Negara, Yakuza dan Aksi Sosial

Oleh: Elvin Setiawan (Mahasiswa Administrasi Negara Untidar)


Kita tidak benar-benar menanyakan apakah kekerasan itu benar atau salah, kita hanya meyakini apakah itu legal atau tidak legal, apakah hukum membolehkannya atau tidak. Bahkan kita tidak pernah mempertanyakan hak pemerintah untuk membunuh, untuk menyita, dan memenjarakan. – Alexander Berkman.

Geng adalah sebuah kelompok individu yang saling berkaitan baik teman dekat maupun kesamaan latarbelakang seperti lingkungan, pekerjaan, hobi, dan sebagainya. Kita bisa mengklasifikasikan geng kedalam bentuk kelompok sosial karena mereka memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Namun lebih dari itu geng bisa kita katakan sebagai sebuah organisasi karena geng dibentuk dengan kepemimpinan dan organisasi internal yang jelas. Begitu banyak geng yang terbentuk di seluruh dunia ini.

Beberapa yang terkenal bahkan bisa disebut sebagai geng internasional antara lain; Mara Sulvatrucha-13, Crips, Bloods, Yakuza, 18th Street Gang, dan lain sebagainya. Biasanya geng merujuk kepada gerombolan orang yang melakukan hal negatif dan ilegal seperti kriminal, penyelundupan, atau narkoba. Kalau kita ingin membicarakan tentang hal negatif yang dilakukan oleh suatu geng, sudah berapa banyak kanal-kanal berita cetak maupun online atau lainnya yang sudah memberitakannya. Pembunuhan oleh kelompok MS-13 atau pemukulan pengunjung klub malam oleh anggota kelompok yakuza, berita semacam itu kerap kita dengar di berbagai media.

Namun tanpa mempedulikan hal-hal negatif yang dilakukan itu, “geng” seharusnya dianggap sebagai bentuk kebebasan berkumpul dan berserikat yang dijamin hak-haknya dalam  Universal Declaration of Human Rights. Walaupun geng-geng terkenal dengan citra kriminalnya, namun akan menarik saat kita tahu bahwa mereka membentuk suatu geng sebagai bentuk Act of self-defense. Act of self-defense adalah tindakan seseorang untuk menggunakan kekuatan yang masuk akal atau kekuatan pertahanan, untuk tujuan membela hidup sendiri (membela diri) atau kehidupan orang lain, termasuk –dalam keadaan tertentu– penggunaan kekuatan mematikan.

Para anggota geng Crips contohnya, bergabung dengan Crips sebagai bentuk perlindungan diri dan lingkungan dari lingkungan yang lain. Crips sendiri adalah sebuah geng di Amerika yang mayoritas anggotanya adalah orang kulit hitam. Para anggota Crips kebanyakan lahir dan besar di Amerika, hidup di lingkungan yang menganggap mereka berbeda dan tidak suka perbedaan, begitulah mengapa mereka membuat atau masuk kedalam geng. Dengan masuk kedalam geng, mereka akan merasa terlindungi, ada sesama anggota lain yang melindungi.

Akupun meyakini bahwa unsur paling kejam dalam masyarakat bukanlah kekerasan atau semacam itu, unsur paling kejam dalam masyarakat adalah ketidakpedulian. Poppy salah satu anggota geng Crips dalam salah satu wawancara dengan Vice mengatakan, “masalahnya apa yang bisa diperbuat pemerintah dan orang-orang ini –lingkungan– untuk menghentikan masalah ini –diskriminasi kulit hitam– selain menjebloskan kami ke penjara? Beri kami kegiatan, pusat kegiatan masyarakat, beri kami program, akses ke berbagai macam hal, bukannya menangkap dan menjebloskan kami ke penjara. Aku pernah dalam posisi itu, aku dipenjara 2,5 tahun.

Jika kalian tak memberi kami apapun, jalan keluar atau semacamnya, kami akan terseret hal-hal buruk. Membentuk geng adalah upaya kami melindungi diri kami, geng sesungguhnya adalah polisi!”. Bukan berarti aku membenarkan tindak kekerasan dan kriminal yang dilakukan oleh geng-geng itu, namun kekerasan sering tumbuh karena kekerasan. Apabila kita berbicara jujur, kita mesti mengakui bahwa setiap orang mempercayai kekerasan dan mempraktekannya, meskipun ia akan mengutuknya apabila hal itu dilakukan oleh orang lain. Bisa dikatakan, Crips adalah kejahatan yang timbul dari kejahatan –yang mereka terima dari lingkungannya. Aku meyakini bahwa kebutuhan dasar seorang manusia adalah sandang, pangan, papan, medis, dan kemanan. Maka dari itu pemerintah pun pasti akan menjaga keamanan warga negaranya, namun tak seharusnya dengan pembatasan hak-hak asasi manusia.

Tahun kemarin, pemerintah Jepang mengesahkan Undang-Undang Anti Konspirasi yang isi dari Undang-Undang tersebut sangat jelas bertujuan untuk memberangus kelompok Yakuza. Undang-undang ini dikeluarkan pemerintah dengan alasan keamanan, "UU ini sangatlah penting untuk melindungan masyarakat terutama keamanan mereka dan kita telah melakukannya yang terbaik melindungi kebebasan mereka serta hak asasi mereka. Saya tak akan melupakannya," kata Menteri Kehakiman , Katsutoshi Kaneda. Yakuza, Jepang salah satu geng paling berbahaya di dunia, bahkan kelompok ini sudah disebut sebagai organisasi kriminal transnasional.

Kelompok ini dikenal di Jepang dengan julukan Gokudō. Kelompok yang identik dengan tato dan mutilasi jari sebagai lambang keberanian dan hukuman di saat yang sama.  Apabila seorang anggota melakukan sesuatu yang menimbulkan masalah atau rasa malu bagi organisasi, anggota tersebut diharapkan langsung memotong jari mereka sendiri sebagai bentuk permintaan maaf. Jarinya dipotong menggunakan pisau belati atau pedang kecil, tradisi yang mencerminkan ketergantungan seorang samurai pada pedang mereka. Agak mengerikan. Dalam Undang-Undang Anti Konspirasi salah satu pasal menyebutkan seluruh kelompok Yakuza bisa didakwa kalau satu anggotanya melakukan tindak kriminal.

Undang-undang ini dinilai kontroversial lantaran menempatkan "kejahatan" remeh semacam mengkopi musik dan mencuri jamur di hutan lindung sejajar dengan kejahatan serius semacam ancaman teror.  Undang-undang anti konspirasi ini dinilai tidak adil, banyak dugaan bahwa pemerintah jepang bekerjasama dengan korporasi untuk merebut bisnis Pachinko (Judi) yang saat ini dikuasai oleh Yakuza. Namun menurutku ini hubungannya lebih kepada sejarah Yakuza yang penuh kekerasan. Memang Yakuza tidak pernah terlepas dari kekerasan, kekerasan adalah konsekuensi dari pekerjaan yang mereka lakukan. Namun hal menarik dikatakan oleh salah seorang anggota Yakuza dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa Yakuza melakukan kekerasan untuk melindungi orang.

“Bayangkan deh, misalnya kamu punya bar, lalu ada perkelahian di tempatmu. Kamu lapor polisi, mereka datang, mencatat nama pelakunya, menanyai pelaku dan saksi. Kasihan, malam itu barmu terlanjur kacau balau. Pestanya selesai dan bisnismu berantakan. Beda kejadiannya kalau kalian menghubungi Yakuza, kami cuma akan fokus pada siapa yang memulai perkelahian. Pengunjung lain bisa tetap party-party. Kami bisa tarik keluar pelakunya dan ancam agar tak lagi datang kalau cuma bikin keributan belaka. Kami bisa menangani kasus seperti ini dengan lebih efisien dan cepat, secepat kami memadamkan api”. 

Yakuza sebagai kelompok yang sering dibilang “kelompok kriminal” memang kerap terlibat dalam aksi-aksi sosial. Dalam Tsunami di Jepang tahun 2011, Yakuza menjadi yang pertama memberikan bantuan kepada korban tsunami. Yakuza diberitakan lebih cepat memberikan bantuan dibandingkan pemerintahan Jepang sendiri. Kebenaran seperti ini progressnya memang lambat, karena terkadang kebenaran akan mengancam sesuatu yang saat ini sudah diyakini, Seperti kebenaran bahwa ganja dapat menyembuhkan penyakit, sedangkan pondasi dari dunia medis adalah antibiotik. Pembatasan-pembatasan hak asasi manusia pada Yakuza oleh pemerintah juga terlihat dari akses-akses yang diberikan pemerintah kepada anggota Yakuza.

Pemerintah tak mengizinkan mereka buka rekening bank, mereka tak bisa beli apartemen, mereka tak bisa beli mobil atau bahkan sekadar main golf atau baseball. Anggota Yakuza tak bisa menyekolahkan anak karena tak punya apapun yang dimiliki atas nama mereka. “Anak bengal masa kini lebih suka masuk grup penipu atau geng jalanan daripada masuk Yakuza. Mereka tahu bahwa kami punya peraturan organisasi yang ketat dan pemerintah juga ketat mengawasi kami”. "Orang yang bikin aturan ini mau menang sendiri. Kalau politisi yang bikin perkara, selalu ada jalan keluarnya. Mereka mungkin jauh lebih berbahaya dari Yakuza." 


Sebenarnya setelah Undang-undang Anti Konspirasi ini disahkan oleh Pemerintah Jepang, mendapat banyak protes dari masyarakat jepang itu sendiri. Undang-undang ini dibuat bukan untuk Yakuza, Yakuza hanya salah satu yang jelas disebutkan didalamnya. Undang-undang itu ditentang karena dinilai terlalu beresiko terhadap orang biasa untuk terjerat hukum karena menempatkan tindakan yang “remeh” sebagai kejahatan.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Negara, Yakuza dan Aksi Sosial"

Posting Komentar