Fleksibilitas Kognitif dalam Belenggu Dunia Pendidikan

Oleh : Niqo' Ruma Azizi (Mahasiswa Hukum)

 Hasil gambar untuk kesuksesan didasari dengan ipk

Baik disadari maupun tidak, kita terlarut dalam rutinitas menuntut ilmu yang cenderung kaku. Mayoritas lembaga pendidikan kita telah membuat aturan yang mengikat peserta didiknya. Dan hal semacam itu akan mendorong kita untuk lebih baik melakukan sesuatu dengan aturan yang berlaku saja, dan tidak berani melakukan hal-hal yang aneh bin nyeleneh. Agar tidak mendapat marah atau dijatuhi hukuman. Dan juga supaya tidak disebut anak nakal tidak taat aturan.

Rutinitas yang mengekang semacam itu, pelan-pelan akhirnya akan membentuk kepribadian kita menjadi kurang fleksibel. Kita pun menjadi kurang berani dan banyak ragu-ragu dalam mengambil keputusan demi memecahkan masalah. Saya menganggap bahwa rutinitas semacam itulah yang menjerat dan membelenggu saya. Semua aturan itulah yang menyulitkan saya untuk merasa tidak ada masalah mengambil keputusan dengan jalan yang dianggap tidak seharusnya. 

Dalam perkuliahan misalnya, ada dosen killer. Dosen killer yang saya artikan sebagai dosen galak yang seringkali memberikan banyak tugas dan terlebih lagi dalam sistem pemberiaan nilainya. Dosen yang seperti inilah yang seringkali menjadikan kita harus belajar sampai sakit-sakitan agar kelak mendapat IPK 4. Hah? kecerdasan dinilai berdasarkan angka? Kualitas seseorang ditentukan oleh kuantitas? Tidak juga, buktinya ada juga yang dalam pemberiaan nilai dengan huruf, bukan angka.

Disaat saya membuka digital dan membuka sebuah platfrom, mendapati pertanyaan yang mungkin mulai dari kerajaan Singosari hingga sekarang masih saja hangat diperbincangkan. Pertanyaannya adalah “apa tujuanmu kuliah?”, begitulah pertanyaanya saudara-saudara. Disitu juga terdapat sedikit quotes yang super Mario Teguh, begini katanya, ‘kalau kamu kuliah tujuannya agar mendapat pekerjaan dan mendapat gaji yang diatas UMK, maka kamu akan dibuat bungkam oleh bos perusahaan yang ternyata hanya lulusan SMA, bahkan ada yang lulusan  SD, dan awkward moment ketika seseorang S2 melamar dikantornya. Maka, kuliahlah untuk mencari ilmu’.

Oke, disini saya tidak akan menyalahkan seseorang yang berstatement seperti yang diatas, dan barangkali anda sekalian yang membaca ikut meng-amin-kan statement tersebut. Namun, disadari ataupun tidak pernyataan tersebut menimbulkan nilai jual sarjana atau agar kita enteng sebut saja ‘gengsi’. Tentu saja, seseorang yang mempunyai gelar yang WOW dan banyak menorehkan prestasi kerja ditempat yang asal-asalan. Belum lagi mikirin segera balik modal atas biaya yang dikeluarkan saat kuliah. Apalagi kalau sampai berfikiran kena julid saat reuni. masak sih, lulusan dengan nilai yang baik dari kampus ternama malah kerja ditempat yang sulit disombongkan di instagram.

Lagian orientasi setiap manusia itu berbeda-beda. Ada yang kuliah serius agar mendapat ilmu seperti statement orang yang diatas, ada yang hanya menghindari dari ke-uselles-an dirumah agar tetap menjadi manusia yang fungsional, dan ada pula yang kuliah untuk sekadar menikmati masa muda dan menjadikan wisuda sebuah pengalaman hidup. Dan kalian pikir pekerjaan hanya kantoran dan perusahaan dari tamatan SD, SMA hah?

Meskipun demikian, orientasi semacam itu jangan sekali-kali dijadikan defend yourself. Berarti kalau seringkali atau beberapa kali boleh?, TIDAK! Misal, IPK itu cuman angka, tidak penting, tidak menjamin masa depan, tidak menjamin kesuksesan. Silakan berkata demikian jika IPK kalian cumlaude, lebih lagi jika sempurna, mendapat lima misalnya, kok lima, itu IPK apa nilai matematika maalihhhhh, yauda sempurnanya empat. Jika IPK kalian cumlaude aja tidak, apalagi dibawah tiga dan sama sekali belum mendapatkan pencapaian hidup, ya, your talk is just rubbish, alias bacyooott. Coba fikir, teman kita yang sudah capek belajar sampai kena tipes, lalu mendapatkan nilai bagus, malah kena julid dan tidak diperbolehkan untuk bangga. Tidak adil bukan?

Dan juga yang senantiasa mengisi story whatsapp saya adalah perkataan atau quotes dari Bob Sadino yang berbunyi, ‘Orang pinter gampang cari kerja, dia jadi karyawan. Orang goblok susah cari kerja dia buka usaha, akhirnya banyak orang pinter yang mempunyai bos orang goblok’, begitulah bunyinya. 

Saking seringnya sampai-sampai saya tidak mengoperasikan handphone saya selama beberapa hari. Bukan karena malas terlebih karena kehabisan kuota internet. Senang pasang quotes Bob Sadino tapi sendirinya malas baca, gatau ya kalau beliau rajin membaca dan menemukan refrensi untuk usaha ayam petelur dari majalah Belanda. Maka dari itu, diperlukanlah kemampuan untuk menerima pandangan-pandangan agar kita sadar bahwa faktanya tidak semua orang akan hidup dengan standar yang orang lain buat.

Diatas  tadi saya sudah mengatakan bahwa saya tidak menyalahkan statement tersebut. Karena dalam kalimat ‘kuliah untuk mencari ilmu’ ada benarnya juga, meskipun ada standar pemberian nilai dengan angka atau huruf. HAHAHA.

Tapi, tak perlulah sedih gundah galau merana sampai mabuk-mabukan. Karena ilmu atau ngilmu yang dalam bahasa Arab bila dibongkar terdapat tiga huruf dan makna. Pertama, Ngaliyin yang berarti tinggi, kedua, Lutfa yang berarti lembut atau halus, ketiga, Mulku yang berarti raja. Yang keseluruhanya berarti pendidikan atau ilmu itu tidak terbatas.

Misal, dosen anda cuma masuk saja dan tidak memberi atau membagi ilmunya secara penuh kepada anda, ya sebagai mahasiswa anda harus menemukan atau menggali ilmu dari dosen anda, gunakan hak anarko anda dalam mendapatkan ilmu.

Karena kita itu manusia, ingat MANUSIA, bukan burung Beo, bukan yang hanya menirukan materi yang disampaikan dosen saja. Kita harus naik diatas pola pikir konvensional, untuk menyusun pernyataan-pernyataan dari dosen agar supaya terbuka dalam paradigma baru. Kita harus mengandalkan imajinasi kita sebanyak mungkin pada logika, dan mengintegrasikan berbabagi macam ide, untuk menyambut realitas-realitas, dan jika nantinya gagal kita sudah terlatih dan bertoleran terhadap kegagalan. Jadi, fleksibilitas kognitif kita harus sering-sering dilatih supaya tidak terkaget-kaget dan terheran-heran saat muncul berbagai masalah.

Namun, bagaimana jika sebuah fleksibiltas kognitif dikaitkan dengan Privilege atau hak istimewa?. Jika kita melihat pada riset The SMERU Research Institute yang membahas mengapa anak-anak dari keluarga miskin memiliki pendapatan 87% lebih rendah ketika dewasa daripada anak-anak yang lahir dari keluarga yang kaya.

Privilege atau hak istimewa adalah sebuah hal yang tidak bisa kita pilih. Segala kemudahan finansial, kesehatan, keluarga yang utuh dan keharmonisan asupan ilmu pengetahuan dan wawasan dalam keluarga. Kemudahan akses pendidikan dan hal-hal istimewa yang jika kita dapatkan semasa kecil akan berdampak besar ketika kita dewasa. Meski tak bisa kita generalisir bahwa anak yang lahir dari keluarga kaya lebih baik ketimbang anak dari keluarga miskin.

Hak istimewa semacam itu adalah sebuah keuntungan bagi sebagian anak yang tidak dapat ditemui oleh anak lainya. Anak yang lahir dari keluarga kaya mungkin saja bisa memilih untuk kuliah dimana atau bahkan bisa sampai bingung, sedangkan anak yang tidak mempunyai hak semacam itu, hanya akan bingung untuk melanjutkan kuliah atau tidak, dikarenakan faktor finansial.

"Gantunglah cita-citamu setinggi langit, dan bermimpilah setinggi langit. Maka, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.”. 

Dari kutipan Bung Karno diatas, saya pribadi menilai sangat tidak efefktif. Jika kita melihat seorang anak yang terlahir dari keluaga miskin, bagaimana jika seorang anak miskin mempunyai cita-cita dan harapan yang sedemikian besar, bukankah malah akan membebani orangtua?. Seorang anak yang bercita-cita menjadi menjadi Hakim, namun orang tuanya tidak punya biaya untuk kuliah difakultas Hukum, belum lagi untuk menjadi PNS. Kan ada Beasiswa? untuk mengejar beasiswa harus pintar dulu, punya nilai bagus, dan untuk mendapatkan hal itu perlu Pendidikan yang bagus, dan itu perlu biaya yang tidak sedikit. Lain hal jika mempunyai Privilege, mereka akan tumbuh dan berkembang tanpa repot-repot stress dan memikirkan besok mau makan apa, dan hal yang demikian akan mendorong anak berkembang sesuai passion mereka.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Fleksibilitas Kognitif dalam Belenggu Dunia Pendidikan "

Posting Komentar