Puisi dan Perayaan Hak Asasi Manusia

Oleh: Reza Pahlevi Wirananta (Mahasiswa Teknik Sipil Untidar)


Apalah arti kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan...

Inilah perasaan yang dituangkan seorang WS Rendra dalam sajaknya berjudul “Sajak Sebatang Lisong”. Kesenian? Apakah arti kesenian yang sebenarnya? Bagi barisan seniman mungkin mereka bisa mendefinisikannya berbeda-beda. Namun kesenian yang dimaksud oleh WS Rendra itu seperti apa? Sajak Sebatang Lisong sendiri ditulis WS Rendra tahun 1978 ketika berada dibalik jeruji. Mungkin kutipan dari puisi tersebut sudah akrab di telinga beberapa dari kita. Tetapi, mungkin, banyak dari kita, khususnya orang-orang milenial yang tidak menyukai sastra bertanya-tanya, apakah lisong? Lisong sendiri menurut KBBI merupakan rokok yang tembakaunya dicampur dengan kemenyan dan kelembak.

WS Rendra menampakkan lisong pada kalimat awal puisinya: menghisap sebatang lisong / melihat Indonesia Raya / mendengar 130 juta rakyat / dan di langit / dua tiga cukong mengangkang / berak di atas kepala mereka. Dengan lugas Rendra menceritakan kenyataan di sekitarnya, atau kondisi dari rakyat indonesia pada saat itu, mengenai kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakatnya serta ketidakadilan yang dialami oleh orang-orang lemah atau rakyat-rakyat miskin.

Seperti kata Aristoteles, seni adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah menyimpang dari kenyataan. Seni memiliki beberapa percabangan, salah satunya karya sastra. Karya sastra selalu lahir sesuai dengan perkembangan zamannya. Puisi, sebagai salah satu bentuk karya sastra menjadi salah satu sarana penyampaian krtitik terhadap kondisi sosial masyarakat yang sedang terjadi. Puisi dipilih selain karena memudahkan penyampaian maksud penyair, namun juga membuat pembaca memahami maksud tersebut dengan cara yang sederhana.

Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, bahkan menjadi pemerima Yap Thiam Hien Award 2017 (Sebuah penghargaan di bidang HAM di Indonesia). Orang-orang mengenalinya sebagai ulama, pujangga, pelukis, esais, dan perajin humor. Ikhtiar Gus Mus membela HAM tak melalui panggung hukum dan politik, tetapi melalui gubahan puisi. Kata-kata dengan makna yang disirat Gus Mus turut memberitahu ke publik mengenai masalah sekitar kita dan mengajarkan arti HAM kepada pembaca.

Salah satu kritiknya dalam pengisahan Indonesia yang saya suka berada dalam kutipan puisi berjudul “Negeriku”: negeriku menumbuhkan konglomerat / dan mengikis habis kaum melarat / rata-rata pemimpin negeriku / dan handa taulannya / terkaya di Indonesia. Tema-tema kritik dipilih penyair karena realitas sosial masyarakat Indonesia ini masih menunjukkan kesenjangan sosial. Hal tersebut tentu membuat penyair, dalam hal ini pencipta karya, merasa tergelitik mengangkat permasalahan tersebut ke permukaan. Banyaknya tema kritik ini mewakili kondisi masyarakat yang harus menjadi perhatian bersama. Nyoman Darma Putra (2003) mengatakan dalam sajak-sajak protes yang utama adalah penyampaian gagasan, sementara lirik atau irama kurang mendapat prioritas meski tidak terabaikan sama sekali.

Kebebasan berekspresi adalah hak asasi yang telah dijamin dan memiliki makna esensial dalam demokrasi. Kebebasan ini sebagai suatu hak asasi yang penting dan unik. Kebebasan berekspresi menjadi jembatan bagi pemenuhan hak asasi lain. Pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya maupun sipil dan politik sering dimulai dari kritik-kritik terhadap pemerintah lewat berbagai ekspresi dengan menggunakan sarana-sarana yang ada. Meski juga diakui kebebasan berekspresi bukanlah hak absolut dan bisa dilimitasi.

Ekspresi adalah kata yang cukup bermasalah untuk dijelaskan, dan pada umumnya orang masih curiga pada kata ini. Bagi mereka yang besar di jaman Orde Baru tentu sudah sering mendengar ungkapan macam “kebebasan yang bertanggung jawab” atau “berekspresi boleh tapi jangan kebablasan”. Jadilah ekspresi anak muda jaman itu seperti teriakan yang tertahan, ada sesuatu yang ingin dikeluarkan dari dada namun karena tidak boleh kebablasan maka teriakan yang keluar pelan saja bunyinya.

Mengapa orang-orang yang memegang kekuasaan tampaknya secara alami senang mengatur kebebasan berekspresi? Karena mereka tahu jika ekspresi seseorang sudah bisa dikendalikan maka itu menjadi pintu masuk untuk mengendalikan hak-hak lainnya yang lebih asasi. Mengatur ekspresi sebetulnya adalah mengatur isi kepala seseorang. Dalam rezim otoriter setiap manusia “dipotong” kepalanya, tidak dibolehkan berpikir yang berbeda, tidak boleh menjadi pribadi yang otentik, harus taat aturan dan adat. Penyeragaman membuat orang jadi mirip satu sama lain, bahkan sampai-sampai penampilannya pun mirip.

Melihat realitas yang mengekang menumbuhkan kesadaran untuk memperjuangkan demokrasi, termasuk para sastrawan. Penyair Lekra seperti Agam Wispi dan S. Anantaguna, sang burung merak WS Rendra berbicara sangat lugas melalui puisi tentang kesengsaraan rakyat, disertai dengan ajakan untuk melawan ketidakadilan. Hingga akhirnya ada puisi-puisi yang menarik untuk dibaca kaum buruh dan menjadi mantra dalam setiap aksi turun ke jalan sebagaimana pekik puisi Thukul: Hanya ada satu kata, lawan!


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi dan Perayaan Hak Asasi Manusia"

Posting Komentar