Apakah Pandemi Global ini Produk Agenda Elit Malthusian dan Peperangan Biologis Amerika Serikat?

Oleh: Max Parry (Jurnalis Independen dan Analis Geopolitik New York)

Pada 11 Maret lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan persebaran wabah penyakit coronavirus (COVID-19) menjadi sebuah pandemi global, pertama kali sejak wabah H1N1 flu babi di 2009. Pada awalnya dilaporkan di kota Wuhan di Cina Tengah pada Desember lalu.

Dalam empat bulan saja, sudah lebih 150.000 kasus di lebih dari 130 negara yang memutuskan kebijakan lockdown, sehingga ekonomi dunia nyaris berhenti. Sementara Repubrik Rakyat China (RRC) adalah negara pertama yang melaporkan COVID-19, ada dugaan yang luas bahwa coronavirus (SARS-CoV-2) mestinya telah muncul di ibukota provinsi Hubei yang belum dalam pengawasan yang cukup oleh media Barat.

Pertanyaan apakah COVID-19 coronavirus datang dari tentara AS, secara kontroversial muncul dari juru bicara Kementrian Luar Negeri China, Lilijian Zhao, yang mengutip sebuah artikel dari website Center for Research on Globalization yang kemudian viral. Dengan dalih khawatir akan tersebarnya “misinformasi”, liputan-liputan media Barat serempak menghindari sumber artikel Zhao yang disebarkan melalui sosial media itu, sambil melepaskan klaim-klaim seputar teori “konspirasi”. Sementara itu Kepala Pertahanan Sipil Iran juga mengatakan, coronavirus bisa jadi sebuah serangan biologis yang ditujukan kepada China dan Iran. Sebab, Republik Islam ini merupakan negara ketiga yang paling terdampak dengan lebih dari 12.000 kasus, jumlah yang banyak termasuk mereka yang duduk di pemerintahan dengan beberapa pejabat senior yang juga terdampak.

Berlawanan dengan banyak media mainstream yang cenderung sekedar menakut-nakuti, dugaan ini benar-benar masuk akal dan mesti terus dibiarkan untuk berspekulasi tentang asal-usul virus ini. Pendapat Zhao mengenai teori tersebut mendapat respon keras dari pemerintahan AS dengan menyatakan, betapa berbahayanya gaung propaganda mereka. Meskipun penyakit ini secara luas diperkirakan penularannya semula melalui hewan, karena pengelompokan kasus ini pertamakali dikaitkan dengan pasar makanan laut Wuhan yang memperdagangkan hewan-hewan liar di akhir Desember lalu, faktanya kasus yang pertamakali diketahui, sudah ditemukan jejaknya pada awal bulan Desember dan ada kemungkinan bukan berasal dari hewan. Para pakar politik menduga coronavirus adalah efek dari senjata biologis China yang tidak sengaja bocor, yang bersumber dari sebuah laboratorium di Wuhan, suatu teori yang terpampang di halaman-halaman propaganda media kolot seperti Washington Times, kemudian sebuah koran yang dimiliki oleh pendiri kelompok persatuan gereja korea sayap kanan, Sun Myung Moon, juga seperti The Epoch Times-nya kelompok fasis religius sekte ekspatriat China, dan media jaringan-CIA Falun Gong.

Meskipun demikian, benar bahwa Wuhan Institute of Virology memiliki hubungan dekat dengan laboratoriun nasional Galveston di Texas University, salah satu program pertahanan biologis militer terbesar milik Pentagon. Sementara tidak ada bukti nyata bahwa pemerintah China harus bertanggung jawab terhadap COVID-19. Lagi pula RRC tidak memiliki sejarah keterlibatan dalam hal bio-perang, justru ada banyak bukti melimpah bahwa pemerintah AS sedang mengembangkan industri bio-perang dan telah menggunakannya sejak perang Korea.

Ketika pertamakali gugatan-gugatan dibuat oleh Korea Utara dan China bahwa AS yang telah menggunakan senjata biologis dan mokroba pada perang Korea 1950-1953, langsung dibantah oleh Washington sebagai berita bohong dan ditentang oleh WHO yang bias Barat. Beberapa dekade sejak itu, AS terus mempertahankan bantahannya, sementara debat akademik tentang isu ini terbelah. Bagaimanapun sebuah laporan yang tidak tertulis pada 1952, dari sebuah investigasi yang disponsori oleh Dewan Perdamaian Dunia (The World Peace Council) dan diolah oleh komisi sains internasional (The International Scientific Commission) yang dipimpin oleh Josep Needham, seorang ahli biokimia Inggris yang memiliki reputasi tinggi di masanya, telah diungkap pada 2018 dan menyajikan bukti kuat mengenai tuduhan-tuduhan itu, termasuk saksi mata, bukti fotografi dan pengakuan-pengakuan yang terdokumentasikan oleh American POWs.

Lebih menghawatirkan lagi, investigasi itu mengindikasikan keterkaitan-keterkaitan langsung antara program senjata biologis AS dan program senjata mikroba Unit 731, sebuah unit perang kimia dan biologis rahasia milik Imperium Jepang selama perang dunia kedua. Selama perang dingin, para peneliti Jepang secara rahasia diberi ramuan imunitas dan direkrut oleh AS dalam rangka pertukaran pengetahuan sebuah eksperimentasi kepada manusia, juga bersama banyak mantan ilmuwan Nazi dalam Operasi Paperclip.

Unit 731 dari tentara Imperium Jepang telah mengumpulkan data, bukan hanya melakukan percobaan mematikan kepada manusia, tetapi juga pengujian “bom wabah” pada lingkungan dengan menjatuhkannya di kota-kota di China saat itu, untuk membuktikan apakah bom itu benar-benar menimbulkan wabah penyakit atau tidak. Banyak dari taktik ini kemudian dilanjutkan oleh AS pada Perang Korea.

Menurut Stephen Kinzer, jurnalis dan penulis “Poisoner in Chief: Sidney Gottlieb and the CIA Search for Mind Control”, bahwa proyek MK-ULTRA milik CIA yang dikoordinir oleh laboratorium-laboratorium perang biologis tentara Amerika: “…pada dasarnya sebuah lajutan dari kerja-kerja yang dimulai di kamp-kamp konsentrasi Jepang dan Nazi. Bukan saja kurang lebih didasarkan pada eksperimen-eksperimen mereka, tetapi CIA sungguh mempekerjakan para viviseksi dan para penyiksa yang pernah bekerja di Jepang dan di kamp-kamp konsentrasi Nazi untuk datang dan memaparkan apa yang mereka temukan, sehingga kami dapat mengembangkan riset mereka.”

Frank Olson, salah seorang ilmuwan senjata biologis dan pekerja CIA dalam sebuah program yang melibatkan pembunuhan misterius pada 1953, adalah subjek seri sebuah drama dokumenter Netflix, Wormwood, yang disutradarai oleh Errol Morris dan ditulis oleh jurnalis terkenal Seymour Hersh, menamp-ilkan Olson sebagai informan pemerintah yang potensial dalam kegiatan-kegiatan CIA dan kejahatan perang biologis AS. Perlu dicatat bahwa penggunaan agen-agen di dalam Perang Korea, termasuk target-target di China adalah yang terakhir dan satu-satunya konflik bersenjata antara AS dan China, maka jika sekarang pamdemi COVID-19 terbukti produk senjata perang biologis AS melawan China, itu bukan yang pertama kalinya.

Secara resmi AS menyatakan diri telah meninggalkan program senjata biol8ogisnya pada 1969, akan tetapi instalasinya di Fort Detrick, Maryland, terus melakukan penelitian tentang pathogen dan virus mematikan dengan dalih tujuan perlindungan biologis seperti memerangi wabah penyakit, mengembangkan vaksin, dan kepentingan-kepentingan publik lainnya. Namun, baru setahun yang lalu, penelitian tentang virus dan senjata biologis yang fatal itu ditangguhkan dengan alasan khawatir tidak sengaja lepas. Penelitian senjata mikroba oleh Fort Detrick terakhir ditangguhkan pada 2009 setelah Pentagon menemukan ketidaksepahaman dalam soal penginventarisan agen-agen penularnya, dan di tahun yang sama pandemi H1N1 flu babi mewabah.

Fort Detrick berada di bawah pembatasan ketat, sejak pada 2001 serangan antraks ditelusuri sampai ke Bruce Ivins, seorang senior peneliti perlindungan biologis di lembaga itu. Pelaku terduga dan ahli biologi tentara itu melakukan bunuh diri di tahun 2008 setelah mengetahui bahwa FBI akan mendakwa dirinya dengan dakwaan terorisme, yang jika terbukti benar akan berarti bahwa penelitian perlindungan biologis Pentagon sendiri telah menyebabkannya alih-alih melindungi masyarakat Amerika dari bioterorisme – meskipun banyak bukti yang menunjukkan bahwa Ivins dijebak oleh “the feds”.

Sebagaimana jurnalis Whitney Webb ungkapkan, kantor cabang riset medis tentara Amerika di Maryland telah bekerjasama dengan Wuhan Institute of Virology selama beberapa dekade sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Bermain-main seputar organisme-organisme yang dapat memproduksi penyakit adalah sebuah praktek yang biasa bagi Pentagon. Pada 2005, para ilmuwan AS mengumumkan bahwa mereka telah sukses menciptakan ulang virus influenza flu burung di sebuah laboratoratorium yang telah membunuh hampir 50 juta orang di tahun 1918, yang dikenal luas sebagai “flu Spanyol”. Nama ini sebenarnya keliru, karena ia disematkan secara tidak pas pada Spanyol yang netral di Perang Dunia Pertama, dan hal ini tidak diberlakukan penyensoran pers pada masa perang saat itu, untuk meningkatkan semangat seperti di Jerman, Inggris, Prancis dan AS yang pada awalnya media-media mereka mengabaikan dampak pandemi di negara-negara mereka masing-masing.

Sumber-sumber geografis flu Spanyol ini masih menjadi subjek yang banyak diperdebatkan, tetapi observasi penyakit ini pertamakali di instalasi militer AS di Fort Riley, Kansas pada 1918. Tidak perlu diucapkan lagi, resiko-resiko yang ditimbulkan oleh pembangkitan sebuah penyakit yang melahap lebih dari seperempat populasi dunia ini bukan hal sepele, tetapi ini tidak mencegah U.S. Armed Forces Institute of Pathology menggali kode genetik flu Spanyol tersebut dari mayat perempuan Alaska yang membeku yang digali dari tanah, yang meninggal akibat flu tersebut di kota Inuit pada 1918.

Tidak ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa flu babi 2009 berasal dari Meksiko menyebar melalui penularan hewan babi yang mengalami kebocoran flu Spayol yang dibangkitkan, justru wabah flu babi ini sebelumnya pada 1976 dimulai di sebuah pangkalan militer AS di Fort Dix, New Jersey, sebagaimana flu Spanyol tahun 1918. Setelah administrasi Gerald R. Ford membunyikan senapan dan mengumumkan sebuah epidemi flu yang menyusul kematian seorang tentara, sebuah program imunisasi masal yang tanpa uji efek samping yang tepat diberikan secara fantastis kepada 45 juta orang, yang tepatnya seperempat populasi seluruh AS pada saat itu, yang justru akhirnya membunuh banyak orang Amerika, alih-alih menumpas penyakit itu sendiri. Skandal itu menaburkan benih ketidakpercayaan publik mengenai inokulasi setelah lebih 450 orang menderita sindrom Guillain-Barre dan 25 orang meninggal akibat imunisasi sebelum ia dihentikan.

Karena program vaksinasi wajib itu diimplementasikan lagi di AS untuk COVID-19, pemerintah harus meyakinkan publik karena kelalaian yang mereka perbuat sebelumya agar efek samping serupa tidak terulang lagi, sebuah skenario yang mustahil setelah pelanggaran perusahaan yang terekspos di Wall Street beberapa tahun terakhir yang melibatkan perusahaan-perusahaan besar farmasi.

Bagaimanapun, Big Pharma (perusahaan farmasi raksasa) itu bersedia bekerjasama dengan militer AS untuk mengembangkan sebuah vaksin coronavirus yang mesti diuji sebelum diberikan lisensi oleh Administrasi Makanan dan Obat-obatan dan dirokumendasikan penggunaannya oleh Pusat Pengontrolan dan Pencegahan Penyakit (the Center for Desease Control and Prevention/CDCP), yang mana kedua lembaga itu bekerjasama dengan WHO yang menjadi kontributor pembiayaan terbesarnya adalah pemerintah AS.

Salah satu sponsor terbesar WHO yang lain adalah Bill and Melinda Gates Foundation yang dengannya menjalin kemitraan dalam hal vaksinasi. Milyarder pendiri Microsoft Corporation telah menggunakan kekayaannya yang luar biasa itu untuk menghindari pembayaran pajak dengan berkedok filantropi, dan perusahaan amal miliknya tersebut telah sangat fokus untuk menghasilkan vaksin bagi negara-negara berkembang, dan konon demi untuk mengatasi kemiskinan global, khususnya di Afrika. Di permukaan ini boleh jadi tampak sebagai kerja-kerja kedermawanan, tetapi seperti juga banyak apa yang disebut proyek-proyek altruistik (kepedulian terhadap orang lain) lain, ia merupakan skema yang memungkinkan para plutokrat seperti Gates ini mempengaruhi kebijakan global dan memperoleh kekuatan politik tanpa akuntabilitas pun dengan berinvetasi dalam memperbaiki masalah sosial yang disebabkan oleh sistem yang membuat dirinya kaya raya itu, bersama agenda-agenda ekspansi neoliberalisme yang menjadi agenda riil mereka.

Konsekuensi dari semua ini dapat didilihat dari proyek kedermawanan yang sedang membawa Gates pada orang-orang Kongo dengan memaksakan sistem agribisnis lokal mereka menggunakan bibit-bibit yang hanya menguntungkan perusahaan swasta raksasa seperti Monsanto.

Hal yang lebih merisaukan adalah terkait masalah lingkungan, mengenai perubahan iklim buatan manusia itu, Gates telah menyatakan pandangannya kepada publik bahwa pembatasan pertumbuhan populasi manusia adalah solusinya. Di sebuah konferensi TED 2010, Gates menyatakan:
“Pertamakali kita memperoleh populasi. Dunia hari ini memiliki 6,8 milyar manusia. Itu bisa menuju ke sekitar 9 milyar-an. Sekarang jika kita melakukan pekerjaan yang sempurna pada pembuatan sebuah vaksin yang baru, layanan kesehatan, layanan kesehatan reproduksi, kita akan menjadi lebih rendah kira-kira 10-15 persen.”

Dengan kata lain, satu dari orang-orang terkaya di dunia itu menyatakan di depan publik bahwa ia yakin vaksin dapat mengurangi populasi, karenanya ia menginvestasikan uangnya untuk mengembangkan vaksin dan mengirimkannya ke negara-negara Selatan. Mitos misantropis tentang “overpopulasi” itu telah mendorong Gates dan elit lainnya tidak hanya menyarankan bahwa pengurangan populasi adalah solusi untuk memperlambat pemanasan global, tetapi juga mempertahankan logika komponen penting eugenika dengan gagasan implisit bahwa mutu kehidupan spesies manusia dapat diperbaiki dengan mencegah reproduksi manusia. Sejak negara-negara berkembang memiliki tingkat kematian rata-rata tertinggi, keluarga-keluarga cenderung menjadi lebih besar karena kemungkinan anak-anak mereka untuk bertahan hidup lebih kecil. Oleh karenanya, rasisme dan konsep kelas cenderung disalahpahami.

Mengingat sebagian besar emisi karbon diproduksi oleh segelintir perusahaan-perusahaan energi fosil dan pencemar udara terbesar di dunia adalah militer AS, mempromosikan kekeliruan yang berbahaya ini adalah cara yang terbaik bagi elit penguasa untuk memindahkan tanggung jawab perubahan iklim kepada negara-negara miskin. Sayangnya kekeliruan yang berbahaya ini dipopulerkan oleh gerakan lingkungan dan pseudo-kiri arus utama, seperti misalnya BirthStrike, sebuah kelompok yang mayoritas para aktifis feminis yang memprotes kekurangan regulasi-regulasi terkait krisis ekologi dengan menolak kelahiran anak yang tidak bertanggung jawab, yang mana disetujui oleh para politisi progresif popular seperti Kongres Perempuan Amerika Alexandria Ocasio-Cortez (D-NY). ‘AOC’ sendiri merupakan wajah Green New Deal-nya partai-partai Demokratik yang memiliki ikatan yang rumit dengan agenda-agena AS, yaitu program pembangunan berkelanjutan yang menyerukan populasi yang lebih berkelanjutan.

Pengertian yang keliru tentang “overpopulasi” yang membuat ketersesatan arah gerakan lingkungan modern hari ini adalah berkat sebuah publikasi buku best-seller karya ilmuwan Amerika Paul Ehrlich “The Population Bomb in 1968”, sebuah peringatan menakutkan yang sudah berjalan bertahun-tahun sejak menjadi terkenal karena prediksi hari kiamatnya tidak akurat, hasil dari keyakinan keliru yang tidak pernah berkembang. Para penjual isu malapetaka iklim hari ini, yang tidak diragukan lagi sebagai isu yang serius, dalam banyak hal melanjutkan ramalan-ramalan palsu Ehrlich, seorang yang dianggap sebagai generasi modern yang berpengaruh penerus seorang ekonom dan filsuf asal Inggris abad ke-18, Thomas Malthus. Tak seorang pun sarjana yang dibenci oleh Karl Marx dan gerakan kelas pekerja lebih dari pada Malthus, yang teori pseudo-scientifik-nya tentang demografi telah dikalahkan secara intelektual, sampai kemudian mereka menemukan wajah barunya berupa eco-fasisme Ehrlich. Sama seperti “population bombers”, Bill Gates hari ini mungkin mengelak dari ide-ide Malthus, yang secara khusus lebih rasis menyatakan bahwa negara-negara Utara harus menampung populasi negara-negara berkembang, tapi sebenarnya masih diam-diam mendukungnya dengan mengatakan bahwa tingkat populasi adalah sumber kemiskinan dan perubahan iklim.

Bill Gates mengutip seorang pebisnis ternama John D. Rockefeller, seorang kaya raya dalam sejarah Amerika yang memiliki sebuah bisnis monopoli minyak terbesar, seperti halnya Gates sendiri hari ini memonopoli industri komputer, sebagai sebuah inspirasi untuk menggunakan kekayaannya untuk penelitian medis sebagai fokus filantropinya. Bagaimanapun, Gates memiliki kesamaan dengan Keluarga Rockefeller terkait pandangannya mengenai populasi, karena Rockefeller adalah satu-satunya pendonor terbesar bagi gerakan eugenika Amerika di tahun 1920-1930-an dan membantu mendirikan cabangnya di Jerman, bahkan mensubsidi Kaiser Wilhelm Institute of Anthropology, Human Heredity and Eugenics, tempat seorang fisikawan Nazi Josef Mengele bekerja sebelum eksperimen-eksperimen masa perang. Meskipun fakta bahwa cara yang diikuti dari gerakan eugenika Amerika dalam program-program rezim Nazi, yang para pelakunya di Nuremberg bahkan mencoba menyampaikan pembenaran atas kekejaman mereka di pengadilan, cucu Rockefeller John Rockfeller III melanjutkan warisan kepentingan keluarganya dengan mendirikan Population Council NGO yang mengerjakan riset dalam bidang “kesehatan reproduksi” (sterilisasi) di negara-negara berkembang. Pemerintah Nazi juga pihak pertama yang mengesahkan undang-undang perlindungan lingkungan yang mereka kaitkan dengan identitas nasional Jerman, titik singgung yang tak terduga antara politik coklat dan politik hijau.

Dalam kebetulan yang memukau, Gates Foundation menjadi tuan rumah sebuah acara Oktober yang lalu dengan John Hopkins Center for Health Scurity dan WHO yang dikenal Event 201, sebuah simulasi pandemi yang mengumpulkan tokoh-tokoh elit pemerintahan, tokoh-tokoh bisnis dan para ahli kesehatan untuk merencanakan kemungkinan sebuah wabah yang mendunia. Gates sendiri telah memperingatkan soal-soal pandemi dalam beberapa tahun belakangan dan menulis dengan pesimis bahwa dunia harus “bersiap-siap terhadap datangnya epidemi-epidemi seperti yang dilakukan militer dalam peperangan”.

Even 201 merupakan scenario fiksi yang kebetulan disebut “coronavirus CAPS of Brazilian pigs” yang menginfeksi orang-orang di seluruh dunia dan setelah setengah tahun kemudian menyebabkan puluhan juta kematian dan memicu bencana keuangan global. Sejak ada coronavirus COVID-19 di dunia nyata, Gates sendiri telah melangkah turun dari Microsoft untuk fokus pada program filantropinya, sementara yayasannya sibuk mengerjakan sebuah vaksin.

Banyak yang telah mengobservasi bahwa karakteristik COVID-19 mirip dengan HIV yang tidak mungkin tercipta secara organik. Film okumenter terbaru Cold Case Hammarskjold, yang memenangkan penghargaan festival film Sundance tahun lalu, menampilkan teori yang mengerikan bahwa organisasi supremasi kulit putih Afrika Selatan dengan sengaja menyebarkan HIV/AIDS di antara orang-orang Afrika kulit hitam melalui vaksin beberapa dekade yang lalu. Film ini memulai semacam sebuah investigasi kecelakaan pesawat misterius di Rhodesia Utara yang membunuh seorang diplomat Swedia dan sekretaris jendral AS Dag Hammarskjod di 1961. Pada 1998, sebuah dokumen yang ditulis oleh sebuah organisasi paramiliter bayangan yang disebut South African Institute for Maritime Research (SAIMR) ditemukan oleh Truth and Reconciliation Commision, majelis pengadilan pada saat pos-apharteid Afrika Selatan yang mengindikasikan bahwa Hammarskjold adalah korban pembunuhan.

Bukan hanya para produsen film itu dalam penyelidikan menemukan kemungkinan lain bahwa pesawat itu ditembak oleh prajurit Belgia yang dipekerjakan oleh SAIMR yang sedang beroperasi di bawah perintah MI6 dan CIA, tetapi keterangan yang lebih menakjubkan adalah sebuah pengakuan yang terekam dari seorang pendiri tentara SAIMR telah dengan sengaja menyebarkan HIV/AIDS orang-orang kulit hitam Afrika melalui imunisasi. Jika klaim SAIMR benar, dan bahwa mereka terhubung dengan inteligen Barat, dugaan virus COVID-19 adalah virus yang sengaja disebarkan itu bukan sesuatu yang diluar kemungkinan.

Mungkin saja akan terbukti sampai pendapat versi koran kuning bahwa coronavirus lahir melalui transfer penyakit secara zoonosis setelah si “patient zero” di Wuhan itu mengonsumsi seekor trenggiling atau kelelawar liar itu memang akurat. Kendatipun pandemi ini mestinya menjadi peringatan keras bagi agenda-agenda eco-fasis para elit itu, dan menjadi ancaman yang terus terulang ketika kompleks industri militer yang mempengaruhi populasi dunia terus mengerjakan penelitian berbahaya pada bibit penyakit yang mana resikonya jauh lebih besar ketimbang manfaatnya. Apabila wabah ini menyebabkan banyak kecurigaan banyak orang, itu tepatnya karena sejarah peperangan biologis AS dan pandangan pesimistik dan genosid (haus membunuh) para elit-elitnya sendiri, yang percaya bahwa satu-satunya cara untuk mencegah kepunahan umat manusia adalah dengan mengurangi jumlah mereka.
____________
Diterjemahkan oleh Ahmad Syifa pada 19 Maret 2020 dari sebuah artikel yang berjudul “Is the Global Pandemic a Product of Elite’s Malthusian Agenda and U.S. Biowarfare?” karya Max Parry. Lihat artikel aslinya di https://ahtribune.com/world/3964-global-pandemic.html

____________
Beberapa keterangan istilah:
1. Eugenika adalah filosofi sosial yang berarti memperbaiki ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu sehat. Puncak dari penyalahgunaan eugenika adalah pelaksanaan ideologi pemurnian ras yang dijalankan rezim NSDAP di bawah kendali pemimpinnya, Adolf Hitler. Pada abad ke-20, banyak negara melakukan berbagai kebijakan eugenika dengan berbagai kebijakan seperti pemaksaan aborsi, genosida, pengendalian kelahiran, pengamatan genetika, dan pelarangan menikah (Wikipedia.org).
2. Inokulasi merupakan kegiatan pemindahan mikroorganisme baik berupa bakteri maupun jamur dari tempat atau sumber asalnya ke medium baru yang telah dibuat dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi dan aseptis (Wikipedia.org).
3. Jurnalisme kuning, atau koran kuning, adalah jenis jurnalisme dengan judul-judul berita yang bombastis, tetapi setelah dibaca isinya tidak substansial. Jurnalisme kuning adalah jurnalisme pemburukan makna. Ini disebabkan karena orientasi pembuatannya lebih menekankan pada berita-berita sensasional daripada substansi isinya. Jurnalisme kuning bertujuan meningkatkan penjualan, oleh karena itu jurnalisme kuning sering dituduh sebagai jurnalisme yang tidak profesional dan tidak beretika. Kepentingan jurnalisme kuning adalah bagaimana masyarakat memiliki ketertarikan terhadap pada berita. Perkara jurnalisme kuning diprotes oleh pihak tertentu tidak akan bergeming (Wikipedia.org).
4. Misantopi (mysanthrophy) berasal dari kata Yunani yang berarti “kebencian” dan “manusia.” Jadi, istilah ini mengacu pada kebencian atau pandangan miring pada spesies manusia atau kemanusiaan (amazine.co).
5. Patient zero adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan manusia pertama yang terinfeksi oleh virus atau penyakit bakteri dalam wabah (bbc.com).
6. Pembedahan pada hewan yang masih hidup untuk keperluan percobaan faal dan penelitian patologis (Glosarium.org).
7. Political colours (warna-warna politis) bisa dilihat di https://en.wikipedia.org/wiki/Political_colour
8. Zoonosis atau penyakit zoonotik adalah penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan vertebrata ke manusia atau sebaliknya (Wikipedia.org).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Apakah Pandemi Global ini Produk Agenda Elit Malthusian dan Peperangan Biologis Amerika Serikat? "

Posting Komentar