Menjadikan Ekofeminisme Sebagai Jantungnya Ekososialisme

Oleh: Juca Aiyolanda (Mahasiswa Magister Filologi Universitas Indonesia)


Menyambut perkembangan industri dan pegerakan wacana kebahruan yang merambat ke dalam setiap elemen-elemen masyarakat, hal ini seolah memberi narasi bahwa negara akan bisa maju dengan pembangunan yang masif bergerak mengukuti gelombang negara lainnya. Akan tetapi, wacana tersebut seolah tergesa-gesa, dan terkesan tidak mengindahkan sirkulasi dari perubahan alam yang terjadi di tengah krisis ekologi.

Krisis ekologi seolah tenggelam dan terkadang riak sesekali dipermukaan di tengah perang narasi politik, ekonomi, dan teknologi yang lebih dulu mengglobal. Menyikapi kesadaran palsu dalam wacana kebahruan  yang mengesampingkan lingkungan, tentunya kita membutuhkan arus-arus dari figur-figur yang bergerak dalam menghadapi krisis lingkungan.

Menghadapi Climate Change  yang diakibatkan oleh komodifikasi alam secara berlebihan hanya bisa diantisipasi dengan System Sosial Change. Dan, tidak bisa dipungkiri bahwa secara global kita membutuhkan peran wanita dalam krisis lingkungan. Menarik sudut pandang dari kritik feminisme akhir yang mengaitkan persoalan perempuan dengan lingkungan(ecokologis), bahwa ecofeminisme  bisa menjadi kritik cukup berbobot membaca penyelesaian penindasan perempuan dan krisis ekologi (penindasan perempuan dan degradasi lingkungan), dan sejarah narasi perempuan dan lingkungan membuktikan perannya dalam lembar sejarah.

Nakedness and Power, melawan dengan ketelanjangan, menjadi senjata kaum wanita Afrika untuk mengusir tentara Moi. Nairobi 1992 membuktikan pegerakan kaum wanita berhasil meruntuhkan gerak kapitalisme  oleh Daniel Arap Moi yang memerintahkan seluruh rakyatnya untuk menanam kopi untuk dieskpor, sedangkan krisis pangan telah mengancam nyawa rakyatnya. Gerakan tersebut berhasil, dan para wanita bisa menanam pangan untuk keluarganya. Di Tahun 2002 pegerakan wanita juga hadir di kaum wanita Nigeria yang memboikot pabrik CHEVRON, akan tetapi itu berujung dengan tindakan pemerkosaan belasan wanita oleh security pabrik. Ecofeminisme membaca bahwa gerakan tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap narasi kapitalisme yang menjalar dalam sebuah negara atau wilayah, yang sangat disayangkan menimbulkan korban kekerasan terhadap kaum wanita dalam kejadian tersebut.

Sebagai refleksi yang dalam bahwa alternatif yang disajikan kritik ecofeminisme bisa hadir dalam cara-cara yang minim resiko, tidak mesti harus se-ekstrem dalam kasus sejarah kaum wanita Nairobi dan Nigeria. Menyikapi narasi lingkungan dan pergerakan wanita hari ini maka kritik ecofeminisme juga bisa menjadi jantung dari ecososialisme.

Ecososialisme bisa dibaca sebagai sosiologi dalam ruang lingkup ekologi. Untuk kasus ruang lingkup sosial masyarakat Jambi, konsep Zikezian “being with other” dan “big other”  bisa menjadi alterntif  baru. Melihat atmosfer generasi milenial yang sudah mulai mawas dan peduli dengan isu-isu masyarakat. Konsep dimana narasi dan diskursus krisis lingkungan dan pergerakan kaum wanita bisa diluaskan lagi dengan berkaloborasi dengan  gerakan-gerakan tersebut seperti, gerakan Penggiat Literasi, Seniman, Akademisi atau komunitas yang lainnya.

Kaloborasi itu bisa hadir dalam prakik sosial baik pergerakan atau diskusi aktif, selain sebagai sarana ruang bicara untuk membangun pondasi narasi dan diskursus wanita dan pergerakan lingkungan dalam ruang publik, serta juga menjadi bendungan yang menahan luapan wacana-wacana global yang mengesampingkan krisis ekologi pada hari ini.

Khususnya di provinsi Jambi, krisis ekologi secara global terlihat nyata beberapa tahun belakangan dengan bencana kabut asap akibat pembakaran lahan dan berbagai kerusakan ekosistem air oleh kegiatan penambangan.

Kerusakan yang hadir tidak menjadikan elemen air, hutan, dan, tanah sebagai bagian dari kehidupan, seperti halnya suku-suku pedalaman asli Indonesia yang mengemban tradisi bahwa kosmologi elemen tersebut memiliki nyawa dan harus dijaga seperti mereka menjaga sesama. Air, hutan, dan tanah juga ditafsirkan sebagai seorang ibu, dan sangat tepat lah menghadirkan peran wanita untuk membangun lingkungan ekologis yang sehat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menjadikan Ekofeminisme Sebagai Jantungnya Ekososialisme"

Posting Komentar