Arogansi Pamflet Aksi HAM Aktivis Untidar Hari Ini

Oleh: Arief Budianto (Departemen Politik BEM KM 2016)


Pikirmu aku kuliah meng mergo pengen melu koe demo po?  Ha, yo melu UAS lah. Edan po! 

Musim telah berganti. Hujan cukup deras untuk membawa doa pada sudut-sudut rumah dan jendela. Bersama iringan lagu para dewa, tuntutan nurani membawa deras doa itu di jalan-jalan perjuangan. Keyakinan adalah rintik hujan. Di bawanya turun kebumi supaya tumbuh subur harapan baru. Setelahnya, bunga bermekaran. Menghiasi taman-taman kota dan sekolah, seperti cinta- kegembiraan perlu di rawat perlahan-lahan.

Hidup, mati dan berganti, adalah rotasi alam pada pergantian musim. Disana, kegelisahan di urai lepas pada kepulan asap rokok dan perdebatan harmonis. Sel-sel baru, di aktifkan penuh konsistensi seperti halnya bait-bait ritme hujan yang menghentak-hentak ke bumi.

Sekiranya itulah gambaran perjalanan Pergerakan Mahasiswa di Untidar. Pada awal 2016 hingga hari ini, bak musim silih berganti.

Sebagai individu yang pernah melampaui kumpulan peristiwa aktivisme gerakan, bagi saya hal-hal tersebut adalah perstiwa baik yang masih tetap tersusun rapi dalam  memori. Seperti halnya hujan, aktivisme selalu membawa keberkahan bagi kalangan yang tersubordinasi oleh keseragaman, dan bagi mereka yang merindukan tumbuh kembangnya peradaban intelektual yang menggembirakan.

Sebabnya, selain di bangun dari resesi keresahan dan ketidakadilan, perubahan tatanan ekonomi-politik serta ruang lingkup pendidikan yang kaku, kolektivitas gerakan dan social movement di bangun dari budaya wacana progresif yang panjang dan melelahkan serta pernuh perjuangan, misalnya- budaya akademis diskusi dan kajian ilmiah, pengorganisiran individu-individu menuju kesadaran kesetaraan, hingga pembangkangan intelektual menolak adanaya penyeragaman pikiran.

Layaknya hujan di musim kemarau, atau sebaliknya. Ada harapan yang terkubur, pun ada yang terus melaju mengikuti perkembangan zaman. Pasang surut pergerakan mahasiswa Untidar, menurut hemat saya, tidak terlepas dari besar kecilnya kesadaran kolektif yang di tumbuhkan. Butuh peran besar dari para organisatoris dan mereka yang menyebut dirinya sebagai aktivis, sebagai tanggung jawab moril untuk merumuskan budaya intelektual sebagai tanggapan atas realitas yang terjadi di dalam dan di luar kampus. Bagi saya, itu adalah sesuatu yang normal, pergerakan harus mampu mengalir dan dinamis.

Tujuan Penulisan Artikel Ini?


Tidak ada pengetahuan yang abadi pada alam indrawi. Jiwa dan dunia ide akan selalu menuntun pengetahuan untuk di negasikan pada bentuknya yang lebih ideal. Kurang lebihnya demikian dialog Socrates yang di tuliskan dengan manis oleh muridnya. Sejalan dengan pemikrian itu, demokrasi mengesahkan kritikan sebagai instrumen pelengkap terciptanya dialektika dan pengetahuan baru.

Pada akhirnya, dalam tulisan ini, saya bermaksud memberikan tanggapan dan constructive criticism kepada Aksi Magelang Bergerak jilid 2, khususnya kepada kawan-kawan mahasiswa yang mempersiapkan agenda tersebut.

Pergerakan, menurut hemat saya, akan selalu tumbuh melalui pergumulan dialektis dalam percakapan di dalam kelas, di angkringan, di pinggir jalan, cafe-cafe  dan lain sebagainya. Hal tersebut tentunya juga di dorong atas kebiasaan literasi yang baik oleh mahasiswa. Buku akan senantiasa menutun kita pada pemaham konsep dan cara kerja suatu konsep dalam menganalisa fenomena sosial ekonomi-politik. Sehingga, akan selalau ada metodologi sebagai pisau  analisa dalam membedah fenomena tersebut.

Lebih dari pada itu, literasi dan percakapan kritis akan memberikan pendidikan politik kepada para mahasiswa. Sehingga dalam momentum krisis, mahasiswa sebagai agen dari infrastruktur politik jalanan mampu hadir memberikan tekanan, penyadaran dan analisa yang koheren.

Tidak ada yang salah dari diadakanya aksi solidaritas, bagi Soekarno gerakan tersebut merupakan bagian dari ideological entity from the social consciousness of man! Kesadaran nurani adalah pergerakan dari kesatuan ideologi humanis.

Namun tentunya, barisan yang di bangun didalam gerakan mahasiswa adalah gerakan intelekual-moral sebagai entitas dan identitas, penanda adanya suatu nilai yang di bangun. Pengorganisiran massa menjadi bagian penting dalam suatu gerakan demonstrasi, psikologi massa perlu dibangun dengan perspektif yang bijak, sesuai dengan urgensi dan standing point dari suatu masalah tersebut.

Beberapa hal yang akan saya sampaikan dibawah merupakan hal-hal yang dalam argumentasi saya, perlu di kritisi dan di benahi, agar tidak memunculkan kesan arogansi dan kesempitan pandangan.


Suatu gerakan yang ideal, bermuara pada kandungan rasionalitas yang matang. Rasionalitas akan selalu menuntut kinerja yang sistematik, objektif dan berdasar- begitulah menurut hemat saya, yang kemudian disebut sebagai gerakan intelektual mahasiswa.

Dalam gerakan intelektual tersebut, berdasar artinya, terselenggaranya aktivitas-aktivitas ilmiah- seperti kajian misalnya, yang di perlukan untuk mendukung urgensi persoalan, sebagai pertanggungjawaban intelektuil. Seperti halnya dalam kasus pelanggaran HAM, dibutuhkannya kerja konseptual sebagai rumusan dan kajian edukatif kepada masyarakat. Menyambung hal tersebut, saya berpandangan, bahwa aksi solidaritas yang diselenggarakan pada tanggal 30 desember 2019, belum mempunyai cukup kajian dan urgensi yang matang, hal ini di lihat dari rendahnya intensi mahasiswa dan masyarakat untuk ikut berpartisipasi. Kendati aksi itu tetap berjalan, kajian belum begitu masif di ketahui oleh masyarakat, sehingga gerakan tersebut terkesan begitu eksklusif dan beku. 

Selanjutnya, dengan berat hati, pamflet diatas terkesan arogan dan imoral. Gerakan yang seharusnya menumbuhkan simpati dan kebijaksanan, justru sebaliknya- memunculkan perdebatan sengit karena terkesan provokatif dengan mengajak mahasiswa lainnya untuk menggugurkan kewajiban akademis. Bagi saya, aktivis adalah mereka yang secara sadar mempu mengaktifkan tanggungjawab sosial sebagai pemangku core values dan tanggung jawab akademis sebagai seorang pelajar kepada orang tua. Keduanya adalah keseimbangan, bahwa social movements yang di bangun, akan selalu disandarkan pada pengetahuan akademik- yang mana, itu adalah pra-sayarat terciptanya gerakan intelektual.

Realtias gerakan yang terjadi pada awal 2016 hingga sekarang, perlu dipahami sebagai gerakan responsif-reeaksioner. Contohnya: mulai dari gerakan demonstrasi mahasiswa untidar kepada rektorat atas melonjaknya UKT dan politisasi SPI, hingga pada Aksi Solidritas Papua Barat (pelanggaran HAM). Gerakan ini berisifat temporary.

Terselenggaranya gerakan ini, di hasilkan atas munculnya fenomena sosial yang hadir dimasyarakat. Kendati gerakan ini memberikan perspektif dan dampak positif, perlu sekiranya, menurut hemat saya, para aktivis  melakukan perubahan maupun inovasi gerakan yang lebih produktif, efisien serta easy to control, ketimbang gerakan momentumal. Berkaitan dengan Aksi Solidaritas demonstrasi tersebut, menurut saya kurang memberikan dampak yang signifikan terhadap menurunya pelanggaran HAM, mengingat urgensi yang di bangun pun begitu lemah.

Era industri 4.0, perlu disadari oleh mahasiswa, bahwa kemajuan tersebut, telah mempengaruhi keputusan kebijakan stage holder, akibat desakan Digitalisasi yang begitu kuat. Hal ini juga mengakibatkan masuknya Demokrasi Digital, sebagai salah satu realitas yang terjadi di kehidupan nyata masyarakat. 

Sehingga pada titik ini, adalah kesempatan emas bagi mahasiswa untuk mengukir gerakan pada demokrasi digital sebagai sebuah gerakan intelektual. Hal ini menurut hemat saya- adalah upaya nyata untuk melakukan uji kualitas mahasiswa, sejauhmana mampu menuliskan sekaligus merumuskan persoalan pada media tulisan digital.

Kesimpulan

Mahasiswa tetap akan menjadi fragmen penting dalam demokrasi. Kemampuan intelektual menjadi modal awal dalam menghadapai persoalan sosial masyarakat. Dengan alasan itulah pendididikan diberikan. Pendidikan berfungsi untuk memperhalus perasaan dan mempertajam pikiran. Baik pendidikan formal maupun informal, keduanya berperan penting guna pembentukan pemikiran yang kritis dan matang.

Demonstrasi adalah gerakan, sekaligus wahana pembelajaran praksis bagi mahasiswa. Kendati demikian, perlu adanya rasionalitas dan perencanaan yang matang dari setiap gerakan yang ingin di selenggarakan. Bagi saya, kritikan ini adalah bagian dari sebuah simpati dan kepedulian. Agar tidak lagi muncul jarak pada gerakan antara mahasiswa dan mahasiswa, serta mahasiswa dan masyarakat. 

Seperti halnya yang di katakan oleh soekarno: 

Hilangkan stereliteit (jarak) pada gerakan mahasiswa, nyalah terus obor kesetiaan kepada kaum tertidas, agar semangat ideologi bernyala-nyala murni. Dan yang tidak murni terbakar Mati











Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Arogansi Pamflet Aksi HAM Aktivis Untidar Hari Ini"

  1. btw yang ikut aksi lagi ga ada jadwal ujian apa emang ngosongin ruang ujian wkwk

    BalasHapus