Greeting of Peace: Natal Bukan Hanya Soal Pesta

Oleh: Felix Panjaitan (Mahasiswa Perternakan Untidar)


Happy Christmas and War is Over (John Lennon dan Yoko Ono).

Slogan yang pernah disuarakan pada akhir tahun 1969 oleh Jhon dan Yoko di atas, yang mana pada saat itu mereka menyewa papan-papan reklame, menempelkan poster-poster dibeberapa kota di sepanjang Amerika Serikat dan beberapa kota besar lainnya di dunia. Slogan tersebut dipasang bertepatan ketika peperangan kontra Amerika Serikat dengan Vietnam pada tahun 1971. Slogan itu menginspirasi John Lennon dan membuatnya menulis satu single lagu yang fenomemal. 

Slogan yang dihimpun dari banyaknya suara rakyat di dunia, terkhusus juga rakyat Amerika Serikat yang meminta secara keras agar pemerintah dan militer mengakhiri perang. Akhirnya, terciptalah lagu epic yang menjadi bentuk protes mengenai perang Vietnam oleh Amerika Serikat. Lagu itu berjudul Happy Xmas (War is Over) If You Want It yang diciptakan oleh John Lennon dan Yoko Ono:

So this is Christmas
For weak and for strong
The rich and poor ones
The war is so long
And so happy Christmas
For black and for white
For yellow and red ones
Let’s stop all fight.

Sepenggal lagu yang mengisahkan tentang perdamaian dunia dan penolakan setiap konflik (perang)  yang meyebabkan genosida (pembantaian masal). Kita sama-sama tahu bahwa sangat banyak konflik yang terjadi di dunia. Mulai dari rasisme, perbudakan, pelecehan, dll. Satu contoh rasisme misalnya, mereka yang berkulit putih selalu merasa lebih manusia daripada mereka yang berkulit hitam. 

Sejatinya keadilan memang lebih pada perspektif  setiap individu, tolak ukur keadilan lebih kepada pemikiran setiap orang. Adil bagi dirinya belum berarti adil bagi orang lain. Ironisnya, pandangan keadilan yang berbeda ini sering memicu konflik setiap individu yang menjadikan manusia mengalami degradasi, kekerasan, dan impunitas hak-hak individual mereka sebagai manusia. 

Sisi kemanusiaan pun hilang karena keegoisan manusia yang ingin berkuasa akan segalanya. Ketika kita bicara soal keadilan, kita tidak turut membicarakan cinta dan kemanusiaan. melainkan hanya terbatas pada pembicaraan untung dan rugi. Sangat jarang kita memikirkan dampak positif atau negatif dari kebijakan/keputusan, atau menemukan win win solution dari setiap permasalahan.

Apakah itu manusia? Ya, benar. itu manusia. Tapi tidak ada nilai kemanusiaanya. Yang ada ialah nilai kebinatangan. Sifat ini membawa permasalahan pada setiap individu, hingga menjadikannya sirkuit kompetisi antar manusia yang mengakibatkan konflik seperti penjajahan, perbudakan, atau pelecehan. 

Natal dan Kehadirannya di Dunia

Natal merupakan hari besar dan penting bagi umat Kristiani di dunia. Natal adalah hari kelahiran Kristus. Kristus membawa kabar gembira bagi umat yang hidup dalam penindasan, penderitaan dan perbudakan untuk segera diselamatkan. 

Pihak pihak yang mendapat keuntungan dari ketidakadilan merasa sangat terganggu oleh kehadiran Kristus di dunia sehingga mengaruskan mereka menggantung-Nya di kayu salib, tetapi ia mampu bangkit kembali dan dikenal sebagai Son of God

Kristus sering dijadikan teladan bagi individiu didunia karena ajaran cinta kasih-Nya. Tapi Kristus sebagai teladan bukan untuk memiliki sifat pasrah dan juga tidak untuk selalu berdoa sepanjang hari demi keselamatan pribadi maupun setiap orang. Kristus berjuang dan berkorban demi banyak  orang, berdoa serta bekerja untuk keselamatan dan kebebasan individu tertindas. Natal dilaksanakan untuk bisa menerima Kristus dalam hidup umat Kristiani agar tetap dapat mengikuti jejak pengorbanan-Nya di dunia. 

Natal sendiri bukanlah hanya sekedar merayakan kelahiran Kristus di dunia tetapi juga melaksanakan pekerjaan Kristus dalam memperjuangkan perdamaian dan ajaran kasih sayang. Natal juga bukan sebatas menghias pohon dan atribut lainnya, dan juga bukan sekadar melaksanakan pesta besar-besaran.  

“Siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu. Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Kata-kata itu pernah diucapkan Kristus sebagai ajaran cinta kasih dan merupakan bentuk murni dari cinta yang mana diajarkan bahawasanya tidak ada balas dendam, karena dendam hanya akan membawa konflik yang berkepanjangan.

Natal bisa dikatakan bukan kabar sukacita bagi umat Kristiani saja, tapi kabar sukacita bagi segala makhuk yang hidup dan bernafas. Natal adalah perayaan yang memberi bahan bakar bagi revolusi dunia. Samuel Sharpe, seorang budak asal Jamaica, yang merupakan seorang Kristen menemukan bahwasanya Kolonialisme dan Rasisme adalah hal buruk bagi Natal. 

Seorang yang pernah memimpin pemogokan massal dan berhasil mengorganisir 300.000 massa budak pekerja perkebunan kapas selama 10 hari; gerakan yang dinamai Baptist Christmas War. Perlawanan ini mendorong terbentuknya undang-undang Slavery Abolotion Act ditahun 1833 yang secara legal menghapus perbudakan dan pekerja anak di seluruh imperium Inggris. 

Di Indonesia sendiri sering kali perayaan Natal dihadapkan dengan berbagai kasus intoleransi, kompetisi politik, pelanggaran kemanusiaan dan kekalahan perjuangan kelas pekerja di hadapan korporasi yang dilindungi negara. Bukanlah hal yang mudah untuk merayakan Natal. Natal masih hadir dalam masa kerapuhan dan kehancuran. 

Apakah kita hanya akan merayakan Natal dengan menghias atribut dan menikmati hari libur saja? Sanggupkah kita memanfaatkan momentum Natal dalam penyampaian kabar sukacita lewat perkataan maupun perbuatan, karena kelahiran Kristus merupakan perlawanan dalam menantang semua struktur kekuasaan yang menindas kehidupan?

Sang Buddha pernah bilang “Benci tidak dapat dihilangkan dengan benci namun dengan cinta, inilah hukum yang abadi”.

Sama seperti Kristus yang selalu menebar cinta dan kasih sayang kepada seluruh makhluk yang hidup dan bernafas. Walaupun disiksa, dicemooh, dibenci, disablibkan, Kristus tidak pernah membencinya, Dia tetap menyayangi setiap individu yang ada di dunia. Sisanya terserah kita, apakah kita ikut menebar kebencian atau kedamaian? Biarkan hati kecil itu bicara. 

Selamat Natal bagi mereka yang merayakannya, dan Salam damai bagi semua umat di dunia.

War is over! 

War is over! 




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Greeting of Peace: Natal Bukan Hanya Soal Pesta"

Posting Komentar