ITP dedikasikan. Godspeed you guys!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Zine Perempuan dan Lingkungan; Sebuah Dedikasi Kepada Greta Thunberg dan Refleksi Imparsial Mahasiswa Untidar "

Posting Komentar