Merdekalah Hawa: Bebas dari Esensi Budaya dan Peradaban

Oleh: Felix A. Panjaitan (Mahasiswa Peternakan Untidar)


8 Maret sebagai Hari Internasional Perempuan merupakan hari dimana perempuan di seluruh dunia merayakan hari kemerdekaannya. Tidak terkecuali di Indonesia. 8 Maret adalah hari yang menandakan dimana perempuan adalah juga kelompok yang sangat revolusioner, yang tidak hanya terkurung di bawah tempurung rumah tangga, yang sekadar berkutat dengan urusan dapur, sumur, dan kasur. 8 Maret adalah sebuah proklamasi bahwa perempuan adalah setara dengan laki-laki, memiliki hak yang sama di bidang sosial, ekonomi, politik, dan budaya. 

Dalam proklamasi kesetaraan ini tidaklah berlangsung secara pasif atau aktif, bahkan sampai di titik revolusioner. Dalam Revolusi Perancis, perempuan Paris berunjuk rasa sembari menyatakan kemerdekaan, kesetaraan dan kebersamaan menuntut hak perempuan untuk ikut dalam pemilu. Pada 8 Maret, perempuan-perempuan buruh pabrik di Rusia, turun ke jalan-jalan berdemonstrasi menuntut kepada rezim diktator Tzar untuk menyediakan kepada rakyat roti dan perdamaian. Demonstrasi buruh perempuan itu, tulis Leon Trotsky, membuat revolusi yang semula hanya bisa diramalkan kini menjadi demikian nyata.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa posisi perempuan dalam masyarakat mengalami pasang-surut, seturut perkembangan ekonomi dan politiknya. Bentuk-bentuk penindasan terhadap perempuan juga semakin bervariasi. Akibatnya, hingga kini kekerasan terhadap perempuan tetap marak di mana-mana; diskriminasi dan  lemahnya kemajuan agenda perempuan secara politik menjadi persoalan yang seolah tak juga menemukan arahnya. 

Demikian juga posisi perempuan secara ekonomi masih sangat lemah. Secara kultural, khususnya di Indonesia, upaya-upaya mengurung perempuan dalam lingkup dapur-kasur-sumur, juga semakin menguat. Jika orde baru menggunakan tangan-tangan birokrasi dan militer untuk mengurung perempuan, kini upaya itu dilakukan melalui instrumen legal-keagamaan yang puritan dan represif.

Pada tahun 1970-an rujukan ideologi Ibuisme-negara yang mana representasi dari Panca Dharma Wanita yang merupakan tesis dari Julia S. Surjakusuma. Ibuisme-negara adalah paham domestikasi perempuan bagi organisasi perempuan ciptaan militer Orde Baru, yang terdiri dari Dharma Wanita untuk istri pegawai negeri sipil, Dharma Pertiwi untuk istri ABRI, dan PKK untuk istri nonPNS dan nonABRI. Rujukan ideologi Ibuisme-negara adalah Panca Dharma Wanita, pelembagaan organisasi-organsiasi Ibuisme-negara. 

Panca Dharma Wanita berisi: (1) wanita adalah pendamping suami, (2) wanita adalah penerus keturunan, (3) wanita adalah pengurus rumah tangga, (4) wanita adalah pencari nafkah tambahan, (5) wanita adalah anggota masyarakat. Panca Dharma Wanita mempunyai akar genealogi pada paham aristokrasi Jawa dalam mengatur kewajiban moral bagi perempuan ningrat. Perempuan ningrat adalah representasi peradaban tinggi, dimana peradaban tinggi mengatur tindakan moral orang-orang melalui aturan-aturan (tatakrama) yang ditulis dalam serat-serat (kitab-kitab). Panca Dharma Wanita rupanya merujuk pada kewajiban moral seorang istri yang disebutkan dalam Serat Centhini atau Suluk Tambangraras. Seorang istri yang mampu menjalankan kewajiban sepenuhnya disimbolkan dengan jari jempol, artinya ia seorang istri yang bernilai tinggi dan menjadi teladan bagi istri lainnya. 

Istri yang jempol mampu menjalankan kewajiban (1) tidak memerintah atau menyuruh-nyuruh suami, atau dengan kata lain patuh terhadap perintah suami, yang disimbolkan oleh jari telunjuk, (2) harus mampu mengunggulkan atau menjunjung tinggi status dan derajat suami, dan karena itu perilaku, tutur bahasa dan penampilan istri harus mencerminkan derajat suami. Hal ini disimbolkan dengan jari tengah. (3) harus selalu bersikap manis kepada suami dalam melayani keinginan dan keperluannya, agar suami senang dan bahagia, yang disimbolkan dengan jari manis, (5) harus mampu mengatur nafkah yang diberikan suami dengan baik, tidak boleh boros dan pelit, namun harus bisa membuat suami dan anak-anak kenyang yang sehat. Simbol kewajiban kelima ini dengan jari kelingking.

Kiranya militerisme Orde Baru memungut kewajiban moral perempuan ningrat untuk mendoktrin istri PNS, ABRI dan aktivis PKK agar menjadi istri yang jempol, yaitu menunaikan kewajiban sebagaimana simbol empat jari. Dalam konteks politik perempuan, itu berarti mengabdi sepenuhnya kepada Soeharto sebagai pimpinan tertinggi Orde Baru.

SETARA DAN MERDEKA

Sangat tidak masuk akal bagi saya melihat dari kondisi dimana perempuan harus turut pada suaminya, kebebasannya terenggut dan perempuan hanya bisa merasakan kesenangan dan kebebasan pada saat dia muda tetapi setelah dia menikah? Dia hanya mengurus masalah rumah tangga. Tetapi menurut saya lingkaran ini sudah tercipta ketika perempuan baru dilahirkan dan diajarkan langsung dengan kultur yang ada, contohnya Indonesia. Secara geanologis terdapat persekutuan yang melahirkan 3 bentuk prinsip pertalian keturunan yang terdiri dari pertalian darah menurut bapak (patrilineal), pertalian darah menurut ibu (matrilineal) dan pertalian darah menurut ibu dan bapak (parental). Persekutuan hukum karena factor geanologis ini yang akan memepengaruhi corak hukum adat dan tata susunan masyarakat adat. 

Masyarakat dengan prinsip patrilineal akan menyebabkan anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut ikut dengan marga si ayah, corak perkawinan masyarakat yang menganut prinsip patrilineal dapat dilihat dengan adanya pembayaran perkawinan yang dimaksudkan sebagai pertanda bahwa hubungan Si Istri dengan kerabatnya diputuskan, begitu juga dengan anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut dengan sendirinya akan menjadi kerabat pihak Ayah. Pada masyarakat yang menganut system kekerabatan matrilineal, Si Istri tetap tinggal dirumah kerabat Istri, sedangkan suami dirumah kerabatnya sendiri. Pada msyarakat yang menganut system kekerbatan parental, suami dan istri menadi kerabat kedua belah pihak, begitu juga anak yang lahir dari perkawinan tersebut mereka akan menjadi bagian dari kerabat bapak maupun Ibu. 

Indonesia sendiri masih dititik dimana hampir setiap suku memiliki corak budaya patrilineal yang mengedepankan laki-laki daripada perempuan, sehingga perempuan akan diam ketika mereka menikah. Jadi, bagaimana cara mengalahkan perempuan yang progressif? Nikahi saja mereka karna kultur dari Indonesia sendiri adalah memperbanyak keturunan. Ironis bukan? Ya! Sekuat apapun perempuan melawan pasti akan tetap diam, padahal jika dipikirkan secara logika peran perempuan sangatlah penting, dimana perempuan memiliki Logika dan Perasaan yang bisa sinkron, dimana perempuan bisa mengartikan dan memberi cinta yang sebenarnya pada setiap orang, sedikit berbeda dengan laki laki yang selalu mengandalkan Logika dan nafsu untuk menguasai segalanya. Dan sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi hamper di seluruh negara, dan sampai titik ini mereka (perempuan) masih selalu menyatarakan kebebasannya. 

Dalam kondisi ini, maka peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret, selayaknya dimaknai sebagai momen untuk merevitalisasi kesadaran kaum perempuan, bahwa perempuan  kedudukannya setara dengan laki-laki. Bahwa perempuan tidak hanya seorang ibu rumah tangga, tapi juga seorang pembebas, seorang revolusioner yang sangggup mengubah masyarakat dan dunia. 

Tetapi di lain pihak, bagi gerakan perempuan, 8 Maret juga mesti menjadi momen untuk mengevaluasi kembali teori, metode, dan strategi-taktik perjuangan selama ini. Pertanyaan sederhana bisa diajukan, mengapa gerakan perempuan masih begitu lemah dan terfragmentasi dengan tajam? Tentu saja bukan berarti tanpa kemajuan. Hanya saja, kemajuan gerakan perempuan dalam banyak hal, nyatanya juga belum mampu menghasilkan teori feminis baru yang bisa memecahkan problem klasik dalam gerakan perempuan selama ini: terpisah dari persoalan kelas atau terintegrasi dengan perjuangan kelas. Tokoh-tokoh feminis dunia seperti Maria Mies masih mengkaji hal ini dan berusaha untuk memecahkan kebuntuan yang dihadapi oleh gerakan-gerakan perempuan. 

Jadilah perempuan yang merdeka yang ingin dianggap dengan cara mengeksiskan dirimu dimanapun, layaknya Jean Paul Sartre bilang “Eksistensi harus mendahului Esensi”. Karena kemerdekaan dan kesetaraan adalah eksistensi yang harus dimiliki setiap perempuan. Jadilah wanita karir, mandiri atau apapun itu yang sesuai dengan passion yang dimiliki, dan jangan menjadi perempuan yang selalu menurut dengan esensi yang telah dibentuk oleh kebudayaan dan lingkungan, Jadilah pribadi yang merdeka dan kuat. 

Panjang umur bagi perempuan yang melawan dan menyatakan kemerdekannya!

Selamat ulang tahun pada Rosa Luxemburg sang bunga mawar revolusi yang berulang tahun pada 5 Maret kemarin dan dieksekusi mati pada 15 Januari 1919.
















Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Merdekalah Hawa: Bebas dari Esensi Budaya dan Peradaban"

Posting Komentar