Dramatisasi dampak Pandemi Covid-19 di KM UNTIDAR

Oleh: Ade Safri Fitria (Mahasiswa Bahasa Indonesia Untidar)



Berbagai wacana manis kini ubah menjadi cerita ironis, tanpa diminta; jauh dari praduga seisi dunia dikejutkan wabah corona yang entah memang bencana atau konspirasi semata. Visi misi para pengisi takhta pimpinan organisasi sedari pimpinan pemerintahan hingga visi misi pimpinan organisasi kemahasiswaan akankah setabuh janji para politikus yang kerap diberi satire “janji hanyalah barang dagang semasa pemilihan?”.

Tidak lain tidak asing kritik yang menghujani organisasi mahasiswa dengan sebutan budak program kerja atau event organizer (EO) kini diamini semesta. Pelbagai wacana kegiatan yang serba dirancang “wah” dengan keadaan keuangan kampus yang semakin seret parah kini telah dipertumpul keadaan. Seperempat periode kiranya ormawa KM UNTIDAR dipaksa untuk berjalan lepas dari wacana awal. Kuliah daring (online) di tengah pandemik covid-19 jelas memicu pulangnya kebanyakan mahasiswa ke masing-masing asal tanpa terkecuali internal fungsionaris pengurus Ormawa KM UNTIDAR baik ormawa pemerintahan maupun non pemerintahan. Dengan tiadanya objek dan subjek simbiosis organisasi antar penyejahtera dengan yang disejahterakan, jelas kini Kampus Tuguran menjadi sekadar bangunan mungil yang merindukan hiruk pikuknya.

Seluruh pemimpin dipaksa kenyataan untuk bersikap dingin kemudian menyembunyikan kegelisahan demi menenangkan seluruh yang ia pimpin di masing-masing organisasi agar tetap konsisten menjaga api pada segala dedikasi di tiap organisasi. Ada yang benar-benar segera menginovasi gerakan, ada yang masih merancang, bahkan ada juga yang entah karena apa hingga kini masih belum melakukan apa-apa (eh). Semesta mendukungku untuk angkat topi kepada rekan-rekan penggerak organisasi yang berhasil memberangkatkan diri untuk melakukan segala bentuk aksi sosial di tengah maraknya wabah covid-19 (apapun aksi sosialnya) baik secara gerak kolektif maupun secara keorganisasian formal.

Tak tertinggal dengan kampus-kampus lain, beberapa mahasiswa (entah memang banyak atau sedikit) yang merengek menyambati keadaan saat ini (KULIAH ONLINE). Ada yang berkeluh melalui story, ada yang secara keorganisasian menyampaikan aspirasi hingga sampai ke telinga lembaga legislatif mahasiswa, ada juga yang sekadar berserah pada Yang Maha Kuasa. Berbagai kuisioner tersebar di berbagai lini, legislatif eksekutif saling menyinergi demi mengkaji, saling mubal bahkan saling misuh. Tapi segala ringkik pekik itu tak kunjung lekas mendapat kejelasan jawabnya, entah apa sebabnya biar masing-masing kita yang saling menduga.

Polemik Subsidi Kuota dan Logistik

BEM KM sebagai lembaga eksekutif tingkat universitas yang memang idealnya berperan sebagai jembatan antara mahasiswa dengan birokrasi kampus telah mengupayakan audiensi yang menuntut beberapa poin yang di dalamnya termasuk tuntutan mengenai subsidi kuota atau pulsa dan distribusi logistik untuk mahasiswa luar Magelang yang masih berada di kos. Tuntutan ini akhirnya diamini pejabat kampus. Sesegera mungkin BEM KM menyebarluaskan pamflet hasil audiensi. Tak butuh waktu lama, hasil audiensi ditanggapi dengan pandangan multiragam. Subsidi kuota yang akan dialokasikan bagi mahasiswa bidikmisi dan golongan UKT rendah memicu berbagai respon yang cukup anget di garis horizontal mahasiswa. 

Ada yang bersorak ria berkata “hore”, ada yang dengki dengan celetuk “Mahasiswa bidikmisi ki padahal beli HP baru dan skincare pake duit negara aja mampu, masa kuliah online dikasih sumbangan kuota barang?” Ada juga yang mengingatkan “Lah kuliah we online, jatah biaya hidupe mahasiswa bidikmisi pasti utuh lah njuk ngopo kudu dikei subsidi meneh?” bahkan ada juga yang menyentil bahwasanya mahasiswa bidikmisi dan golongan rendah tidak sepenuhnya benar-benar jauh lebih membutuhkan subsidi daripada mahasiswa ber-UKT tinggi yang mungkin profesi orang tuanya saat ini tengah kesusahan akibat dampak covid-19.

Belum lagi masalah logistik yang akan didistribusikan ke mahasiswa yang masih tertahan di kos. Meminjam ungkapan “cogito ergo sum” milik Descartes, sang filsuf ternama dari Prancis yang artinya “aku berpikir maka aku ada” maka melalui tulisan ini aku mencoba untuk mendialektisir pemikiran KM UNTIDAR. Dengan tuntutan semacam ini mari kita kembali ke masing-masing nurani apakah kita berhak menerima atau sekadar meminta itu semua? Benarkah orang tua kita tidak menangis melihat pemikiran anak-anaknya yang terlalu banyak meminta tapi bahkan lupa memberi? Apalagi dalam keadaan yang semiris saat ini. 

Mengapa bakal alokasi dana wacana subsidi-subsidi ini tidak kemudian dijadikan donasi bersama saja? Maksudku, dari pada wacana subsidi-subsidi ini hanya menimbulkan gesekan antar mahasiswa dan bahkan jelas-jelas tidak akan memberi dampak seberapa bagi mahasiswa, mengapa kita tidak menanamkan pikir yang lebih dedikatif seperti misalnya alokasi bantuan ini mending disalurkan untuk kebutuhan bantuan tim medis sebagai pahlawan kemanusiaan yang berada di garda terdepan saat ini? Betapa tidak? Kita berbicara kenyataan saja, kampus Tuguran ini saat ini masih sebagai Perguruan Tinggi Negeri yang berstatus Satuan Kerja (PTN-Satker), otomatis pengelolaan keuangan kampus kita tak semerdeka manajemen keuangan dan administrasi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Untuk lebih rincinya kawan-kawan bisa browsing mempelajari perbedaan pengelolaan PTN berstatus satker dan berbadan hukum. 

Belum lagi saat ini kampus tengah gencar melakukan pembangunan-pembangunan. Jelas uang yang akan dialokasikan untuk subsidi kuota atau bahkan logistik tidak akan dirasa “banyak” jika dibanding dengan populasi mahasiswa yang ada. Mengapa tidak lantas kita menuntut pemotongan UKT semester depan saja? Ya meski mungkin potongan UKT nantinya hanya sepersekian persen, tetapi hal ini akan dirasa cukup merata dari pada harus saling memperdebatkan alokasi subsidi yang rumornya sepenuhnya diserahkan oleh rektorat untuk kemudian dikelola secara teknis oleh Ormawa KM UNTIDAR di bawah koordinasi BEM KM, toh mahasiswa mengunggah tik-tok, ngestalk IG dekne sek kadung bahagia mbek wong lio we iseh mampu masa kuliah daring langsung merengek sumbangan kuota? Betewe bukan maksud sok kaya, aku juga mahasiswa bidikmisi tetapi kenyataannya memang selalu ada orang yang jauh lebih membutuhkan dari hal yang semata-mata sekadar keinginan kita semata.

Melirik wacana distribusi logistik untuk mahasiswa yang tertahan di kos, mari kita tilik sebentar. Jika mereka yang tertahan atau menahan diri di kos entah memang karena peduli dengan keluarga (mencegah kemungkinan penyebaran virus) atau sekadar males mudik, benarkah bantuan itu nantinya akan jauh lebih adil dibanding penderitaan teman-teman yang mungkin anak rumahan asli Magelang tetapi sebenarnya jauh lebih membutuhkan karena orang tuanya di PHK akibat dampak krisis ekonomi di tengah pandemik?

Aku mengamini beberapa cuitan di media sosial belakangan yang kurang lebih menilai mental mahasiswa yang tadinya hanyalah EO, pengkritik pemerintah, kini lupa pada tri dharma perguran tinggi yang di dalamnya juga memuat aspek “PENGABDIAN”. Nyatanya mental aktivis-aktivis yang identik dengan gerakan kekiri-kirian (sosialis) kini tengah bertekuk lutut pada status kaum intelek bermental pengemis. Perjuangan demi menyejahterakan? Sekali lagi mari kita bertanya pada nurani, benarkah kita berhak dan sungguh jauh lebih membutuhkan itu semua saat ini? Segala teknis kuliah daring (online) yang dirasa memakan banyak biaya coba kalkulasikan ulang dan bandingkan dengan kuliah offline yang sebenarnya jauh lebih boros, seperti misal dengan uang yang harus keluar dari kantong untuk membayar jasa percetakan ditambah modal BBM bolak-balik kampus, tambah biaya makan di Prekju, Warjok, Bu Tarjo, Angkringan Pak Agus, Pak Wawan, Mas Brow, dll.

Sebagai penutup, terima kasih untuk yang selalu terus dan tetap bergerak untuk hal baik. Pun terima kasih untuk seluruh senior, rekan, adik dan siapapun yang selalu mengajarkan ejaan konsep kemanusiaan selama aku mengenyam pendidikan di Kampus Tuguran. Lekas membaik, semesta, semoga kita semua lekas kembali bersua. Jangan lupa sambat kuliah tugas online 3 kali sehari agar tetap sehat. Hehe.

Panjang umur perjuangan!

Tumbuh subur gerakan kemanusiaan!

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Dramatisasi dampak Pandemi Covid-19 di KM UNTIDAR"

  1. Saya merasa terwakili, tapi untuk pemotongan dana ukt mnrt saya tidak rasional sebab :
    1. Dijelaskan barusan bahwa UNTIDAR berstatus satker bahkan status satker pun di bagi menjadi dua lagi. Namun pada intinya ini tergantung dari kebijakan KEMENKEU dan juga KEMENDIKBUD(CMIIW) yang memang bisa memberi potongan ukt atas pandemi ini. Namun ini pun perlu di pikirkan kembali, jika diadakan kebijakan pemotongan pembayaran ukt akan ada juga pekerja kampus yang ikt terpotong gajinya pdhl gaji awalnya mungkin tidak setimpal dengan apa yang dikerjakannya tpi krn memang terpaksa untuk makan akhirnya di lakukan juga. Jika saya berkenan memberi ide dan harap saja diamini oleh birokrasi yang di atas diadakan kebijakan kemudahan untuk pembayaran ukt melalui metode angsuran atau penundaan pembayaran ukt selama pemulihan ekonomi.

    BalasHapus