Untuk Buyung & Rama.

Oleh: Hermowo Pribadi Dewabroto (Presiden Mahasiswa Untidar 2019)




Didikklah masyarakat dengan Organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan. -Pramoedya anantatoer

Dalam setahun terahir ini, banyak sekali tindakan represi dan kekerasan akademik sering terdengar di telinga, kita rasakan, dan kita lihat di berbagai media mainstream maupun media independen lainnya. Hal tersebut terutama terjadi di level Perguruan Tinggi yang memicu protes, perlawanan mahasiswa dan solidaritas.

Dalam sistem kapitalisme, Kampus adalah korporasi pada industri pendidikan. Gejala-gejala yang muncul kepermukaan dan dapat kita baca adalah begitu kerasnya birokrasi universitas yang berupaya menormalkan dan menjinakkan kehidupan kampus untuk meredam perlawanan dan protes-protes.

Selain upaya untuk menutupi kejahatan birokrasi kampus, tindakan intimidasi terhadap mahasiswa yang terlibat di dalam gerakan aksi massa, dipersulitnya kegiatan akademik di dalam kampus, penekanan-penekanan secara psikologis, hingga upaya di hadapkannya mahasiswa dengan politik praktis yang dilakukan pihak birokrasi, juga bertujuan untuk mengintegrasikan Universitas ke dalam konfigurasi ekonomi global.

Teringat dengan seorang filosof yunani kuno, Plato yang pada masanya ia mendirikan sebuah tempat berdialog antar lapisan masyarakat untuk mencari kebijaksanaan dan kebenaran yang disebut sebagai Academus atau Academia dimana disitu pula Plato mengembangkan mengenai Filsafat, Fisika, dan Matematika. Sangat terlampau berbeda jauh dengan kondisi kita hari ini, yang mana lembaga akademik sangat terlihat exklusif, dan terlampau jauh yang menimbulkan gap di dalam masyarakat.

Dimana ketika tokoh seperti Tan Malaka yang menyebutkan bahwa Tujuan Pendidikan adalah untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Atau kita bersepakat dengan pengertian bahwa pendidikan adalah sarana pencerahan, pengembangan, dan pengembangan kualitas masyarakat, hanya tinggal mitos semata. Sementara analisa lain mengatakan bahwa Universitas hanya menjadi pabrik pengasil calon pekerja untuk mereproduksi relasi kerja upahan dalam masyarakat industri.

Upaya-upaya pengintegrasian Universitas dengan Industri dapat berupa Penghapusan otonomi dan hak-hak mahasiswa, termasuk pelarangan berorganisasi atau pemberangusan serikat mahasiswa, hingga kooptasi dalam pemerintahan mahasiswa, serta memperketat pemanfaatan ruang dan waktu non-akademik, yang merupakan expresi terbesar untuk menghancurkan resistensi mahasiswa, dan memperkuat alienasi mahasiswa di dalam relasi sosial sehari-hari.

Meningkatnya represi dan pendisplinan di lingkungan Universitas adalah sebuah bentuk respon kapital dan negara menghadapi krisis dalam sektor pendidikan, termasuk krisis pekerja cadangan yang kompatibel, patuh, efisie, dan kompeten dalam keahlian spesifik yang dibutuhkan. Stabilitas internal kampus yang normal dan terukur merupakan pra-syarat kondusifnya reorganisasi kampus ke dalam konfigurasi ekonomi kapital yang lebih mendalam. Ini kemudian menempatkan mahasiswa kedalam dua posisi yang saling berhubungan sebagai pekerja sekaligus komoditi.

Drunk, love, and hope.

Tak terasa sudah ada satu tahun aku harus berada dan berkutik di dalam lingkaran universitas, lewat organisasi mahasiswa atau orang sebutnya sebagai BEM KM. Konflik horizontal mahasiswa yang kontra produktivitas,  tangis, tawa, kebencian, cacian, hingga akhirnya dipersatukan oleh Anggur Merah di kontrakan, semua itu adalah romantisme di masa muda yang sangat nakal. Tetapi memang benar perkataan I gede ariastina (Jrx-sid) yang mengatakan bahwa, segala perubahan ada ditangan anak-anak nakal, bukan berada di tangan mereka yang selalu diam.

Maka jelas bahwa mereka yang selalu terlibat di dalam gerakan sosial mahasiswa adalah individu-individu nakal yang rela menggadaikan segala kemungkinan atas konsekuensi logis yang akan menimpanya, seperti adikku Nadia/Bocil, ia dan kawan-kawannya pun rela untuk dipersulit pengambilan KRS hanya karena lantang dan terlibat di dalam aksi yang menuntut rektor untuk menurunkan besaran biaya UKT, atau bagaimana militannya anggota Mapala, yang rela tidur di depan gerbang kampus sebagai wujud keseriusan mereka untuk menolak jam malam.

Juga bagaimana kompaknya mahasiswa Teknik, yang memobilisasi mahasiswanya untuk merusak acara puncak Dies Natalies Universitas, dan masih banyak hal-hal yang di lakukan oleh kawan-kawan untuk membuat romantisme itu menjadi sebuah catatan indah, Bengkel seni, GST, dan masih banyak yang belum bisa kusebutkan satu persatu.

Dan segala gerakan ini selalu kita lakukan secara kolektif, dimana tanpa harus ada komando dan perintah semua lini mencoba untuk merespon dan berperan. Maka tak kaget bahwa di dalam aksi #MagelangBergerak tanpa harus ada komando semua lini dengan segala macam kesadarannya berupaya untuk melibatkan dirinya di dalam massa aksi.

Tapi aku pikir itu semua tak hanya selesai menjadi sebuah romantisme, karena aku yakin masih ada api semangat, cinta yang akan terus terbakar ketika banyak kawan kita yang belum dapat mengakses pendidikan karena peran pasar yang sangat mendominasi, apalagi negara lewat konstitusipun mempunyai tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan masyarakatnya, otomatis akan sangat logis jika hari ini kita pun masih di dalam sebuah keyakinan sama bahwa pendidikan tinggi harus membuka ruang selebar-lebarnya untuk seluruh kelas sosial masyarakat.

Untuk Buyung-Rama panjang umur untuk kalian berdua, dan terus berporses untuk satu satu tahun kedepan, hanya kepercayaan dan cinta kasih yang bisa dititipkan. Yang mana Marx pernah mengatakan bahwa : ilmu tidak boleh menjadi kesukaan diri sendiri. Mereka yang beruntung mampu mencurahkan dirinya kepada pengundian ilmu yang pertama-tama menempatkan pengetahuan mereka untuk mengabdi kepada umat manusia. Bekerjalah untuk umat manusia!

Panjang umur kawan-kawan semua, Krisnaldo Triguswinri, Mariachi Palevi, Goko Pratama, Laurensius, Alpri Sudewo, Pepsi, Felix panjaitan, Roberto ciu, Aliando, Ramon, Theges selvina, Apri Fina, Chamid, Afif, Tian, Frederio, Andi Respata, Tulang David, Diah Arifiana Putri, Hanum, dan individu-individu yang tak bisa kusebutkan satu persatu, aku sayang kalian semua.

          Sampai jumpa di jalanan kembali !!!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Untuk Buyung & Rama. "

Posting Komentar