Barista Goko dan Kopi Persahabatan

Oleh: Krisnaldo Triguswinri (Editor Terinews)


Menjamurnya coffe shop hampir di tiap sudut Kota Magelang menjadi tanda bahwa kuantitas penikmat kopi dan coffe market pelan-pelan menjadi tren baru di Magelang. Coffe shop tidak sekadar menjadi fasilitas demi dihidupkannya pasar ekonomi, lebih jauh dari itu, ia berkontribusi mengaktivasi ruang publik kota. Salah satunya adalah D/MI Coffe. Cafe sederhana yang terletak di bilangan Tengah Kota Magelang; Jalan Mayjend. Sutoyo, Cacaban.

Saya tidak memiliki pengetahuan komperhensif menyoal kopi. Tidak pernah detail memahami kalkulasi dan metodologi para barista handal yang kerap menghasilkan variasi rasa ketika mengolah sebuah kopi. Serta gagap mempercakapkan jenis-jenis kopi; mulai dari warna, filosofi, daerah dimana ia di tanam, proses rosting, pola nyedu, suhu air, dll.

Sahabat saya, Goko Aji Pratama, yang pernah menjadi my crazy classmate di Fisip, mengajarkannya kepada saya. Goko belakangan mempelajari hal-hal yang beririsan dengan kopi. Mengeksperimenkan alat-alat pembuatan kopi pada laboratorium ruang kerjanya di cafe. Giat mencari feel otentik rasa kopi buatannya sebagai legacy dari ke-khas-an yang hendak ia promosikan di D/MI. Hingga cara ia mengglorifikasi ragam menu dan kehangatan para tamu sebagian bagian mutlak yang hendak ia tawarkan sebagai konsep.

Ada banyak pertanyaan tak masuk akal dalam benak saya ketika mengetahui bahwa Goko mulai menggeluti dunia perkopian sebagai barista. Sejauh dan selama ini, saya hanya percaya bahwa Goko adalah peracik Vodka terbaik Tuguran. Atau sebagai kompetitor pocker in bed saya di Secang. Hanya itu, dan tidak lebih. namun, persis setelah ia memberi keterangan masuk akal menyoal kopi, asumsi brutal saya hilang.

D/MI Cafe dengan Goko sebagai baristanya, mampu mengundang dan menghubungkan lebih banyak pertemuan intim serupa new kind of sweet reunion in between untidar students. Terpisah oleh jarak, terpecah oleh kesibukan, namun terhubung oleh Goko dan D/MI. Oleh karena itu, D/MI dan Goko harus dianggap penting sebagai kontributor  terciptanya ruang baru yang menghubungkan pertemuan persahabatan yang sempat hilang akibat tiadanya ruang tongkrong seperti 2 atau 3 tahun sebelumnya.

Proposal Pendek Untuk Goko dan D/MI

Cafe kopi hari ini tidak sekadar menjadi ruang pertemuan muda-mudi yang hendak memproduksi cinta kasih melalui obrolan romantiknya di cafe. Tidak juga sekadar fasilitas pelepas penat para pekerja yang lelah dieksploitasi para majikan. Warung kopi berubah secara transformatif menjadi mimbar sosial-budaya. 

Lebih jauh lagi, dalam sejarah ilmu pengetahuan, cafe-cafe di sepanjang kota Paris justeru menjadi lokasi primer untuk memulai percakapan kemanusiaan para aktivis seperti Jean-Paul Sartre, Albert Camus, dan Cohn Bendit, yang kemudian menjadi peralatan bertengkar dengan ketidak adilan, pelanggaran atas hak asasi manusia, dll.

Sangat mungkin D/MI Coffe menjadi ruang sosial serupa bistro-bistro yang berlokasi di sepanjang Kota Paris: bukan menjadi ruang obrol para filosof di atas, namun menjadi ruang konsolidasi aktivis Magelang Bergerak seperti Arjo, Felix, Buyung, dll. Menjadi panggung musik Dolop dan musisi lainnya. Atau menjadi ruang diskusi ilmiah Siam, Lukman atau Arief. Atau menjadi ruang curhat Dewok, Lauren, dan Satrio. Atau bahkan ruang rapat Ikan Teri Production dan komunitas-komunitas lainnya di kota. 

Sebab, dalam warung kopi, hanya terdapat satu jenis syahadat; percakapan. Oleh karena itu, warung kopi sebagai ruang publik terbuka harus mampu tumbuh dalam iklim kesetaraan, keharmonisan, dan kebebasan sebagai representasi diaktifkannya ulang nalar sosial, kritisisme, dan empati untuk mengambil keterlibatan pada mereka yang tersisih akibat rasisme, mereka yang inferior, mereka yang tak mampu mengases ruang publik, dan mereka yang kurang beruntung dalam hidup ini. 

pada akhirnya, bila kita hendak menyebut warung kopi sebagai ruang publik baru, maka, ia harus mampu mengorganisir status aktivasi ruang publik yang bernilai guna.

Oleh karena itu, mendiskusikan warung kopi inheren dengan aktivasi ruang publik. Habermas, filsuf sosial asal Jerman, mengedarkan jenis pengalaman baru menyoal ruang publik melalui bukunya yang terkenal; The Structural Transformation of The Public Sphere; an iquairy into a category of bourgeois society. Inti tesis Hebermas adalah penggunaan ruang bebas guna keberlangsungan pertukaran argumentasi oleh orang-orang yang hadir di dalamnya.

Dalam teorisasi yang dipromisikan oleh Habermas, setidaknya saya beranggapan bahwa warung kopi dapat menjadi ruang informatif untuk memberlangsungkan agenda sosial masyarakat; debat aktivis akar rumput, diskusi kelompok studi, salon kesusastraan, pemutaraan film dokumenter, pertemuan umum, dll. Sebab menyempitnya ruang publik terbuka akibat hegemoni kekuasaan politik, berdampak pada meluasnya warung kopi sebagai ruang publik alternatif; kebebasan berbicara.

Penutup

Terima kasih kepada Goko dan D/MI Coffe yang sudah berbaik hati mempersilahkan saya dan banyak teman-teman untuk menggelar reuni sederhana beberapa waktu lalu. Ruang D/MI coffe dan racikan kopi persahabatan Goko sungguh penting dan berarti bagi dimunculkannya ulang memori demi memori persahabatan kita semua selama menempuh kebrutalan di Untidar. Pun, terima kasih sudah mempersilahkan teman-teman untuk nantinya menggelar hajat agenda apapun di ruang itu. 



Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Barista Goko dan Kopi Persahabatan"