DAMPAK PANDEMI COVID-19 TERHADAP KEBIJAKAN BELAJAR DIRUMAH

Oleh: Muhammad Arief Hidayatullah (Mahasiswa Magister Administrasi Publik Undip)

Meningkatnya virus Covid-19 di Indonesia  membuat  pemerintah pusat maupun daerah mengeluarkan berbagai imbauan, peraturan, dan kebijakan yg di berikan kepada masyarakat seluruh Indonesia.

Virus yang disinyalir mulai mewabah 31 desember 2019 di Kota Wuhan Provinsi Hubei Tiongkok, saat ini menyebar hampir kesemua seluruh penjuru dunia dengan cepat, sehingga WHO tanggal 11 Maret 2020 menetapkan wabah ini sebagai pandemi global.

Ratusan ribu manusia terjangkit virus ini diseluruh dunia, bahkan puluhan ribu menjadi korban meninggal. Tercatat negara-negara yang memiliki kasus  tinggi terjangkit  covid-19saat ini adalah amerika serikat, spanyol, italia, china dan  iran dengan kematian mencapai  ribuan orang. Sedangkan di indonesia saat ini yang terjangkit covid-19 sampai tanggal 26 april 2020 mencapai  8.882 orang  posistif covid, 1.107 orang  sembuh, dan 743 orang meninggal dunia.

Virus covid -19  saat ini sangat berdampak bagi seluruh masyarakat dan salah satunya bagi  sektor pendidikan di Indonesia. Pemerintah mengeluarkan aturan bahwa proses pendidikan dan pembelajaran pada setiap tingkat satuan pendidikan dilakukan dirumah dengan pendampingan orang tua.

Melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2020, tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19), Mendikbud menjelaskan ada aturan lebih rinci tentang pelaksanan Pembelajaran Jarak Jauh (Pembelajaran di Rumah atau Pembelajaran Daring).

Terdapat polemik pelaksanaan Masa belajar di rumah selama ini. Di keluhkan oleh para orang tua, karena banyak PR yang bukan hanya menjadi tanggung jawab anak tetapi juga orang tua. Secara, pelaksanaan pembelajaran di rumah ataupun online harus dibawah bimbingan orang tua, diawasi dan dievaluasi oleh orang tua. Tambahan pula perpanjangan masa belajar di rumah, maka secara otomotis akan megakibatkan tambahnya PR sehingga membuat anak lebih stress saat belajar melalui sistem pembelajaran di rumah atau online.

Pembelajaran daring itu seyogianya inspiratif dan kreatif dimana para peserta didik tidak terbebani dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna.Setiap siswa dalam melaksanakan tugas maupun aktivitas pembelajaran mendapatkan kesan positip dan umpan balik yang mengembangkan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Tanpa menjadikan faktor accessibility dan reachability terhadap media pembelajaran maupun internet, Pendidik mampu menjadikan dua faktor itu menjadi kekuatan capaian pembelajaran melebihi tatap muka.Pendidikan harus disampaikan hingga anak-anak paham, senantiasa ada bimbingan dan arahan selanjutya ada umpan balik sehingga bukan hanya materi selesai atau PR selesai tetapi anak didik memiliki wawasan, berkarakter, cerdas dan cakap.

Maka tujuan Pendidikan sesuai amanah Undang-Undang No. 20 Tahun 2003,akan tercapai. Yakni pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Ketidaksiapan stakeholder sekolah/madrasah melaksanakan pembelajaran daring menjadi faktor utama kekacauan ini, walapun pemerintah memberikan alternatif solusi dalam memberikan penilaian terhadap siswa sebagai syarat kenaikan bahkan kelulusan  dari lembaga pendidikan disaat keadaan darurat seperti saat ini. Peralihan metode pembelajaran ini memaksakan berbagai pihak untuk mengikuti metode yang sekiranya bisa ditempuh agar pembelajaran dapat berlangsung, dan yang menjadi pilihan yaitu dengan pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran daring. Penggunaan teknoligi ini juga sebenarnya bukan tanpa masalah, banyak faktor yang menjadi penghambat efektivitas pembelajaran daring itu sendiri.

Kita  harus mengakui bahwasannya tidak semua guru di indonesia melek terhadap teknologi terutama pada guru generasi X (lahir tahun 1980 ke bawah) yang pada masa mereka belum begitu masif penggunaannya.

Keadaan yang hampir sama juga dialami oleh para siswa itu sendiri,  tidak semua sudah terbiasa menggunakan teknoligi dalam kehidupan sehari-harinya. Di sekolah mereka harus rebutan dalam menggunakan perangkat teknologi pendukung pembelajaran karena keterbatasan sarana yang dimiliki oleh sekolah/madrasah dan bahkan mereka mungkin tidak dikenalkan teknologi dalam pembelajaran.

Kepemilikan perangkat pendukung teknologi juga menjadi masalah itu sendiri.  Bukan rahasia umum lagi kesejahteraan guru masih sangat rendah,  jangankan untuk memenuhi perangkat pendukung teknologi, untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari keluarganya saja masih banyak yang kesulitan terutama  yang honorer.

Hal yang sama  puin terjadi pada siswa karrena tidak semua orang tua mereka mampu untuk memberikan fasilitas teknologi kepada anak-anaknya. Bahkan kalaupun  mereka punya fasilitas  teknologi namun tidak digunakkan untuk media pendukung pembelajaran lebih ke hiburan belaka seperti game dan nonton youtube yang itu tidak menonton yang ada korelasinya dengan pembelajaran di sekolah tapi lebih ke hiburan. Itu  salah satu pengaruh dari ketidaktahuan orang tua  membimbing anaknya dalam pemanfaatan teknologi dalam  pembelajaran.

Pembelajaran daring untuk saat ini yang diterapkan  oleh sekolah/madrasah bersifat online jadi tidak bisa lepas dari penggunaan  jaringan internet.  Tidak semua sekolah/madrasah sudah terkomneksi ke internet  karena di daerah nya belum ada jaringannya walaupun  di indonesia masih proses kebijakan pemerataan koneksi jaringan internet sehingga guru-gurunya pun dalam kesehariannya belum terbiasa bahkan tidak bisa dalam memanfaatakannya. Kalaupun sudah ada sarana dan tahu cara pemanfaatannya terkadang terkendala jaringan yang tidak stabil atau bahkan tidak ada jaringannya karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Harus pergi kedaerah yang memungkinkan jaringan tetapi hal tersebut sullit untuk di lakukan karena semua yanng terkait guru dan siswa mau ke  daerah yang ada jaringan karena jarak dan biaya yang dibutuhkan tidak lah murah.

Jaringan yang dibutuhkan dalam pembelajaran daring menjadi masallah tersendiri bagi guru dan siswa. Kuota yang menjadi kebutuhan dalam terlaksananya pembelajaran  itu juga tidak gratis walaupun  pemerintah menggandeng pihak swasta untuk menggandeng memberikan subsidi kuota itupun tidak memenuhi kebutuhannya, dan ini sisanya dibebankan kepada orang tua . banyak guru dan orang tua siswa tidak siap untuk menambah anggaran atau bahkan tidak ada anggaran dalam menyediakan jaringan internet.

Metode pembelajaran daring ini sebenarnya bukan hal yang baru, sebab di beberapa negara terutama dinegara maju kegiatan ini sudah terbiasa. Proses pembelajaran diperguruan tinggi apalagi, tidak hanya di luar  negri, di indonesia juga sudah terbiasa dilakukan, namun pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah belum begitu populer sehingga diperlulkan persiapan yang sungguh-sungguh dan didukung sarana yang cukup agar bisa berjalan dengan baik.

Yang lebih memprihatinkan dari dampak pandemi covid ini di sektor  pendidikan, setelah siswa dibenturkan dengan masalah kepemilikan teknologi pendukung pendidikan dan penggunaannya. Beban  lain juga di pikul oleh orang tua siswa yang harus memperhatikan anaknya dalam pelaknasanaan pembelajaran daring, orang tua juga bertambah biaya untuk  membeli kuota  dan tetap membayar biaya pendidikannya seperti kondisi normal. Kondisi pada saat ini banyak pegawai dan buruh yang dirumahkan dan bahkan di PHK dari pekerjaannya. Untuk tetap bertahan hidup dengan mencukupu kebutuhan pokok sehari-hari saja sudah kesulitan apalagi ditambah kebutuhan yang bertambah di pendidikan anak-anaknya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "DAMPAK PANDEMI COVID-19 TERHADAP KEBIJAKAN BELAJAR DIRUMAH"

Posting Komentar