Kesetaraan, Keserasian, dan Keadilan Gender

Oleh: Niqo' Ruma Azizi (Mahasiswa Hukum)



Gerakan perempuan di Amerika mulai muncul di pertengahan abad ke-19. Emansipasi persamaan hak serta penghapusan diskriminasi terhadap kaum perempuan menjadi tuntutannya. Tuntutan inilah yang kemudian menjadi dasar dari gerakan perempuan yang saat ini dikenal dengan feminisme memperjuangkan tentang hak suara.

Sekitar tahun 1970, isu gerakan perempuan berkembang mulai maju selangkah. Mereka kemudian mengangkat permasalahan diskriminasi seksual yang terjadi pada kaum perempuan. Gerakan perempuan di Chile memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum perempuan. Gerakan ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran dari Amerika dan Eropa serta bergerak dibidang politik.

Sementara di Indonesia, Keadilan dan kesetaraan gender di Indonesia dipelopori oleh RA Kartini sejak tahun 1908. Perjuangan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan khususnya dalam bidang pendidikan dimulai oleh RA Kartini sebagai wujud perlawanan atas ketidak adilan terhadap kaum perempuan pada masa itu (kolonialisme).

Sebagaimana yang kita lihat, feminimisme lahir dari tuntutan keadilan dan persamaaan hak. Memang, kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama, namun bukan berarti persamaan tersebut bermaksud kesetaraan antara keduanya dalam segala aspek.

Jika persamaaan hak ini dimasukan dalam segala aspek, tentunya gerakan feminimisme ini akan merugikan perempuan itu sendiri. Didalam objek hukum, ada yang namanya hak dan kewajiban. Jadi, jika laki-laki dan perempuan mempunyai takaran hak yang sama, maka kewajiban yang diperankan pun sama.

Dan akhir-akhir ini yang saya lihat, feminisme bukan menuntut kesetaraan gender, malahan ingin menjatuhkan kaum laki-laki. Jika berbicara soal diskriminasi, secara kasat mata kaum laki-laki juga tertindas.

Laki-laki menampar perempuan dianggap hal amat kasar dan tidak terpuji, sedangkan jika perempuan yang manampar laki-laki, orang-orang yang melihat akan beranggapan bahwa laki-lakinya lah yang telah berbuat tindakan tak senonoh sehingga membuat perempuan itu menampar. Atau memang laki-lakinya itu bajingan.

Musuh dari feminisme bukanlah patriarkis, bukan juga kultur budaya atau pemikiran primitif yang menyatakan bahwa wanita hanyalah berkecimprung dalam dunia dapur, mendidik anak, atau ibu rumah tangga, namun musuh dari feminimisme adalah kodrat perempuan itu sendiri.

Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dengan porsinya masing-masing. Dengan demikian, konsep kesetaraan gender tidak tepat. Berbeda dengan konsep keserasian yang menempatkan laki-laki dan perempuan sesuai porsinya, baik dalam hak maupun kewajiban.

Dengan keserasian, maka akan terciptanya keharmonisan karena kedua belah pihak tercipta untuk saling melengkapi, bukan untuk mendahului atau untuk menjatuhkan. Dan perlu kita ingat bahwa adil bukan berarti sama, namun proposional yang mana sebanding atau seimbang.

Akan tapi, jika berbicara mengenai keadilan gender, gender ada dua macam, laki-laki (maskulin) dan perempuan (feminim) yang dibentuk secara sosiokultura. Dalam konteks keadilan jika perempuan disejajarkan dengan laki-laki menurut saya sah saja, akan tapi perlu adanya batasan. Misal dalam hal pekerjaan. Perempuan bisa jadi apa saja yang ia mau asalkan ia mampu dan mempunyai prosedur yang telah ditetapkan tanpa mengkesampingkan tanggung jawabnya sebagai perempuan sebenarnya dalam keluarga.

Menyangkut diferensi maskulin dan feminim. Antara keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lantas jika dikaitkan dengan kepemimpinan, apakah perempuan bisa menjadi seorang pemimpin?, lalu apakah masyarakat luas bisa menerimanya?.
Menurut pandangan saya dasar dari pemimpin adalah mumpuni dan cakap. Mumpuni dan cakap yang saya maksud adalah ia mumpuni dalam hal mengatur dan memenejemen bawahanya, cakap bahwa ia mampu dan punya kapasitas dalam memimpin.

Karena stereotip yang masih melekat bahwa wanita bertanggung jawab dirumah. Masyarakat luas masih susah menerima jika kepimpinan dipegang oleh perempuan. Maka dari itu, kita tidak  bisa berkaca hanya dengan budaya barat lalu mengesampingkan budaya kita sendiri.
Dan perlu kita ingat bahwa gender mengacu kepada peran-peran dan tanggungjawab perempuan dan laki-laki yang ditentukan oleh masyarakat. Konsep gender juga mengacu kepada adanya harapan-harapan tentang sikap,

Perilaku dari perempuan (feminitas) dan laki-laki (maskulinitas) yang disesuaikan dengan peran dan tanggungjawabnya. Berbagai peran dan harapan ini dipelajari, dapat berubah setiap saat, dan bervariasi baik di dalam maupun di antara berbagai budaya. Analisis kebijakan yang berbasis gender memperlihatkan bagaimana peran dan posisi perempuan dibangun secara sosial. Oleh karena itu, berlawanan dari perbedaan yang ditentukan secara biologis yang sifatnya statis, gender dapat berubah atau dirubah.

Ini bukan tamparan keras buat laki-laki atau kaum patriarkis saja, akan tapi kaum perempuan itu sendiri harus sadar atas kondisi ini. Dalam faktor lapangan, meskipun perempuan sudah mendapat hak pendidikan yang sama, kebanyakan dari perempuan tidak memaksimalkan hak pendidikanya, karena masih berfikiran bahwa hanya dengan bermodalkan make up dan skill berdandan yang mumpuni ia akan menjadi wadah penerima nafkah dengan menunggu datangnya seorang lelaki yang menjemput lalu melamarnya.

Tapi, kita tidak bisa berpandangan dengan mengesampingkan latarbelakang seseorang. Jika seorang perempuan berlatarbelakang dari keluarga tingkat atas, kebanyakan dari mereka akan menjadi ibu rumah tangga yang tugasnya mendidik dan mengasuh anaknya serta ladang penerima nafkah dan perlu berkarir.

Lain hal jika berlatarbelakang dari keluarga tingkat rendah, ia akan menjadi tumpuan keluarganya lalu ia memaksimalkan hak pendidikan dengan menjadi wanita karir untuk mempersiapkan kebutuhan dasar, termasuk di dalamnya adalah kecukupan akses terhadap pangan, air bersih, pelayanan kesehatan, kesempatan pendidikan, perumahan, waktu untuk berpartisipasi di masyarakat, dan integrasi sosial dalam keluarganya kelak.

Jika ia nantinya menjadi wanita karir dan mendapatakan suami yang berkarir juga maka ia harus sadar dengan tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang istri atau membagi peran anatar suami dan istri dalam memfondasi keluarganya kelak.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kesetaraan, Keserasian, dan Keadilan Gender"

Posting Komentar