GEN: Sifatku, Sifatmu Juga

Oleh: Felix A. Panjaitan (Mahasiswa Peternakan)


Gen adalah untaian DNA yang menginformasikan resep untuk protein. 97% genom tubuh manusia tidak terisi gen sebenarnya. Selain gen-gen sebenarnya, seluruh genom terdiri atas sekumpulan himpunan wujud asing yang berturut-turut disebut pseudegon, retrotransposon, retropseudegon, satelit, minisatelit, mikrosatelit, transposon yang secara kolektif dikenal sebagai “DNA sampah” atau terkadang disebut “DNA egois”. – Matt Ridley, Genom.

Mekanisme evolusi dikondisikan oleh kesalingterhubungan dialektik antara gen dan lingkungannya. Sebelum Darwin, Lamarck telah mengajukan sebuah teori evolusi yang berbeda, yang menyatakan bahwa individu beradaptasi langsung terhadap lingkungannya dan meneruskan modifikasi ini pada keturunannya. Interpretasi mekanik ini telah dibuktikan keliru sepenuhnya, sekalipun ide bahwa lingkungan dapat mengubah hereditas secara langsung telah muncul kembali di Rusia, di bawah Stalin, dalam bentuk Lysenkoisme. Evolusi manusia memiliki sifat alamiah maupun sejarah. Bahan baku genetik memasuki hubungan dinamis dengan lingkungan sosial, ekonomi dan budaya. Mustahil memahami proses evolusi dengan mengambil salah satu saja tanpa menyertakan yang lain karena adanya interaksi terus-menerus antara unsur-unsur biologis dan budaya.

Telah dibuktikan secara meyakinkan bahwa kemampuan-kemampuan yang didapat dari proses belajar (yang diturunkan dari lingkungan) tidaklah dapat diteruskan secara biologis. Budaya diteruskan dari satu generasi ke generasi berikut hanya melalui pendidikan dan teladan. Inilah salah satu ciri yang menentukan, yang memisahkan masyarakat manusia dari kerajaan hewan, sekalipun elemen-elemen ini dapat pula diamati di antara kera-kera tingkat tinggi. Sangat mustahil bagi kita untuk menyangkal peran vital dari gen dalam perkembangan manusia, bahkan hal ini tidak bertentangan sedikit pun dengan materialisme. Namun, apakah dengan demikian semuanya tergantung dari gen? 

Evolusi mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Mengapa? Karena perilaku mementingkan diri sendiri (selfish) dan perilaku baik (altruism) memiliki akar dalam biologi, lebih tepatnya dalam gen. Sifat-sifat tersebut akan sangat mempengaruhi relasi antar makhluk hidup dan selanjutnya kehidupan sosial. Contoh dari sifat mementingkan diri sendiri antara lain perilaku menolak membagi sumberdaya yang berharga seperti makanan, daerah atau pasangan, yang mencapai titik ekstrim pada kanibalisme atau mengorbankan orang lain untuk keperntingan sendiri. Sedangkan sifat altruisme misalnya tampak pada lebah yang mengorbankan nyawa untuk membela sarangnya, karena sesudah menyengat musuh lebah akan mati. 

Sifat mementingkan diri sendiri timbul karena evolusi bekerja melalui seleksi alam. Hal ini berarti hanya yang paling fit yang akan dapat bertahan hidup. Namun apa yang menjadi dasar seleksi? Dimulai dari awal kehidupan di bumi. Bumi memiliki bahan mentah kimia yang melimpah seperti karbondioksida, methane, ammonia serta energy. Melalui seleksi alam tercipta sejumlah molekul yang lebih kompleks dan lebih stabil dibandingkan lainnya yang berisi asam amino, yaitu protein dan tercipta replikator (penyalin) dan menyalin dirinya sendiri. Iinilah yang disebut gen (DNA), selanjutnya gen mencari wadah untuk memperbanyak dirinya. Wadah tersebut bisa bermacam bentuk, baik berupa tanaman, binatang maupun manusia, asalkan bisa memenuhi tujuan gen, yaitu membuat salinan diri sebanyak-banyaknya. 

Makhluk hidup pada dasarnya adalah mementingkan diri sendiri. Walaupun seseorang berjuang demi keluarga, orang lain dan perbuatan baik lainnya, juga termasuk dalam hal memeningkan diri sendiri. Mengapa makhluk hidup bersedia mengorbankan diri untuk kelangsungan hidup dirinya atau orang disekitarnya? Jawabannya sederhana yaitu karena memiliki gen yang sama.  Pertengahan 1970-an, adalah fajar bagi para spesialis biologi evolusioner, terutama mereka yang tertarik pada masalah perilaku, bahwa evolusi melalui seleksi alam bukan semata-mata soal persaingan antar spesies, bukan semata-mata soal persaingan antar kelompok, juga bukan sekedar persaingan antar individu, melainkan soal persaingan antargen yang menggunakan individu-individu dan kadang-kadang masyarakat sebagai kendaraan sementara mereka.

Menurut Dawkins, semua makhluk hidup hanyalah alat bagi gen untuk terus hidup. Bahwa makhluk hidup hanya merupakan “mesin survival” (robot yang diprogram secara buta untuk mempertahankan gen) terlihat dari struktur dasar kimiawi yang hampir sama pada seluruh makhluk hidup. Betapapun berbedanya bentuk antara satu makhluk hidup dengan lainnya, antara tanaman dan binatang dan manusia, namun mereka semua memiliki strukur kimiawi yang hampir sama, dan gen, DNA, pada dasarnya adalah sejenis molekul yang sama pada semua makhluk hidup. DNA dapat dianggap sebagai “sekumpulan instruksi tentang bagaimana membuat sebuah tubuh”, sebuah resep, blueprint

Apa yang dilakukan DNA? DNA selalu memperbanyak diri dan mengawasi pembuatan bermacam molekul protein secara tidak langsung, dengan cara menerjemahkan DNA tersebut dalam asam amino yang menentukan molekul protein. Oleh karena tujuan utama gen adalah untuk hidup terus dan memperbanyak diri sebanyak-banyaknya, maka gen akan berupaya agar tubuh (makhluk hidup) yang didiaminya cukup efisien guna mencapai tujuan tersebut. Bagaimana mendapatkan efisiensi? Seperti halnya dengan ilmu ekonomi, dimana efisiensi tercapai melalui kompetisi dan selfishness, maka demikian pula di dalam alam, sehingga Dawkins menyebut gen sebagai “The Selfish Gene”. 

Makhluk hidup terkhusus manusia memilliki perilaku buruk karena adanya gen. Jauh sebelum kita memiliki bentuk dan nama, kita sudah kompetitif. Sudah menjadi sifat bahwasanya kita jauh lebih tertarik pada yang namanya material atau sesuatu yang realistis, seperti nilai (IPK) pada Mahasiswa. Belakangan ini sangat banyak orang yang menyindir atau membicarakan kehidupan orang yang sangat kompetitif (capital) dengan bual-bualan sosialisme. Halah…Bangke!!! Sama seperti di dalam kehidupan kampus, “buat apa IPK tinggi??” ada juga “mahasiswa sekarang hanya tertarik pada nilai (IPK) tidak lagi pada tugasnya yang mana kita mahasiswa adalah agent of change” HAHAHAHAHA..!!  Setiap individu memiliki tujuan, dan mencapai tujuannya dia harus bersaing dan bekerja, dan juga setiap perlakuan memiliki tolak ukurnya juga. 

Jangan heran mengapa inidividu tertarik pada nilai atau sesuatu yang kompetitif, karna pada dasarnya sifat kita adalah turunan dari gen yang akan memperbanyak diri sampai sebanyak banyaknya sampai tubuh kita efektif dan efisien dalam mencapai tujuannya dan menerapkan sistem kompetitif atau seleksi alam. Kita akan terus saling bersaing sampai tujuan kita tercapai apa itu anda seorang komunis, kapitalis, anarko atau bahkan seorang sosialis sekalipun. Mengapa? Karna semua makhluk adalah Individualisme.

“Tapi bisakan sifat dari gen itu berubah? Jika ada apa yang bisa merubahnya? Atau memang sudah mutlak begitu.” Ntahlah…Tunggu saja di part 2. 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "GEN: Sifatku, Sifatmu Juga"

Posting Komentar