Sukoharjo Melawan!!

Oleh: Niqo' Ruma Azizi  (Mahasiswa Hukum)



Meski negara sering dijunjung sebagai pelindung setiap warga negaranya. Agaknya kita harus memujanya terlebih dahulu untuk mendapatkan hak untuk dilindungi tersebut. Dimana negara membuat bahasanya sendiri dalam wujud hukum bahwa hak hidup dijamin dalam Pasal 28A Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupanya.”

Namun, akhir-akhir ini kita kembali diperdengarkan oleh kabar dari Sukoharjo. Kabarnya, dua tahun lebih PT Rayon Utama Makmur (RUM) beroperasi. Namun limbah udara dari pabrik tersebut yang berbau menyengat  masih dirasakan oleh warga setempat, bahkan hingga kabupaten terdekatnya.
Pada tanggal 10 Desember 2019 lalu, ratusan warga mendatangi pabrik sintetis itu di Kecamatan Nguter, Sukoharjo. 

Mereka menuntut agar PT RUM ditutup karena belum bisa mengurai masalah bau. Sebenarnya permasalahan ini sudah lama dan para warga sudah beberapa kali protes terhadap bau yang dirtimbulkan oleh PT.RUM

Dari beberapa kali protes, warga hanya mendapatkan janji-janji palsu. Seakan kesengsaraan rakyat digunakan sebagai alat agar negara tetap hidup. Dan negara dimana orang baik atau buruk adalah para peminum racun, yang mana mereka kehilangan dirinya, atau mungkin bermetamorfosis menjadi pemukul nyamuk dengan terus mengangkat lengannya lalu melawanya.

Sejak mulai beroperasi akhir Oktober 2017 limbah PT RUM sendiri menimbulkan efek bau disekitar pemukiman. Sejumlah protes sudah dilayangkan warga sejak oktober 2017 silam diberitakan Harian Kompas pada jumat (27/10/2017). Dalam pemberitaan lain, Presiden Direktur PT RUM,  Pramono menyampaikan bahwa bau menyengat muncul akibat kegagalan proses awal produksi serat rayon yang saat itu masih baru. 

Menurutnya untuk memproses serat rayon harus mencairkan bahan baku berupa bubur kertas berbentuk lembaran menggunakan cairan kimia menjadi larutan yang disebut viscose. Larutan tersebut kemudian diproses menggunakan mesin dengan banyak lubang kecil hingga membentuk serat rayon
.
Pada 19 januari 2018, dilaporkan Harian Kompas terjadi kesepaktan antara warga desa terdampak dengan manajemen PT RUM. Kala itu, warga memberi tenggat satu bulan untuk menghilangkan bau menyengat tersebut, jika tidak maka produksi harus ditutup sementara. 

Dan pada Kamis (22/02/2018) warga kembali berunjuk rasa dengan mendatangi kantor Pemerintah Sukoharjo guna mengaih janji untuk menutup PT RUM. Dan pada saat itu demo berlangsung ricuh.

Melansir dari Tribunnews pada Selasa (27/11/2018) unjuk rasa kembali bergolak. Aksi dilakukan ribuan warga tak hanya dari Kecamatan Nguter dan Sukoharjo, tapi juga sejumlah masa juga diduga berasal dari Karanganyar dan Wonogiri. Saat itu aksi yang digelar adalah aksi damai karena bau menyengat kemabli tercium yang mengakibatkan warga muntah-muntah, susah tidur, dan tenggorokan kering.

Dari kasus antara warga terdampak dengan PT RUM jika dikaitkan dengan negara sangat kecil hubunganya yang seharusnya bisa diselesaikan oleh pemimpin daerah setempat, namun jika melihat kasus-kasus sebelumnya seperti kasus Kendeng, kasus NYIA Kulon Progo, kasus Lumpur Lapindo di Sidoarjo dan kasus-kasus lainya yang serupa, seharusnya Negara hadir untuk menjamin hak hidup dan mempertahankan hidup warga negaranya.

Setiap warga negara dijamin kehidupanya dan sudah seharusnya bumi yang kita tempati bebas dari sebab pesakitan bagi jiwa-jiwa rakyatnya. Bukan dengan kesengsaraan dan sakit lalu menumpahkan tulisan dan gambar pada koran. Dan para petinggi sibuk bicara rangkak-naik jabatan layaknya monyet yang bergelantungan pada pohon dengan nafsunya.

Negara membuat bahasanya sendiri tentang baik dan buruk yang ia ciptakan dalam wujud hukum. Dan jangan sampai kalian yang duduk diatas tahta yang telah diagungkan merosot kedalam kondisi kebinatangannya. 

Menurut saya, rakyat hanya menghendaki darah dan kebebsan untuk hidup  agar terus mengalir sebuah kehidupan, cukup dengan memberikan kedamaian dengan hadir dalam kasus-kasus seperti ini lalu menyelesaikanya. Dan dengan demikian itu akan menjadi sebuah kebajikan bukan balas dendam. Dan semenjak itu negara terus mengusahakan agar terus membnarkan kehidupan.

Bukan dengan datangnya pabrik-pabrik atau infrastruktur yang anggap kalian baik, namun kalian lupa apakah hal itu baik untuk kehidupan rakyat. Menawarkan infrastruktur yang bijak  akan tapi malah membawa penyakit atau bencana. 

Dan sekali lagi, bahwa rakyat bukan ditakdirkan sebagai pemukul nyamuk yang setiap kali diusik mengangkat lengan lalu melawanya.

Panjang Umur Perjuangan!!!

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Sukoharjo Melawan!!"

  1. Enak nih tulisan, bisa di upgrade melalui pendekatan analisis yuridis normatif pake hukum lingkungan.

    BalasHapus