Bill Gates dan Kesesatan Berpikir Rakyat

Oleh: Mariachi Phalevi (Seorang Pribumi) 




"Malapetaka terbesar dunia saat ini bukanlah lagi nuklir yang membinasakan tempat tinggal kita. Jika dalam beberapa dekade terdapat sesuatu yang membunuh lebih dari 10 juta manusia, itu bukan lagi sebuah perang melainkan sebuah virus. Bukan peluru kendali lagi, tetapi mikroba. Namun kami sebenarnya sudah menginvestasikan sedikit untuk membuat sistem yang dapat menghentikan sebuah epidemik.

Jadi selanjutnya kita mungkin bisa dibilang tidak beruntung. Karena kita dapat tertempel virus saat kita sehat sekalipun. Lalu ketika kita bepergian menaiki pesawat, atau ketika kita berbelanja sekalipun. Sumber virus ini bisa alami seperti Ebola waktu itu, tapi juga bisa bioterorisme. Lalu apa kuncinya?

Pertama kita butuh sistem kesehatan yang kuat di negara-negara miskin, dimana para wanita dapat melahirkan bayinya dengan selamat dan anak-anak mendapatkan vaksin mereka. Tetapi itupun jika kita bisa melihat kedatangan wabah sejak awal. Kita butuhkan pasukan petugas kesehatan yang mendapatkan pelatihan dan berlatar belakang kesiapan dan keahlian. Lalu kita gabungkan mereka dengan militer. Dengan mengambil keuntungan kemampuan militer yang sigap, mereka bisa memberi makan dan mengamankan sejumlah area.

Faktanya, jika ada satu hal yang bisa kita petik dari wabah Ebola yang lalu, itu adalah sebuah peringatan kepada kita. Mulai dari sekarang kita harus memulai untuk bersiap-siap untuk wabah selanjutnya."

Tulisan diatas adalah transkrip pidato Bill Gates pada bulan Maret 2015 di Vancouver yang telah penulis terjemahkan. Gates mengatakan bahwa saat ini terlalu banyak investasi pada bidang pengembangan nuklir dan sebuah fakta yang menunjukkan bahwa tidak adanya investasi pada bidang kesehatan kalau kalau terdapat wabah yang menyerang. Membaca artikel dari Max Parry yang diterjemahkan oleh Ahmad Syifa dalam postingan di Terinews.com membuat penulis berpikir tentang ‘narasi global’ sehubungan dengan adanya Covid-19 ini.

Ravio Patra yang merupakan seorang aktivis menuliskan pula tentang kejanggalan pengolahan data pemerintah yang menyajikan angka cantik, seakan akan pemerintah mampu menanggulangi wabah yang terjadi. Baru-baru ini Ravio Patra menjadi viral karena peretasan pada salah satu akun sosialnya yang diduga memprovokasi sebuah kerusuhan. Hal ini disebut Rekayasa Kasus, artinya Ravio Patra akan ditempatkan pada sebuah kesalahan yang tidak ia perbuat. ‘Koran Kuning’ sebagaimana disebutkan oleh Max Parry memang memiliki pengaruh yang sangat besar khususnya di Indonesia. Ketika Rekayasa Kasus dari Ravio Patra berhasil, maka masyarakat akan dengan mudahnya digiring untuk mempercayai sebuah berita palsu yang disajikan oleh media. Disini penulis akan membuat sebuah frasa yaitu Kesesatan Logika Berpikir.

Dalam buku Logika Dasar, tradisional, simbolik dan induktif (R.G. Soekadijo 1993) mengatakan kesesatan dapat timbul kalau konklusi tidak relevan dengan premisnya. Artinya bahwa ujaran atau fakta yang kita terima tidak selalu benar. Sedangkan permasalahannya adalah sebagian besar masyarakat di Indonesia bisa dikatakan memiliki sumbu pendek, yang langsung menerima sebuah ujaran atau fakta lalu memprosesnya sebagai sebuah kebenaran. Menurut Soekadijo terdapat 12 jenis kesesatan relevansi. Disini penulis akan jelaskan beberapa jenis kesesatan berpikir yang relevan dengan tulisan ini.

1. Argumentum auctoritatis
Kesesatan berpikir yang timbul karena pendapat ahli atau orang yang dipercaya, dengan mengabaikan logika dan fakta yang ada. Contoh: Ketika seorang guru berkata pada muridnya ‘kamu bodoh’ padahal guru itu sedang kesal saja. Atau ketika orang tua mengatakan kepada anaknya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil agar sukses, padahal banyak profesi lain seperti pengusaha, pebisnis, dan lainnya untuk bisa menjadi sukses.

2. Argumentum ad baculum
Kesesatan berpikir yang muncul karena adanya ancaman hukuman, dipukuli, atau dipersulit hidupnya. Soekadijo mengatakan bahwa teror pada hakikatnya adalah paksaan untuk menerima sebuah gagasan karena ketakutan yang ditimbulkan. Baculum sendiri memiliki arti tongkat. Contoh: institusi pendidikan yang menerapkan militer dalam kurikulumnya akan menggunakan hukuman pada pelajarnya agar dapat menerapkan sifat patuh. Misalnya ketika seorang taruna diminta untuk memakan puntung rokok seniornya, kalau tidak dipatuhi maka ia akan dipukuli. Atau ketika seorang ibu mengancam tidak akan memberi makan anaknya kalau anaknya tidak mengerjakan tugas sekolahnya.

3. Argumentum ad misericordiam
Kesesatan berpikir yang timbul akibat belas kasihan. Contohnya ketika terdapat narapidana yang baru saja dilepaskan melakukan pencurian di sebuah rumah. Ketika tertangkap ia akan berdalih mencuri untuk dapat mengisi perut yang kelaparan. Kita tau bahwa pencurian merupakan hal yang salah, namun kita membenarkan yang dilakukan narapidana itu atas dasar belas kasihan.

4. Argumentum ad populum
Kesesatan berpikir untuk menghasut orang banyak agar setuju dengan gagasan bahwa ini semua adalah kepentingan orang banyak itu. Contoh umum yang terjadi adalah ketika pemilihan umum rakyat akan diarahkan menuju visi yang lebih baik, intinya adalah supaya memilih calon politikus yang dimaksud. Atau ketika pemerintah menyalahkan suatu hal yang menjadi biang merosotnya perekonomian maka rakyat akan digiring untuk membenci hal itu pula.

5. Non causa pro causa
Kesesatan yang terjadi ketika menalar secara umum dan mengabaikan bukti-bukti yang ada. Contoh: ‘Terlalu banyak mengkonsumsi micin menyebabkan kebodohan.’ Padahal tidak ada studi yang mendukung statement ini. Kebodohan tidak bisa diukur dari apa yang dikonsumsi seseorang.

Terdapat sebuah wawancara antara Najwa dan Jokowi di media Narasi tentang perbedaan antara mudik dan pulang kampung. Banyak orang yang berkomentar tentang ‘satu kalimat’ dari Jokowi tanpa memperhatikan keseluruhan beritanya. Saking menariknya kalimat mudik dan pulang kampung itu, banyak orang mengabaikan fakta bahwa terdapat sekitar 900.000 orang di Jakarta yang telah mencuri start untuk kembali ke daerah asalnya, juga tentang pemerintah daerah dan pusat yang berpolemik dalam keputusan apakah kesehatan atau ekonomi yang akan di dahulukan.

Teori Semantik(cabang linguistik yang mempelajari makna dalam ujaran) memiliki dua hal penting yang harus mulai dipahami oleh seluruh rakyat, yaitu Prototype dan Stereotype. Ketika terdapat kata ‘rumah’ maka itu merujuk pada sebuah tempat tinggal untuk bernaung. Itulah yang disebut Prototype. Sedangkan Stereotype adalah hal detail yang dibentuk oleh pikiran tiap-tiap orang. Si A akan berpikir rumah adalah berbentuk istana, si B akan berpikir rumah kayu sederhana dengan halaman yang luas, namun si C berpikir kuburan adalah juga rumah. Banyaknya stereotype inilah yang juga menyebabkan kesalahpahaman dalam komunikasi. Secara pengertian di KBBI, mudik dan pulang kampung adalah hal yang sama. Namun disini stereotype di Indonesia, mudik adalah tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya Lebaran.

Dalam tulisan ini harapan penulis ialah, pembaca dapat menghindari kesesatan dalam berpikir. Lima jenis kesesatan yang telah penulis jelaskan haruslah dipahami supaya pembaca mengantisipasi kesalahan penalaran dalam menangkap suatu ujaran, berita ataupun fakta. Rakyat di Indonesia begitu mudahnya tergiring dalam suatu kesesatan berpikir, dan tinggal di dalamnya. Jadi apakah pembaca ingin terus terjebak dalam kesesatan berpikir? Masihkah pembaca berpikir bahwa Bill Gates benar-benar menyumbangkan uangnya untuk penelitian vaksin? Mungkin sudah saatnya kita buka lagi buku sejarah, dan memikirkan ‘narasi global’ yang dikerjakan oleh para elit ini.

Lagi-lagi kaum proletar yang harus jadi sasaran target mereka.
Panjang Umur Perjuangan!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bill Gates dan Kesesatan Berpikir Rakyat"

Posting Komentar