Kesenjangan Ekonomi dan Munculnya Salafisme di Cilacap

Oleh; Fajar Assidiq (Peneliti & Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro)


Salafisme sebagai ideologi memberikan prinsip-prinsip dan sebuah metode untuk menerapkan keyakinan agama terhadap isu-isu dan masalah-masalah dalam dunianya. Keyakinan agama ini dilandasi dengan mengikuti secara ketat konsep tauhid (kepercayaan terhadap keesaan Allah) yang dibagi menjadi tiga cabang, yakni tauhid ‘uluhiyah (kesatuan ibadah), tauhid rububiyah (kesatuan ketuhanan) dan tauhid al-asma’wa al-sifat (kesatuan nama dan sifat Allah). Bagi Salafiyyin (jamaah Salafi) makna dari ketiga tauhid tersebut terangkum dalam ucapan “La Ilaha Illa Allah,” (Tidak ada Tuhan selain Allah). Dengan ucapan ini, Muslim telah menetapkan dirinya beribadah hanya kepada Allah dan ucapan ini pula yang menjadi dasar semua aspek kehidupannya.

Implementasi ajaran tauhid ‘uluhiyyah mengandung makna bahwa manusia menyembah hanya kepada Allah semata (kekuasaan adalah milik Allah). Dengan demikian, mereka menolak sistem penguasaan di luar sistem hukum Allah (syari’ah) yang berarti secara langsung mereka menolak tatanan pemerintahan demokrasi. Salafiyyin mengklaim bahwa mereka yang tidak patuh terhadap hukum syari’ah sebagai toghut.
Al-Wala wal Bara
Untuk menjaga kemurnian tauhid, Salafisme menegakkan salah satu pilar ideologi, yakni al-wala wal bara. Al-wala berarti mencintai, mendukung, menolong, mengikuti dan mempertahankan. Sementara, al-bara berarti meremehkan, meninggalkan dan mencela. Secara sederhana ajaran ini menyiratkan bahwa tiap Muslim yang menyatakan diri beriman kepada Allah harus mencintai, menolong dan mempertahankan Islam dan umat Islam lainnya sekaligus pada saat yang sama menjauhkan dirinya dari pengingkaran dan pengaruh orang kafir. 
Dengan demikian, untuk menjaga ajaran ini tetap utuh terjaga (tidak terkontaminasi) maka Salafiyyin cenderung lebih memilih untuk hidup dan tinggal dalam kelompok, komunitas yang terikat kuat (enklaf) yang umumnya mereka lakukan supaya terlindung dari pembaruan ajaran Islam (bid’ah). Didampingi itu juga bertujuan agar persatuan mereka semakin kuat untuk menghadapi musuh-musuh Islam (kafir).
Dalam kehidupan sehari-hari di enklafnya, Salafiyyin mengikuti tata cara eksklusif dalam berperilaku dan berpakaian. Hal ini, juga sebagai upaya menjaga sekaligus mengimplementasikan ajaran al-wala wal bara. Hal ini dilakukan untuk membedakan diri mereka dengan orang-orang non-Muslim. Oleh karena itu, untuk cara berpakaian mereka menggunakan baju putih panjang, celana longgar yang panjangnya di atas mata kaki. 
Disamping itu, mereka juga menggunakan surban serta memanjangkan jenggot dan mencukur rambut. Namun, dalam beberapa pengamatan di Cilacap yang paling identik dengan cara berpakaian Salafi adalah menggunakan celana longgar yang panjangnya di atas mata kaki, memanjangkan jenggot dan mencukur rambut serta menggunakan penutup kepala atau kopiah. Sedangkan para wanita memakai baju gelap panjang. Mereka hanya diperbolehkan berhubungan dengan pria jika didampingi suaminya. Ada di antara mereka juga menolak semua jenis hiburan, seperti musik, film dan tempat-tempat keramaian, seperti kafe, diskotik dan klub-klub dansa. Selain itu, parfum yang wanginya berlebihan, bioskop, televisi dan foto-foto dipandang sebagai budaya orang kafir. Maka demikian, sebagian besar Salafiyyin justru mengharamkannya.
Simpulan Singkat
Pada argumentasi di atas sudah sedikit diuraikan tentang kondisi sosio-ekonomi Kabupaten Cilacap. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa meskipun Cilacap merupakan kota industri namun belum bisa menyerap tenaga kerja secara signifikan terutama tenaga kerja lulusan SMA dan sederajat. Selain itu, meskipun, Cilacap memiliki UMR yang lebih besar dibandingkan dengan daerah lain di Karesidenan Banyumas, namun belum bisa menaikkan taraf ekonomi masyarakat secara signifikan. Akibatnya tekanan yang demikian itu menjadi pemicu munculnya gejolak identitas yang khususnya dirasakan oleh masyarakat dengan rentang umur 18-24. Dalam rentang umur ini yang paling banyak terkena dampak salah satunya buruh.
Halaqah dan Daurah Sebagai Alternatif
Sebagai tanggapan alternatif untuk meminimalisir gejolak identitas tersebut maka Salafisme hadir memberikan alternatif dalam bentuk halaqah dan daurah. Yang mana halaqah dan daurah ini berperan penting dalam memberikan pesan dogmatis bahwa kehidupan manusia di dunia tidak melulu mempersoalkan tentang kebutuhan materil namun yang lebih hakiki adalah kesusksesan mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya, yakni akhirat. 
Dalam kata lain, susah hidup di dunia tidak mengapa yang penting kebahagiaan di akhirat dapat tercapai. Pesan-pesan yang demikian ini cenderung meminimalisir terjadinya gejolak identitas yang dirasakan. Maka tidak heran bahwa dalam beberapa kali penulis melakukan pengamatan pada kegiatan-kegiatan halaqah dan daurah di beberapa masjid dan pesantren di Cilacap, ternyata tidak sedikit para peserta tersebut berasal dari kalangan remaja dan buruh pabrik. Dan, dalam kesempatan yang sama ketika penulis melakukan wawancara dengan beberapa peserta mereka menanggapi bahwa kegiatan halaqah dan daurah tersebut memberikan efek batiniah berupa ketenangan jiwa yang juga memunculkan optimisme hidup di dunia meskipun serba kecukupan.
Halaqah dan Daurah Sebagai Pintu Masuk Munculnya Salafisme
Tidak hanya menjadi peserta, biasanya para peserta yang sudah relatif lama mengikuti kegiatan halaqah dan daurah juga menjadi pendukung terselenggaranya acara tersebut dengan menjadi donatur. Donasi ini dapat berupa donasi untuk pembangunan masjid, pesantren maupun sekolah-sekolah Salafi yang nantinya digunakan sebagai media strategis penyelenggaraan halaqah dan daurah. Meskipun dalam beberapa temuan acara halaqah dan daurah juga sering diselenggarakan di masjid-masjid milik pemerintah maupun milik perusahaan. Hal ini tentu semakin menyemarakkan kemunculan Salafisme di Cilacap.

Tidak hanya sebagai donatur, biasanya para peserta yang tertarik dengan kajian-kajian halaqah dan daurah kemudian menyekolahkan anak-anaknya di yayasan-yayasan Salafi. Yang mana nantinya para lulusan yayasan Salafi tersebut menjadi salah satu agen utama penyebaran Salafi di Cilacap bahkan di kota-kota lain, entah nantinya mereka menjadi pendakwah, ustaz, guru, maupun menyebarkan Salafi sebatas di lingkungan keluarganya. Selain itu, juga ada kecenderungan para peserta lama kemudian mengajak beberapa rekan buruh dan pengangguran lainnya untuk mengikuti kajian-kajian halaqah dan daurah. Biasanya dimulai dari keluarga dan orang-orang terdekat di tempat kerjaan. Ritme yang demikian ini terus berlanjut hingga sekarang.

Terakhir ketika penulis mengikuti kegiatan halaqah di Masjid Agung Darussalam Cilacap setidaknya terdapat lebih dari 300an peserta yang sebagian remaja dan buruh di Cilacap yang datang secara sukarela baik datang secara individu, bersama teman sekantor maupun datang beserta keluarganya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kesenjangan Ekonomi dan Munculnya Salafisme di Cilacap"

Posting Komentar